Share

Bab 3

Penulis: SWEET_OWL
last update Tanggal publikasi: 2026-06-10 13:46:07

Butuh waktu lama bagi pria sepuh untuk membujuk bocah itu agar lebih tenang. Berbagai upaya ia lakukan, sejak mula bocah itu tersadar dari tidurnya pada saat pertama kali ayam hutan berkokok, kini matahari sudah berada tepat di atas kepala.

Meskipun sudah tidak takut seperti sebelumnya, namun bocah itu tetap menaruh kewaspadaan. Ia khawatir pria sepuh yang sedang tersenyum padanya itu memiliki niat jahat tersembunyi. Sehingga suasana hening tercipta di antara keduanya.

"Nah, kalau diam begini kan enak. Suaramu tidak akan habis, dan telingaku juga tidak akan rusak oleh teriakanmu!" Pria sepuh tertawa kecil, sebelum meninggalkan bocah itu keluar gua.

Tak lama kemudian, ia kembali lagi namun tidak dengan tangan kosong. Kali ini pria sepuh membawa ikan cukup besar yang sudah selesai dibakar.

"Makanlah…" ujarnya menyodorkan ikan bakar itu. "Isi perutmu sampai kenyang. Setelah itu ada beberapa hal yang ingin kutanyakan tentangmu." bujuknya lagi saat tidak mendapatkan tanggapan baik dari lawan bicaranya.

Bocah kecil memandangi ikan bakar yang terlihat lezat itu. Dari baunya saja sudah menggugah selera perutnya. Namun, ia tidak berani menerimanya, karena masih merasa takut. Ia khawatir ikan tersebut sudah dibubuhi racun atau sejenisnya yang akan membahayakan nyawanya.

Namun, seperti kata pepatah mengatakan waktu biasanya datang disaat yang tidak tepat. Bocah itu berusaha menolak pemberian pria sepuh, tapi secara bersamaan perutnya mulai keroncongan.

Pria sepuh menyadari bahwa bocah itu kelaparan, sehingga membujuknya lagi." Ayo ambil sobat kecil, aku tahu kau menginginkan makanan lezat ini." ujarnya sambil mengendus-endus ikan bakar di tangannya.

"Ya sudah kalau kau tidak mau, aku akan memakannya sendiri." Pria sepuh yang terus mendapat penolakan akhirnya menyerah, lalu berniat untuk meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum ia benar-benar beranjak pergi bocah itu sudah menghentikan langkahnya.

"Tunggu… hentikan… berikan ikan itu padaku…" ujarnya menengadahkan tangan kanannya, sementara tangan kiri sedang memegangi perut yang terus meronta minta diisi.

Kini ia tidak lagi memikirkan konsekuensi yang akan terjadi selanjutnya. Bocah itu juga tidak peduli kalau ikan bakar itu memang telah dibubuhi racun atau sesuatu yang membahayakan. Baginya, mati dalam keadaan kenyang akan jauh lebih baik daripada mati dalam kelaparan. Setidaknya ia telah mengurus perutnya sebelum meregang nyawa.

Berbekal pemikiran itulah dirinya bersedia menerima pemberian pria sepuh. Bahkan, ia sudah meraihnya terlebih dahulu sebelum disodorkan. Bocah itu khawatir pak tua di hadapannya tersebut akan berubah pikiran.

Setelah menerima ikan bakar itu, maka ia menyantapnya dengan lahap. Bahkan, bocah itu terlihat seperti seseorang yang kerasukan, seolah sudah tidak makan selama berhari-hari.

Entah itu karena ikan bakarnya yang terlalu enak, atau bocah itu memang kelaparan, hanya ia sendirilah yang tahu.

"Anak ini… sungguh kasihan sekali. Sepertinya ada peristiwa buruk yang baru saja menimpanya." Pria sepuh membatin saat melihat bocah itu makan dengan rakus.

