Home / Romansa / Penawaran Gila Tuan Jaksa / 53. Panas dan Nikmat

Share

53. Panas dan Nikmat

Author: LilyLembah03_
last update publish date: 2026-09-24 20:14:25

"Pak ... ini serius?"

Nadine berdiri menempel dengan kusen pintu berlapis kayu jati. Sedangkan pria di dalam kamar sana tengah sibuk membersihkan permukaan kasur.

"Apa aku terlihat bercanda?" tanya Lingga sambil sejenak menoleh padanya.

Nadine hanya terdiam kaku sambil mempererat genggaman pada ponsel sang jaksa. Satu-satunya pencahayaan yang saat ini mereka punya.

"Saya bisa tidur di ruang tengah, Pak." Nadine berucap gelagapan.

Lingga hanya melepaskan sepatu beserta kaus kemudian naik ke sis
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   56. Kita Perlu Bicara

    Nadine terjaga sampai pagi.Setelah apa yang terjadi semalam, jelas saja perempuan itu tidak bisa tidur. Dan sekarang, ia benar-benar menyesal karena tidak memanfaatkan waktu istirahatnya dengan baik.Masalah baru sudah menunggunya di depan mata; dengan kondisi mengantuk berat dan mental yang masih terguncang, ia harus berangkat kerja.Nadine harus tetap bertemu Lingga."Apa aku sebaiknya mengambil cuti...?"Pilihan yang jelas tidak tepat. Karena perempuan itu sudah banyak libur akhir-akhir ini. Pekerjaan yang belum ia rampungkan saat cuti sebelumnya bahkan masih banyak.Kringgg!Nadine berjengit terkejut karena dering telepon kabel di atas nakas sisi ranjang. Perempuan itu pun mendengkus meski tak ayal buru-buru mengangkat panggilan."Selamat pagi, Ibu Nadine. Mohon maaf mengganggu waktunya, ya, Ibu ...." Suara ramah nan manis dari petugas hotel menyapa telinga."Pagi, Mbak." Nadine merespon sekenanya."Di lobi ada titipan barang untuk Anda. Mau kami antarkan ke kamar atau Ibu ambil

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   55. Tidak Bisa Kembali

    "Nadine ... kenapa pintunya dikunci?!"Perempuan dengan piyama terkancing asal itu bersandar di luar pintu kamar Lingga. Napasnya memburu keras, bibirnya terasa membengkak.Sedangkan pria di dalam sana sibuk menggedor pintu. Mungkin terkejut karena Nadine tiba-tiba mengunci pintu. Mungkin marah karena Nadine tiba-tiba berlari kabur setelah menendang selangkangannya."Apa yang sudah kulakukan...?" Mengabaikan panggilan Lingga, perempuan itu terduduk lemas di lantai. Telapak Nadine menangkup pipi tembamnya sendiri sambil sesekali menampar keras.Perempuan itu berusaha menyadarkan diri.Dan sialnya, kesadaran itu baru muncul saat merasakan Lingga berusaha menanggalkan celananya. Kesadaran itu baru ada saat tangan sang jaksa sudah bergerak terlalu jauh. Bagaimana bisa mereka melakukan hal tersebut? Kenapa mereka bertindak terlalu berani? Ada apa dengan keduanya malam ini?"Nadine! Kamu tidak ke mana-mana, kan? Buka pintunya!" Panggilan panik Lingga kembali menyadarkan perempuan itu dari

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   54. Basah dan Lengket

    Suara decapan basah di ruang gelap itu bersahutan dengan guruh di langit. Sedang sepasang muda-mudi itu mungkin terlalu sibuk saling memagut.Hingga Nadine tidak menyadari. Entah sejak kapan Lingga bangkit dan menaungi tubuhnya. Lengan kekar sang jaksa bahkan bergerak menahan pergelangan kiri Nadine yang terkulai di sisi kepala."P-pak--hmmh ...."Entah sudah berapa kali Nadine berusaha bicara acapkali pagutan mereka terlepas. Namun, perempuan itu hanya punya sedikit waktu untuk mengambil napas. Sebelum kemudian bibir semi tebal sang jaksa membungkamnya lagi.Memagut begitu buas dan rakus. Lidah bertekstur kasar itu bahkan menyusup liar, menerobos geliginya yang kecil dan rapi, kemudian membelit lidah Nadine yang ikut bergerak ragu.Dan sebut saja ia bodoh dan mudah terlena. Karena bukannya berusaha lebih keras untuk melepaskan diri, tangan kanannya yang terbebas dari cengkeraman justru bergerak menuju tengkuk Lingga.Menyusup di antara sela rambut sang jaksa. Kemudian meremas di sana

