LOGINBaureksa sibuk hadapi lebah-lebah itu. Dewa Sengat menyambarkan tangannya di tempat kosong. Tangan itu menggenggam sesaat dan ditarik di depan dada. Ketika genggamannya dibuka, teryata ada dua ekor lebah merah yang melesat terbang dari genggaman itu.
Wuungng...!
Dua lebah merah itu menyerang punggung dan leher Baureksa.
"Auh...!" Baureksa terpekik kaget mendapat sengatan di dua tempat. Tapi seketika itu pula tubuhnya mengejang, jantungnya bagaikan sulit dipakai bernapas.
"Apa-apaan kau ini! Mau bertindak kurang ajar padaku, hah!"Baraka tidak menjawab selain hanya sunggingkan senyum dan lepaskan pelukan. Tapi tangan kirinya yang menggenggam segera disodorkan. Tangan itu membuka genggamannya, dan mata Kinanti terbelalak melihat sekeping logam bergerigi tajam ada di tangan Baraka."Senjata rahasia milik siapa itu!"Baraka hanya angkat bahu, "Yang jelas jika tidak segera kutangkap dan dirimu kutarik dalam pelukan, benda ini sudah menembus kulit tubuhmu yang mulus itu, Kinanti."Gadis berjubah kuning gading itu kulit wajahnya berubah merah. Bukan karena malu dipuji kemulusan kulitnya, tapi marah karena ada seseorang yang ingin membunuhnya dengan licik, ia segera pandangi keadaan sekeliling dengan mata tampak berang.Akhirnya ia pun berseru, "Jika kau ingin unjuk kesaktian, keluarlah dari persembunyianmu dan hadapilah aku! Jika kau masih bersembunyi, kuanggap kau seorang pengecut yang masih perlu berguru lagi atau pulan
"Uuuhh...!" Kinanti menghempaskan napas menahan rasa kesal. "Kalau begitu sekalian saja kau selesaikan urusan itu.""Mana mungkin bisa kuselesaikan?""Apakah kau tak becus menghitung jumlah biaya makan kita!""Soal menghitung, becus saja. Tapi apa kau sangka aku sekarang punya uang? Aku sedang tak mempunyai uang sepeser pun, Kinanti!""Ya, ampuun... jadi siapa yang mau bayar biaya makan, minum, dan bermalam kita itu?""Tentu saja kau yang harus bayar, karena kau yang mendesak untuk bermalam di situ.""Kau pikir sekarang aku pegang uang? Sepeser pun aku tak pegang uang, Baraka.""Mampuslah kalau begini! Kasihan Ki Punjul, dagangan habis tapi uang tak dapat," Baraka garuk-garuk kepala. "Baiklah, kita kembali ke kedai dan bicara apa adanya kepada KI Punjul. Kurasa dia tidak keberatan kalau kita menghutang kepadanya."Malu tak malu mereka berdua menemui KI Punjul lagi dan mengatakan keadaan sebenarnya. Untung Ki Punjul orang yang b
"Seseorang... seseorang telah mengamuk di perguruanku, ia hanya seorang diri, tapi... tapi ia mampu membuat perguruanku rata dengan tanah. Sebagian besar teman-temanku mati di tangannya. Bahkan... bahkan Eyang Guruku sendiri tak tertolong jiwanya. Beliau tewas dalam keadaan hancur dihantam memakai sabuk... sabuk yang mempunyai kekuatan dahsyat...."Kinanti berbisik kepada Baraka, "Kalau orang itu tidak dalam keadaan terluka parah, ia akan mampu menceritakan ciri-ciri orang yang menyerangnya memakai sabuk dahsyat itu."Baraka paham maksud Kinanti. Gadis itu secara tak langsung menyuruh Baraka segera menyembuhkan orang tersebut. Maka tanpa bicara lagi Pendekar Kera Sakti segera dekati Bagor dan mengobatinya dengan hawa ‘Kristal Bening’-nya.Kinanti memperhatikan dari tempat duduknya. Saat itu kedai belum terlalu ramai. Hanya ada empat orang pembeli selain Baraka dan Kinanti. Keempat orang itu juga memperhatikan keadaan Bagor dengan tegang dan perasaan