"Minum ini… dan makan dengan perlahan saja. Tidak ada yang akan merebutnya darimu. Sebaliknya, kau bisa mati karena tersedak." ujarnya seraya menyodorkan air putih dikemas di dalam cangkir bambu.

Bocah itu menerimanya, sebelum mengucapkan rasa terima kasih. Lalu, ia melanjutkan menghabiskan ikan bakar itu.

Setelah hanya menyisakan tulangnya saja, bocah itu bersendawa panjang. Ia merasa senang karena telah mengisi perutnya dengan penuh. Namun, dirinya baru menyadari bahwa wajah pria sepuh penuh dengan kesedihan.

Dengan memberanikan diri, maka ia pun bertanya. Sekarang bocah itu sudah tidak takut lagi pada pria sepuh karena menganggapnya bukanlah orang jahat.

"Kakek, kenapa raut wajahmu seperti itu." tanyanya penasaran.

"Bocah, aku hanya berhasil menangkap satu ikan untuk makan siang kali ini. Tapi, lihatlah kau menghabiskannya tanpa menyisakan sedikitpun untukku. Lalu, apa yang harus aku makan sekarang?" Pria sepuh memasang wajah sedih, seolah ingin menangis.

Hal itu berhasil membuat bocah kecil tersedak napasnya sendiri. Terlebih lagi, ia merasa bersalah.

"Maaf, Kek. Aku tidak tahu kalau kau juga lapar. Kupikir kau sudah makan dan menyisakan satu untukku." Bocah itu menundukkan kepalanya.

Melihat itu pria sepuh menghela napas panjang. "Ah sudahlah, aku juga tidak selera lagi untuk makan. Lagipula kalau lapar, aku ingin makan daging. Tapi, kau seharusnya mengganti rugi karena telah menghabiskan makan siang ku sendirian."

Mendengar kata “ganti rugi” sontak membuat bocah itu menjadi ketakutan. Sebuah pemikiran segera terlintas di benaknya.

"Jangan Kek, jangan bunuh aku." ujarnya memohon pengampunan. Ia khawatir pria sepuh akan membunuhnya, lalu memotong tubuhnya untuk dimakan.

Pria sepuh yang mengetahui isi pikiran bocah itu segera kembali memintanya untuk tenang. "Hei, jangan berteriak. Aku bosan mendengarnya. Kau bisa merusak gendang-gendang telingaku." jelasnya sambil menutupi lubang telinga dengan kedua tangan.

Ia merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh bocah itu. Sebagai seorang laki-laki, sang bocah terlalu menyedihkan karena selalu takut dalam berbagai hal.

Pria sepuh membandingkan bocah itu dengan dirinya sendiri. Pada saat usia yang sama, ia sudah mampu menghajar pria dewasa tanpa kenal rasa takut sedikitpun.

"Bocah, aku tidak tertarik dengan dagingmu yang pahit itu. Aku lebih suka dan ingin mendengar ceritamu. Jadi, sebaiknya kau beritahu semua tentangmu dan alasan kau bisa berakhir dengan menyedihkan seperti saat ini."

Mendengar itu, sang bocah mengingat kembali tentang dirinya dan keluarga yang membuat matanya memerah. Namun, karena menganggap pria sepuh itu bukanlah orang jahat, bocah itu bersedia bercerita. Ia menganggapnya sebagai imbalan karena pria sepuh sudah mau membantunya.

Dari cerita bocah itulah, baru diketahui dirinya bernama Catra Ekawira, merupakan putra bungsu dari saudagar kaya bernama Vijendra yang tinggal di ibukota kerajaan.

Suatu hari ayahnya mengajak mereka sekeluarga untuk berkunjung ke rumah kakek dan neneknya di kota lain. Namun, saat di perjalanan mereka dihadang oleh bandit.

"Ayah dan ibu juga kakakku…" bocah itu tidak sempat melanjutkan ceritanya karena sudah berurai air mata. Ia menangisi kepergian orang tuanya. Sementara keadaan kakaknya juga tidak diketahui sampai sekarang. Bocah itu khawatir saudaranya tersebut sudah tertangkap oleh para bandit.

