/ Pendekar / Pendekar Salah Zaman / 32. Ini Cari Data, Bukan Ikutan Halu

공유

32. Ini Cari Data, Bukan Ikutan Halu

작가: SleepyFace
last update 게시일: 2026-05-01 21:00:37

Rangga menyender, lalu mulai.

“Gue tau prana itu… yang bikin lu bisa loncat aneh-aneh, atau diatur lewat napas di nadi, kan?”

Wira mengangguk.

“Betul.”

Rangga lanjut,

“Berarti prana itu energi, kan?”

Wira diam sebentar.

“Bisa dikatakan begitu.”

Rangga langsung masuk.

“Pertanyaan gue, itu energi dari mana?”

Dia condong sedikit.

“Di termodinamika, gak ada energi yang tiba-tiba bisa diambil dari udara, terus disimpen di tubuh.”

Wira mengernyit.

“Istilah ‘energi’ itu… apa?”

Agung langsung nyamber.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Pendekar Salah Zaman   140. Padepokan Kanuragan - Fakultas Dharmasraya

    Beberapa bulan kemudian. Apa yang awalnya hanya obrolan iseng di bale rumah Rangga akhirnya benar-benar berdiri.Bukan padepokan biasa. Bukan juga sekolah biasa. Melainkan sesuatu yang aneh berada di tengah-tengah keduanya.Bangunannya luas. Beberapa rumah di sekitar sudah berubah fungsi menjadi ruang belajar, asrama, area latihan, dan kebun. Di salah satu papan besar dekat gerbang bahkan terpampang jadwal.Meditasi Dasar, Biologi Dasar, Pemahaman Alam, Latihan Fisik, Teknik DasarYang membuat banyak orang dunia bawah mengernyit setiap kali membacanya.Pagi itu, di rumah utama. Rangga berdiri di depan cermin ruang tamu memakai kemeja rapi. Rambutnya sudah disisir meski ekspresinya tetap terlihat tidak rela.Di belakangnya, Wira duduk santai sambil minum teh mint dan Rangga menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama lalu menghela napas.“Anjir... Gue jadi kepala sekolah sekarang.” Dia memiringkan kepalanya. “Ini pake izi

  • Pendekar Salah Zaman   139. Menerjemahkan Kanuragan

    Rangga turun dari bale dengan senyum yang membuat Wira langsung menggeleng pelan. Di teras, Kael, Sena, Lendra, Tora, Agung, dan Putra masih sibuk main monopoli. Agung lagi debat sama Putra soal uang sewa.“Itu tanah gue.”“Lah lu lewat situ ya bayar.”“Korupsi lu.”“Ngawur.”Rangga berdiri di belakang mereka beberapa detik lalu bertanya santai.“Lu pada darimana main monopoli?”Agung nengok.“Ya dari tadi nyet. Kenapa?”Rangga mengangguk.“Mending bantuin gue.”Hening dan Agung langsung geleng.“Gamau.”Putra lebih cepat lagi.“Ogah.”Rangga langsung menunjuk Agung.“Oke... Mulai sekarang tugas kuliah lu kerjain sendiri.”Agung membeku lalu Rangga melanjutkan.“Sampai skripsi, isi SPSS sendiri... Trua analisis sendiri. Interpretasi sendiri... Gue ga bantu lu lagi.”“YAH, KAMPRET LAH.”Agung langsung berdiri.“Jangan gitu lah nyet... Lu tau

  • Pendekar Salah Zaman   138. Gue Punya Karyawan Banyak

    Seminggu kemudian, Rangga duduk di bale kayu depan rumahnya sambil memandangi jalan kampung. Atau lebih tepatnya bekas jalan kampung.Karena dalam beberapa hari terakhir, suasana di sekitar rumahnya berubah drastis. Mobil pickup keluar masuk hampir setiap hari.Warga yang rumahnya berada di sekitar area Rangga satu per satu pindah setelah menerima penawaran harga yang bahkan menurut mereka sendiri terlalu tinggi untuk ditolak.Ada yang pindah ke kompleks baru, ada yang beli rumah lebih besar, qda yang langsung pensiun dini dan sekarang beberapa dari mereka masih melambai ramah setiap kali lewat.“Mas Rangga! Terima kasih ya!”Rangga membalas lambaian itu dengan senyum yang terlihat terpaksa.“Iya pak…”Mobil pickup itu pergi dan Rangga kembali menatap kosong ke depan. Di kejauhan terdengar suara.BRRRRRM.Sebuah alat berat sedang merobohkan rumah yang baru dibeli beberapa hari lalu.Debu beterbangan, tru

  • Pendekar Salah Zaman   137. Gue Bukan Guru Silat

    Ruangan kembali tenang setelah Gayatri selesai membaca perkamen itu, semua orang terdiam beberapa saat. Masing-masing mencerna informasi yang baru saja mereka kumpulkan.Akhirnya Aditya menghela napas pelan.“Setidaknya sekarang kita tahu satu hal.”Gayatri mengangguk.“Jalur yang ditempuh berbeda.”Asturi menambahkan pelan.“Dan perbedaannya bukan sekadar nama tingkatan... Fondasinya memang berbeda sejak awal.”Rangga mengangguk.“Nah itu. Kalau sekarang sih paling kita baru tahu bedanya dimana. Tapi kenapa bisa begitu? Dan kenapa berubah?”Dia mengangkat bahu.“Belum tahu.”Aditya tersenyum kecil.“Itu sudah lebih banyak daripada yang kami ketahui selama puluhan tahun.”Gayatri pun mengangguk setuju. Untuk pertama kalinya sejak lama Mandala Gupta mendapatkan petunjuk yang benar-benar masuk akal.Rangga lalu berkata santai.“Yaudah... Nanti kalau saya tahu lagi, saya kabarin pakde.”

