MasukButuh waktu lama bagi pria sepuh untuk membujuk bocah itu agar lebih tenang. Berbagai upaya ia lakukan, sejak mula bocah itu tersadar dari tidurnya pada saat pertama kali ayam hutan berkokok, kini matahari sudah berada tepat di atas kepala.
Meskipun sudah tidak takut seperti sebelumnya, namun bocah itu tetap menaruh kewaspadaan. Ia khawatir pria sepuh yang sedang tersenyum padanya itu memiliki niat jahat tersembunyi. Sehingga suasana hening tercipta di antara keduanya. "Nah, kalau diam begini kan enak. Suaramu tidak akan habis, dan telingaku juga tidak akan rusak oleh teriakanmu!" Pria sepuh tertawa kecil, sebelum meninggalkan bocah itu keluar gua. Tak lama kemudian, ia kembali lagi namun tidak dengan tangan kosong. Kali ini pria sepuh membawa ikan cukup besar yang sudah selesai dibakar. "Makanlah…" ujarnya menyodorkan ikan bakar itu. "Isi perutmu sampai kenyang. Setelah itu ada beberapa hal yang ingin kutanyakan tentangmu." bujuknya lagi saat tidak mendapatkan tanggapan baik dari lawan bicaranya. Bocah kecil memandangi ikan bakar yang terlihat lezat itu. Dari baunya saja sudah menggugah selera perutnya. Namun, ia tidak berani menerimanya, karena masih merasa takut. Ia khawatir ikan tersebut sudah dibubuhi racun atau sejenisnya yang akan membahayakan nyawanya. Namun, seperti kata pepatah mengatakan waktu biasanya datang disaat yang tidak tepat. Bocah itu berusaha menolak pemberian pria sepuh, tapi secara bersamaan perutnya mulai keroncongan. Pria sepuh menyadari bahwa bocah itu kelaparan, sehingga membujuknya lagi." Ayo ambil sobat kecil, aku tahu kau menginginkan makanan lezat ini." ujarnya sambil mengendus-endus ikan bakar di tangannya. "Ya sudah kalau kau tidak mau, aku akan memakannya sendiri." Pria sepuh yang terus mendapat penolakan akhirnya menyerah, lalu berniat untuk meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum ia benar-benar beranjak pergi bocah itu sudah menghentikan langkahnya. "Tunggu… hentikan… berikan ikan itu padaku…" ujarnya menengadahkan tangan kanannya, sementara tangan kiri sedang memegangi perut yang terus meronta minta diisi. Kini ia tidak lagi memikirkan konsekuensi yang akan terjadi selanjutnya. Bocah itu juga tidak peduli kalau ikan bakar itu memang telah dibubuhi racun atau sesuatu yang membahayakan. Baginya, mati dalam keadaan kenyang akan jauh lebih baik daripada mati dalam kelaparan. Setidaknya ia telah mengurus perutnya sebelum meregang nyawa. Berbekal pemikiran itulah dirinya bersedia menerima pemberian pria sepuh. Bahkan, ia sudah meraihnya terlebih dahulu sebelum disodorkan. Bocah itu khawatir pak tua di hadapannya tersebut akan berubah pikiran. Setelah menerima ikan bakar itu, maka ia menyantapnya dengan lahap. Bahkan, bocah itu terlihat seperti seseorang yang kerasukan, seolah sudah tidak makan selama berhari-hari. Entah itu karena ikan bakarnya yang terlalu enak, atau bocah itu memang kelaparan, hanya ia sendirilah yang tahu. "Anak ini… sungguh kasihan sekali. Sepertinya ada peristiwa buruk yang baru saja menimpanya." Pria sepuh membatin saat melihat bocah itu makan dengan rakus. "Minum ini… dan makan dengan perlahan saja. Tidak ada yang akan merebutnya darimu. Sebaliknya, kau bisa mati karena tersedak." ujarnya seraya menyodorkan air putih dikemas di dalam cangkir bambu. Bocah itu menerimanya, sebelum mengucapkan rasa terima kasih. Lalu, ia melanjutkan menghabiskan ikan bakar itu. Setelah hanya menyisakan tulangnya saja, bocah itu bersendawa panjang. Ia merasa senang karena telah mengisi perutnya dengan penuh. Namun, dirinya baru menyadari bahwa wajah pria sepuh penuh dengan kesedihan. Dengan memberanikan diri, maka ia pun bertanya. Sekarang bocah itu sudah tidak takut lagi pada pria sepuh karena menganggapnya bukanlah orang jahat. "Kakek, kenapa raut wajahmu seperti itu." tanyanya penasaran. "Bocah, aku hanya berhasil menangkap satu ikan untuk makan siang kali ini. Tapi, lihatlah kau menghabiskannya tanpa menyisakan sedikitpun untukku. Lalu, apa yang harus aku makan sekarang?" Pria sepuh memasang wajah sedih, seolah ingin menangis. Hal itu berhasil membuat bocah kecil tersedak napasnya sendiri. Terlebih lagi, ia merasa bersalah. "Maaf, Kek. Aku