LOGIN"Mereka tak bisa mengejarku. Hi, hi, hi...! Mereka kehilangan jejakku! Oooh... alangkah dungunya mereka. Hi, hi, hi...!" gadis itu berkata dengan suara jelas, tapi seakan ditujukan kepada dirinya sendiri.
Napasnya yang terengah-engah kini diredakan sambil tubuhnya bersandar di bawah pohon. Tawanya masih berderai-derai diselingi wajah tegang sepintas.
Tiba-tiba dari kerimbunan semak di sampingnya muncul dua lelaki yang melompat dengan gesit dan lincah.
Wuuurt...! Jleeeg...
"Tapi perlu kau ketahui, Nona... bahwa aku tidur di atas daun bukan dengan maksud pamer ilmu padamu. Aku tak tahu kalau kau ada di sekitar hutan sini. Kupikir tak ada orang, jadi aku berani melakukan hal itu. Kalau kutahu ada orang di hutan ini, aku tak berani lakukan hal itu, sebab takut dianggap pamer ilmu. Padahal ilmuku sangat rendah. Tidak ada sekuku hitamnya dibandingkan ilmu yang kau miliki, Nona. Aku ini manusia biasa, pengembara yang tidak punya bekal apa pun kecuali seutas nyawa dan sejengkal mahkota bagi seorang lelaki...."Sambil berbicara panjang begitu, diam-diam tubuh Baraka terangkat sendiri secara pelan-pelan. Telapak kakinya mulai tidak menyentuh tanah. Semakin lama bicara semakin naik, hingga sang gadis membelalak melihat Baraka bisa melayang-layang di udara tanpa alas berpijak apa pun."Waah.. Ini sudah pamer ilmu namanya. Kata-katanya merendah tapi tindakannya meninggikan diri." Si gadis menjadi kagum dan mengakui kehebatan Pendekar Kera Sakti seca
"O, iya, ya! Kalau begitu, mari kita cepat pergi dari sini. Jangan mengganggu tidurnya. Nanti kalau kita berisik di sini tidurnya terganggu dan dia bisa marah kepada kita."Kedua orang itu segera pergi, tapi masing-masing berceloteh tentang kabar yang mereka dengar dari mulut ke kuping tentang kesaktian Pendekar Kera Sakti. Bahkan yang bertubuh pendek mempunyai pendapat, jika Baraka tidak sedang kelelahan, tentunya tak akan mau tidur di atas dedaunan sekecil itu.Mendung menyingkir dengan penuh kesadaran. Sang matahari menerobos celah dedaunan. Matahari sudah mulai bergeser ke barat. Cahayanya masih menyengat dan membuat Pendekar Kera Sakti terbangun dari tidurnya.Wuuuut...! Ia sentakkan pinggulnya dan turun dari atas dedaunan. Badannya menggeliat dengan otot dikeraskan. Mulutnya sempat menguap sebagai sisa kantuknya. Baraka sedikit terkejut saat meraba sabuk pinggangnya."Mana sulingku!"Jantungnya berdebar-debar karena tegang. Suling Naga Krishn
ANGIN bertiup semilir sejuk. Barangkali karena mendung menggantung di langit dan hujan sedang berkemas untuk turun, maka angin pun membawa kelembaban udara yang sejuk. Cuaca seperti itu enak untuk tidur. Maka bersiaplah pemuda tampan berambut poni itu untuk mencari tempat buat baringkan badan. Setidaknya dengan duduk bersandar pun jadilah, yang penting bisa untuk pejamkan mata dan terlena tidur. Pemuda berpakaian rompi tanpa lengan itu tak lain adalah Pendekar Kera Sakti: Baraka.Karena tak ada tempat yang enak untuk baringkan badan, Baraka akhirnya berbaring di atas dedaunan semak tak berduri. Tempat yang sepi dan sangat kecil kemungkinannya dijamah manusia itu membuat Baraka tak segan-segan berbaring di atas dedaunan semak. Daun-daun itu tidak patah, bahkan tidak melengkung terlalu banyak. Padahal daun dan ranting kecil-kecil itu menyangga tubuh Pendekar Kera Sakti. Tentu saja hal itu dilakukan oleh Baraka dengan menggunakan ilmu peringan tubuh yang bekerja dengan sendiriny