  • Pendekar Salah Zaman   136. Kok Turun Satu Tingkat?

    Ruangan langsung menjadi jauh lebih serius setelah hasil Gayatri keluar. Karena kalau alat ini benar, maka Grandmaster modern ternyata hanya setara tingkat kelima.Sadhaka.Dan itu membuat seluruh asumsi mereka selama ini mulai goyah.Asturi yang sejak tadi diam memperhatikan akhirnya bersandar sedikit.“Kalau begitu… saya juga ingin mencobanya.”Rangga langsung mengangguk.“Boleh bu. Tapi sama ya, sakit kalau udah lewat batas.”Asturi tersenyum kecil.“Saya rasa saya bisa menahannya.”Dia mengulurkan telapak tangannya ke atas meja dan Rangga mulai lagi.Satu lidi.CTAS.Tidak ada reaksi.Dua. CTAS. Tiga. CTAS. Empat. CTAS dan Asturi masih terlihat santai.Lima.CTASSS.Tubuh Asturi sedikit tersentak. Mata indahnya langsung menyipit.“…!”Tangannya refleks bergerak sedikit ke belakang. Rasa sakit yang tajam itu muncul sesaat lalu menghilang.

  • Pendekar Salah Zaman   135. Bukan Psikotest

    Rangga mengangkat ikatan sapu lidi itu sedikit lebih tinggi.“Ini buat ngetes.”Hening.Gayatri, Asturi, dan Aditya tetap memperhatikan benda itu dengan ekspresi yang kurang lebih sama, mereka bingung.Karena setelah semua pembicaraan tentang Dharmasraya dan kanuragan kuno, alat tes yang keluar justru sapu lidi. Rangga sendiri santai.“Katanya tiap lidi mewakili satu tingkatan.”Lalu dia menunjuk Gayatri.“Tante tingkat berapa?”Gayatri mengernyit.“Kalau klasifikasi modern... Grandmaster.”Rangga mengangguk lalu menoleh ke Asturi.“Kalau bu Asturi?”Asturi tersenyum kecil.“Sama. Saya Grandmaster.”Rangga lalu menoleh ke Aditya.“Kalau pakde?”Aditya menjawab tenang.“Anuttara.”Agung yang duduk di belakang langsung refleks bicara.“Lho? Bukannya kata Pak Hendro Anuttara itu udah paling tinggi?”Aditya tersenyum tipis.“Untuk sistem modern.

  • Pendekar Salah Zaman   49. Pulpen Apaan Lagi Ini

    Mereka sampai di ruangan Dimas.Ruangan itu sama seperti sebelumnya—rapi, tenang, dengan jendela besar yang menghadap keluar. Suasana jauh lebih santai dibanding area acara di luar.Rangga duduk di kursi depan meja, Mira di sampingnya, dan Wira tetap sedikit di belakang sebelum akhirnya ikut duduk

  • Pendekar Salah Zaman   47. Heran Gue Kok Mahasiswa Begini

    Obrolan mereka berlanjut sebentar, ringan, tanpa arah yang jelas. Sampai akhirnya Rangga berdiri duluan, menepuk pahanya pelan.“Pulang yuk.”Yang lain ikut bangkit. Kursi digeser, gelas diberesin seadanya, lalu mereka jalan bareng keluar kantin menuju lobi kampus.Suasana malam mulai turun, lampu

  • Pendekar Salah Zaman   46. Sekretaris Dari Mana Lagi Ini

    Malam hari, kantin kampus kembali ramai seperti biasa. Lampu-lampu kuning menyala, suara obrolan bercampur dengan bunyi sendok dan gelas.Rangga sudah duduk di tempat biasa, secangkir kopi di depannya yang masih setengah.Agung langsung nyender ke meja begitu duduk.“Ayo, nyet… cerita. Apaan tadi s

  • Pendekar Salah Zaman   45. Lumayan Buat Agung Dan Anak-Anaknya

    Rangga duduk sedikit lebih tegak, tangannya bertaut di depan.“Saya sebenarnya… belum begitu tahu, mas, tentang lelang begitu.”Dimas bersandar di kursinya, mengamati.“Belum dikasih tahu sama Pak Hendro ya?”Rangga menggeleng pelan.Dimas mengangguk kecil, lalu tersenyum tipis.“Tapi saya baru kal

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status