LOGIN"Kakek, apakah dengan belajar silat dan menjadi pendekar seperti katamu aku bisa membalas dendam kematian orang tuaku?"
Hal pertama yang Catra tanyakan kepada pria sepuh adalah keinginannya untuk balas dendam. Sepengetahuannya seorang pendekar adalah sosok yang memiliki kekuatan dahsyat dengan mempelajari ilmu tenaga dalam. Jika benar demikian, maka ia akan menerima tawaran dari pria sepuh yang ingin melatihnya. Mendengar pertanyaan itu membuat pria sepuh terdiam cukup lama. Dibenaknya sedang memikirkan sesuatu. "Dendam anak ini begitu besar, aku khawatir ini bukanlah sesuatu yang baik." Seperti yang diketahui, pendekar adalah sosok yang memiliki kekuatan luar biasa. Mereka mempunyai kemampuan untuk terbang dan beragam kemampuan lainnya diluar logika manusia. Dengan kata lain, para pendekar mampu menguasai dunia menggunakan kekuatan mereka. Pria sepuh menjadi khawatir, andai ia melatih Catra untuk menjadi seorang pendekar, maka akan membuatnya menempuh jalan yang salah dan membuat kekacauan di dunia. Sebab amarah dan dendam adalah yang paling berbahaya ketika mempelajari ilmu tenaga dalam. Catra sendiri masih menunggu jawaban dari pria sepuh. "Kakek, bagaimana? Apakah dengan menjadi pendekar bisa membalaskan dendam orang tuaku?" Pria sepuh merasa dilema, di satu sisi ia khawatir Catra akan menjadi pendekar yang jahat di kemudian hari. Namun, disisi lain ia juga ingin meneruskan ilmu yang telah dipelajarinya selama ini. Akan sangat disayangkan jika kemampuannya tidak diturunkan kepada siapapun. Apalagi usianya sudah tua, hidup dan mati bukanlah sesuatu yang bisa diukur dan ditetapkan sendiri. Selama hidupnya, pria sepuh tidak pernah mengambil murid. Andai dirinya memiliki anak, maka ia pun tidak akan khawatir akan penerus ilmu-ilmunya. "Apakah ini adalah takdir? Langit ingin membiarkanku memiliki penerus?" pria sepuh membatin. Di hadapannya sekarang ada seorang anak kecil yang ingin berlatih di bawah bimbingannya. Bukankah ini adalah kesempatan yang bagus? Maka dengan pergolakan panjang antara hati dan pikirannya, pria sepuh pun memutuskan untuk menjadi guru dari Catra, bocah kecil yang malang itu. "Nak, saat kau sudah menjadi pendekar jangankan untuk membalas dendam kematian keluargamu. Kau bahkan juga dapat menempatkan dunia dalam genggaman tanganmu sekalipun." Pria sepuh tertawa kecil. Ada rasa kebanggaan ketika ia mengatakan bahwa dengan kemampuan sendiri maka seseorang dapat 'menaklukkan dunia'. Sepertinya ia memiliki kenangan yang cukup baik di masa lalu. "Kek, aku tidak menginginkan dunia, aku hanya mau memberikan keadilan untuk kedua orangtuaku." Catra menggeleng pelan. Ia tidak terlalu mengerti dengan maksud pria sepuh 'menaklukkan dunia', yang dipikirkannya hanyalah untuk membalas dendam. Bisa dikatakan tujuan hidupnya sekarang adalah mencari kebenaran tentang kematian keluarganya. "Baik, kau bisa melakukannya untuk balas dendam. Tapi, bocah untuk melakukan itu maka kau harus memiliki kemampuan yang tinggi. Jika tidak, maka kau akan mati sebelum bisa memenuhi tujuanmu." Pria sepuh menjelaskan, bahwa dunia pendekar bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. Sebab dalam dunia persilatan, kekuatan adalah unsur yang paling utama harus dimiliki seorang pendekar. Jika mereka tidak memiliki cukup kemampuan, maka mereka