로그인Seminggu telah berlalu sejak Catra memutuskan untuk berlatih dibawah bimbingan Wisnu Aji. Selama itu juga ia melakukan beberapa latihan fisik. Mulai dari berdiri di atas batu dengan satu kaki selama enam jam, sampai berdiri dengan kedua tangan dalam kurun waktu yang sama.
Pada hari ke delapan, Wisnu Aji memintanya melakukan latihan lain. Kali ini Catra diminta untuk mengangkat sebuah bongkahan batu besar di atas kepalanya selama enam jam. "Kakek guru, apakah kau ingin membunuhku?" Catra menelan ludahnya saat melihat ukuran batu itu. Ia khawatir tidak bisa mengangkatnya. Sebaliknya, ia bisa saja tertimpa oleh batu tersebut dan membuatnya terluka. Atau yang paling buruk adalah kematian. Tentu saja Catra tidak berniat melakukan sesuatu yang akan merenggut nyawanya. "Nak, bukankah sudah kukatakan dari awal semakin lama maka latihanmu akan semakin berat. Dan ku tegaskan sekali lagi padamu, bahwa menyesal adalah pilihan yang sudah terlambat. Kau mau melakukannya atau aku akan memberimu hukuman yang lebih berat?!" Wisnu Aji tidak memberi keringanan. "Kakek guru, kau menyuruhku mengangkatnya, tapi aku merasa kau pun tidak bisa melakukannya?" Catra membuat alibi. Ia meragukan kemampuan gurunya itu. "Kata siapa aku tidak bisa melakukannya?" Wisnu Aji menjadi geram. "Lihat ini…" Ia terpancing ucapan Catra. Kemudian Wisnu Aji membentuk kuda-kuda dan dapat dengan mudahnya mengangkat batu besar itu menggunakan satu tangan saja. Hal tersebut juga membuat Catra melotot tidak percaya. Wisnu Aji merupakan pria tua kurus, yang seolah tidak memiliki daging pada tubuhnya. Namun, bagaimana bisa memiliki kekuatan yang dapat mengangkat batu sebesar itu? Ini mustahil! Benar-benar diluar akal sehat! Setidaknya itulah yang dipikirkan Catra saat ini. Wisnu Aji menyadari keterkejutan di wajah muridnya itu membuatnya tertawa mengejek. "Bocah, saat kau menjadi pendekar dan memiliki tenaga dalam yang cukup, maka kau bisa melakukan hal mustahil menjadi mungkin terjadi. Batu ini sungguh sangat ringan untukku, aku malah bisa mengangkat sepuluh batu berukuran sama." Pria sepuh itu menepuk dadanya, memuji dirinya sendiri. Di sisi lain, Catra meneguk ludahnya. Namun, disaat yang sama ia juga tidak ingin kalah. Maka dari itu Catra memutuskan untuk mengangkat batu tersebut. Argh! Awalnya Catra merasa kesulitan. Jangankan mengangkatnya, untuk membuatnya bergeser sedikit saja Catra tidak mampu. "Bocah, jika kau melakukannya seperti itu, maka sampai kucing bertanduk pun kau tidak akan bisa." Wisnu Aji kembali tertawa mengejek. "Lalu, apa yang harus aku lakukan kakek guru?" Catra menahan egonya dengan meminta petunjuk. "Bentuk pernapasanmu dan usahakan untuk tetap stabil. Lalu, bayangkan bahwa batu itu tidak lebih dari sebuah kapas yang ringan." Catra mengikuti arahan Wisnu Aji dengan memejamkan matanya. Kemudian ia menjerit keras. "Hanya sebuah batu ini saja, tidak akan mampu menghalangi tekad ku yang besar!" Secara mengejutkan, Catra dapat mengangkat batu itu lalu meletakkannya di atas kepala. Sesuai perintah Wisnu Aji, ia harus melakukan itu sampai enam jam kemudian. Hari demi hari Catra lalui dengan berlatih dan berlatih. Tekadnya untuk menjadi kuat benar-benar tidak terbendung. Dari yang awalnya hanya mampu mengangkat