Accueil / Pendekar / Pendekar Salah Zaman / 29. Ranting Itu Pusaka

Share

29. Ranting Itu Pusaka

Auteur: SleepyFace
last update Date de publication: 2026-05-01 20:59:18

Beberapa hari kemudian, Agung sudah duduk santai di pos LSM, dikelilingi anak-anak yang sekarang berada di bawahnya. Mereka memperhatikan dengan serius, menunggu apa yang akan ditunjukkan.

Agung berdiri, menarik napas, lalu berkata dengan penuh gaya,

“Liat nih, baik-baik…”

Dia mengambil tiga batako, menyusunnya, lalu bersiap.

“Hiaaa—!”

Tangannya turun dan batako itu pecah jadi dua. Suasana langsung heboh.

“Wah—!”

“Anjir—!”

“Gila, bang!”

Mereka saling dorong, gak percaya dengan apa yang barusan
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Pendekar Salah Zaman   105. Kalau Lu Kalah, Bayar Makanan Gue

    Setelah makan mulai habis dan suasana meja jauh lebih santai, Asturi kembali menyandarkan tubuhnya perlahan sambil memutar gelas tehnya pelan di atas meja.“Ngomong-ngomong soal rumor tadi…”Nada suaranya tetap lembut, tapi kali ini semua otomatis mendengarkan.“Informasi tentang anda sekarang sudah mulai dicari.”Rangga yang lagi minum langsung berhenti.“Hah?”“Dicari?”Asturi mengangguk kecil.“Sudah ada yang ingin membeli informasi awal.”Rangga langsung bingung.“Buat apa orang beli informasi gue?”Kael yang jawab duluan sambil nyender santai.“Ya buat data awal lah.”“Kalau mau nantangin lu masa dateng buta.”Rangga langsung nengok.“Nantangin lagi?”Kael malah ketawa kecil.“Lah iya.”Asturi ikut mengangguk.“Informasi adalah mata uang di dunia saya.”Dia melanjutkan dengan tenang.“Semakin

  • Pendekar Salah Zaman   104. Sayang Kalau Gak Dimakan

    Asturi tersenyum kecil melihat reaksi Putra tadi.“Kurang lebih begitu.”Nada bicaranya lembut dan santai, tapi entah kenapa tetap membuat Agung otomatis duduk sedikit lebih rapi. Kael yang melihat itu malah tertawa kecil sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.“Dia emang serem.”Asturi melirik sekilas ke arahnya.“Dan anda masih datang makan gratis di sini.”“Kan akrab.”“Tidak.”Jawab Asturi cepat.Agung langsung menutup mulut menahan tawa.Sementara itu beberapa staf masuk diam-diam membawa makanan dan mulai menyusunnya satu per satu di meja dengan gerakan cepat dan rapi. Asturi sendiri tidak langsung pergi. Dia berdiri beberapa saat sambil memperhatikan mereka semua, tatapannya bergantian ke Agung, Putra, lalu berhenti sedikit lebih lama di Rangga seperti seseorang yang sedang mencocokkan potongan puzzle di kepalanya.Akhirnya dia kembali bicara.“Jujur saja… saya cukup pen

  • Pendekar Salah Zaman   103. Katanya Cuma Makan

    Malam itu rumah sudah jauh lebih sepi. Agung, Putra, bahkan Rangga sudah tidur setelah latihan dan makan malam panjang tadi. Hanya beberapa lampu yang masih menyala redup di halaman.Di bawah pohon Kael duduk santai sambil melempar batu kecil ke atas lalu nangkep lagi.Sena berdiri tidak jauh, tangannya terlipat sementara Wira masih seperti biasa.Tenang.Kael akhirnya buka suara.“Bayaran gue mana?”Dia nengok ke Wira sambil nyengir.“Gue udah bantu beresin masalah lu tuh.”Wira hanya menatap sebentar lalu berdiri.“Ikut saya.”Tidak banyak bicara dan Kael langsung bangkit semangat.“Nah gitu dong.”Sena menghela napas kecil.“…kenapa jadi gue ikut juga.”Beberapa detik kemudian tiga sosok itu sudah melesat menembus malam dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Atap rumah, kabel listrik, gang sempit—semuanya hanya lewat sekilas di bawah mereka.Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah gudang tua yang sudah lama kosong.Cat dindingnya mengelupas, besi-besi berkarat, dan suasana di da

