Share

Bab 4

Author: SWEET_OWL
last update publish date: 2026-06-10 13:46:40

"Kakek, apakah dengan belajar silat dan menjadi pendekar seperti katamu aku bisa membalas dendam kematian orang tuaku?"

Hal pertama yang Catra tanyakan kepada pria sepuh adalah keinginannya untuk balas dendam. Sepengetahuannya seorang pendekar adalah sosok yang memiliki kekuatan dahsyat dengan mempelajari ilmu tenaga dalam. Jika benar demikian, maka ia akan menerima tawaran dari pria sepuh yang ingin melatihnya.

Mendengar pertanyaan itu membuat pria sepuh terdiam cukup lama. Dibenaknya sedang memikirkan sesuatu. "Dendam anak ini begitu besar, aku khawatir ini bukanlah sesuatu yang baik."

Seperti yang diketahui, pendekar adalah sosok yang memiliki kekuatan luar biasa. Mereka mempunyai kemampuan untuk terbang dan beragam kemampuan lainnya diluar logika manusia. Dengan kata lain, para pendekar mampu menguasai dunia menggunakan kekuatan mereka.

Pria sepuh menjadi khawatir, andai ia melatih Catra untuk menjadi seorang pendekar, maka akan membuatnya menempuh jalan yang salah dan membuat kekacauan di dunia. Sebab amarah dan dendam adalah yang paling berbahaya ketika mempelajari ilmu tenaga dalam.

Catra sendiri masih menunggu jawaban dari pria sepuh. "Kakek, bagaimana? Apakah dengan menjadi pendekar bisa membalaskan dendam orang tuaku?"

Pria sepuh merasa dilema, di satu sisi ia khawatir Catra akan menjadi pendekar yang jahat di kemudian hari. Namun, disisi lain ia juga ingin meneruskan ilmu yang telah dipelajarinya selama ini. Akan sangat disayangkan jika kemampuannya tidak diturunkan kepada siapapun. Apalagi usianya sudah tua, hidup dan mati bukanlah sesuatu yang bisa diukur dan ditetapkan sendiri.

Selama hidupnya, pria sepuh tidak pernah mengambil murid. Andai dirinya memiliki anak, maka ia pun tidak akan khawatir akan penerus ilmu-ilmunya.

"Apakah ini adalah takdir? Langit ingin membiarkanku memiliki penerus?" pria sepuh membatin.

Di hadapannya sekarang ada seorang anak kecil yang ingin berlatih di bawah bimbingannya. Bukankah ini adalah kesempatan yang bagus?

Maka dengan pergolakan panjang antara hati dan pikirannya, pria sepuh pun memutuskan untuk menjadi guru dari Catra, bocah kecil yang malang itu.

"Nak, saat kau sudah menjadi pendekar jangankan untuk membalas dendam kematian keluargamu. Kau bahkan juga dapat menempatkan dunia dalam genggaman tanganmu sekalipun." Pria sepuh tertawa kecil.

Ada rasa kebanggaan ketika ia mengatakan bahwa dengan kemampuan sendiri maka seseorang dapat 'menaklukkan dunia'. Sepertinya ia memiliki kenangan yang cukup baik di masa lalu.

"Kek, aku tidak menginginkan dunia, aku hanya mau memberikan keadilan untuk kedua orangtuaku." Catra menggeleng pelan. Ia tidak terlalu mengerti dengan maksud pria sepuh 'menaklukkan dunia', yang dipikirkannya hanyalah untuk membalas dendam. Bisa dikatakan tujuan hidupnya sekarang adalah mencari kebenaran tentang kematian keluarganya.

"Baik, kau bisa melakukannya untuk balas dendam. Tapi, bocah untuk melakukan itu maka kau harus memiliki kemampuan yang tinggi. Jika tidak, maka kau akan mati sebelum bisa memenuhi tujuanmu." Pria sepuh menjelaskan, bahwa dunia pendekar bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. Sebab dalam dunia persilatan, kekuatan adalah unsur yang paling utama harus dimiliki seorang pendekar.