akan mati. Seperti sekuntum bunga yang layu sebelum berkembang. Catra tidak terlalu memahami ucapan pria sepuh, namun ia berjanji akan berlatih dengan sungguh-sungguh agar tidak mengecewakan. "Baiklah, karena kau sudah setuju untuk berlatih dibawah bimbinganku, maka sekarang kau dan aku resmi menjadi guru dan murid. Sebaiknya kau beristirahat untuk memulihkan kondisimu, karena besok kita akan memulai latihan pertamamu." Pria sepuh mengingatkan agar Catra menjaga kesehatannya baik-baik karena latihan yang akan diterimanya di masa mendatang cukup berat dan beresiko. Kemudian ia meninggalkan Catra sendirian. *** Pagi-pagi buta saat ayam hutan baru saja berkokok dan langit mulai sedikit berwarna jingga, dua orang sudah berdiri di depan sebuah goa. Keduanya adalah Catra dan pria sepuh yang siap untuk berlatih ilmu kanuragan. "Nak, karena kita sudah resmi menjadi sepasang guru dan murid, maka ada beberapa hal yang harus kau ketahui. Pertama, kau harus bersujud tiga kali di depanku sebagai tanda kesetiaan terhadap gurumu." Catra mengangguk, sebelum bersujud sebanyak tiga kali di hadapan pria sepuh. "Kedua, karena aku sudah resmi menjadi gurumu, maka kau berhak mengetahui namaku." Pria sepuh sedikit membuka identitasnya. "Namaku adalah Wisnu Aji, sebenarnya nama itu sudah lama aku lupakan. Bahkan aku sampai lupa kapan terakhir kali seseorang memanggilku demikian." Pria sepuh tersenyum kecut. "Saat aku masih aktif di dunia persilatan, orang-orang lebih mengenalku dengan sebutan Pendekar Iblis Gila. Kurasa sebutan itu sangat cocok denganku, maka aku menyukainya." Ada rasa penyesalan yang terpampang jelas di wajah pria yang tidak lagi muda itu. "Sementara kau, boleh memanggilku dengan nama apapun yang membuatmu nyaman. Aku tidak akan mempermasalahkannya." Kali ini sebuah senyuman hangat menghiasi pinggir bibirnya. Catra tampak berpikir sejenak, sebelum membuat pilihan. "Kalau begitu, aku akan memanggil anda kakek guru? Bagaimana, apakah kakek guru menyukainya?" "Kakek guru? Aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk memiliki anak, namun mendapatkan cucu sepertimu adalah sebuah berkah bagiku. Panggilan yang cukup bagus. Baiklah kita tetapkan ini saja." Wisnu Aji mengangguk senang. "Kakek guru, mohon bimbingannya!" Catra berlutut dan mengepalkan kedua tangannya sebagai penghormatan. "Bangunlah!" pinta Wisnu Aji dengan lembut. "Ikutlah denganku!" Kemudian ia beranjak pergi dan disusul oleh Catra di belakangnya. Mereka pergi ke batu besar yang tidak jauh dari goa tempat mereka tinggal. "Latihan pertamamu adalah latihan fisik. Kau harus berdiri dengan satu kaki di sini selama enam jam tanpa beristirahat. Jika gagal, maka kau harus mengulanginya kembali dari awal." "Kakek guru? Apakah aku bisa melakukannya?" Catra merasa tidak percaya diri. Dengan membayangkannya saja, maka ia sudah tahu bahwa itu akan sulit. "Kalau kau tidak bisa menyelesaikannya, maka tidak perlu berlatih lagi dan kubur mimpimu untuk menjadi seorang pendekar. Sebab latihan ini adalah yang paling mudah di antara latihan lainnya." Wisnu Aji menegaskan bahwa untuk menjadi pendekar bukanlah didapatkan dengan mudah, melainkan harus melewati berbagai macam latihan yang berat. Jika itu mudah, maka tentu saja semua orang bisa menjadi pendekar, bukan? "Jadi, kau mau meneruskannya atau