بيت / Pendekar / Pendekar Salah Zaman / 86. Lah Orang Penting Ternyata

مشاركة

86. Lah Orang Penting Ternyata

مؤلف: SleepyFace
last update تاريخ النشر: 2026-05-01 22:14:42

Menjelang siang, kapal sudah sampai di titik yang sama seperti kemarin. Air laut terlihat tenang, tapi dalam. Joran sudah dilempar semua, dan mereka kembali ke ritual menunggu.

Rendi berdiri di samping Rangga, lalu nyenggol bahunya.

“Bro…”

“Lu ke sini buat ikut lelang juga kan?”

Rangga noleh santai.

“Iya.”

“Tapi gue gak ikut nawar.”

Rendi langsung mengerutkan alis.

“Lah terus ngapain?”

“Lu gak mungkin cuma liat-liat doang kan?”

Rangga ketawa kecil.

“Iya, gue liat-liat doang.”

Dia nunjuk ke bela
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Pendekar Salah Zaman   140. Padepokan Kanuragan - Fakultas Dharmasraya

    Beberapa bulan kemudian. Apa yang awalnya hanya obrolan iseng di bale rumah Rangga akhirnya benar-benar berdiri.Bukan padepokan biasa. Bukan juga sekolah biasa. Melainkan sesuatu yang aneh berada di tengah-tengah keduanya.Bangunannya luas. Beberapa rumah di sekitar sudah berubah fungsi menjadi ruang belajar, asrama, area latihan, dan kebun. Di salah satu papan besar dekat gerbang bahkan terpampang jadwal.Meditasi Dasar, Biologi Dasar, Pemahaman Alam, Latihan Fisik, Teknik DasarYang membuat banyak orang dunia bawah mengernyit setiap kali membacanya.Pagi itu, di rumah utama. Rangga berdiri di depan cermin ruang tamu memakai kemeja rapi. Rambutnya sudah disisir meski ekspresinya tetap terlihat tidak rela.Di belakangnya, Wira duduk santai sambil minum teh mint dan Rangga menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama lalu menghela napas.“Anjir... Gue jadi kepala sekolah sekarang.” Dia memiringkan kepalanya. “Ini pake izi

  • Pendekar Salah Zaman   139. Menerjemahkan Kanuragan

    Rangga turun dari bale dengan senyum yang membuat Wira langsung menggeleng pelan. Di teras, Kael, Sena, Lendra, Tora, Agung, dan Putra masih sibuk main monopoli. Agung lagi debat sama Putra soal uang sewa.“Itu tanah gue.”“Lah lu lewat situ ya bayar.”“Korupsi lu.”“Ngawur.”Rangga berdiri di belakang mereka beberapa detik lalu bertanya santai.“Lu pada darimana main monopoli?”Agung nengok.“Ya dari tadi nyet. Kenapa?”Rangga mengangguk.“Mending bantuin gue.”Hening dan Agung langsung geleng.“Gamau.”Putra lebih cepat lagi.“Ogah.”Rangga langsung menunjuk Agung.“Oke... Mulai sekarang tugas kuliah lu kerjain sendiri.”Agung membeku lalu Rangga melanjutkan.“Sampai skripsi, isi SPSS sendiri... Trua analisis sendiri. Interpretasi sendiri... Gue ga bantu lu lagi.”“YAH, KAMPRET LAH.”Agung langsung berdiri.“Jangan gitu lah nyet... Lu tau

  • Pendekar Salah Zaman   138. Gue Punya Karyawan Banyak

    Seminggu kemudian, Rangga duduk di bale kayu depan rumahnya sambil memandangi jalan kampung. Atau lebih tepatnya bekas jalan kampung.Karena dalam beberapa hari terakhir, suasana di sekitar rumahnya berubah drastis. Mobil pickup keluar masuk hampir setiap hari.Warga yang rumahnya berada di sekitar area Rangga satu per satu pindah setelah menerima penawaran harga yang bahkan menurut mereka sendiri terlalu tinggi untuk ditolak.Ada yang pindah ke kompleks baru, ada yang beli rumah lebih besar, qda yang langsung pensiun dini dan sekarang beberapa dari mereka masih melambai ramah setiap kali lewat.“Mas Rangga! Terima kasih ya!”Rangga membalas lambaian itu dengan senyum yang terlihat terpaksa.“Iya pak…”Mobil pickup itu pergi dan Rangga kembali menatap kosong ke depan. Di kejauhan terdengar suara.BRRRRRM.Sebuah alat berat sedang merobohkan rumah yang baru dibeli beberapa hari lalu.Debu beterbangan, tru

  • Pendekar Salah Zaman   137. Gue Bukan Guru Silat

    Ruangan kembali tenang setelah Gayatri selesai membaca perkamen itu, semua orang terdiam beberapa saat. Masing-masing mencerna informasi yang baru saja mereka kumpulkan.Akhirnya Aditya menghela napas pelan.“Setidaknya sekarang kita tahu satu hal.”Gayatri mengangguk.“Jalur yang ditempuh berbeda.”Asturi menambahkan pelan.“Dan perbedaannya bukan sekadar nama tingkatan... Fondasinya memang berbeda sejak awal.”Rangga mengangguk.“Nah itu. Kalau sekarang sih paling kita baru tahu bedanya dimana. Tapi kenapa bisa begitu? Dan kenapa berubah?”Dia mengangkat bahu.“Belum tahu.”Aditya tersenyum kecil.“Itu sudah lebih banyak daripada yang kami ketahui selama puluhan tahun.”Gayatri pun mengangguk setuju. Untuk pertama kalinya sejak lama Mandala Gupta mendapatkan petunjuk yang benar-benar masuk akal.Rangga lalu berkata santai.“Yaudah... Nanti kalau saya tahu lagi, saya kabarin pakde.”