sebuah batu, kini ia sudah berhasil mengangkat lima batu dengan bobot yang sama. Sehingga tidak terasa juga bahwa dirinya sudah berlatih selama sebulan penuh. Selain latihan mengangkat batu, Catra juga diminta untuk membawa batu itu berlari mengelilingi wilayah tersebut. Tidak tahu sudah berapa banyak keringat yang mengucur deras di badannya, namun Catra tidak memperdulikan hal itu, baginya menjadi kuat adalah suatu keharusan. Maka ia pun tidak pernah mengeluh lagi meskipun merasa kesulitan. Waktu seolah berjalan begitu singkat, tanpa disadari sudah satu tahun berlalu sejak Catra bersama dengan Wisnu Aji. Selain latihan fisik, Catra juga diminta agar bertapa untuk memulai pembentukan tenaga dalamnya. Hari demi hari Catra lalui, ia membentuk tenaga dalamnya meskipun secara perlahan. Kini ia juga sudah merasa lebih kuat, bahkan Catra bisa menahan lapar selama beberapa hari. Memang, setelah seseorang menjadi pendekar maka tenaganya akan jauh lebih kuat dibandingkan manusia biasa, dan itu akan menjadi lebih kuat lagi seiring dengan perkembangannya. Suatu hari, pada saat Catra baru saja selesai bertapa, Wisnu Aji menghampirinya. "Bocah, hari ini aku ingin makan ikan. Jadi, sebaiknya kau menangkapnya di aliran sungai." "Baik, Kakek guru." Catra menyetujui permintaan gurunya itu. Setelah berpamitan, ia pun pergi ke aliran sungai. Di sana, Catra memandangi sejenak sungai itu sebelum memutuskan untuk terjun ke dalamnya. Aliran sungai itu tidaklah dalam, hanya seukuran pinggang orang dewasa. Namun, beberapa area malah lebih surut lagi, hanya sebatas lutut saja, dan Catra pergi ke aliran sungai yang surut itu. Selain surut, aliran sungai tersebut juga jernih membuat seseorang bisa melihat dasarnya. Terdapat juga bebatuan besar yang terletak di beberapa bagian, sementara bebatuan kecil menghiasi dasar sungainya. Catra mengamati aliran sungai yang jernih itu dengan fokus, sebelum dapat melihat seekor ikan yang cukup besar. Dengan menggunakan satu tangannya, ia mencoba menangkap ikan tersebut dan berhasil. Sebenarnya ini bukan kali pertama ia melakukan hal tersebut, melainkan sudah yang kesekian kalinya. Jadi, sudah membuatnya terbiasa. Dalam waktu singkat, Catra sudah berhasil mengumpulkan sebanyak sepuluh ikan yang cukup besar. Catra merasa ikan-ikan tersebut sudah cukup untuk digunakan sebagai bahan lauk mereka hari ini. Maka, ia pun memutuskan untuk kembali. "Kakek, lihat apa yang aku bawa!" ujar Catra bersemangat. Di sana ia sudah melihat Wisnu Aji yang telah menyiapkan kayu untuk membakar ikan-ikan tersebut. Dengan segera Catra mendekat. Setelah menusuk semua ikan menggunakan bilah bambu, mereka pun mulai membakarnya. "Ah, ikan bakar masakan kakek guru memang yang terbaik." Catra memuji keterampilan memasak gurunya itu yang dinilai tiada duanya. Meskipun hanya ikan bakar, namun memiliki cita rasa yang khas dan menggugah selera di lidah. Sebab Wisnu Aji mencampurkan bahan-bahan masakan yang membuatnya terasa lebih nikmat. "Cepat habiskan makananmu, lalu beristirahat. Kau sudah melakukan latihan dengan baik." Wisnu Aji merasa senang karena hari ini muridnya itu sudah berlatih dengan giat. "Kulihat dasarmu sudah kuat, dan tenaga dalam yang kau miliki juga cukup banyak. Sekarang kau telah