tidak?" Wisnu Aji mempertanyakan pilihan Catra untuk terakhir kali. Tanpa banyak berpikir, Catra mengangguk setuju. "Tidak peduli sesulit apapun latihan itu, aku akan melewati semuanya dan menjadi pendekar tak tertandingi!" Catra mengepalkan tangannya dengan keras, sebagai tanda bahwa semangatnya tidak akan pernah pudar. Ia telah memutuskan untuk berada di jalan ini, maka ia juga bertekad akan mengakhirinya dengan baik. "Bagus! Aku menyukai semangat muda yang kau tunjukkan. Jadi, tunggu apa lagi lakukanlah sesuai yang aku perintahkan." Catra memberi hormat sebelum berdiri dengan satu kaki sesuai instruksi Wisnu Aji. Sementara pria sepuh itu sendiri menunggu tidak jauh dari sana, sambil ditemani sebotol arak. "Bocah, ini adalah awal bagi kehidupan barumu. Aku ingin melihat sejauh mana kau dapat berkembang.""Kupikir siapa yang datang, ternyata anda, tuan Caraka? Tapi sepertinya aku salah dengar sebelumnya? Bukankah kita sudah sepakat tidak ada dendam lagi?" Lembu Ireng memasang senyuman ramah di hadapan Catra yang sudah menunjukkan batang hidungnya. Sebenarnya ia merasa kaget karena pemuda ini belum juga mati setelah menerima racun darinya."Apakah ia adalah seorang tabib? Atau dirinya memiliki penawar racunku?" Lembu Ireng larut dalam tebakannya sendiri.Catra tidak menggubrisnya. Ia sudah jengah dengan sikap Lembu Ireng yang bermuka dua.Sebenarnya jika tidak diperlukan Catra enggan ikut campur masalah ini karena akan merepotkan. Namun, akhirnya ia memilih untuk turun tangan setelah melihat kelicikan Lembu Ireng.Ia tidak bisa membiarkan orang-orang seperti Lembu Ireng terus menyebarkan kejahatan, mengingat pesan dari kakek gurunya. Sebenarnya ada alasan lain Catra memutuskan untuk membantu, tapi ia tidak mengakui hal tersebut. Pandangannya hanya t
"Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku akan menahannya sampai masalah ini selesai!" Wanita bercadar mengalihkan pandangannya ke arah rombongan yang sudah mengepung mereka. Setidaknya sudah ada puluhan anak buah Suroso yang berkumpul di sana, termasuk Lembu Ireng dan kawanannya.Warga kota yang menyadari sebentar lagi akan terjadi pertarungan berdarah mulai berhamburan meninggalkan tempat itu. Tidak ada lagi yang berniat tinggal di sana, mereka berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing."Tuan, ayo tinggalkan tempat ini." ajak pemilik warung, namun Catra menolaknya secara halus dan meminta pria tua itu untuk pergi sendirian saja.Catra memang tidak ingin ikut campur, namun ia juga mau menyaksikan pertarungan itu, jadi lebih memilih untuk menonton dari kejauhan. Ia mengambil jarak yang masih bisa mendengar seluruh percakapan mereka dengan jelas."Kuakui kau adalah pendekar yang tangguh, tapi aku ingin lihat bagaimana kau akan menghad
Melati mendorong tubuh Danar dengan keras agar terlepas dari genggaman tangannya. Saat Danar terjengkang, ia mengambil kesempatan untuk melarikan diri keluar dari ruangan.Danar hanya tertawa kecil menyaksikan Melati yang mulai menjauh. Ia juga melarang kedua penjaga untuk menghentikan langkah gadis itu."Biarkan saja dia pergi…" teriak Danar, "Aku ingin tahu bagaimana reaksinya saat melihat kekasihnya itu terbunuh." gumamnya kecil seraya meninggalkan tempat itu.Melati sendiri telah bergegas menuruni anak tangga. Setiap langkahnya selalu memikirkan nasib Arya. Melati takut kalau kekasihnya itu benar-benar akan kehilangan nyawa."Maafkan aku, Arya. Ini semua salahku." Melati berlari sekuat tenaga sambil berharap bahwa Arya akan baik-baik saja.***Suasana di halaman depan kediaman keluarga Melati bertambah heboh saat Chitra memberikan hukuman pancung kepada Arya. Algojo yang diperintahkan juga sudah bersiap-siap untuk menjalankan