Jika mereka tidak memiliki cukup kemampuan, maka mereka akan mati. Seperti sekuntum bunga yang layu sebelum berkembang.

Catra tidak terlalu memahami ucapan pria sepuh, namun ia berjanji akan berlatih dengan sungguh-sungguh agar tidak mengecewakan.

"Baiklah, karena kau sudah setuju untuk berlatih dibawah bimbinganku, maka sekarang kau dan aku resmi menjadi guru dan murid. Sebaiknya kau beristirahat untuk memulihkan kondisimu, karena besok kita akan memulai latihan pertamamu." Pria sepuh mengingatkan agar Catra menjaga kesehatannya baik-baik karena latihan yang akan diterimanya di masa mendatang cukup berat dan beresiko. Kemudian ia meninggalkan Catra sendirian.

***

Pagi-pagi buta saat ayam hutan baru saja berkokok dan langit mulai sedikit berwarna jingga, dua orang sudah berdiri di depan sebuah goa. Keduanya adalah Catra dan pria sepuh yang siap untuk berlatih ilmu kanuragan.

"Nak, karena kita sudah resmi menjadi sepasang guru dan murid, maka ada beberapa hal yang harus kau ketahui. Pertama, kau harus bersujud tiga kali di depanku sebagai tanda kesetiaan terhadap gurumu."

Catra mengangguk, sebelum bersujud sebanyak tiga kali di hadapan pria sepuh.

"Kedua, karena aku sudah resmi menjadi gurumu, maka kau berhak mengetahui namaku."

Pria sepuh sedikit membuka identitasnya. "Namaku adalah Wisnu Aji, sebenarnya nama itu sudah lama aku lupakan. Bahkan aku sampai lupa kapan terakhir kali seseorang memanggilku demikian." Pria sepuh tersenyum kecut.

"Saat aku masih aktif di dunia persilatan, orang-orang lebih mengenalku dengan sebutan Pendekar Iblis Gila. Kurasa sebutan itu sangat cocok denganku, maka aku menyukainya." Ada rasa penyesalan yang terpampang jelas di wajah pria yang tidak lagi muda itu.

"Sementara kau, boleh memanggilku dengan nama apapun yang membuatmu nyaman. Aku tidak akan mempermasalahkannya." Kali ini sebuah senyuman hangat menghiasi pinggir bibirnya.

Catra tampak berpikir sejenak, sebelum membuat pilihan. "Kalau begitu, aku akan memanggil anda kakek guru? Bagaimana, apakah kakek guru menyukainya?"

"Kakek guru? Aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk memiliki anak, namun mendapatkan cucu sepertimu adalah sebuah berkah bagiku. Panggilan yang cukup bagus. Baiklah kita tetapkan ini saja." Wisnu Aji mengangguk senang.

"Kakek guru, mohon bimbingannya!" Catra berlutut dan mengepalkan kedua tangannya sebagai penghormatan.

"Bangunlah!" pinta Wisnu Aji dengan lembut. "Ikutlah denganku!"

Kemudian ia beranjak pergi dan disusul oleh Catra di belakangnya. Mereka pergi ke batu besar yang tidak jauh dari goa tempat mereka tinggal.

"Latihan pertamamu adalah latihan fisik. Kau harus berdiri dengan satu kaki di sini selama enam jam tanpa beristirahat. Jika gagal, maka kau harus mengulanginya kembali dari awal."

"Kakek guru? Apakah aku bisa melakukannya?" Catra merasa tidak percaya diri. Dengan membayangkannya saja, maka ia sudah tahu bahwa itu akan sulit.

"Kalau kau tidak bisa menyelesaikannya, maka tidak perlu berlatih lagi dan kubur mimpimu untuk menjadi seorang pendekar. Sebab latihan ini adalah yang paling mudah di antara latihan lainnya." Wisnu Aji menegaskan bahwa untuk menjadi pendekar bukanlah didapatkan dengan mudah, melainkan harus melewati berbagai macam latihan yang berat.