tidak tahu kalau kau juga lapar. Kupikir kau sudah makan dan menyisakan satu untukku." Bocah itu menundukkan kepalanya. Melihat itu pria sepuh menghela napas panjang. "Ah sudahlah, aku juga tidak selera lagi untuk makan. Lagipula kalau lapar, aku ingin makan daging. Tapi, kau seharusnya mengganti rugi karena telah menghabiskan makan siang ku sendirian." Mendengar kata “ganti rugi” sontak membuat bocah itu menjadi ketakutan. Sebuah pemikiran segera terlintas di benaknya. "Jangan Kek, jangan bunuh aku." ujarnya memohon pengampunan. Ia khawatir pria sepuh akan membunuhnya, lalu memotong tubuhnya untuk dimakan. Pria sepuh yang mengetahui isi pikiran bocah itu segera kembali memintanya untuk tenang. "Hei, jangan berteriak. Aku bosan mendengarnya. Kau bisa merusak gendang-gendang telingaku." jelasnya sambil menutupi lubang telinga dengan kedua tangan. Ia merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh bocah itu. Sebagai seorang laki-laki, sang bocah terlalu menyedihkan karena selalu takut dalam berbagai hal. Pria sepuh membandingkan bocah itu dengan dirinya sendiri. Pada saat usia yang sama, ia sudah mampu menghajar pria dewasa tanpa kenal rasa takut sedikitpun. "Bocah, aku tidak tertarik dengan dagingmu yang pahit itu. Aku lebih suka dan ingin mendengar ceritamu. Jadi, sebaiknya kau beritahu semua tentangmu dan alasan kau bisa berakhir dengan menyedihkan seperti saat ini." Mendengar itu, sang bocah mengingat kembali tentang dirinya dan keluarga yang membuat matanya memerah. Namun, karena menganggap pria sepuh itu bukanlah orang jahat, bocah itu bersedia bercerita. Ia menganggapnya sebagai imbalan karena pria sepuh sudah mau membantunya. Dari cerita bocah itulah, baru diketahui dirinya bernama Catra Ekawira, merupakan putra bungsu dari saudagar kaya bernama Vijendra yang tinggal di ibukota kerajaan. Suatu hari ayahnya mengajak mereka sekeluarga untuk berkunjung ke rumah kakek dan neneknya di kota lain. Namun, saat di perjalanan mereka dihadang oleh bandit. "Ayah dan ibu juga kakakku…" bocah itu tidak sempat melanjutkan ceritanya karena sudah berurai air mata. Ia menangisi kepergian orang tuanya. Sementara keadaan kakaknya juga tidak diketahui sampai sekarang. Bocah itu khawatir saudaranya tersebut sudah tertangkap oleh para bandit. Pria sepuh yang mendengarnya merasa iba, ia tidak menyangka bocah yang baru berusia tujuh tahun itu harus mengalami kejadian yang sangat tragis. Namun, disaat yang sama ia memikirkan satu hal. "Hidup anak ini tidak jauh berbeda denganku yang sudah ditinggal keluarga sejak kecil. Namun, ia cukup beruntung karena di sisa hidup orang tuanya mereka menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Berbeda denganku yang sudah dibuang sejak bayi." pria sepuh bergumam pelan. Ada rasa pedih yang menyelimuti hatinya saat mengingat kembali masa lalu yang sebenarnya ingin ia lupakan itu. Merasa kisah mereka cukup mirip, maka pria sepuh telah memutuskan sebuah hal. "Bocah, apa kau mau berlatih ilmu silat dan menjadi seorang pendekar?"Setelah kejadian di Hutan Barat, seharusnya Catra bisa sedikit bersantai. Namun entah mengapa, perasaannya justru tidak bisa benar-benar tenang.Sosok misterius yang mengikuti mereka dari Hutan Barat masih terbayang di kepalanya.Kemudian ada pria berjubah hitam dari Pasukan Bayang Darah. Pria itu datang untuk membunuhnya. Namun semuanya berubah setelah melihat tanda tengkorak di punggungnya.Catra belum menemukan jawabannya, dan semakin ia memikirkannya, semakin banyak pertanyaan yang muncul.“Lingga.” Suara Damar membuat Catra tersadar.“Hm?”“Kau melamun lagi.”“Aku sedang berpikir.”“Memikirkan pria berjubah hitam tadi?”Catra menoleh.Damar tersenyum tipis. “Benar, kan?”Catra tidak menjawab.Damar terkekeh. “Tenang saja. Aku juga memikirkannya.”Sebelum percakapan mereka berlanjut, terdengar langka
