Mag-log inPagi hari, Rangga membuka mata.Baru beberapa detik sadar, dia langsung duduk dan menoleh ke arah pintu.
“Yaaah… bukan mimpi ternyata.” Di depan pintu, Wira masih duduk bersila. Posisi, postur, bahkan arah hadapnya sama persis seperti semalam. Rangga berdiri, berjalan ke arah dapur kecilnya, lalu menyalakan air. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi sebentar. Beberapa menit kemudian, dia keluar, menyeduh kopi hitam seperti biasa. “Wir,” panggilnya sambil menuang air panas. “Lu udah bangun apa belum tidur, sih?” Wira membuka matanya perlahan. Dia menoleh ke arah Rangga. “Kau tidur hingga tengah hari seperti ini?” Rangga yang baru saja menaruh teko langsung berhenti, lalu menoleh ke jendela. “Wir, ini masih pagi. Belum jam tujuh malah. Tengah hari apaan.” Wira sudah berdiri sekarang. Tubuhnya dalam posisi kuda-kuda, tangan terentang, napasnya teratur. Rangga menatap beberapa detik. “Lu ngapain lagi sih, Wir…” katanya datar. “Masih pagi. Gak capek apa lu? Ngopi dulu sini.” Wira tidak menjawab. Dia tetap dalam posisi itu. Rangga hanya menggeleng kecil, lalu duduk sambil membuka ponselnya, melihat chat di grup kampus. Rangga membuka chat di ponselnya sambil melirik barang di lantai. “Ini barang-barang dari preman itu buat bayar kosan, kan, Wir?” “Benar,” jawab Wira singkat. “Untuk tempat tinggal ini.” Rangga menaruh ponselnya, lalu menarik barang-barang itu mendekat. Sekarang dia benar-benar memperhatikan. Empat handphone. Uang tunai—dia hitung cepat—sekitar tujuh ratus ribuan. Ditambah gelang dan kalung emas. “Anjir…” gumamnya. “Ini hape bisa laku lima ratusan sebiji.” Dia mulai menyalakan satu per satu, melakukan reset paksa, lalu memisahkannya di samping. “Lumayan juga…” Setelah itu dia melirik ke Wira. “Wir, lu mau sarapan apa? Kita makan keluar aja. Gue belum makan dari semalem.” Wira menghentikan gerakannya, lalu berdiri normal. “Sarapan… maksudmu makan?” Dia mengangguk sedikit. “Aku tidak perlu, tapi aku bisa.” Rangga sudah berdiri, mengambil dompetnya. “Yaudah, gue keluar dulu. Lu di sini aja. Lanjutin… senam lu itu.” Tanpa menunggu jawaban, Rangga keluar dari kosan untuk cari sarapan. Tidak lama kemudian, Rangga kembali membawa dua kotak makanan. Begitu masuk, dia langsung melihat Wira masih di posisi yang sama. Rangga menghela napas. “Makan dulu, Wir. Ayo.” Wira menjawab tanpa bergerak. “Aku tidak butuh makanan. Silakan kau makan sendiri.” Rangga hanya menggeleng, lalu duduk dan membuka bungkus makanannya. “Ini pake duit lu tadi, Wir. Masa gue makan sendiri. Lagian duit lu lumayan banyak, makanya gue beli yang agak enak.” Dia menyodorkan satu kotak. “Sini, makan.” Begitu kotak itu terbuka, terlihat nasi putih, ayam goreng, dan sambal geprek. Aromanya langsung menyebar di ruangan. Bagi Rangga, itu biasa. Tapi Wira berhenti bergerak. Matanya tertuju ke makanan itu. “Makanan apa itu…?” katanya pelan. “Kenapa aromanya… sangat kuat?” Rangga yang sudah mau mengambil nasi berhenti, lalu menoleh. “Itu ayam geprek, Wir. Makanya sini makan. Itu punya lu.” Dia membuka kotak satunya lagi. “Sini.” Rangga langsung mulai makan. “Anjir… enak banget. Jarang-jarang gue makan ayam.” Wira akhirnya mendekat, lalu duduk di depan Rangga. Dia menatap isi kotak itu dengan serius. Nasi—dia mengenal. Tapi