Catra bergegas pergi ke kediaman orang tua Melati setelah mendengar cerita pemilik warung sebelumnya, mengatakan bahwa Melati dan kekasihnya diarak menuju ke sana.Berbekal petunjuk pemilik warung, tidak sulit untuk menemukan kediaman megah tersebut, apalagi di sepanjang jalan juga dipenuhi warga kota yang sedang berbondong-bondong untuk melihat kehebohan itu.Di depan kediaman Melati, seorang gadis segera berlari menuju ke arah wanita cantik setengah baya sambil menangis tersedu-sedu. Ialah Melati itu sendiri yang sedang memohon pengampunan untuk kekasihnya kepada ibunya."Ibu, kumohon lepaskan Arya, dia tidak bersalah. Aku yang memaksanya untuk membawaku kabur." Melati memeluk wanita paruh baya itu."Tapi, lihat Arya bahkan tidak menuruti kemauanku, dan sebaliknya membawaku pulang. Ibu… Arya… dia adalah pemuda yang baik." Melati masih terisak tangis. Matanya sudah bengkak, menandakan bahwa dirinya sudah menangis dalam waktu yang cukup lama.
Catra memastikan gerombolan pembuat onar itu benar-benar meninggalkan warung makan, barulah ia menghampiri tiang yang menjadi tempat menancapnya koin-koin perak sebelumnya. Dengan satu pukulan tangan yang dialiri tenaga dalam, sudah cukup untuk membuat koin-koin tersebut beterbangan. Kemudian, ia mengumpulkan semua dalam satu genggaman tangannya."Kisanak, kalian bisa keluar sekarang!" Suara Catra memenuhi seluruh warung.Dengan raut yang masih dipenuhi ketakutan, pemilik warung bersama istri dan karyawannya keluar dari persembunyian. Lalu, ia seorang diri menghampiri Catra dengan tergesa-gesa."Terima kasih tuan, karena sudah menolong kami." Ia membungkuk hormat.Catra tidak menjawab, dan hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia memberikan kepingan perak yang didapat dari Lembu Ireng sebelumnya sekaligus bayaran untuk tagihan makannya.Pemilik warung menolaknya secara halus dan mengatakan lebih baik Catra menyimpan untuk dirinya saja.
Pandangan Seto menyapu seluruh ruangan, begitu juga dengan ketiga rekannya, dan mereka tidak menemukan orang lain, kecuali seorang pemuda yang sedang duduk dengan membelakangi mereka. Tidak salah lagi, sudah pasti ialah orangnya yang melepaskan tusuk gigi tersebut.Dengan amarah menggebu-gebu Seto mulai melangkah mendekati pemuda yang terlihat santai itu. "Ternyata hanya cecunguk kecil, hebat sekali berani ikut campur. Biar kupatahkan dulu satu tanganmu baru kau menyadari kalau sudah salah memilih lawan!"Ketiga rekannya hanya melihat saja, berharap ada tontonan yang menarik akan disajikan Seto sebentar lagi."Tamatlah sudah riwayat pemuda itu, berani-beraninya ia mengusik harimau yang sedang mengamuk." celetuk pria bergigi ompong."Aku jadi penasaran bagaimana saudara Seto akan mengakhiri ini? Mematahkan kedua tangannya atau mencincang-cincang tubuhnya?" Pria yang memiliki paras garang ikut berpendapat.Di antara mereka, hanya ketuanya yang tidak bersuara. Ia hanya fokus pada apa ya