Cahaya Kotaraja semakin jelas terlihat. Matahari telah tenggelam sepenuhnya di balik pegunungan. Langit berubah menjadi biru gelap, sementara lampu-lampu mulai menyala di sepanjang jalan menuju kota.Catra masih berdiri diam. Tatapannya tertuju pada gerbang Kotaraja yang terlihat dari kejauhan. Namun pikirannya tidak berada di sana.Ada sesuatu yang sejak tadi mengikutinya. Bukan sekadar perasaan. Catra yakin, seseorang sedang mengawasinya.“Lingga?” Suara Damar membuat Catra tersadar.“Hm?”“Kau tiba-tiba berhenti.”Catra tidak langsung menjawab. Ia kembali melihat ke arah jalan di depan. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Setidaknya, tidak terlihat.“Tidak ada apa-apa.”“Kau yakin?” Damar mengerutkan kening.“Ya.”Damar memperhatikan Catra beberapa detik, kemudian ia tersenyum tipis.“Baiklah.”Mereka kembali berj
Catra tiba-tiba merasa kepalanya sedikit berat. “Banyak sekali.” Damar tertawa. “Sekarang kau mulai memahami.” “Memahami apa?” “Bahwa dunia tidak hanya terdiri dari orang-orang yang kau kenal.” Catra diam. Damar melanjutkan, “Dan kekuatan seseorang juga tidak hanya bisa dilihat dari nama perguruannya.” “Lalu bagaimana?” “Kemampuan. Tenaga dalam. Pengalaman. Teknik. Senjata.” Damar menoleh. “Dan yang paling penting...” “Tekad.” Catra menatapnya. Damar tersenyum. “Namun kalau kau ingin memahami dunia persilatan, kau harus memahami tingkatan kekuatan terlebih dahulu.” Catra langsung tertarik. “Yang tadi?” “Ya.” Damar mengangguk. “Di dunia persilatan, kekuatan seseorang umumnya dibagi berdasarkan tingkat tenaga dalam yang mereka miliki.” “Tenaga dalam?” “Ya.” Damar mengangkat telunjuknya. “Tubuh manusia memiliki jalur-jalur energi. Seiring seseorang berlatih, tenaga dalam akan terkumpul dan membentuk lingkaran-lingkaran tenaga di dalam tubuh.” “Lingk
Catra dan Damar masih berjalan menyusuri jalan tanah yang mengarah menuju Kotaraja, namun perjalanan kali ini terasa berbeda.Bukan karena mereka sedang dikejar. Bukan pula karena ada musuh yang menunggu di depan. Melainkan karena untuk pertama kalinya, Catra mulai menyadari betapa luasnya dunia yang selama ini tidak pernah ia kenal.Selama bertahun-tahun, hidupnya hanya berputar di sekitar satu tujuan. Menjadi lebih kuat, mencari kebenaran tentang pembantaian keluarganya, menemukan orang-orang yang bertanggung jawab, dan suatu hari nanti membalas semuanya.Ia tidak pernah benar-benar peduli dengan dunia di luar tujuan tersebut. Namun sekarang, setelah bertemu begitu banyak orang dan mengetahui bahwa Pedang Tengkorak ternyata menjadi alasan berbagai pihak mengincarnya, Catra mulai memahami satu hal.Dunia ini jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.“Jadi...” Catra akhirnya membuka suara.
“Saudara... ya?” Langkah Catra terhenti sejenak.Beberapa meter di depannya, Damar sudah lebih dahulu berjalan meninggalkan Hutan Barat. Pria muda itu sama sekali tidak menoleh, seolah kalimat yang baru saja diucapkannya bukan sesuatu yang besar.Namun bagi Catra, kalimat itu terasa berbeda.“Saudara...” Catra mengulanginya pelan. Di balik topeng hitamnya, sepasang matanya memandang kosong ke arah punggung Damar.Sudah berapa lama ia tidak mendengar kata itu?Sejak pembantaian atas keluarganya belasan tahun lalu, ia sudah melupakan kata itu, karena saudara satu-satunya yang Catra miliki sudah meninggal sejak itu juga, setidaknya begitulah yang ia yakini.Catra tersenyum tipis, namun senyum itu tidak bertahan lama. Ada kesedihan yang tersembunyi di balik matanya, sebelum ia tersadar dan perlahan mengepalkan tangan.Tidak.Ia tidak ingin kembali tenggelam dalam kenangan itu,
Hutan Barat kembali dipenuhi ketegangan. Angin yang sebelumnya bergerak lembut kini terasa seolah berhenti. Daun-daun yang bergoyang perlahan di atas kepala mereka menciptakan suara berdesir yang justru membuat suasana semakin mencekam.Catra berdiri dengan kedua kaki kokoh menapak tanah. Di hadapannya, pria berjubah hitam itu masih menggenggam pedang dengan satu tangan.Namun ada sesuatu yang berubah, tatapan dingin di balik topengnya tidak lagi hanya tertuju pada Catra sebagai seorang musuh. Tatapan itu kini tertuju pada tanda tengkorak yang terlihat di punggung Catra.“Dari mana kau mendapatkannya?”Pertanyaan itu kembali terdengar.Catra mengerutkan kening, ia tidak mengerti mengapa pria tersebut tiba-tiba tertarik pada tanda lahir di tubuhnya. Namun setelah beberapa saat berpikir, Catra akhirnya menjawab dengan jujur.“Itu?” Ia sedikit memiringkan tubuh, berusaha melihat bagian punggungnya sendiri.“Tanda lahir.”