  • Pendekar Salah Zaman   136. Kok Turun Satu Tingkat?

    Ruangan langsung menjadi jauh lebih serius setelah hasil Gayatri keluar. Karena kalau alat ini benar, maka Grandmaster modern ternyata hanya setara tingkat kelima.Sadhaka.Dan itu membuat seluruh asumsi mereka selama ini mulai goyah.Asturi yang sejak tadi diam memperhatikan akhirnya bersandar sedikit.“Kalau begitu… saya juga ingin mencobanya.”Rangga langsung mengangguk.“Boleh bu. Tapi sama ya, sakit kalau udah lewat batas.”Asturi tersenyum kecil.“Saya rasa saya bisa menahannya.”Dia mengulurkan telapak tangannya ke atas meja dan Rangga mulai lagi.Satu lidi.CTAS.Tidak ada reaksi.Dua. CTAS. Tiga. CTAS. Empat. CTAS dan Asturi masih terlihat santai.Lima.CTASSS.Tubuh Asturi sedikit tersentak. Mata indahnya langsung menyipit.“…!”Tangannya refleks bergerak sedikit ke belakang. Rasa sakit yang tajam itu muncul sesaat lalu menghilang.

  • Pendekar Salah Zaman   135. Bukan Psikotest

    Rangga mengangkat ikatan sapu lidi itu sedikit lebih tinggi.“Ini buat ngetes.”Hening.Gayatri, Asturi, dan Aditya tetap memperhatikan benda itu dengan ekspresi yang kurang lebih sama, mereka bingung.Karena setelah semua pembicaraan tentang Dharmasraya dan kanuragan kuno, alat tes yang keluar justru sapu lidi. Rangga sendiri santai.“Katanya tiap lidi mewakili satu tingkatan.”Lalu dia menunjuk Gayatri.“Tante tingkat berapa?”Gayatri mengernyit.“Kalau klasifikasi modern... Grandmaster.”Rangga mengangguk lalu menoleh ke Asturi.“Kalau bu Asturi?”Asturi tersenyum kecil.“Sama. Saya Grandmaster.”Rangga lalu menoleh ke Aditya.“Kalau pakde?”Aditya menjawab tenang.“Anuttara.”Agung yang duduk di belakang langsung refleks bicara.“Lho? Bukannya kata Pak Hendro Anuttara itu udah paling tinggi?”Aditya tersenyum tipis.“Untuk sistem modern.

  • Pendekar Salah Zaman   6. Kosab Gue Dibilang Kandang Kambing

    Rangga akhirnya sampai di kosannya, dengan Wira tetap mengikuti di belakang.Dia membuka pintu, menyalakan lampu, lalu langsung menyalakan teko listrik. Setelah itu dia duduk di lantai, punggungnya bersandar ke tembok.Di depannya, Wira ikut duduk, matanya bergerak ke sekeliling ruangan, memperhati

  • Pendekar Salah Zaman   5. Gue Anak Kos

    Setelah tawanya mereda, Rangga menarik napas panjang lagi. Wajahnya masih sisa frustasi, tapi sekarang lebih ke lelah.Dia menatap Wira.“Wir, gue anak kos. Gue kerja serabutan, gue kuliah. Gue gak bisa nerima orang lain di kosan gue. Makan aja kadang masih nyicil.”Wira diam, lalu bertanya tenang,

  • Pendekar Salah Zaman   4. Gua Anak Psikologi, Bukan Dukun

    Dari balik bayangan di ujung gang, seseorang melangkah keluar.Wira.Rangga langsung nyeletuk, setengah kaget, setengah lega.“Mbah dukun kayak Batman…”Wajahnya langsung berubah. Dia buru-buru melambaikan tangan.“Mbah, tolong mbah. Tolong saya, mbah.”Wira menatap Rangga dengan wajah datar, sedik

  • Pendekar Salah Zaman   7. Gue Harap Ini Mimpi, Ternyata Enggak

    Pagi hari, Rangga membuka mata.Baru beberapa detik sadar, dia langsung duduk dan menoleh ke arah pintu.“Yaaah… bukan mimpi ternyata.”Di depan pintu, Wira masih duduk bersila. Posisi, postur, bahkan arah hadapnya sama persis seperti semalam.Rangga berdiri, berjalan ke arah dapur kecilnya, lalu me

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status