MasukTirtayasa melanjutkan perjalanannya kembali.
"Semoga sekarang tidak ada halangan lagi." batin Tirtayasa.
Nampak dari kejauhan tiga orang anak sedang memukuli seorang anak lainnya yang terbaring ditanah.
"Ayo bocah tengik lawan aku hah!!" kata anak yang berbadan gemuk.
Kedua temannya itu menertawakan. Sementara anak kecil yang dipukuli nampak diam sambil terbaring dan memeluk lutut agar menahan tendangan dari anak yang yang berbadan gemuk.
"Nampaknya cukup Galih, dari tadi dia tidak melawan." kata teman satunya yang bernama Bajra.
"Enak aja, dia ini menerima pemberian dari ayahku 1 keping perunggu" Galih meneruskan tendangannya ke arah tubuh anak itu.
"iya betul kata Bajra, Galih. Cukup nanti dia mati bagaimana?" kata teman satunya lagi yang bernama Bagas.
"Masa bodoh, kalau dia mati disini paling dia akan dimakan anjing hutan, hahaha. Di desa ini tidak ada orang yang menginginkan dia." Kata Galih.
"Eh, lihat ada orang datang ke arah sini, cepat Galih , Bajra kita lari" ajak Bagas.
Mereka melihat ke ujung jalan nampak orang tua berjalan ke arah mereka. Galih memukul anak itu untuk terakhir kali nya.
Bukk!!
"Awas kalau kau berani bilang sama ayahku." ancam Galih sambil mengambil uang 1 keping perunggu dari saku anak itu.
Ketika orang tua itu yang tak lain adalah Tirtayasa sampai didekat anak itu, dia melihat anak itu masih terbaring terlihat lebam ditubuhnya dan darah dikepalanya. Tatapan matanya tampak kosong mungkin dia tidak perduli kalau ada orang lain ada disisinya.
Tirtayasa membungkuk dan mencoba memdudukan anak itu. Anak itu hanya mengikuti dan menatap Tirtayasa.
"Minumlah nak." Tirtayasa menyodorkan tempat minumnya.
"Terima kasih Tuan" ucap anak itu.
"Panggil aku kakek saja." balas Tirtayasa.
Setelah meminum air pemberian Tirtayasa. Anak itu mencoba berdiri tapi tidak sanggup. Tirtayasa segera menahan dan membawanya ke batang pohon yang ada di pinggir jalan.
"Kenapa kamu sampai dipukuli sama anak yang lain nak?' tanya Tirtayasa.
"Anak ini tidak mengeluarkan ekspresi apa apa padahal terlihat jelas badannya babak belur kepalanya bocor." batin Tirtayasa.
"Ini karena salahku kek. Aku menerima pemberian dari Juragan Wirya. Aku menerima 1 keping perunggu upah mencari kayu bakar di hutan sekitar desa. Galih anak juragan Wirya tidak suka apabila aku menerima pemberian dari orang tua nya dan akhirnya aku dipukuli."cerita anak itu.
Tirtayasa hanya mengangguk mengerti apa yang diceritakan anak itu.
"Siapa namamu nak?" tanya Tirtayasa.
"Dipa kek, Dipa Anggara." jawab anak itu yang berumur kurang lebih 10 tahun.
"Baiklah Dipa ayo kakek antar kamu pulang ke desa." kata Tirtayasa sambil berdiri.
Tapi Dipa tetap diam.
"Dipa tidak bisa pulang ke desa kek. Dipa tinggal digubuk dipinggir hutan. Dipa diusir dari desa karena dibilang pembawa sial bagi desa." Ucap Dipa sambil tertunduk.
"Lantas dimana orang tua mu Dipa?" tanya Tirtayasa.
"Orang tua ku tewas ketika para perampok datang ke desa kami. Ayah mencoba melawan para perampok itu tapi naas malah ayah yang menjadi korban. Ibuku mengenali salah satu perampok itu adalah salah satu warga desa ini, karena ketahuan ibuku pun terbunuh juga dan aku dituduh yang menunjukan jalan ke perampok dari arah hutan ke desa." Sambil menarik dan membuang napas panjangnya.
"Aku ikut prihatin Dipa." Tirtayasa merasa iba.