Pria sepuh yang mendengarnya merasa iba, ia tidak menyangka bocah yang baru berusia tujuh tahun itu harus mengalami kejadian yang sangat tragis. Namun, disaat yang sama ia memikirkan satu hal.

"Hidup anak ini tidak jauh berbeda denganku yang sudah ditinggal keluarga sejak kecil. Namun, ia cukup beruntung karena di sisa hidup orang tuanya mereka menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Berbeda denganku yang sudah dibuang sejak bayi." pria sepuh bergumam pelan. Ada rasa pedih yang menyelimuti hatinya saat mengingat kembali masa lalu yang sebenarnya ingin ia lupakan itu.

Merasa kisah mereka cukup mirip, maka pria sepuh telah memutuskan sebuah hal.

"Bocah, apa kau mau berlatih ilmu silat dan menjadi seorang pendekar?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 24

    "Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku akan menahannya sampai masalah ini selesai!" Wanita bercadar mengalihkan pandangannya ke arah rombongan yang sudah mengepung mereka. Setidaknya sudah ada puluhan anak buah Suroso yang berkumpul di sana, termasuk Lembu Ireng dan kawanannya.Warga kota yang menyadari sebentar lagi akan terjadi pertarungan berdarah mulai berhamburan meninggalkan tempat itu. Tidak ada lagi yang berniat tinggal di sana, mereka berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing."Tuan, ayo tinggalkan tempat ini." ajak pemilik warung, namun Catra menolaknya secara halus dan meminta pria tua itu untuk pergi sendirian saja.Catra memang tidak ingin ikut campur, namun ia juga mau menyaksikan pertarungan itu, jadi lebih memilih untuk menonton dari kejauhan. Ia mengambil jarak yang masih bisa mendengar seluruh percakapan mereka dengan jelas."Kuakui kau adalah pendekar yang tangguh, tapi aku ingin lihat bagaimana kau akan menghad

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 23

    Melati mendorong tubuh Danar dengan keras agar terlepas dari genggaman tangannya. Saat Danar terjengkang, ia mengambil kesempatan untuk melarikan diri keluar dari ruangan.Danar hanya tertawa kecil menyaksikan Melati yang mulai menjauh. Ia juga melarang kedua penjaga untuk menghentikan langkah gadis itu."Biarkan saja dia pergi…" teriak Danar, "Aku ingin tahu bagaimana reaksinya saat melihat kekasihnya itu terbunuh." gumamnya kecil seraya meninggalkan tempat itu.Melati sendiri telah bergegas menuruni anak tangga. Setiap langkahnya selalu memikirkan nasib Arya. Melati takut kalau kekasihnya itu benar-benar akan kehilangan nyawa."Maafkan aku, Arya. Ini semua salahku." Melati berlari sekuat tenaga sambil berharap bahwa Arya akan baik-baik saja.***Suasana di halaman depan kediaman keluarga Melati bertambah heboh saat Chitra memberikan hukuman pancung kepada Arya. Algojo yang diperintahkan juga sudah bersiap-siap untuk menjalankan

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 22

    Catra bergegas pergi ke kediaman orang tua Melati setelah mendengar cerita pemilik warung sebelumnya, mengatakan bahwa Melati dan kekasihnya diarak menuju ke sana.Berbekal petunjuk pemilik warung, tidak sulit untuk menemukan kediaman megah tersebut, apalagi di sepanjang jalan juga dipenuhi warga kota yang sedang berbondong-bondong untuk melihat kehebohan itu.Di depan kediaman Melati, seorang gadis segera berlari menuju ke arah wanita cantik setengah baya sambil menangis tersedu-sedu. Ialah Melati itu sendiri yang sedang memohon pengampunan untuk kekasihnya kepada ibunya."Ibu, kumohon lepaskan Arya, dia tidak bersalah. Aku yang memaksanya untuk membawaku kabur." Melati memeluk wanita paruh baya itu."Tapi, lihat Arya bahkan tidak menuruti kemauanku, dan sebaliknya membawaku pulang. Ibu… Arya… dia adalah pemuda yang baik." Melati masih terisak tangis. Matanya sudah bengkak, menandakan bahwa dirinya sudah menangis dalam waktu yang cukup lama.

