Share

Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya
Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya
Author: Gracey

Bab 1

Author: Gracey
Aku memohon pada suamiku sampai 99 kali, memintanya menemaniku menonton konser Jay. Pada permohonan ke-100 kali, akhirnya dia membeli dua tiket barisan depan.

Aku yang sudah berdandan rapi justru dicegat satpam di pintu masuk karena tidak bisa mengeluarkan tiket. Sampai konser bubar, aku juga tidak berhasil menghubunginya.

Berita tentang suami dan pacarnya yang memesan lagu "Sunny Day" pada konser Jay masuk ke trending topic.

Di lirik "Sunny Day" tidak ada hujan, karena hanya duniaku yang diguyur hujan deras.

....

Berita Hector dan Raelyn yang masuk trending topic itu dia bagikan sendiri di media sosial. Masih atas nama permintaan maaf.

[ Anak kecil belum dewasa, ngotot ingin nonton konser. Aku nggak menyangka sampai masuk berita. Terima kasih atas perhatian kalian. Mohon maaf sudah mengganggu semua orang. ]

Lima tahun menikah, aku tidak pernah mendapat kesempatan muncul di media sosialnya. Kini, dengan begitu mudahnya, kesempatan itu dia hadiahkan pada perempuan lain.

Aku sudah memohon 99 kali, tetapi dia tetap tidak mau menemaniku menonton konser. Orang lain cukup sekali saja sudah berhasil.

Dengan perasaan yang sudah mati rasa, aku menutup media sosial dan terus menunggu mobil di pinggir jalan. Malam konser itu, seluruh kota macet. Aku sudah berdiri sendirian di depan gedung konser cukup lama, tetapi tidak juga berhasil memesan mobil.

Lalu, ponselku tiba-tiba berdering. Hector yang menelepon. Di telepon, suaranya terdengar dingin. "Kenapa belum pulang?"

Aku diam. Kalau biasanya, aku pasti sudah bersikap manja. Namun malam ini, aku tidak tahu harus berkata apa padanya.

Hector agak kesal. "Lorraine, kamu bisu?"

"Aku di depan gedung konser."

Hector terdiam, seolah-olah baru teringat bahwa dia pernah berjanji mau menemaniku menonton konser. Hanya saja aku tak menyangka, dia memang membeli tiket, tetapi tiket itu dia gunakan untuk menemani Raelyn.

"Tunggu di parkiran. Aku jemput."

Aku tidak percaya kata-kata Hector, tetapi juga tidak ingin memesan mobil lagi. Karena hujan deras mulai turun, listrik di seluruh kota padam.

Dengan kondisi menyedihkan, aku berteduh di parkiran dalam yang gelap gulita dan hanya mengandalkan cahaya ponsel sebagai penerangan. Baterai ponselku hanya bisa bertahan dua jam.

Sebelum ponselku mati, Hector masih belum membalas pesanku, tetapi aku sempat melihat story Raelyn.

[ Seluruh kota penuh angin dan hujan, tapi selalu ada yang mengantarku pulang dan menjadi matahariku. ]

Di foto itu, terlihat wajah samping Hector. Dia sedang memegang setir.

Aku tersenyum kecil, merasa sedikit lega. Bagus sekali. Aku menunggu di depan gedung konser sampai bubar, sementara dia menemani Raelyn. Aku menunggu semalaman di parkiran, dia juga tidak datang.

Demi lima tahun pernikahan, aku menunggu dia berubah pikiran. Kali ini, aku tidak ingin menunggu lagi.

Aku berjalan kaki ke hotel terdekat. Begitu naik ke ranjang, aku langsung tertidur. Keesokan harinya, dari hotel aku pergi ke firma hukum untuk bekerja, tetapi agak terlambat.

Firma hukum itu cukup ternama. Hector adalah pendirinya, sedangkan aku hanya pengacara biasa. Baru saja duduk, pengacara di meja sebelah menatapku dengan kagum. "Hari ini bos besar mengadakan rapat seluruh staf. Kamu malah berani datang terlambat dan nggak ikut."

Aku tersenyum. Hector tidak pernah menungguku, apalagi untuk rapat semacam ini. Selalu aku yang menunggunya.