berusia tujuh tahun, jadi sebaiknya kau mulai berlatih beberapa jurus. Besok aku akan mengajarimu sebuah teknik." Catra yang mendengarnya menjadi antusias. "Benarkah? Baiklah, aku akan segera beristirahat." Catra menjadi kegirangan. Ia bahkan menyudahi makannya dengan segera. Apalagi hari juga sudah malam, memang sudah waktunya untuk tertidur. Sebelum tertidur, Catra bergumam pelan. "Kira-kira jurus apa yang akan kakek guru ajarkan padaku? Apakah jurus yang bisa membuatku terbang, atau jurus yang mampu membunuh musuh dengan mudah? Ah aku benar-benar bersemangat." Kemudian Catra pun memejamkan matanya dengan keadaan tersenyum sambil berharap besok adalah hari yang baik untuknya."Kupikir siapa yang datang, ternyata anda, tuan Caraka? Tapi sepertinya aku salah dengar sebelumnya? Bukankah kita sudah sepakat tidak ada dendam lagi?" Lembu Ireng memasang senyuman ramah di hadapan Catra yang sudah menunjukkan batang hidungnya. Sebenarnya ia merasa kaget karena pemuda ini belum juga mati setelah menerima racun darinya."Apakah ia adalah seorang tabib? Atau dirinya memiliki penawar racunku?" Lembu Ireng larut dalam tebakannya sendiri.Catra tidak menggubrisnya. Ia sudah jengah dengan sikap Lembu Ireng yang bermuka dua.Sebenarnya jika tidak diperlukan Catra enggan ikut campur masalah ini karena akan merepotkan. Namun, akhirnya ia memilih untuk turun tangan setelah melihat kelicikan Lembu Ireng.Ia tidak bisa membiarkan orang-orang seperti Lembu Ireng terus menyebarkan kejahatan, mengingat pesan dari kakek gurunya. Sebenarnya ada alasan lain Catra memutuskan untuk membantu, tapi ia tidak mengakui hal tersebut. Pandangannya hanya t
"Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku akan menahannya sampai masalah ini selesai!" Wanita bercadar mengalihkan pandangannya ke arah rombongan yang sudah mengepung mereka. Setidaknya sudah ada puluhan anak buah Suroso yang berkumpul di sana, termasuk Lembu Ireng dan kawanannya.Warga kota yang menyadari sebentar lagi akan terjadi pertarungan berdarah mulai berhamburan meninggalkan tempat itu. Tidak ada lagi yang berniat tinggal di sana, mereka berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing."Tuan, ayo tinggalkan tempat ini." ajak pemilik warung, namun Catra menolaknya secara halus dan meminta pria tua itu untuk pergi sendirian saja.Catra memang tidak ingin ikut campur, namun ia juga mau menyaksikan pertarungan itu, jadi lebih memilih untuk menonton dari kejauhan. Ia mengambil jarak yang masih bisa mendengar seluruh percakapan mereka dengan jelas."Kuakui kau adalah pendekar yang tangguh, tapi aku ingin lihat bagaimana kau akan menghad
Melati mendorong tubuh Danar dengan keras agar terlepas dari genggaman tangannya. Saat Danar terjengkang, ia mengambil kesempatan untuk melarikan diri keluar dari ruangan.Danar hanya tertawa kecil menyaksikan Melati yang mulai menjauh. Ia juga melarang kedua penjaga untuk menghentikan langkah gadis itu."Biarkan saja dia pergi…" teriak Danar, "Aku ingin tahu bagaimana reaksinya saat melihat kekasihnya itu terbunuh." gumamnya kecil seraya meninggalkan tempat itu.Melati sendiri telah bergegas menuruni anak tangga. Setiap langkahnya selalu memikirkan nasib Arya. Melati takut kalau kekasihnya itu benar-benar akan kehilangan nyawa."Maafkan aku, Arya. Ini semua salahku." Melati berlari sekuat tenaga sambil berharap bahwa Arya akan baik-baik saja.***Suasana di halaman depan kediaman keluarga Melati bertambah heboh saat Chitra memberikan hukuman pancung kepada Arya. Algojo yang diperintahkan juga sudah bersiap-siap untuk menjalankan
