ログインSaat berpikir-pikir, wajah tampan pemuda tinggi tegap itu jadi tampak polos. Sinar kejujuran dan keluguan semakin terpancar dari sorot matanya. Dia cengar-cengir lagi. Sambil terus mengedarkan pandangan, kakinya terayun.
Dimasukinya Hutan Saradan yang sunyi lengang. Disibaknya semak belukar yang menghadang. Dia yakin bila orang yang tengah dicarinya berada di antara jajaran pohon jati di dalam hutan itu.
"He, Ksatria Seribu Syair...!" teriak si pemuda yang tak lain Baraka atau P
Plaaak...!Tiba-tiba Kinanti layangkan tamparan tangannya ke wajah Wirya Tabah tanpa tanggung-tanggung lagi. Lelaki yang usianya lebih banyak dari Kinanti itu terpelanting jatuh bersimpuh akibat tamparan tersebut. Wajah yang ditampar menjadi merah, menandakan tamparan itu disertai hempasan tenaga dalam walau berukuran sedangsedang saja. Wirya Tabah tak berani melawan atau membalas, ia hanya bangkit dan tetap tundukkan kepala bersikap sebagai orang bersalah."Di mana rasa baktimu kepada negeri dan ratumu, Wirya Tabah! Dalam keadaan diserang bahaya sekeji ini kau pergi tanpa mau menanggung akibatnya. Pengabdian macam apa yang kau miliki itu, Wirya Tabah!"Kinanti angkat tangan kanannya dan ingin tampar Wirya Tabah lagi, tapi seruan Baraka menghentikan gerak tangan tersebut."Cukup!" Baraka kian mendekati Kinanti. "Jangan limpahkan dendam dan kemarahanmu kepada Paman Wirya Tabah, Kinanti. Bukankah ia pergi sudah seizin sang Ratu?"Mata gadis cantik it
Puing-puing itu menyebar ke segala arah, menimbuni kepala si pemilik panah tersebut. Orang bermata agak besar itu hanya terperangah bengong pandangi Pendekar Kera Sakti. Namun hatinya sempat menggumam sendiri, "Hebat sekali dia? Panahku bisa dikembalikan dalam keadaan lebih cepat dan berkekuatan tenaga dalam cukup dahsyat! Gila! Agaknya aku tak boleh anggap remeh anak mudah itu. Hmmm... siapa dia sebenarnya? Aku sepertinya pernah melihatnya secara sepintas, tapi tak sempat mengenalnya lebih dekat lagi. Dilihat dari raut mukanya, agaknya dia bukan orang jahat. Sebaiknya kukurangi kecurigaan jelekku terhadap anak muda itu."Pendekar Kera Sakti semakin dekati orang tersebut. Dalam jarak tujuh langkah kurang ia berhenti dan menyapa dengan suaranya yang bernada kalem, mata memandang tanpa kesan permusuhan. "Apa maksudmu menyerangku, Paman? Siapa kau sebenarnya?""Justru seharusnya aku yang berkata begitu!" jawab orang itu masih menampakkan sikap permusuhannya.Baraka
SISA-SISA kebakaran membentuk bayangan kerangka hitam menyeramkan. Pilar-pilar istana bagaikan sosok hantu hitam tanpa gerak dan sara. Diwarnai oleh kepulan asap tipis sisa kebakaran dan bau daging hangus di sana-sini, siapa pun yang lewat di hamparan puing-puing hitam itu akan merinding bulu kuduknya. Begitu pula yang dirasakan oleh pemuda tampan berambut poni tanpa ikat kepala. Pemuda yang kenakan rompi tanpa lengan itu pandangi tiang-tiang hitam yang menjadi saksi bisu atas kekejian yang telah melanda tempat tersebut.Pemuda berbadan tegap, kekar, dan gagah itu mempunyai sepasang mata tajam berwarna biru yang kala itu tak mampu berkedip karena terperangah menyaksikan keadaan sekitarnya. Pemuda yang dikenal dengan nama Baraka alias si Pendekar Kera Sakti."Mengapa bisa jadi begini?" Pendekar Kera Sakti membatin dengan heran. "Siapa orangnya yang telah membumihanguskan istana ini? Apakah tak satu pun ada yang selamat? Oh... menjijikkan sekali. Di sana-sini bergelimpan