ayam dengan baluran sambal dan minyak itu terasa asing. Dia hanya memperhatikan. “Lu gak pernah makan apa gimana sih?” kata Rangga sambil terus makan. “Jangan diliatin doang.” Wira akhirnya mengambil sedikit nasi dan ayam. Saat masuk ke mulutnya dia berhenti. Wajahnya berubah. “Makanan dewa…” katanya pelan. “Ini makanan dewa.” Rangga langsung berhenti mengunyah. Dia menatap Wira. Ekspresi datar yang sejak kemarin tidak berubah… sekarang benar-benar berbeda. Kaget. Terkejut. Bahkan seperti terpukul. Rangga langsung tersedak kecil, lalu batuk sambil ketawa. “Anjir…” Rangga langsung buru-buru minum karena keselek. “Uhuk—uhuk—” Dia narik napas. “Lu ngapa lagi sih, Wir…” Wira tidak langsung jawab. Dia masih menatap isi kotak itu dengan serius. Tangannya mengambil satu potong ayam. “Apa yang coklat dan keras ini?” Rangga melirik. “Itu tepung. Tepung goreng. Dibalur ke ayam sebelum digoreng.” Wira menatapnya. “Ini bukan ayam.” Rangga langsung berhenti. “Haah?” “Ini bukan ayam,” ulang Wira, wajahnya tetap serius. “Kau berbohong.” Rangga mengangkat alis. “Itu ayam, Wir. Apaan sih. Kalau bukan ayam, itu apaan?” Wira menatap potongan di tangannya. “Ayam itu dagingnya keras. Alot. Tidak selembut ini.” Rangga langsung menunjuk. “Wir, itu ayam. Lu gak pernah makan ayam apa gimana? Yang alot itu daging kerbau, bukan ayam.” Wira mengangguk pelan. “Kerbau memang alot.” Lalu dia menatap lagi ayam di tangannya. “Tapi ini tetap bukan ayam.” Rangga langsung geleng-geleng kepala. “Udah, lu makan aja lah. Makan aja ribet. Heran gue.” Dia lanjut makan seperti biasa. Wira diam sejenak, lalu melihat lagi kotaknya. “Apakah ini jenis ayam dewa…” Dia memegang potongan itu lagi, lalu mulai makan perlahan. Satu suapan. Suapan kedua. Ekspresinya berubah lagi—sedikit lebih dalam, lebih fokus. Rangga melirik. “Lu ngapain sih…” Tapi Wira sudah tenggelam dalam makanannya. Setiap gigitan seperti dianalisis serius, seolah dia sedang menilai sesuatu yang benar-benar baru dalam hidupnya. Rangga dan Wira akhirnya makan sampai habis. Perbedaan kotaknya jelas. Kotak Rangga tinggal tulang berserakan. Kotak Wira… bersih. Tidak ada sisa. Bahkan tulangnya pun tidak ada. Rangga melirik, lalu mengernyit. “Lu kucing apa gimana sih, Wir… tulang ayam lu sikat juga.” Wira menatapnya tenang. “Terima kasih atas jamuannya, Rangga. Aku sangat menikmatinya.” Rangga menatap Wira beberapa detik, lalu menggeleng pelan. “Udah, udah… itu cuma ayam geprek.” Dia lalu menyeringai sedikit jahil. “Nanti siang gue kasih yang beneran bisa dibilang jamuan. Gimana?” Wira menatapnya serius. “Siang? Bukankah makan berikutnya saat matahari tenggelam?” Rangga langsung ketawa. “Ada lah nanti. Gampang. Urusan makan, gue yang atur.” Dia berdiri, membereskan sisa bungkus makanan. “Lu mau senam, ya senam aja sana. Gue mau ngerjain tugas.” Rangga kemudian mengambil laptopnya dan duduk di teras kecil kosannya, mulai fokus mengetik, sementara di dalam, Wira kembali dengan rutinitas anehnya.Beberapa bulan kemudian. Apa yang awalnya hanya obrolan iseng di bale rumah Rangga akhirnya benar-benar berdiri.Bukan padepokan biasa. Bukan juga sekolah biasa. Melainkan sesuatu yang aneh berada di tengah-tengah keduanya.Bangunannya luas. Beberapa rumah di sekitar sudah berubah fungsi menjadi ruang