LOGIN"Kurang ajar! Uuh... celaka kalau begini!" gumamnya penuh gerutu.
Pande Bungkus memandang penuh heran kepada Gembong Alas yang clingak-clinguk dengan pantat songgeng ke belakang. Bahkan tiba-tiba ia berlari melesat menuruni tanggul, mencari tempat yang enak untuk buang air besar.
"Kenapa dia tadi, Kang?"
"Mules!" jawab Baraka. "Sebaiknya tinggalkan dia sekarang juga!"
"Aku tak tahu harus pergi ke mana, Kang. Rumahku kebanjiran, hanyut sampai atap-atapnya segala, Ka
Pendekar Kera Sakti diliputi kebimbangan yang meresahkan, sambil tetap membiarkan tubuhnya berdiri tegak diguyur air pancuran dengan segarnya. Sementara itu, Salju Kelana seakan ingin mendekat, ingin memandanginya lekat-lekat, namun gadis itu tak berani lakukan untuk melompat turun ke sungai. Barangkali takut terpeleset, atau ia merasa lebih suka duduk sambil membayangkan Baraka mandi.Yang jelas gadis itu segera berkata, "Sepertinya kau masih menuduhku sebagai pembunuh para tabib itu, Baraka. Setega itukah kau mencurigaiku!""Dari mana kau tahu kalau aku masih mencurigaimu?""Detak jantungmu sedikit lebih cepat dari biasanya. Benar, bukan?"Baraka tak berani menjawab. Ia bahkan semakin resah.-o0o-SEORANG lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun melepaskan pukulan tenaga dalamnya berupa sinar biru yang melingkar-lingkar. Pukulan itu terlepas dari telapak tangan kirinya dan menerjang dua orang penunggang kuda yang bersebelahan.S
"Bertahanlan sampai kita mencari daratan, Baraka ""Sekarang sudah sampai di darat. Aku jangan diseret terus!" geram Baraka bernada jengkel sambil menahan sakit."O, maaf. Aku tidak tahu kalau sudah sampai di darat. Kau sendiri mengapa masih memegangi tongkatku terus sehingga terseret-seret!"Baraka menggerutu tak jelas. Badannya terbungkus lumpur hitam berbau rumput. Namun ia tidak peduli dan segera menggulingkan tubuh beberapa kali dengan susah payah, lalu mencapai suling mustikanya.Baraka segera menyalurkan hawa ‘Kristal Bening’-nya tanpa mempedulikan dirinya tubuhnya yang masih diselimuti lumpur hitam. Ia tetap tidak peduli, yang penting mengobati luka dalamnya dulu dan rasa sakit di dada mulai berkurang.Baraka duduk di tanah bersandarkan pohon. Napasnya masih terengah-engah, walau rasa sakitnya semakin ringan. Ia tertegun membayangkan hampir mati terhisap lumpur hidup kalau tak ditolong oleh Salju Kelana.Gadis itu mencoba
Di luar dugaan, dari kedua mata Nyai Sumbar Keramat keluar dua baris sinar merah sebesar lidi, lurus tanpa putus. Baraka sempat terperanjat, lalu cepat-cepat menyilangkan suling mustikanya ke arah depan mata, sebab kedua sinar merah itu ingin menembus mata Baraka.Dengan menyilangnya suling mustika yang digenggam dengan kedua tangan itu, maka kedua sinar merah pun kembali menghantam suling mustika secara bersamaan.Jgaaarrr...!Sinar biru lebar melesat dari suling mustika itu. Sinar biru lebar itu merupakan percikan dari perpaduan tenaga sakti dalam suling mustika dengan dua sinar merah. Sinar biru lebar melesat ke depan dan di luar dugaan menghantam tubuh Nyai Sumbar Keramat.Zrruuub...!"Aaaahg...!" Nyai Sumbar Keramat terpental terbang sambil memekik. Tubuhnya berasap dan jatuh di semak-semak."Guruuu...!" teriak Anggani dengan tegang sekali. Ia berlari menghampiri gurunya yang terperosok di semak-semak. Bahkan sebagian semak-semak itu te