Tapi untuk saat ini dia tidak bisa berlama lama di pinggir desa ini. Dia harus segera ke menemui empu Baryana.
"Ayo aku gendong kamu ke rumahmu Dipa." Tirtayasa berjongkok dan menyuruh Dipa naik kepunggungnya.
Kejadian aneh pun terjadi.
Batu langit yang tersimpan rapi di punggung Tirtayasa bereaksi ketika berdekatan dengan Dipa. Cahaya kebiruan muncul dari batu langit dan merayap menutupi tubuh Dipa.
Tirtayasa pun kaget merasakan ada getaran kekuatan yang berasal dari batu langit yang dia bawa. Dia pun menoleh kebelakang dari ujung matanya dia melihat sinar kebiruan melapisi tubuh Dipa.
"Tunjukan rumahmu Dipa. Kakek ingin memastikan sesuatu." Ucap Tirtayasa.
Dipa segera menunjukan arah dan orang tua itu segera melesat ke arah yang ditunjukan Dipa. Sesampai nya di gubuk sederhana yang ada hanya atap dan dinding bambu. Diturunkannya Dipa dan menyuruhnya untuk duduk. Terlihat dengan jelas cahaya biru itu terus melapisi tubuh Dipa dan secara perlahan luka dan lebam sembuh.
"Nampak sama persis seperti yang diceritakan oleh Eyang Guru, bahwa dalam perjalanan ku ke Gunung Bukit Tungul aku akan menemukan orang yang cocok untuk batu langit ini." membatin Tirtayasa.
Dipa yang sedari tadi diam dan tidak sadar bahwa ada cahaya biru yang melapisi tubuhnya memandang orang tua itu. Hanya dia merasa badannya tidak sakit sakit lagi dan merasa segar.
"Terima kasih kakek, sudah mengantarkan aku sampai ke rumah. Dipa belum bisa membalas kebaikan ini" ucap Dipa.
"Eh.. Dipa kalau kau tidak keberatan maukah kau ikut dengan kakek ke Perguruan Golok Khayangan?"tanya Tirtayasa menatap anak itu dalam dalam.
Dipa menimbang disini pun dia tidak dianggap, hanya juragan Wirya saja yang merasa kasihan makanya dia diberi pekerjaan mencari kayu bakar agar dapat menyambung hidup. Setidaknya kalau dia ikut orang tua itu, dia bisa merubah nasib begitu pikiran polos nya.
"Baiklah kek, aku iktut dengan kakek." jawab Dipa.
"hahaha bagus..bagus. Panggil saja aku kakek Tirta." ucap Tirtayasa sumringah.
Dan perjalanan pun berlanjut. Tirtayasa merasa kagum kepada Dipa. Setelah dia menerima cahaya biru dari batu langit. Kondisi fisik nya terlihat meningkat biasanya anak seumuran Dipa akan cepat lelah setelah berjalan cukup jauh apalagi seharian. Namun berbeda kali ini Dipa tidak menunjukan tanda kelelahan.
Tibalah mereka di desa dekat kaki Gunung Bukit Tunggul.
"Kita cari kedai makan dulu Dipa. Rasanya cukup bosan kita makan buah buahan hutan terus selama perjalanan ini." Ajak Tirtayasa.
Sesampainya di kedai makan yang cukup sederhana. Mereka duduk di pojokan dengan memesan makanan.
"Pak tolong siapkan ayam bakar dan nasi untuk 2 orang serta 2 minuman jahe." kata Tirtayasa kepada pemilik kedai.
Tak lama kemudian makanan pun datang. Dipa yang sangat jarang makan makanan seenak itu makan tanpa bersuara hanya terlihat dari sinar matanya dia menemukan secuil kebahagian disitu. Tirtayasa paham betul dengan kondisi anak itu.
"Ayo Dipa tambah lagi, setelah ini kita akan cari penginapan dan besok pagi kita akan meneruskan perjalanan ke puncak Gunung Bukit Tunggu." kata Tirtayasa.
Keesokan paginya mereka berdua berangkat dan sampai di puncak gunung menjelang sore hari. Nampak dari jauh asap membumbung tinggi.
"Baryana, aku datang." gumam Tirtayasa.
Empu Baryana yang ada di belakang gubuknya, merasakan getaran energi padahal posisi Tirtayasa masih cukup jauh.