belajar, asrama, area latihan, dan kebun. Di salah satu papan besar dekat gerbang bahkan terpampang jadwal.Meditasi Dasar, Biologi Dasar, Pemahaman Alam, Latihan Fisik, Teknik DasarYang membuat banyak orang dunia bawah mengernyit setiap kali membacanya.Pagi itu, di rumah utama. Rangga berdiri di depan cermin ruang tamu memakai kemeja rapi. Rambutnya sudah disisir meski ekspresinya tetap terlihat tidak rela.Di belakangnya, Wira duduk santai sambil minum teh mint dan Rangga menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama lalu menghela napas.“Anjir... Gue jadi kepala sekolah sekarang.” Dia memiringkan kepalanya. “Ini pake izi
Rangga turun dari bale dengan senyum yang membuat Wira langsung menggeleng pelan. Di teras, Kael, Sena, Lendra, Tora, Agung, dan Putra masih sibuk main monopoli. Agung lagi debat sama Putra soal uang sewa.“Itu tanah gue.”“Lah lu lewat situ ya bayar.”“Korupsi lu.”“Ngawur.”Rangga berdiri di belakang mereka beberapa detik lalu bertanya santai.“Lu pada darimana main monopoli?”Agung nengok.“Ya dari tadi nyet. Kenapa?”Rangga mengangguk.“Mending bantuin gue.”Hening dan Agung langsung geleng.“Gamau.”Putra lebih cepat lagi.“Ogah.”Rangga langsung menunjuk Agung.“Oke... Mulai sekarang tugas kuliah lu kerjain sendiri.”Agung membeku lalu Rangga melanjutkan.“Sampai skripsi, isi SPSS sendiri... Trua analisis sendiri. Interpretasi sendiri... Gue ga bantu lu lagi.”“YAH, KAMPRET LAH.”Agung langsung berdiri.“Jangan gitu lah nyet... Lu tau
Seminggu kemudian, Rangga duduk di bale kayu depan rumahnya sambil memandangi jalan kampung. Atau lebih tepatnya bekas jalan kampung.Karena dalam beberapa hari terakhir, suasana di sekitar rumahnya berubah drastis. Mobil pickup keluar masuk hampir setiap hari.Warga yang rumahnya berada di sekitar area Rangga satu per satu pindah setelah menerima penawaran harga yang bahkan menurut mereka sendiri terlalu tinggi untuk ditolak.Ada yang pindah ke kompleks baru, ada yang beli rumah lebih besar, qda yang langsung pensiun dini dan sekarang beberapa dari mereka masih melambai ramah setiap kali lewat.“Mas Rangga! Terima kasih ya!”Rangga membalas lambaian itu dengan senyum yang terlihat terpaksa.“Iya pak…”Mobil pickup itu pergi dan Rangga kembali menatap kosong ke depan. Di kejauhan terdengar suara.BRRRRRM.Sebuah alat berat sedang merobohkan rumah yang baru dibeli beberapa hari lalu.Debu beterbangan, tru
Ruangan kembali tenang setelah Gayatri selesai membaca perkamen itu, semua orang terdiam beberapa saat. Masing-masing mencerna informasi yang baru saja mereka kumpulkan.Akhirnya Aditya menghela napas pelan.“Setidaknya sekarang kita tahu satu hal.”Gayatri mengangguk.“Jalur yang ditempuh berbeda.”Asturi menambahkan pelan.“Dan perbedaannya bukan sekadar nama tingkatan... Fondasinya memang berbeda sejak awal.”Rangga mengangguk.“Nah itu. Kalau sekarang sih paling kita baru tahu bedanya dimana. Tapi kenapa bisa begitu? Dan kenapa berubah?”Dia mengangkat bahu.“Belum tahu.”Aditya tersenyum kecil.“Itu sudah lebih banyak daripada yang kami ketahui selama puluhan tahun.”Gayatri pun mengangguk setuju. Untuk pertama kalinya sejak lama Mandala Gupta mendapatkan petunjuk yang benar-benar masuk akal.Rangga lalu berkata santai.“Yaudah... Nanti kalau saya tahu lagi, saya kabarin pakde.”