Pendekar Kera Sakti cemaskan jiwa Salju Kelana, sebab gadis itu terdesak sampai di dekat rawa. Padahal Baraka tahu rawa itu adalah genangan lumpur hidup yang mampu menyedot manusia yang jatuh ke dalamnya. Jika sampai Salju Kelana jatuh ke lumpur hidup, habislah riwayatnya. Pasti ia akan semakin ditenggelamkan oleh Nyai Sumbar Keramat dengan caranya sendiri.Tak ada pilihan lain bagi Baraka selain menghambur dalam pertarungan itu demi menyelamatkan Salju Kelana. Dengan gerakan yang amat cepat melebihi anak panah, Baraka berhasil melesat dan dalam sekejap tiba di samping Salju Kelana.Zlapp...! Jleeg...!"Hentikan, Nyai!" sentak Baraka dengan suara menggelegar. Sentakan suara itu membuat jantung Sang Guru terhentak pula dan gerakannya pun terhenti. Baraka segera meraih tangan Salju Kelana dan menariknya."Diam di belakangku!" perintah Baraka dengan mata tetap memandang ke arah Nyai Sumbat Keramat."O, rupanya apa kata muridku memang benar. Pendekar K
"Selain berwajah cantik dan mengenakan jubah putih, perempuan itu mempunyai mata yang cacat! Begitulah menurut keterangan saksi mata kami.""Mata yang cacat!" Pendekar Kera Sakti menggumam dalam hati, dahinya berkerut dengan sendirinya. Tapi ia berkata kepada tiga orang itu,"Dengarlah kalian, kalau memang Salju Kelana terbukti bersalah, aku yang akan mengadili dan menghukumnya!""Siapa kau, sehingga berani bertindak sebagai sang pengadilan!""Aku adalah Pendekar Kera Sakti; Baraka. Dan tugasku menegakkan keadilan dan membasmi kejahatan!""Ooh...!" mereka bertiga saling terperangah.Ternyata sejak tadi mereka belum sadar bahwa yang dihadapi adalah seorang pendekar yang namanya sedang kondang dan menjadi bahan sanjungan beberapa tokoh silat aliran putih. Mendengar nama Pendekar Kera Sakti, mereka bertiga menjadi ciut nyali, dan merasa sangat menyesal telah berani melakukan pertarungan dengan sang pendekar itu. Akhirnya, mereka bertiga pun seg
Baraka tersenyum mendengar gertakan orang berkumis tipis itu. Dengan tetap tenang ia bicara kepada si kumis tipis."Apa salahnya hingga kalian ingin membantainya!""Dia telah membunuh guru kami dua hari yang lalu! Tak ada cara lain menebus kesalahannya kecuali dengan membantainya!""Hmmm... siapa guru kalian itu?"Seorang yang berambut pendek berseru dari samping kiri Baraka, "Tanyakan sendiri kepada perempuan biadab itu. Dia pasti mengenal nama Tabib Parang Windul""Oh, jadi Tabib Parang Windu terbunuh juga!" gumam Salju Kelana dengan nada terperanjat."Jangan berpura-pura tidak tahu kau, Iblis! Menurut saksi mata kaulah yang membunuh Guru dengan menggunakan sebuah rencong. Kau taburkan racun dalam tubuh guru kami hingga jiwanya tak tertolong lagi.""Benar-benar biadab kau, Betina!" seru si baju merah."Heaaat...!"Orang berbaju merah langsung menyerang Salju Kelana dengan satu lompatan cepat. Parangnya ditebaskan ke ar
Ningrum terus berkelebat cepat meninggalkan puncak Bukit Karang Kanjen. Saat ini, rasa dendam bercampur kekecewaan berkecamuk dalam hati murid Raja Pedang Kupu-kupu itu. Gurunya tewas di tangan Dewa Abadi. Dan ia sebagai murid, merasa harus berbakti terhadap gurunya. Makanya, kini Ningrum berteka
Konon katanya, saat belum menjadi seorang dewa dan menjadi pemimpin para dewa di istana langit. Sang Hyang Guru Dewa terlebih dahulu harus menjalani takdirnya menjadi seorang manusia hingga akhirnya Sang Hyang Guru Dewa berhasil meraih takdirnya untuk menjadi seorang dewa. Ini semua berkat kesakt
"Tidak, Percayalah padaku, tidak akan terjadi hal yang kau bayangkan itu. Jangan menyerah dulu, Anak Manis," bujuk Baraka yang membuat Rintih Manja akhirnya luluh, tundukkan kepala setelah ditatap tajam oleh Baraka. Tatapan mata Baraka itu mengandung kekuatan mistlk yang mampu meredakan amarah se
NINGRUM tiba-tiba tersentak bangun dari tidurnya, dirinya yang saat itu berada dipelukan, gerakan tiba-tiba Ningrum, tentu saja membuat Baraka ikut terbangun. “Ada apa Ningrum?”“Aku bermimpi bertemu Dewa Abadi lagi kang”