"Getaran energi ini milik Kakang Tirtayasa. Hhmm, tidak salah seperti yang Eyang Guru katakan dalam semediku beberapa hari yang lalu." Batin Baryana.
Ketika Tirtayasa dan Dipa tiba di tempat Empu Baryana. Dia sudah menunggu di depan rumahnya sambil tersenyum melihat kakak seperguruannya.
"Apa kabar mu Kakang Tirta?" tanya Empu Baryana. sambil memeluk Tirtayasa.
"Aku baik baik saja Baryana." jawab Tirtayasa.
Dan mereka pun larut dalam obrolan. Dipa hanya diam saja karena tahu bahwa tidak sopan ikut campur dalam obrolan kedua orang tua itu. Walaupun sesekali empu Baryana melirik nya seperti menyelidik.
"Bentuk tubuh anak cukup sempurna untuk jadi seorang pendekar pilih tanding dan energi kebiruan yang keluar dari tubuh nya cukup menarik." batin Empu Baryana.
Setelah puluhan kali benturan itu nampak Mata Geni mulai merosot tenaga dalamnya. Sesekali dia mundur untuk mengambil napas."Anak muda ini luar biasa, tenaga dalamnya tidak surut sedikit pun. Nampaknya ini akan jadi pertarunganku yang terakhir. Tidak masalah selama lawanku lebih kuat dariku." Batin Mata Geni.Setelah bentrokan terakhir. Mata Geni melompat mundur, dadanya naik turun dan tangan kanannya gemetar memegang pedang neraka. Namun wajahnya terlihat gembira dengan senyum tulus."Kau cukup hebat anak muda. Kita akhiri saja pertarungan ini. Aku tidak akan menyesal jika mati ditanganmu. Hahaha." Ucap Mata Geni perlahan mengeluarkan semua tenaga dalamnya dan menyalurkan ke pedang neraka yang sedang dipegangnya. Pedang neraka mengobarkan api merah yang lebih panas dari sebelumnya."Jangan manahan dirimu anak muda."Ucap Mata Geni kemudian dengan sisa tenaganya dia melesat kearah Dipa."Tentu saja. aku tidak akan menahan.Hiyaa." Ucap Dipa menyambut seragan Mata Geni.Duarrrr!Ledakan
Adilasa dan Adimana melepaskan jubahnya yang sejak awal dia kenakan.Brukk! Brukk!Suara ketika jubah itu jatuh ke tanah yang tampaknya cukup berat. Mereka berdua menyerang Dipa dengan peningkatan kecepatan yang luar biasa."Hhhhmmm..kecepatan mereka meningkat dan pola serangannya lebih berbahaya dari sebelumnya." Batin Dipa.Dia meningkatkan tenaga dalam ke jurus Mata Naganya. Kedua mata Dipa semakin menampakan sinar kebiruan. Dan ini tidak luput dari perhatian Mata Geni dan Anjani."Hhhmmm..jadi begitu cara kerja jurusnya itu. Membekukan lawan tanpa sadar memperlambat gerakannya. Tapi kenapa dia menahan diri? padahal sudah sejak tadi dia dapat mengalahkan mereka berdua." Batin Mata Geni.Mata Geni melirik ke arah Anjani yang memperhatikan terus setiap gerakan pemuda itu."Ternyata pemuda itu tidak hanya memiliki tenaga dalam tinggi tapi cerdas dalam melihat keadaan. Dia pasti tahu Nona Anjani memperhatikan setiap gerakannya untuk mencari kelemahannya kemudian melaporkannya kepada ke
Dipa melesat dengan kecepatan luar biasa ke arah gerbang utara diikuti oleh Tirtayasa dan golongan putih lainnya."Kakek berhati hatilah, jauh didepan sana ada ratusan orang sedang menyamarkan diri diantara pepohonan." Suara Dipa terngiang dalam kepala Tirtayasa.Tirtayasa yang mendapat pesan rahasia dari Dipa segera membari tanda kepada yang lain untuk lebih waspada. Dan benar saja dalam jarak 100 langkah dari arah depan mereka berseliweran berbagai senjata rahasia dari mulai pisau kecil, jarum bahkan senjata aneh berbentuk segitiga yang setiap ujungnya tajam.Dipa yang berada paling depan berdiri tegak di salah satu dahan pohon yang cukup besar kemudian mengeluarkan jurus Tiupan Naga sehingga senjata senjata itu pun luluh lantak sebelum mengenainya. Namun tidak semua golongan putih bisa selamat, beberapa puluh orang tumbang karena terkena senjata itu.Tiba tiba dari arah depan meluncur dua bola cahaya sebesar kerbau kearah Dipa."Yang lain menjauhlah." Teriak Dipa Anggara.Blaar!Bla
