แชร์

20. Nanti, Piccola!

ผู้เขียน: MyMelody
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-14 12:05:22

"Tuan Muda, jalan masuk ke distrik pelabuhan di depan ditutup dua truk kontainer milik klan Delaros!" lapor Marco dari depan, matanya fokus mengamati barikade yang membentang seratus meter di hadapan mereka. "Mereka menempatkan sepuluh penembak jitu di atas kontainer."

Don melirik lewat kaca depan yang retak. Terlihat dengan jelas kalau itu dirancang untuk menghentikan kendaraan jenis apa pun. Pasukan Delaros di atas kontainer mulai menurunkan hujan peluru ke arah konvoi mereka.

DOR!

Peluru-pe
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Penawar Sang Boss Mafia   Bab 29

    Valerie tersenyum manis, mengalahi manisnya gula. Menyembunyikan rasa malunya di balik topeng kesempurnaannya, seolah kata-kata Don tak menggoyahkannya."Apa pun yang kau katakan, kita sudah dijodohkan, Don. Jadi aku akan memaafkan sikap kasarmu tadi."Don mengepalkan tangannya menahan emosi. Dia tumbuh besar bersama Valerie. Waktu kecil, mereka sering berburu hewan liar di hutan, berangkat sekolah sama-sama, bahkan menyelesaikan pendidikan di kampus yang sama. Don selalu memperlakukan Valerie dengan baik. Namun, hanya sebatas itu. Don tidak punya perasaan apa-apa terhadap wanita di depannya."Ayo kita masuk!" ajak Don sambil menggenggam lembut tangan Selena.Valerie menoleh ke arah Selena lalu menyunggingkan senyum penuh penghinaan."Don, aku sungguh tidak menyangka kau akan membawa tamu dari distrik bawah untuk menginjakkan kaki di tanah suci istana Kakek."Matanya menyapu penampilan Selena dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan.Don menghentikan langkahnya

  • Penawar Sang Boss Mafia   28. Tunangan?

    Don menghentikan pergerakannya seketika. Napasnya memburu berat, sedangkan wajah Selena bersemu merah dengan mata sayu penuh gairah. Pria itu menatap lurus ke dalam mata Selena, bertarung hebat dengan naluri liarnya yang meraung-raung ingin menuntaskan segalanya di atas ranjang itu detik ini juga."Jangan bergerak," bisik Don sambil menekan tubuhnya yang berotot dan panas. Mereka menempel sehingga hampir tidak ada celah di antara mereka. Begitu intens dan panas.Napas mereka berdua bersahutan kencang. Don mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi kepala Selena, berusaha keras menarik sisa kesadarannya dari jurang kenikmatan."Sial," umpat Don rendah dengan suara yang sangat serak, lalu menyandarkan dahinya di bahu Selena, menahan napas beratnya. "Kau benar-benar hampir membuatku lupa diri, Selena.""Kau ..." bisik Selena jengah.Dengan napas yang masih tersengal-sengal, dia menata detak jantungnya yang bergedup seperti habis lari maraton, menyadari betapa tipisnya batas yang baru saja h

  • Penawar Sang Boss Mafia   27. Bangun, Piccola ...

    Don berdiri tegak setelah memastikan napas Selena terdengar teratur dan halus. Pria itu mengusap lembut helai rambut di dahi Selena sekali lagi sebelum mematikan lampu tidur di samping ranjang, meninggalkan kamar utama dalam remang-remang yang tenang."Jangan takut, Selena. Aku janji akan menjagamu."Dia melangkah keluar dan menutup pintu kamar yang tebal dan kokoh itu tanpa suara sedikit pun.Di ruang rapat kapal yang terletak tidak jauh dari sana, Marco bersama lima komandan pasukan terbaik dan pilihan Don sudah menunggu dengan wajah tegang. Peta digital istana Tuan Besar Vargas terpampang di layar utama."Dengar semuanya!" Suara Don yang tegas dan berat memecah kesunyian dalam ruangan itu.Dia berjalan mendekati meja, aura dinginnya seketika mengambil alih seluruh ruangan."Bawa sepuluh tim sniper untuk mengawasi dari area tebing di luar benteng," perintah Don langsung dengan tatapan waspada dan penuh perhitungan."Baik, Tuan!" jawab pria-pria berbadan tegap itu. "Kalian harus was