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   53. Panas dan Nikmat

    "Pak ... ini serius?"Nadine berdiri menempel dengan kusen pintu berlapis kayu jati. Sedangkan pria di dalam kamar sana tengah sibuk membersihkan permukaan kasur."Apa aku terlihat bercanda?" tanya Lingga sambil sejenak menoleh padanya.Nadine hanya terdiam kaku sambil mempererat genggaman pada ponsel sang jaksa. Satu-satunya pencahayaan yang saat ini mereka punya."Saya bisa tidur di ruang tengah, Pak." Nadine berucap gelagapan. Lingga hanya melepaskan sepatu beserta kaus kemudian naik ke sisi ranjang. "Kamu bisa tidur di kamarmu. Buka tirainya supaya cahaya masuk," sahut Lingga santai sambil bersandar di kepala ranjang."Tapi saya juga takut petir, Pak ...." Nadine pada akhirnya mengaku."Tapi di ruang tengah sangat gelap." Lingga menimpali cepat.Nadine membenarkan dalam hati. Hingga perempuan itu hanya bisa menunduk lesu sambil mencebik cemberut.Apa tidak ada pilihan lain kecuali tidur di kamar Lingga? Kenapa juga pria itu tidak berinisiatif keluar untuk membeli lilin?"Tidurla

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   52. Tidurlah Bersamaku

    "Nadine! Ada apa?!"Panggilan keras itu membuat Nadine yang tadi terpejam gemetar sontak membuka mata. Kedua tangannya yang sedari tadi menutup erat telinga perlahan mengendur.Hingga ia mampu melihat dan mendengar dengan jelas sosok pria yang kini ikut berjongkok di depannya. Lengkap beserta ekspresi cemas serta pertanyaan beruntun sarat akan panik."Apa ada yang masuk? Ada yang melukaimu?" Itu Lingga.Sang jaksa lah yang lagi-lagi muncul saat Nadine terjebak dalam gelap. Menyadari sosok yang kini berada di depannya, Nadine tanpa sadar menghela luar biasa lega. Napas perempuan itu terengah setelah beberapa waktu lalu menahan napas. Tubuhnya bahkan terduduk di lantai keramik dengan lemas."Aku pikir bukan Pak Lingga .... A-aku pikir orang lain yang masuk ...." Perempuan itu menyahut terbata karena masih terkejut.Lingga buru-buru menyalakan senter lewat ponsel. Kemudian mencari saklar dan memencetnya berkali-kali. Namun, lampu tidak juga menyala.Pria itu pun kembali menghampiri Nad

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   51. Tolong Pergi

    "Masuklah sendiri."Nadine menoleh bingung pada Lingga yang menghentikan mobil di depan lobi apartemen. Saat biasanya mereka langsung menuju parkiran basement. "Pak Lingga bagaimana?" tanya perempuan itu sambil membuka pintu mobil."Aku masih ada urusan. Mungkin baru pulang tengah malam." Nadine menatap langit yang kembali mendung dari kaca samping. Kemudian mencebik kecil begitu menyadari gerimis masih turun.Sepertinya akan hujan lagi. Bukankah Lingga bilang berbahaya menyetir saat kondisi jalanan licin begini? Apa urusan penting yang membuat sang jaksa harus pergi lagi? "Kalau belum bisa pulang, kenapa harus mengantarku dulu?" tanya Nadine tidak enak hati."Hanya sebentar." Lingga merespon singkat.Padahal, mereka jelas berteduh cukup lama di pertengahan jalan tadi. Waktu sang jaksa yang berharga malah disia-siakan untuk mengantar Nadine pulang. Padahal, pria itu bisa istirahat di ruang kerja pribadinya yang jauh lebih nyaman."Kenapa diam saja? Turunlah!" tegur Lingga menyadari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status