Ruangan langsung menjadi jauh lebih serius setelah hasil Gayatri keluar. Karena kalau alat ini benar, maka Grandmaster modern ternyata hanya setara tingkat kelima.Sadhaka.Dan itu membuat seluruh asumsi mereka selama ini mulai goyah.Asturi yang sejak tadi diam memperhatikan akhirnya bersandar sedikit.“Kalau begitu… saya juga ingin mencobanya.”Rangga langsung mengangguk.“Boleh bu. Tapi sama ya, sakit kalau udah lewat batas.”Asturi tersenyum kecil.“Saya rasa saya bisa menahannya.”Dia mengulurkan telapak tangannya ke atas meja dan Rangga mulai lagi.Satu lidi.CTAS.Tidak ada reaksi.Dua. CTAS. Tiga. CTAS. Empat. CTAS dan Asturi masih terlihat santai.Lima.CTASSS.Tubuh Asturi sedikit tersentak. Mata indahnya langsung menyipit.“…!”Tangannya refleks bergerak sedikit ke belakang. Rasa sakit yang tajam itu muncul sesaat lalu menghilang.
Rangga mengangkat ikatan sapu lidi itu sedikit lebih tinggi.“Ini buat ngetes.”Hening.Gayatri, Asturi, dan Aditya tetap memperhatikan benda itu dengan ekspresi yang kurang lebih sama, mereka bingung.Karena setelah semua pembicaraan tentang Dharmasraya dan kanuragan kuno, alat tes yang keluar justru sapu lidi. Rangga sendiri santai.“Katanya tiap lidi mewakili satu tingkatan.”Lalu dia menunjuk Gayatri.“Tante tingkat berapa?”Gayatri mengernyit.“Kalau klasifikasi modern... Grandmaster.”Rangga mengangguk lalu menoleh ke Asturi.“Kalau bu Asturi?”Asturi tersenyum kecil.“Sama. Saya Grandmaster.”Rangga lalu menoleh ke Aditya.“Kalau pakde?”Aditya menjawab tenang.“Anuttara.”Agung yang duduk di belakang langsung refleks bicara.“Lho? Bukannya kata Pak Hendro Anuttara itu udah paling tinggi?”Aditya tersenyum tipis.“Untuk sistem modern.
Mereka akhirnya pulang, membawa tiga bungkus nasi goreng dan beberapa kopi sachet.Sampai di kosan, Rangga langsung melihat Wira duduk bersila di depan pintu. Pintu terbuka, tapi lampu masih mati semua.Rangga turun dari motor.“Wir, udah jam segini, lu gak nyalain lampu sih?”Agung ikut turun samb
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Rangga keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.Dia langsung berhenti.Di lantai, Agung sudah duduk bersila lagi, mata terpejam, wajahnya serius. Di sebelahnya, Wira duduk tenang sambil berkata pelan,“Pusat prana ada di kepala. Rasakan alirannya men
Rangga mengerjakan tugasnya sampai lewat jam tiga sore. Matanya mulai pegal, tapi dia masih fokus di depan laptop.Tiba-tiba suara klakson motor terdengar dari depan kosan.Agung.Rangga langsung menoleh. Temannya itu turun dari motor dengan wajah cerah, seperti biasa.“Woi, Ngga! Gimana healing lu
Rangga akhirnya sampai di kosannya, dengan Wira tetap mengikuti di belakang.Dia membuka pintu, menyalakan lampu, lalu langsung menyalakan teko listrik. Setelah itu dia duduk di lantai, punggungnya bersandar ke tembok.Di depannya, Wira ikut duduk, matanya bergerak ke sekeliling ruangan, memperhati