Pagi itu tidak terlalu sibuk. Setelah selesai bekerja, aku membuka komputer dan mulai mengetik surat perjanjian perceraian.

Hector tiba-tiba muncul. "Jadi istri tapi nggak punya sikap istri. Bikin masalah terus. Sekarang bahkan berani nggak pulang semalaman."

Aku mengangguk, tetap fokus mengetik, sambil menjawab seadanya, "Tenang saja, lain kali nggak akan kuulangi lagi."

Seharusnya memang tidak ada lain kali setelah aku menceraikannya. Ke depan, masing-masing dari kami akan pulang ke rumah sendiri, masing-masing mencari ibu sendiri.

Hector tertegun sejenak. Dia ingin menyindir, tetapi akhirnya menahan diri. "Malam ini makan bersama."

Dia berhenti sejenak, melirik layar, lalu bertanya lagi, "Kapan kamu mulai menangani kasus perceraian?"

Aku tersenyum tipis. "Aku nggak tanya kamu pergi ke mana semalam, jadi kamu juga jangan tanya aku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 10

    Pernikahanku dengannya sejak awal memang tidak pernah penuh gairah. Semuanya berjalan begitu saja mengikuti arus. Ketika sampai di ujung jalan, tentu seharusnya berpisah dengan baik-baik.Hector tahu bahwa dia telah mengabaikanku. Dia seorang pengacara. Dunianya hitam putih. Segala sesuatu harus punya sebab yang terencana.Ketidaktahuannya di masa lalu hanyalah kebohongan yang dia ceritakan pada dirinya sendiri. Setelah aku membongkarnya, dia pun tidak bisa lagi menutup mata terhadap keburukannya sendiri.Begini justru lebih baik. Kalau dia masih bersikeras terus mengikatku, menurutku itu malah terasa palsu. Dia bukan orang seperti itu. Aku pun bukan."Kamu juga nggak perlu setiap hari ke sini. Aku akan berdandan, kamu nggak akan tahan."Namun, Hector tetap saja memperlakukanku dengan penuh perhatian. Ini di luar dugaanku. Selama aku menangani kasus Raelyn, itulah masa ketika Hector paling perhatian padaku sepanjang lima tahun pernikahan kami. Untuk sesaat aku bahkan tidak tahu, apakah

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 9

    Hector tidak menghiraukannya dan hanya menatapku.Sebenarnya dia tidak sepenuhnya yakin. Sejak aku menyerahkan surat pengunduran diri itu, dia sudah kehilangan kendali atasku. Dia tahu hal itu. Hanya saja, dia tidak mau memercayainya.Dia selalu mengatakan agar aku tidak membawa urusan pribadi ke tempat kerja, padahal justru dialah orang yang paling sering bertindak emosional. Dia selalu menggunakan pelampiasan emosi semacam ini untuk memaksaku tunduk. Dia tahu, selama dia bersikap cukup keras, aku pasti akan mengalah.Bertahun-tahun ini, aku memang selalu begitu. Kali ini pun seharusnya bisa.Aku menatapnya, menarik napas dalam-dalam. "Bisa saja."Aku merasakan Fabian yang berada di sampingku seketika memancarkan hawa dingin. "Lorraine.""Asalkan kamu tandatangani surat perjanjian perceraian itu, aku akan menuruti permintaanmu."Hector mendadak berdiri, menatapku dengan wajah tak percaya. Baru saat itulah dia menyadari bahwa perceraian dan pengunduran diriku sama sekali bukan lelucon.

