Share

98. Anak Baik

Author: LilyLembah03_
last update publish date: 2026-10-14 21:24:28

Nadine mengerjap saat cahaya putih menusuk retina. Samar-samar, telinganya yang semula berdenging menangkap suara kunyahan dari sisi kanan.

"Nad, sudah bangun?" Rion--orang yang rupanya duduk di dekat bed tempat Nadine berbaring, menyapa lembut.

Sejenak, perempuan itu susah payah meneguk saliva yang terasa pahit dan perih. Perempuan itu bahkan meringis begitu nyeri membuat tengkuknya terasa kaku saat hendak bangkit duduk.

"Katanya jangan bangun dulu! Berbaring saja!" Rion mencegah perempuan itu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   102. Service AC

    "Pak, panas sekali. Aku tidak suka!" Nadine mengipasi tubuhnya yang hanya berbalut handuk kimono dengan kipas elektronik kecil. Kipas yang biasanya cukup meski Nadine berada di transportasi umum yang padat merayap, bahkan saat berada di luar ruangan siang bolong sekali pun.Tetapi kini, benda itu seperti tidak berguna. Tubuhnya bahkan merasa gerah setelah mandi dua kali sejak pulang kerja."Aku sudah bilang, ayo ke apartemenku saja! Kamu hanya perlu duduk manis." Lingga yang tampak tidak terganggu dengan suhu ruangan yang menurut Nadine begitu menyiksa itu, hanya menyarankan hal yang sama sejak tadi.Nadine mendengkus dan berjalan menuju dapur. Lingga mengekori dan hanya bisa menghela jengah begitu melihat sang kekasih mulai membuka kulkas lebar-lebar. Perempuan itu bahkan duduk bersila di sana guna mencari sedikit rasa sejuk."Kulkasnya bisa cepat rusak kalau sengaja dibuka terlalu lama." Lingga kembali menegur hingga Nadine mendongak dengan tatapan tajamnya."Aku mandi tidak boleh,

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   101. Selalu Tahu

    Nadine membeliak panik saat bibir Lingga mulai bergerak menuju lehernya. Perempuan itu sontak mendorong dada kekasihnya sekuat tenaga begitu dengung halus mesin lift perlahan berhenti.DING!Saat Lingga terdorong hingga punggungnya menabrak dinding besi di sisi lain, pintu lift pun terbuka. Menampilkan sosok pria yang keduanya jelas kenali."Wah, kebetulan ketemu Pak Jaksa di sini!" Galih--detektif yang akhir-akhir ini sepertinya tahu banyak tentang mereka berdua langsung bergerak mundur.Mempersilakan Lingga dan Nadine untuk keluar dari lift terlebih dahulu."Halo, Bang ...." Nadine menyapa canggung sambil mengekori Lingga yang kini sudah berjalan santai. Seolah tadi dia tidak habis berbuat mesum."Sudah beres yang saya minta kemarin?" Lingga merangkul si detektif dan meninggalkan Nadine di belakang.Perempuan itu hanya mengusap bekas bibir Lingga di telinganya yang sedikit basah. Kemudian berlari kecil mengikuti kedua pria yang entah sedang membicarakan apa."Yasudah, ayo sekalian k

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   100. Kehilangan Akal

    "Kenapa kamu senang sekali membantahku, Nadine?"Pagi sekali, Lingga mulai mengomeli kekasihnya yang sudah rapi dalam balutan pakaian kerja. Sedangkan perempuan yang tengah mengikat setengah rambut bagian atasnya, kemudian menggerai sisanya, hanya lanjut menyisir poni."Aku tidak pernah bilang akan libur kerja, kan? Aku bukan pegawai pemalas yang mengambil cuti hanya karena masalah sepele." Nadine menatap Lingga dari pantulan cermin sambil lanjut mengoleskan pelembab bibir.Sedangkan pria yang kini belum mandi apalagi berganti pakaian hanya bersedekap dada di belakang Nadine. Mungkin ingin lanjut marah, mungkin sedang menimbang harus melanjutkan perdebatan ini atau tidak.Karena kali ini, Nadine tidak tampak gentar oleh teguran tegas sang kekasih."Aku tidak mau bertengkar, Nana. Kita baru saja berbaikan ...." Pada akhirnya, Lingga hanya bisa merengek pelan.Tidak ingin menyinggung perempuan yang sedang sensitif itu bahkan dengan intonasi dan nada suara."Aku juga tidak pernah mau ber

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   99. Kamu Cemburu?