Catra bergegas pergi ke kediaman orang tua Melati setelah mendengar cerita pemilik warung sebelumnya, mengatakan bahwa Melati dan kekasihnya diarak menuju ke sana.Berbekal petunjuk pemilik warung, tidak sulit untuk menemukan kediaman megah tersebut, apalagi di sepanjang jalan juga dipenuhi warga kota yang sedang berbondong-bondong untuk melihat kehebohan itu.Di depan kediaman Melati, seorang gadis segera berlari menuju ke arah wanita cantik setengah baya sambil menangis tersedu-sedu. Ialah Melati itu sendiri yang sedang memohon pengampunan untuk kekasihnya kepada ibunya."Ibu, kumohon lepaskan Arya, dia tidak bersalah. Aku yang memaksanya untuk membawaku kabur." Melati memeluk wanita paruh baya itu."Tapi, lihat Arya bahkan tidak menuruti kemauanku, dan sebaliknya membawaku pulang. Ibu… Arya… dia adalah pemuda yang baik." Melati masih terisak tangis. Matanya sudah bengkak, menandakan bahwa dirinya sudah menangis dalam waktu yang cukup lama.
Catra memastikan gerombolan pembuat onar itu benar-benar meninggalkan warung makan, barulah ia menghampiri tiang yang menjadi tempat menancapnya koin-koin perak sebelumnya. Dengan satu pukulan tangan yang dialiri tenaga dalam, sudah cukup untuk membuat koin-koin tersebut beterbangan. Kemudian, ia mengumpulkan semua dalam satu genggaman tangannya."Kisanak, kalian bisa keluar sekarang!" Suara Catra memenuhi seluruh warung.Dengan raut yang masih dipenuhi ketakutan, pemilik warung bersama istri dan karyawannya keluar dari persembunyian. Lalu, ia seorang diri menghampiri Catra dengan tergesa-gesa."Terima kasih tuan, karena sudah menolong kami." Ia membungkuk hormat.Catra tidak menjawab, dan hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia memberikan kepingan perak yang didapat dari Lembu Ireng sebelumnya sekaligus bayaran untuk tagihan makannya.Pemilik warung menolaknya secara halus dan mengatakan lebih baik Catra menyimpan untuk dirinya saja.
Pandangan Seto menyapu seluruh ruangan, begitu juga dengan ketiga rekannya, dan mereka tidak menemukan orang lain, kecuali seorang pemuda yang sedang duduk dengan membelakangi mereka. Tidak salah lagi, sudah pasti ialah orangnya yang melepaskan tusuk gigi tersebut.Dengan amarah menggebu-gebu Seto mulai melangkah mendekati pemuda yang terlihat santai itu. "Ternyata hanya cecunguk kecil, hebat sekali berani ikut campur. Biar kupatahkan dulu satu tanganmu baru kau menyadari kalau sudah salah memilih lawan!"Ketiga rekannya hanya melihat saja, berharap ada tontonan yang menarik akan disajikan Seto sebentar lagi."Tamatlah sudah riwayat pemuda itu, berani-beraninya ia mengusik harimau yang sedang mengamuk." celetuk pria bergigi ompong."Aku jadi penasaran bagaimana saudara Seto akan mengakhiri ini? Mematahkan kedua tangannya atau mencincang-cincang tubuhnya?" Pria yang memiliki paras garang ikut berpendapat.Di antara mereka, hanya ketuanya yang tidak bersuara. Ia hanya fokus pada apa ya