  • Penawar Sang Boss Mafia   26. Istirahatlah

    "Ini senjata rahasiamu untuk makan malam nanti," jelas Don, mengarahkan jemari Selena untuk memegang gagangnya. "Bilahnya tidak akan terdeteksi pemindai logam Kakek saat kita diperiksa nanti sebelum memasuki istananya. Dan kalau kau menekan tombol kecil di bawahnya ..."BZZZT!Arus listrik biru meloncat singkat di ujung pisau.Selena membelalakkan mata dan hampir melepaskan benda itu dari tangannya."Ini alat penyetrum?""Yes! Dua puluh ribu volt," sahut Don di samping telinganya."What? Ini terlalu berlebihan, Don.""Tidak ada yang terlalu berlebihan saat kau menghadapi musuh, Piccola."Selena menatap Don tak percaya."Benda ini cukup untuk melumpuhkan pria berbobot seratus kilo dalam satu satu sampai tiga detik. Tusuk leher atau selangkangan mereka, tekan tombolnya, lalu lari ke belakang tubuhku.""Ini mengerikan, Don. Aku tidak yakin bakal bisa menggunakannya." "Listen, Selena. Kalau ada yang berani menyentuhmu saat aku sedang lengah, tusuk dan setrum mereka. Ingat itu!"Selena me

  • Penawar Sang Boss Mafia   25. Untuk Apa?

    Melihat Don yang membeku, Selena malah memperdalam ciumannya.Aaahh ...Sebuah erangan liar dan berat lolos dari kerongkongan Don. Kontrol dirinya yang terkenal sekeras batu karang, kini hancur berkeping-keping. Gairah di dalam dadanya meledak.Don melingkarkan kedua lengannya di pinggang Selena, menarik tubuh gadis itu hingga terangkat dari lantai geladak, lalu membalas ciuman Selena dengan tingkat keliaran yang lebih dalam dari ciuman pertama.Selena membalas dan membuka akses sehingga Don mendapat akses sepenuhnya.Lidah Don menerobos masuk tanpa ampun, melumat dan menguasai seluruh rongga mulut Selena. Gadis cantik itu mendesah pasrah di dalam kungkungannya. Suara deru napas Don memburu kasar di udara siang menjelang sore itu. Tangannya meremas pinggang Selena penuh posesif, hampir saja membawa gadis itu melewati batas di atas geladak terbuka."Kau nikmat sekali, Piccola," bisik Don sambil menghirup napas sebentar sebelum kembali meraup bibir Selena yang tebal dan menggoda.Tangan

  • Penawar Sang Boss Mafia   24. Sering?

    Don tidak langsung menjawab. Senyum miring yang teramat nakal terukir di bibirnya. Dia merapatkan tubuhnya sehingga Selena tidak ada ruang untuk menghindar. Tangan besarnya merayap naik ke belakang leher Selena, mengunci posisi gadis itu."Kamu mau tahu caranya?" bisik Don dengan suara baritonnya yang bergetar tepat di depan bibir Selena." ... adalah membuat otakmu terlalu sibuk memikirkanku sampai kau lupa rasa mual itu seperti apa."Bola mata Selena membulat, dia ingin memejamkan mata, tapi di sisi lain, dia juga penasaran apa yang akan dilakukan boss mafia itu.Don memajukan wajah, dan mengecup bibir Selena hingga tubuh gadis itu menegang."K-kau …," bisik Selena jengah."Shhh ..."Don menatap Selena dengan sinar mata meredup. Awalnya hanya sentuhan lembut yang menggoda, sebuah kecupan singkat yang menahan napas Selena di tenggorokan. Namun, saat Don mulai melumat bibirnya lebih dalam, Selena justru membeku kaku. Bibirnya mengatup rapat, matanya semakin membelalak lebar menatap Do

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status