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 21

    Catra memastikan gerombolan pembuat onar itu benar-benar meninggalkan warung makan, barulah ia menghampiri tiang yang menjadi tempat menancapnya koin-koin perak sebelumnya. Dengan satu pukulan tangan yang dialiri tenaga dalam, sudah cukup untuk membuat koin-koin tersebut beterbangan. Kemudian, ia mengumpulkan semua dalam satu genggaman tangannya."Kisanak, kalian bisa keluar sekarang!" Suara Catra memenuhi seluruh warung.Dengan raut yang masih dipenuhi ketakutan, pemilik warung bersama istri dan karyawannya keluar dari persembunyian. Lalu, ia seorang diri menghampiri Catra dengan tergesa-gesa."Terima kasih tuan, karena sudah menolong kami." Ia membungkuk hormat.Catra tidak menjawab, dan hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia memberikan kepingan perak yang didapat dari Lembu Ireng sebelumnya sekaligus bayaran untuk tagihan makannya.Pemilik warung menolaknya secara halus dan mengatakan lebih baik Catra menyimpan untuk dirinya saja.

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 20

    Pandangan Seto menyapu seluruh ruangan, begitu juga dengan ketiga rekannya, dan mereka tidak menemukan orang lain, kecuali seorang pemuda yang sedang duduk dengan membelakangi mereka. Tidak salah lagi, sudah pasti ialah orangnya yang melepaskan tusuk gigi tersebut.Dengan amarah menggebu-gebu Seto mulai melangkah mendekati pemuda yang terlihat santai itu. "Ternyata hanya cecunguk kecil, hebat sekali berani ikut campur. Biar kupatahkan dulu satu tanganmu baru kau menyadari kalau sudah salah memilih lawan!"Ketiga rekannya hanya melihat saja, berharap ada tontonan yang menarik akan disajikan Seto sebentar lagi."Tamatlah sudah riwayat pemuda itu, berani-beraninya ia mengusik harimau yang sedang mengamuk." celetuk pria bergigi ompong."Aku jadi penasaran bagaimana saudara Seto akan mengakhiri ini? Mematahkan kedua tangannya atau mencincang-cincang tubuhnya?" Pria yang memiliki paras garang ikut berpendapat.Di antara mereka, hanya ketuanya yang tidak bersuara. Ia hanya fokus pada apa ya

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 19

    Catra mulai menelusuri jalanan kota Teja saat dirinya sudah berpisah dengan kakek yang ditemuinya di hutan. Ia merasa takjub saat menemukan bangunan-bangunan mewah yang berdiri di sepanjang jalan. Meskipun bangunan tersebut masih terbuat dari papan, namun kualitas kayunya cukup langka.Memang, pada zaman tersebut rumah-rumah mewah sekalipun masih dibangun menggunakan kayu, hanya yang membedakannya ada pada kualitas setiap kayu yang digunakan.Catra menjadi teringat pada rumah mereka dahulu yang memiliki halaman luas dan terdiri dari dua lantai. Pada masanya, rumah tersebut sudah termasuk besar dan hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kaya saja.Pemuda itu terus melangkah sambil mencoba mengingat kembali letak kediaman kakek-neneknya 13 tahun silam. Namun, sebelum Catra menemukannya, perutnya mulai keroncongan. Untungnya setelah berjalan sekitar lima menit, ia bisa menemukan sebuah warung makan."Silahkan masuk, tuan." Kedatangan Catra disambut senyuman hangat oleh seorang gadis muda y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status