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 8

    Pada akhirnya, dia hanya bisa memberi perintah seperti mengeluarkan titah."Aku nggak peduli. Keluarga Raelyn sedang kena masalah, orang di firma hukum kurang. Pokoknya kamu harus kembali."Pantas saja Hector tiba-tiba teringat padaku. Pada akhirnya, semuanya demi pacar kesayangannya itu.Setelah menyampaikan itu, dia langsung menutup telepon, tanpa sedikit pun rasa enggan. Aku memegang ponsel, hanya merasa bingung. Apa hubungannya urusan Raelyn denganku?Dia tidak mungkin mengira dengan bersikap seolah-olah kewalahan dan menjual rasa kasihan, aku akan menanggapinya, 'kan?Aku melempar ponsel ke samping, lalu menjelaskan kepada Fabian, "Nggak usah dihiraukan. Sekarang aku sudah sepenuhnya milik firma hukum kita. Pesan dari mantan anggap saja angin lalu."Setelah berkata begitu, aku menarik satu berkas dan mulai mengerjakannya.Namun, Fabian justru mengambil berkas itu dari tanganku. "Pergi saja. Kenapa harus menolak?"Ketika duduk di kereta cepat untuk kembali, aku tetap tidak mengerti

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 7

    Aku curiga Fabian hanya ingin memanggilku ke sana untuk mentertawakanku habis-habisan. Aku sudah menyiapkan mental, berulang kali menyusun skenario dalam hati tentang bagaimana menghadapi rangkaian sindiran tajam Fabian.Namun, yang mengejutkanku, saat wawancara aku sama sekali tidak bertemu Fabian. Orang yang mewawancariku adalah murid Fabian. Dia bilang Fabian sedang dinas luar kota selama seminggu ini,tetapi secara khusus berpesan agar dia lebih memperhatikanku, melihat apakah kemampuan kerjaku dalam beberapa tahun ini ada peningkatan.Proses wawancara berjalan dengan sangat lancar. Setelah murid itu berkomunikasi jarak jauh dengan Fabian, gajiku pun ditetapkan.Aku tidak bisa bilang hal ini tak terduga. Ini benar-benar seperti durian runtuh. Mungkin Fabian hanya ingin menampungku untuk membuat Hector jengkel? Apa motifnya yang sebenarnya, aku pun tidak tahu. Bagaimanapun, menunggu dia kembali juga masih satu minggu lagi.Selama minggu pertamaku masuk perusahaan, rekan-rekan kerja

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 6

    Ekspresi seperti ini cukup jarang terlihat di wajah dingin Hector yang sepuluh tahun tak berubah seperti gunung es. Pada detik berikutnya, dia menunjukku dan berkata bahwa karena aku tidak ingin bekerja, aku harus segera angkat kaki dari firma hukum saat itu juga.Aku memang menunggu kata-kata itu. Dengan senyuman lebar, aku mengiakan, lalu berbalik dan keluar untuk membereskan meja kerjaku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa sangat lega.Saat membereskan barang, orang-orang di sekitarku tidak ada yang berani bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Aku dibawa masuk oleh Hector. Di firma ini, semua orang memandangku sebagai muridnya. Karena itu, sikapnya yang paling keras padaku pun seolah-olah dianggap wajar oleh semua orang.Ketika aku membuat keributan sebesar itu di kantornya, tak seorang pun berani menanyakan alasannya. Hanya Caleb yang menunduk, tampak serius menangani dokumen. Padahal sebenarnya di jendela obrolan denganku, jari-jarinya sudah mengetik sampai hamp

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 5

    "Apa maksudmu?" Hector duduk berhadapan denganku, mengerutkan alis. Wajahnya penuh kebingungan."Ngambek sebentar sudah cukup. Kalau kebanyakan jadi nggak ada artinya. Kamu sudah bukan gadis kecil yang bagaimanapun ulahnya tetap terlihat manis."Tentu saja aku bukan. Kalau bukan karena saat ini dia masih menyisakan sedikit rasa bersalah saat menghadapiku, dia bahkan tidak akan meluangkan kesabaran sekecil ini untukku. Satu-satunya orang yang bisa membuatnya menunggu hanyalah Raelyn."Tenang saja, aku juga nggak punya niat untuk bertengkar denganmu." Aku kembali mendorong surat perjanjian perceraian itu ke depannya.Dengan ragu, dia membuka dan membaca surat perjanjian itu. Ekspresinya perlahan menjadi serius.Aku agak tidak mengerti. Seharusnya dia sangat paham bahwa syarat-syarat yang kutawarkan sepenuhnya menguntungkannya, tanpa satu pun kerugian. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya ragu.Dia bahkan membanting perjanjian itu dengan marah ke hadapanku. "Sudah kubilang berkali-kali,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status