Gerbang selatan.Panglima Chendala dan Panglima Warangan berkelebat cepat ke arah gerbang selatan yang saat ini tengah terjadi pertarungan. Keduanya langsung mengamuk membabat lawan tanpa ampun. Sepasang Serigala Perak, Wira dan Wulan melihat keadaan itu langsung mencoba melesat ke arah Panglima Warangan mencegah agar tidak jatuh korban terlalu banyak dari golongan putih.Trang! Trang!Pedang Wira dan Wulan menangkis pedang besar dari Panglima Warangan. Ketiga terlempar kebelakang beberapa langkah namun masih bisa berdiri kokoh. Parit kecil tebentuk karena kaki mereka yang terseret akibat benturan itu."Wulan berhati hatilah, tenaga dalam orang ini setingkat dengan guru."Ucap Wira kepada saudara kembaranya.Wulan menganguk dengan tegas."Ayo anak kecil mari kita bermain lagi,hahaha." Panglima Warangan meremehkan.Wulan yang mendengar itu mendengus kesal kemudian memberi isyarat ke Wira untuk menyerang kembali.Pertarungan Sepasang Serigala Perak dan Panglima Warangan berlangsung sengi
Kanaka dan Lota terlempar menjauh dari area pertarungan karena ledakan akibat pertarungan Saksana dan Pariga.Kanaka berdiri sambil menepuk nepuk bajunya yang penuh dengan debu begitupun dengan Lota."Nampaknya banteng gendut itu mendapatkan lawan yang kuat, namun pancaran energinya masih terasa tanda dia baik baik saja." Batin Kanaka. Dia melihat kearah Lota yang sedang menatapnya dengan tajam."Ayo pak tua kita lanjutkan pertarungan kita."Ucap Kanaka dengan memberi tanda untuk maju dengan tangan kanannya.Lota yang cukup mengerti dengan apa yang Kanaka lakukan,naik pitam karena mendapat tantangan.Lota menggereng dan kedua tangan Lota membentuk cakar beruang. Asap hitam tipis keluar dari setiap jari yang membentuk cakar.Kanaka menyeringai dia pun tidak mau kalah, disalurkan tenaga dalamnya. Asap kekuningan mulai keluar dari setiap cakarnya."Goarrr!" Kanaka mengereng.Seolah ada aba aba kedua serempak maju dengan cakar yang dilambari oleh tenaga dalam. Sabetan demi sabetan mengenai
Dua bayangan besar melesat ke arah gerbang timur markas Kelompok Kuda Hitam diikuti oleh para pendekar golongan putih. Dengan senjata besarnya yang dibawa dipundaknya tidak berpengaruh besar terhadap gerakan cepatnya. Tidak berapa lama mereka tiba di gerbang timur markas kelompok Kuda Hitam.Saksana dan Pariga berdiri sejauh 100 langkah dari gerbang timur.Bumm!Bumm!Dua gada besar di turunkan dari pundak mereka, tanah sedikit bergetar karenanya.Didepan gerbang berdiri tiga orang tinggi besar dari Kelompok Kuda Hitam. Dua orang memakai jubah panjang dengan membawa tameng di tangan kirinya dan pedang besar ditangan kanannya. Satu orang lagi yang berdiri ditengah dengan memakai jubah dari bulu beruang hitam dan kepalanya ditutup oleh kulit kepala beruang yang sudah dikeringkan oleh bahan tertentu."Kalian kesini hanya mengantarkan nyawa,hahahah." Ucap orang yang memakai jubah dari kulit beruang yang bernama Lota."Guru apakah mengerti apa yang diucapkan orang itu?"Tanya Pariga kepada S