Trabb...! Zlapp...!Sinar itu membalik ke arah pemiliknya lebih cepat dan lebih besar. Tapi Aswarani sudah pernah melihat kehebatan suling mustika itu, sehingga ia sudah menduga akan terjadi hal demikian. Maka dengan satu kali lompatan bersalto, ia lolos dari sinar baliknya itu.Blegarrr...!Sinar itu menghantam pohon besar. Dua pohon lenyap berubah menjadi debu."Kau boleh bangga dengan suling mustikamu, tapi tak akan mampu menahan jurusku kali ini, haaah...!"Claappp...!Sinar merah besar terlepas dari tangan Aswarani. Baraka menghadangnya lagi dengan suling mustika, namun kali ini sinar tidak membalik arah melainkan meledak di depan Baraka.Blegarrr....Pendekar Kera Sakti terbang melambung ke udara. Peristiwa itu pernah dialaminya ketika ia ingin menyelamatkan Bulan Sekuntum dalam peristiwa Keranda Hitam dulu. Kini keadaan Baraka terkapar dengan luka memar di sekujur tubuhnya. Semua yang menyaksikan hal itu menjadi tegang d
"Baik! Kudengar kau pun juga menantang pertarungan denganku. Semula aku ingin melupakan tantangan itu, tak ingin melayaninya. Karena kupikir kau pemuda yang layak dibelai, bukan layak dihancurkan. Tapi karena sikapmu sudah tak mau bersahabat lagi denganku, terpaksa kulayani tantanganmu. Sekarang, di sini juga, kita awali pertarungan kita. Tunjukkan kepada perempuan-perempuan itu bahwa kau mampu mengungguli ilmuku! Tapi tentunya kau tahu bahwa sekarang aku mengenakan Gelang Naga Dewa ini!"Aswarani menunjukkan gelang yang dimaksud dengan mengangkat tangan kirinya, ia menyambung kata, "Kau tak akan mampu kalahkan aku jika gelang ini masih ada di tanganku, Baraka!""Kusarankan, kembalikan gelang itu pada pemiliknya!"Anak Petir tertawa. "Hah, hah, hah, hah...! Kau mau coba-coba memerintahku, Pendekar Kera Sakti! Oh, jangan harap ucapanmu bisa membuatku tunduk dan menuruti perintahmu! Gelang ini adalah nyawaku. Kalau memang kau inginkan gelang ini kembali kepada pem
Ki Lurah Tunggoro segera keraskan semua uraturatnya, mengerahkan tenaga untuk melawan rasa panas yang membakar tangannya. Bulan Sekuntum sentakkan kaki dan melesat menerjang Ki Lurah Tunggoro dengan pedangnya.Wuuttt...! Namun tiba-tiba Ki Lurah Tunggoro melemparkan sesuatu dari tangan kirinya. Ternyata sinar hijau seperti bola kecil yang diarahkan kepada Bulan Sekuntum.Pedang pun dikibaskan untuk menangkis tenaga dalam berbentuk sinar hijau itu.Wusss...! Dam...!Ledakan tersebut membuat Bulan Sekuntum terpental tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, ia jatuh terguling-guling sampai dalam jarak tujuh langkah dari tempatnya."Bulan Sekuntum terluka," bisik Dinada. "Lihat, wajahnya mulai pucat dan kebiru-biruan! Kita harus segera bertindak.""Jangan dulu," cegah Baraka. "Bulan masih mampu bangkit, ia pasti akan menyerang kembali."Tetapi tiba-tiba Ki Lurah Tunggoro mengangkat kedua tangannya ke atas dalam keadaan telapak tangan terbu
"Tapi apa artinya kau memberikan setangkai mawar ungu itu padaku?"Betari Ayu alihkan pandang. Tangannya merapikan letak ranting mawar yang kurang rapi sambil menjawab. "Sebagai jawaban dari pertanyaanmu tadi, Baraka. Kalau aku menyerahkan setangkai bunga pada seorang pria, itu berarti aku
Baraka bersungut-sungut dan buang muka. Sikap Baraka mencemaskan hati Maharani, Putri Alam Baka, dan orang-orang yang ada di situ. Selama ini tak ada orang yang berani menolak panggilan Nyai Lembah Asmara. Penolakan itu bisa membuat Nyai menjadi murka. Tapi agaknya Nyai Lembah Asmara tidak bersik
Baraka nekat melangkah masuk ke pintu gerbang itu. Namun tiba-tiba kedua tombak penjaga beradu menyilang di depan langkah Baraka. Kaki pemuda tampan itu diam. Mata memandang ke kiri dan ke kanan. Kedua penjaga itu bertampang angkuh, berlagak acuh tak acuh dengan ketampanan pria asing. Baraka tahu
Baraka merasakan datangnya gelombang panas yang menyerang ke arahnya. Baraka cepat jejakkan kaki ke tanah dan berkelebat jungkir balik di angkasa dalam gerakan maju. Pukulan tenaga dalam yang mempunyai daya panas cukup tinggi itu melesat menemui tempat kosong. Tapi pada saat itu, kaki Baraka suda