Jika itu mudah, maka tentu saja semua orang bisa menjadi pendekar, bukan?

"Jadi, kau mau meneruskannya atau tidak?" Wisnu Aji mempertanyakan pilihan Catra untuk terakhir kali.

Tanpa banyak berpikir, Catra mengangguk setuju. "Tidak peduli sesulit apapun latihan itu, aku akan melewati semuanya dan menjadi pendekar tak tertandingi!"

Catra mengepalkan tangannya dengan keras, sebagai tanda bahwa semangatnya tidak akan pernah pudar. Ia telah memutuskan untuk berada di jalan ini, maka ia juga bertekad akan mengakhirinya dengan baik.

"Bagus! Aku menyukai semangat muda yang kau tunjukkan. Jadi, tunggu apa lagi lakukanlah sesuai yang aku perintahkan."

Catra memberi hormat sebelum berdiri dengan satu kaki sesuai instruksi Wisnu Aji. Sementara pria sepuh itu sendiri menunggu tidak jauh dari sana, sambil ditemani sebotol arak.

"Bocah, ini adalah awal bagi kehidupan barumu. Aku ingin melihat sejauh mana kau dapat berkembang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 117

    Setelah kejadian di Hutan Barat, seharusnya Catra bisa sedikit bersantai. Namun entah mengapa, perasaannya justru tidak bisa benar-benar tenang.Sosok misterius yang mengikuti mereka dari Hutan Barat masih terbayang di kepalanya.Kemudian ada pria berjubah hitam dari Pasukan Bayang Darah. Pria itu datang untuk membunuhnya. Namun semuanya berubah setelah melihat tanda tengkorak di punggungnya.Catra belum menemukan jawabannya, dan semakin ia memikirkannya, semakin banyak pertanyaan yang muncul.“Lingga.” Suara Damar membuat Catra tersadar.“Hm?”“Kau melamun lagi.”“Aku sedang berpikir.”“Memikirkan pria berjubah hitam tadi?”Catra menoleh.Damar tersenyum tipis. “Benar, kan?”Catra tidak menjawab.Damar terkekeh. “Tenang saja. Aku juga memikirkannya.”Sebelum percakapan mereka berlanjut, terdengar langka

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 116

    Cahaya Kotaraja semakin jelas terlihat. Matahari telah tenggelam sepenuhnya di balik pegunungan. Langit berubah menjadi biru gelap, sementara lampu-lampu mulai menyala di sepanjang jalan menuju kota.Catra masih berdiri diam. Tatapannya tertuju pada gerbang Kotaraja yang terlihat dari kejauhan. Namun pikirannya tidak berada di sana.Ada sesuatu yang sejak tadi mengikutinya. Bukan sekadar perasaan. Catra yakin, seseorang sedang mengawasinya.“Lingga?” Suara Damar membuat Catra tersadar.“Hm?”“Kau tiba-tiba berhenti.”Catra tidak langsung menjawab. Ia kembali melihat ke arah jalan di depan. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Setidaknya, tidak terlihat.“Tidak ada apa-apa.”“Kau yakin?” Damar mengerutkan kening.“Ya.”Damar memperhatikan Catra beberapa detik, kemudian ia tersenyum tipis.“Baiklah.”Mereka kembali berj