Tamparan tangan kanan Sabrawi ditangkap oleh Kinanti. Pergelangan tangan itu diremasnya kuat-kuat dengan curahan tenaga dalam, hingga beberapa orang yang ada di dekat mereka mendengar suara tulang diremukkan.Krraaaak...!"Aaauh...!" Sabrawi menjerit kesakitan, sedangkan Kinanti segera melepaskan. Wajahnya tetap memandang lurus, seakan tidak melirik ke arah lawannya sedikit pun. Tangan yang meremas tulang pergelangan Sabrawi itu segera menyentak dan tubuh Sabrawi bagaikan didorong oleh tenaga kuda dengan cepat.Wuuut...! Buuurkk...!"Heegh...!"Kali ini yang terpekik tertahan adalah Polang, karena tubuhnya tertabrak badan Sabrawi. Ia jatuh terkapar dan tubuh Sabrawi menjatuhinya dengan telak."Anjing kurapan!" sentak Sabrawi sambil bangkit sempoyongan. "Heeeaat...!"Sabrawi hendak menyerang dengan satu tendangan yang disertai lompatan pendek. Tetapi jari tangan Baraka segera melepaskan jurus 'Jari Guntur' berupa sentilan kecil ke arah
"Biarlah kita satu kamar, tapi kau tidur di lantai dan jangan seranjang denganku!" ujar Kinanti agak ketus."Kenapa begitu? Kau takut aku kurang ajar padamu?""Kau nakal," jawabnya sambil melengos ke arah lain. Ia biarkan senyum pemuda tampan itu mengembang makin mekar dengan suara tawa yang mengikik lirih.Tiba-tiba pandangan mata Kinanti tertuju ke arah pintu masuk kedai. Dua orang lelaki berbadan besar baru saja memasuki kedai tersebut dan segera mengambil tempat duduk bersebelahan dengan Kinanti. Kedua lelaki itu berwajah buas, penuh dengan cambang dan kumis. Dari caranya memandang dapat diketahui sifatnya yang kasar dan urakan. Rambut mereka sama-sama panjang selewat pundak, tapi yang satu diikat dengan ikat kepala dari kulit macan tutul, yang satu lepas tanpa ikat kepala.Orang yang berikat kepala kulit macan tutul itu mengenakan celana hitam dan baju merah tua tak dikancingkan bagian depannya, sehingga sebilah golok besar yang terselip di sabuk hit
PUSAT perhatian Kinanti tertuju pada Merak Cabul di Bukit Kasmaran. Menurutnya, orang kurus yang menyerangnya dengan pisau beracun itu pasti suruhan Merak Cabul. Besar kemungkinan Merak Cabul tidak kehendaki orang Bukit Birawa ada yang masih hidup, sehingga ia menyuruh orang kurus itu untuk membunuh Kinanti. Baraka akhirnya mengalah, tak mau berdebat panjang lebar tentang perbedaan pendapat itu. Sebab menurut Baraka, Merak Cabul tidak terlibat dalam perkara pembakaran istana Lembah Birawa itu. Jika benar orang yang menyerang istana Lembah Birawa adalah orang yang bersenjata Sabuk Gempur Jagat, maka Tulang Naga itulah orangnya."Pihakku tidak ada hubungannya dengan Tulang Naga. Kami tidak kenal dengan Penguasa Telaga Siluman itu. Tak ada alasan bagi Tulang Naga untuk menyerang istana kami! Pasti serangan itu datang dari si Merak Cabul yang masih menyimpan kecurigaan tentang tersimpannya Kitab Jati Mulya di tangan ratuku!"Kinanti ngotot sekali, sehingga Baraka akhirnya hanya angkat bah
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
TIDAK ada yang lebih indah di siang teduh berangin semilir selain merebah di bawah sebuah pohon. Melepas lelah dalam buaian angin lembah sungguh merupakan hal yang menyenangkan bagi Baraka. Sayup-sayup terdengar suara alunan seruling yang meliuk-liuk bagai meninabobokan setiap sukma. Suara seruli
Jleeg...!"Untung aku cepat pejamkan mata," katanya dalam hati. "Kalau tidak segera pejamkan mata, bisa buta mataku terkena sinar merah itu. Aku tahu letak kekuatan kipasnya itu. Aku tahu bagaimana cara mengatasinya. Kalau saja saat ini Cambuk Getar Bumi ada di tanganku, pasti tubuh si Muk
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai







