로그인Tetapi sebelum bayangan ular kobra itu mendekatinya, Baraka sudah lebih dulu meraih suling pusakanya dan memutar Suling Naga Krishna-nya ke depan, lalu bayangan merah seekor ular kobra itu ditangkisnya dengan senjata mustikanya itu.
Trangngng...!
Terdengar seperti suara besi bolong yang dihantam besi padat saat bayangan seekor kobra mematuk batang seruling. Bayangan merah itu berbalik arah, bahkan kini menjadi tiga bayangan ular kobra melesat menuju kepada pemiliknya.
Wes
Pendekar Kera Sakti berpikiran begitu karena ia khawatir akan keselamatan Tembang Selayang; si cantik berdada sekal itu. Dalam bayangan Baraka, jika memang kapak pusaka itu ada di tangan Dewa Beruk, maka Dewa Beruk akan menggunakannya untuk melawan siapa saja yang ingin merampas kapak pusaka tersebut. Dan keyakinan Baraka mengatakan, bahwa Tembang Selayang akan celaka jika berhadapan dengan lawan yang bersenjata kapak pusaka itu.Tanpa banyak berunding lagi mereka segera berkelebat menuju lereng gunung tersebut yang menghadap ke arah barat."Cari jalan terdekat agar sebelum petang tiba kita sudah sampai di perguruan itu!" kata Baraka kepada Tembang Selayang.Namun mendadak langkah mereka terhenti karena Baraka terpekik melihat ke arah lembah sebelah kanannya.“Tunggu...! Siapa itu yang terkapar di sana!"Tembang Selayang kerutkan dahi menatap ke arah lembah.-o0o-Orang yang terkapar itu kenakan pakaian abu-abu, rambutnya putih,
Pendekar Kera Sakti manggut-manggut dan tampak senang sekali mendengar keterangan tersebut. Tembang Selayang diam memandangi ayahnya dengan rasa kagum terhadap kapak pusaka itu."Karena ukurannya tak seberapa besar, dan tangkainya dari logam kosong, maka kapak pusaka itu sangat ringan dan mudah dibawa ke mana-mana. Tetapi jika ditebaskan dari atas ke bawah, maka dalam jarak sejauh dua puluh tombak pun masih bisa keluarkan sinar merah menyerang lawan. Orang yang terkena sinar merah itu akan terpotong menjadi tiga puluh tiga bagian.""Hebat sekali!" gumam Baraka semakin yakin lagi dengan keterangan Tembang Selayang saat di perjalanan kemarin."Jika kapak ditebaskan dari kiri ke kanan, akan keluarkan sinar biru yang dapat membuat lawan mati hangus menjadi arang dalam sekejap. Jika ditebaskan dari kanan ke kiri, akan keluarkan sinar hijau yang membuat lawan mati dalam keadaan tercabik-cabik mengerikan. Jika lawan hanya tergores oleh salah satu mata kapak, maka lukan
"Dia terluka berat bagian dalamnya!"Tembang Selayang terperanjat, ia segera mengangkat wajah sang Ayah. Ternyata wajah itu bukan saja pucat pasi melainkan biru bagaikan mayat yang hampir membusuk."Ayaaaah...!" seru Tembang Selayang sambil mendekap tubuh sang Ayah. Pendekar Kera Sakti bergegas memeriksanya sesaat, tanpa pedulikan tangis Tembang Selayang."Baringkan di tempat teduh!" kata Baraka. "Kurasakan denyut nadinya masih ada."Pukulan tenaga dalam yang mengandung racun telah kenai bagian dada Empu Tapak Rengat. Terlambat sedikit saja, nyawa sang Empu akan melayang. Untung Baraka bergerak cepat dengan dibantu Tembang Selayang.Baraka menempelkan Suling mustikanya di urat nadi pergelangan tangan kanan Empu Tapak Rengat. Hanya dalam dua tarikan napas, warna biru di wajah Empu Tapak Rengat berangsur-angsur lenyap. Di lain kejap, Suling Naga Krishna yang berwarna kuning keemasan menjadi biru legam. Suling Naga Krishna yang telah berwarna biru leg
"Sial. Hatiku deg-degan memandang ia berbaring begini!" gerutu Baraka dalam hati, tapi di mulutnya ia berkata lain. "Aku tak takut pada ancaman mereka. Tapi aku menemukan kejanggalan yang perlu kita pikirkan.""Kejanggalan apa?""Guci Kopong tadi bilang, akan datang memanggil ketuanya dan seakan ketuanya sanggup membuat kita mati hangus menjadi arang atau terpotong tiga puluh tiga bagian.""Itu sesumbarnya saja.""Mungkin memang benar. Tapi dari mana ia bisa sesumbar begitu kalau bukan karena ia pernah melihat bukti? Dan siapa orang yang bisa bertindak begitu jika bukan orang yang memiliki Kapak Kubur!"Tembang Selayang diam sebentar merenungkan, tiba-tiba ia tersentak bangkit dan menatap tegang kepada Baraka."Benar juga! Berarti pusaka Kapak Kubur ada di tangan Dewa Beruk!"Baraka hanya angkat bahu dengan senyum tipisnya.-o0o-PERGURUAN Monyet Sakti terletak di lereng Gunung Bunting sebelah barat. Jika i
“Tembang Selayang... rupanya kau sekarang punya pemuas dahaga semuda itu, hmm...! Pantas aku tak pernah melihatmu. Wajahmu pucat sekali. Apakah dikurung terus oleh anak muda itu?"Teebb...!Tembang Selayang mencekal tangan orang tersebut tanpa memandangnya. Wajahnya dingin dan ketus."Jangan macam-macam padaku, Guci Kopong!"Krraakk...! Terdengar seperti suara tulang patah. Guci Kopong meringis dengan mata terpejam. Mulutnya ternganga karena menahan rasa sakit."Ada yang ingin kau katakan lagi padaku!" pertanyaan itu bernada datar dan dingin, tanpa diikuti pandangan mata ke arah orang yang ditanya.Guci Kopong tak bisa menjawab karena genggaman tangan Tembang Selayang bagaikan kian meremukkan pergelangan tangannya. Pendekar Kera Sakti hanya memandanginya tanpa berbuat apa-apa. Senyumnya mekar di bibir, seakan menertawakan orang gemuk yang berlagak jagoan itu."Hei, lepaskan dia, Tembang!" seru orang berbadan agak kurus dari Guci
Gadis itu hanya sunggingkan senyum kaku. Rupanya ia tak enak hati kata-kata tersebut ikut didengar oleh Baraka, ia segera mengajak Baraka untuk duduk di salah satu bangku kosong. Sementara itu, para pengunjung kedai lainnya sibuk dengan percakapan masing-masing. Wiraga yang berpakaian serba biru dirangkap rompi merah tua itu segera mendekati tempat duduk Tembang Selayang, ia duduk di depan Tembang Selayang, sedangkan Pendekar Kera Sakti duduk di samping Tembang Selayang."Adhiyasa ingin sekali jumpa denganmu, Tembang Selayang. Temuilah dia, tapi....""Sampaikan salamku saja kepada Adhiyasa jika kau bertemu dengannya.""Kurasa kami akan lama tidak saling jumpa.""Kenapa begitu?""Adhiyasa sedang pergi. Sudah dua purnama ini tak menampakkan batang hidungnya!""Pergi ke mana?" tanya Tembang Selayang pelan, seakan tak mau didengar Pendekar Kera Sakti."Kabarnya ia sedang memburu pusaka Kapak Kubur.""Hahh...!" Tembang Selayang kage
Sebagai sesama anggota Komplotan Lembah Dewa Dewi, Setan Selaksa Wajah tahu benar sifat dan tabiat Bidadari Alam Kelam. Apabila wanita cantik itu tengah melakukan upacara persembahan, dia tak mau diganggu oleh siapa pun. Kalau diganggu, dia bisa berubah ganas dan bisa membunuh siapa saja yang ber
Tanpa berkata apa-apa pula, Bidadari Alam Kelam menata ketiga puluh bendera kain yang melekat di sebatang lidi bambu itu ke atas altar. Setan Selaksa Wajah menatap sambil tersenyum senang saat melihat Bidadari Alam Kelam membuat tulisan rajah di permukaan kain bendera.Sesaat kemudian, sete
"Aku.... Ah! Apa perlunya aku memperkenalkan dirl...," tukas Baraka. "Aku sedang mencari seorang kakek berpakaian serba kuning, kulit tubuhnya berwarna kuning pula seperti dilumuri air perasan kunyit. Apakah Tuan Barata melihat orang yang kucarl itu?""Trondol! Ditanya tidak menjawab, malah
Dewa Geli tampak tertegun. Bola matanya semakin melotot besar. Tanpa sadar, mulutnya pun ikut terbuka lebar."Walau wujud lahir mu hanya seorang bocah sepuluh tahunan, aku tahu jiwamu seorang lelaki dewasa...," lanjut suara wanita sambil menggerak-gerakkan sepasang kakinya dengan lemah gemu