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 115

    Catra tiba-tiba merasa kepalanya sedikit berat. “Banyak sekali.” Damar tertawa. “Sekarang kau mulai memahami.” “Memahami apa?” “Bahwa dunia tidak hanya terdiri dari orang-orang yang kau kenal.” Catra diam. Damar melanjutkan, “Dan kekuatan seseorang juga tidak hanya bisa dilihat dari nama perguruannya.” “Lalu bagaimana?” “Kemampuan. Tenaga dalam. Pengalaman. Teknik. Senjata.” Damar menoleh. “Dan yang paling penting...” “Tekad.” Catra menatapnya. Damar tersenyum. “Namun kalau kau ingin memahami dunia persilatan, kau harus memahami tingkatan kekuatan terlebih dahulu.” Catra langsung tertarik. “Yang tadi?” “Ya.” Damar mengangguk. “Di dunia persilatan, kekuatan seseorang umumnya dibagi berdasarkan tingkat tenaga dalam yang mereka miliki.” “Tenaga dalam?” “Ya.” Damar mengangkat telunjuknya. “Tubuh manusia memiliki jalur-jalur energi. Seiring seseorang berlatih, tenaga dalam akan terkumpul dan membentuk lingkaran-lingkaran tenaga di dalam tubuh.” “Lingk

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 114

    Catra dan Damar masih berjalan menyusuri jalan tanah yang mengarah menuju Kotaraja, namun perjalanan kali ini terasa berbeda.Bukan karena mereka sedang dikejar. Bukan pula karena ada musuh yang menunggu di depan. Melainkan karena untuk pertama kalinya, Catra mulai menyadari betapa luasnya dunia yang selama ini tidak pernah ia kenal.Selama bertahun-tahun, hidupnya hanya berputar di sekitar satu tujuan. Menjadi lebih kuat, mencari kebenaran tentang pembantaian keluarganya, menemukan orang-orang yang bertanggung jawab, dan suatu hari nanti membalas semuanya.Ia tidak pernah benar-benar peduli dengan dunia di luar tujuan tersebut. Namun sekarang, setelah bertemu begitu banyak orang dan mengetahui bahwa Pedang Tengkorak ternyata menjadi alasan berbagai pihak mengincarnya, Catra mulai memahami satu hal.Dunia ini jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.“Jadi...” Catra akhirnya membuka suara.

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 113

    “Saudara... ya?” Langkah Catra terhenti sejenak.Beberapa meter di depannya, Damar sudah lebih dahulu berjalan meninggalkan Hutan Barat. Pria muda itu sama sekali tidak menoleh, seolah kalimat yang baru saja diucapkannya bukan sesuatu yang besar.Namun bagi Catra, kalimat itu terasa berbeda.“Saudara...” Catra mengulanginya pelan. Di balik topeng hitamnya, sepasang matanya memandang kosong ke arah punggung Damar.Sudah berapa lama ia tidak mendengar kata itu?Sejak pembantaian atas keluarganya belasan tahun lalu, ia sudah melupakan kata itu, karena saudara satu-satunya yang Catra miliki sudah meninggal sejak itu juga, setidaknya begitulah yang ia yakini.Catra tersenyum tipis, namun senyum itu tidak bertahan lama. Ada kesedihan yang tersembunyi di balik matanya, sebelum ia tersadar dan perlahan mengepalkan tangan.Tidak.Ia tidak ingin kembali tenggelam dalam kenangan itu,

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 112

    Hutan Barat kembali dipenuhi ketegangan. Angin yang sebelumnya bergerak lembut kini terasa seolah berhenti. Daun-daun yang bergoyang perlahan di atas kepala mereka menciptakan suara berdesir yang justru membuat suasana semakin mencekam.Catra berdiri dengan kedua kaki kokoh menapak tanah. Di hadapannya, pria berjubah hitam itu masih menggenggam pedang dengan satu tangan.Namun ada sesuatu yang berubah, tatapan dingin di balik topengnya tidak lagi hanya tertuju pada Catra sebagai seorang musuh. Tatapan itu kini tertuju pada tanda tengkorak yang terlihat di punggung Catra.“Dari mana kau mendapatkannya?”Pertanyaan itu kembali terdengar.Catra mengerutkan kening, ia tidak mengerti mengapa pria tersebut tiba-tiba tertarik pada tanda lahir di tubuhnya. Namun setelah beberapa saat berpikir, Catra akhirnya menjawab dengan jujur.“Itu?” Ia sedikit memiringkan tubuh, berusaha melihat bagian punggungnya sendiri.“Tanda lahir.”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status