Dua penjaga sedang bicara dengan kelengahan yang menguntungkan Salju Kelana. Perempuan berjubah putih itu segera lepaskan jurus 'Darah Beku' berupa sinar bintik-bintik putih seperti serbuk beling yang melesat dari ujung jari telunjuk dan jari tengah yang merapat.Class...! Srrubb...!Kedua penjaga itu tetap berdiri dengan keadaan saat bicara. Tapi mereka sudah tidak bisa bergerak lagi. Bahkan berkedip pun tak bisa. Darahnya membeku dan lama-lama kulit tubuhnya mengeluarkan busa salju. Seorang penjaga lain menghampiri orang yang telah dibungkus salju samar-samar itu. Ia menyangka kedua temannya masih bisa diajak bicara."Hei, kalian ini jaga kok malah ngobrol? Kalau ada bahaya bagaimana! Lho...! Lho...".!"Saat orang itu bingung melihat keadaan kedua temannya, Salju Kelana cepat lepaskan jurus 'Darah Beku' kembali.Class...! Maka orang itu pun bernasib sama dengan kedua temannya.Sementara itu, Kinanti bergerak makin mendekati pintu belakang
"Calon Istriku," sahut Baraka, kemudian menceritakan secara singkat tentang Hyun Jelita yang merupakan perempuan yang sudah ditakdirkan menjadi istrinya oleh garis perjalanan hidup mereka. Salju Kelana tundukkan kepala dan merasa sedih."Tapi selama kau belum mendapatkan seorang suami, aku tetap akan mendampingimu. Karena wajahmu persis sekali dengan Hyun Jelita. Kita memang bisa bersama-sama, tapi tidak bisa bersatu dalam kemesraan abadi."Salju Kelana menarik napas berusaha menenangkan gemuruh yang ada di hatinya, ia tidak bicara apa pun, sampai Kinanti akhirnya datang sambil menenteng seorang lelaki agak pendek berpakaian biru, badannya agak gemuk dan rambutnya pendek mengenakan ikat kepala biru juga."Aku tak tahu murid siapa dia, tapi kutemukan dalam keadaan mengintip kalian berdua," kata Kinanti sambil melemparkan tubuh itu bagai melemparkan sarung basah.Brruk...!Baraka memandang dengan dahi berkerut heran. "Bagus Sepasar...!" gumamnya liri
Dengan sikap baik, Baraka mengembalikan ikat kepala mereka. Permusuhan pun mereda, bahkan Brada bertanya kepada Pendekar Kera Sakti,"Urusan apa kau ada di sini bersama dua kekasihmu itu?"Salju Kelana dan Kinanti tersenyum masam. Baraka justru tertawa tanpa suara. Tapi ia segera menjelaskan perkara sebenarnya, dituturkan dengan sejelas-jelasnya, sehingga ketiga orang yang berjuluk Tiga Malaikat Batu itu menggumam lirih."Kami pun ada persoalan dengan Demit Lanang. Delapan murid kami dilenyapkan dengan sinar 'Bintara Jingga'-nya itu. Terlepas dia tahu itu murid kami atau tidak, tapi kami akan menuntut balas atas kematian delapan murid kami.""Kita sama-sama kehilangan buronan," kata Baraka. "Tapi aku yakin dalam waktu tak lama dapat menemukan di mana Demit Lanang bersembunyi.""Kita berlomba," kata Brada. "Siapa yang menemukan Demit Lanang lebih dulu, dia yang berhak membunuhnya!""Asal Ratu Jiwandani jangan sampai cedera oleh serangan
"Jurus pukulan keparat! Memang benar apa kata Guru, jurus pukulan 'Inti Bara' sulit dijinakkan, sulit disembuhkan, dan karenanya Guru berpesan agar aku pun tidak sembarangan dalam menggunakan jurus pukulan 'Inti Bara'. Tetapi si keparat Aryani itu mengumbar jurus ini seenaknya saja! Pantas kalau
Di kaki langit sebelah timur, matahari tersembul memantulkan sinar rona jingga. Ayam jantan liar mengumandangkan kokoknya yang gagah, menyapa hari di ambang pagi. Gumpalan awan berarak di cakrawala. Sementara, tiupan angin sejuk melengkapi lahirnya hari ini.Dalam terpaan lembut hawa pagi,
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
"Pertolongan? Siapa yang membutuhkan pertolonganmu?""Lihat itu!"Kembang Andini, Puspa Kencana, dan Sekar Telasih menoleh bersamaan, mengarahkan pandangan ke tempat yang ditunjukkan Pujangga Kramat. Walau samar-samar, mereka bertiga masih dapat mengenali sosok Kusuma Suci yang tengah







