LOGINBallroom perlahan kembali ramai setelah jawaban polos Rangga tadi. Beberapa orang bahkan masih ketawa kecil sambil geleng-geleng kepala.
“UAS…”“Di tengah rapat dunia bawah…”“Anak itu aneh.”Sementara Aditya sendiri cuma tersenyum kecil lalu mengangguk maklum.“Saya mengerti.”Asturi akhirnya maju lagi mengambil alih suasana dengan elegan.“Baik kalau begitu… karena pembahasan utama sudah selesai… silakan melanjutkan perbincangan masing-maSeminggu kemudian, Rangga duduk di bale kayu depan rumahnya sambil memandangi jalan kampung. Atau lebih tepatnya bekas jalan kampung.Karena dalam beberapa hari terakhir, suasana di sekitar rumahnya berubah drastis. Mobil pickup keluar masuk hampir setiap hari.Warga yang rumahnya berada di sekitar area Rangga satu per satu pindah setelah menerima penawaran harga yang bahkan menurut mereka sendiri terlalu tinggi untuk ditolak.Ada yang pindah ke kompleks baru, ada yang beli rumah lebih besar, qda yang langsung pensiun dini dan sekarang beberapa dari mereka masih melambai ramah setiap kali lewat.“Mas Rangga! Terima kasih ya!”Rangga membalas lambaian itu dengan senyum yang terlihat terpaksa.“Iya pak…”Mobil pickup itu pergi dan Rangga kembali menatap kosong ke depan. Di kejauhan terdengar suara.BRRRRRM.Sebuah alat berat sedang merobohkan rumah yang baru dibeli beberapa hari lalu.Debu beterbangan, tru
Ruangan kembali tenang setelah Gayatri selesai membaca perkamen itu, semua orang terdiam beberapa saat. Masing-masing mencerna informasi yang baru saja mereka kumpulkan.Akhirnya Aditya menghela napas pelan.“Setidaknya sekarang kita tahu satu hal.”Gayatri mengangguk.“Jalur yang ditempuh berbeda.”Asturi menambahkan pelan.“Dan perbedaannya bukan sekadar nama tingkatan... Fondasinya memang berbeda sejak awal.”Rangga mengangguk.“Nah itu. Kalau sekarang sih paling kita baru tahu bedanya dimana. Tapi kenapa bisa begitu? Dan kenapa berubah?”Dia mengangkat bahu.“Belum tahu.”Aditya tersenyum kecil.“Itu sudah lebih banyak daripada yang kami ketahui selama puluhan tahun.”Gayatri pun mengangguk setuju. Untuk pertama kalinya sejak lama Mandala Gupta mendapatkan petunjuk yang benar-benar masuk akal.Rangga lalu berkata santai.“Yaudah... Nanti kalau saya tahu lagi, saya kabarin pakde.”
Ruangan langsung menjadi jauh lebih serius setelah hasil Gayatri keluar. Karena kalau alat ini benar, maka Grandmaster modern ternyata hanya setara tingkat kelima.Sadhaka.Dan itu membuat seluruh asumsi mereka selama ini mulai goyah.Asturi yang sejak tadi diam memperhatikan akhirnya bersandar sedikit.“Kalau begitu… saya juga ingin mencobanya.”Rangga langsung mengangguk.“Boleh bu. Tapi sama ya, sakit kalau udah lewat batas.”Asturi tersenyum kecil.“Saya rasa saya bisa menahannya.”Dia mengulurkan telapak tangannya ke atas meja dan Rangga mulai lagi.Satu lidi.CTAS.Tidak ada reaksi.Dua. CTAS. Tiga. CTAS. Empat. CTAS dan Asturi masih terlihat santai.Lima.CTASSS.Tubuh Asturi sedikit tersentak. Mata indahnya langsung menyipit.“…!”Tangannya refleks bergerak sedikit ke belakang. Rasa sakit yang tajam itu muncul sesaat lalu menghilang.
Rangga mengangkat ikatan sapu lidi itu sedikit lebih tinggi.“Ini buat ngetes.”Hening.Gayatri, Asturi, dan Aditya tetap memperhatikan benda itu dengan ekspresi yang kurang lebih sama, mereka bingung.Karena setelah semua pembicaraan tentang Dharmasraya dan kanuragan kuno, alat tes yang keluar justru sapu lidi. Rangga sendiri santai.“Katanya tiap lidi mewakili satu tingkatan.”Lalu dia menunjuk Gayatri.“Tante tingkat berapa?”Gayatri mengernyit.“Kalau klasifikasi modern... Grandmaster.”Rangga mengangguk lalu menoleh ke Asturi.“Kalau bu Asturi?”Asturi tersenyum kecil.“Sama. Saya Grandmaster.”Rangga lalu menoleh ke Aditya.“Kalau pakde?”Aditya menjawab tenang.“Anuttara.”Agung yang duduk di belakang langsung refleks bicara.“Lho? Bukannya kata Pak Hendro Anuttara itu udah paling tinggi?”Aditya tersenyum tipis.“Untuk sistem modern.
Keesokan harinya, dua motor akhirnya berhenti pelan di depan sebuah gerbang hitam raksasa yang berdiri di atas bukit. Rangga buka helm duluan lalu mendongak lama ke atas. “…anjir.” Agung ikut nengok. “BRO. Ini rumah apa istana final boss.” Putra bahkan sampe maju dikit ngintip lewat pagar. Rumah besar bergaya klasik itu berdiri sendiri di atas bukit dengan halaman super luas dan jalan masuk panjang berliku. Dari bawah aja keliatan absurd mahalnya. Rangga langsung buka HP lagi ngecek lokasi. “…bener gak sih ini? Jangan-jangan salah masuk rumah pejabat.” Belum sempet mereka lanjut debat gerbang otomatis perlahan terbuka dan seorang pelayan berpakaian rapi sudah berdiri di dekat pos depan sambil membungkuk sopan. “Tuan Rangga?” Rangga langsung refleks. “…eh iya.” “Tuan Aditya sudah menunggu. Silakan masuk.” Agung lang
Seminggu kemudian suasana kampus terasa jauh lebih hidup.Mahasiswa mulai keluar kelas sambil ngobrol soal jawaban ujian, ada yang stres, ada yang lega, ada juga yang langsung ngomongin rencana liburan.Dan di salah satu lorong fakultas, Rangga akhirnya keluar kelas sambil narik napas panjang.“…ANJIR. Selesai juga.”Mukanya langsung cerah. Di lobby bawah, Agung dan Putra sudah nunggu sambil duduk selonjor dekat vending machine.Begitu lihat Rangga turun tangga, Agung langsung teriak.“GIMANA. Selamet lu nyet?”Rangga langsung ngacungin jempol.“Aman. Kayaknya.”Putra langsung berdiri.“Kalau gak aman? Ya ngulang.”“WKWKWK.”Rangga langsung nyengir puas sambil ngelepas tasnya.“Yang penting sekarang selesai dulu. Tinggal liburan… trus sebulan lagi masuk.”Agung langsung semangat.“NAH. Ngomong-ngomong… liburan kita kemana nyet?”Rangga ngangkat bahu santai.“Belom ta