    "Mau digendong lagiii!"Lingga berkacak pinggang menatap perempuan yang masih duduk di kursi samping kemudi. Setelah membukakan pintu mobil, Nadine justru merentangkan tangan sambil menyengir lebar.Tanpa mengatakan apapun lagi, kali ini sang jaksa mengangkat tubuh pendek sang kekasih untuk digendongnya. Hingga Nadine memekik saat tubuhnya tiba-tiba berpindah tempat. "Kenapa wajahmu seperti itu? Apa aku terlalu berat?" Sayangnya, Lingga lupa bahwa saat ini ia tengah menghadapi makhluk yang sedang super sensitif.Sehingga perubahan kecil ekspresinya pun mulai diartikan sebagai hal lain."Pakkk ... apa aku seberat itu?" Nadine menepuk-nepuk dada Lingga guna memaksa sang kekasih untuk bicara."Bohong kalau aku bilang tidak, kan?" Dan sialnya, hari ini sang jaksa memang ingin mencari perkara baru."Kalau begitu turunkan aku!" Nadine yang tersinggung sontak meronta di gendongan kekasihnya.Lingga justru tertawa sambil mencuri kecupan di pelipis perempuan dengan rambut terkepang satu itu.

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   98. Anak Baik

    Nadine mengerjap saat cahaya putih menusuk retina. Samar-samar, telinganya yang semula berdenging menangkap suara kunyahan dari sisi kanan."Nad, sudah bangun?" Rion--orang yang rupanya duduk di dekat bed tempat Nadine berbaring, menyapa lembut.Sejenak, perempuan itu susah payah meneguk saliva yang terasa pahit dan perih. Perempuan itu bahkan meringis begitu nyeri membuat tengkuknya terasa kaku saat hendak bangkit duduk."Katanya jangan bangun dulu! Berbaring saja!" Rion mencegah perempuan itu panik.Nadine mengiyakan karena memang merasa cukup lemas. Netra bulatnya mengedar ke seluruh penjuru ruangan IGD yang terisi beberapa bed lain yang kosong.Hanya ada mereka berdua di sini.Padahal seingat Nadine, ada Lingga yang menghampiri sebelum kesadarannya terenggut gelap. Namun, menyadari siapa pria yang menemaninya saat ini membuat Nadine tanpa sadar menghela kecewa.Berarti, bukan Lingga yang membawanya ke sini, ya?"Kamu belum makan, kan? Aku sudah belikan roti melon. Mau makan sekara

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   97. Tidak Bisa Istirahat

    "Nad, kamu sakit?" Rion bertanya sesaat Nadine duduk di kursinya. Perempuan yang hari ini mengenakan jaket cukup tebal itu hanya menggeleng lesu "Ngantuk aja, Bang. Semalam begadang." Iya, Nadine begadang karena tidak bisa menahan sakit. Perempuan itu ingin membeli minuman herbal untuk memperlancar menstruasinya, namun tidak punya cukup tenaga untuk keluar rumah lagi. Apalagi di waktu malam. Ia takut minum obat pereda nyeri. Karena dokter memang tidak menyarankannya minum obat tanpa resep dokter. Hormon aneh di tubuhnya membuat Nadine amat berhati-hati. Karena terakhir kali kondisinya menjadi semakin parah, itu semua karena Nadine mengonsumsi obat sembarangan demi menekan produksi ASI. Bisa dibilang, perempuan itu lumayan kapok. Meski kini, dia juga lah yang harus rela menahan sakit demi menghindari masalah lain. Padahal, nyeri yang hadir acapkali tiba waktu datang bulan tidaklah main-main. Berbaring pun tidak nyaman, apalagi duduk seharian. Namun kini, dia malah sukarela masu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status