  • Pendekar Salah Zaman   102. Perasaan Gue Gak Ngapa-Ngapain

    Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu, tapi dampaknya tidak benar-benar hilang—justru menyebar pelan, masuk ke percakapan-percakapan yang tidak pernah tercatat, berpindah dari satu lingkaran ke lingkaran lain tanpa pernah disebut terang-terangan.Di sebuah ruangan tertutup, jauh dari jangkauan orang biasa, beberapa orang duduk mengelilingi meja panjang dengan wajah yang tidak semuanya terlihat jelas. Tidak ada yang menyebut nama secara langsung, tidak ada yang mengangkat suara, tapi arah pembicaraan mereka sama.“…Krisnapati mundur.”Salah satu dari mereka berbicara pelan.“Dan Wening Jagad juga berhenti.”Hening sejenak.“Orang yang sama?”Tidak ada jawaban pasti.Hanya tatapan dan satu kesimpulan yang tidak perlu diucapkan ada sesuatu yang baru.Di tempat lain, sebuah hotel mewah dengan jendela tinggi menghadap kota yang gemerlap, seorang wanita duduk santai dengan segelas minuman di tangannya. Seorang staf membisikkan sesuatu di sampingnya, cukup pelan agar tidak terdengar orang

  • Pendekar Salah Zaman   101. Satu Nama, Dua Dunia Gemetar

    Kael diseret ke teras dengan kondisi masih terikat, tubuhnya agak lemas tapi wajahnya tetap santai seperti tidak terjadi apa-apa. Lendra dan Tora menjatuhkannya duduk, masih waspada walaupun jelas mereka sendiri sudah kelelahan.Lendra ngelirik Tora.“Kok bisa ketangkep, Tor?”Tora geleng.“Gue juga bingung.”Rangga yang masih megang dadanya nyaut.“Lah emang harusnya gak bisa ketangkep?”Kael malah ketawa kecil, santai banget.“Hehehe…”“Harusnya engga.”Dia ngangkat sedikit tangannya yang terikat.“Tapi tali ini… aneh.”Rangga langsung jawab tanpa mikir.“Itu tali biasa dari Wira.”Sekejap Lendra, Tora, dan Kael langsung diem lalu ngangguk.“Oh…”“Pantes.”Rangga makin bingung.“Lu siapa sih sebenernya?”“Ngapain tiba-tiba ngajak ribut?”Kael nyengir lebar.“Gue?”“Cuma main aja.”Dia bahu naik sedikit.“Ada misi sih… tapi ya…”“…gak penting sekarang.”Belum sempat Rangga lanjut—duk.Suara langkah cepat dari luar. Seseorang berhenti tepat di depan pagar.Sena.Napasnya masih berat,

  • Pendekar Salah Zaman   100. Anjir… Ini Rasanya Berantem

    Begitu potongan informasi itu tersambung di kepala Kael, tubuhnya langsung bergerak tanpa peringatan. Langkahnya ringan tapi cepat, dan dalam satu tarikan napas dia sudah melesat ke arah Rangga dengan pukulan yang mengarah lurus ke wajah.Lendra dan Tora langsung bereaksi.Mereka masuk dari dua sisi, menahan arah pukulan itu sebelum benar-benar sampai.“WOI—”Belum selesai.Tubuh Rangga bergerak sendiri.Kakinya geser diagonal, refleks dari latihan berhari-hari, badannya miring keluar dari garis serang, dan tanpa sadar—sikutnya naik.duk.Masuk.Kena tepat di rahang.Kael mundur beberapa langkah.Berhenti.Rangga sendiri langsung kaget.“Anjir—”Tangannya masih setengah terangkat, matanya membesar.“Refleks gue barusan…?”Lendra juga bengong, Tora bahkan belum gerak dan Kael menyentuh rahangnya sebentar lalu tertawa.“Heh…”Dia mengangkat kepala, senyumnya lebar.“Keras juga.”Rangga makin bingung.“Woi.”“Lu mau ngapain sih?”Tidak dijawab dan Kael sudah maju lagi kali ini lebih cepa

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status