Share

169. Part 5

last update Tanggal publikasi: 2026-04-24 01:01:45

"Kkk... kau.., apakah kau putra terakhir prabu Sangga Langit? Apakah kau yang bernama Angon Luwak dan dikenal dengan sebutan Pendekar Sinting?" Tanya Maha Sesat dengan bergetar.

Walau dendam dan kemarahannya pada Maha Sesat setinggi langit sedalam lautan namun Pendekar Sinting malah manggut-manggut sambil sunggingkan senyum mengejek.

Menatap sekilas pada Maha Sesat, Pendekar Sinting kemudian alihkan perhatiannya pada Angin Pesut dan Dewi Harum. Merasa diperhatikan oleh pemuda ta

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   209. Part 23

    Karuan saja ucapan Angon Luwak ini membuat kedua manusia kera seperti kebakaran jenggot. Ukuwudra melompat maju. Dengan sangat marah dia berteriak. "Pemuda sinting kurang ajar. Beraninya kau mencampuri urusan kami? Sekarang juga kau harus merasakan akibatnya!" Teriakan Ukuwudra disusul dengan tindakan sambil melompat maju.Lalu dengan mengandalkan jurus-jurus keranya Ukuwudra menyerang Angon Luwak. Diserang sedemikian rupa pemuda ini berkelit menghindar, lalu membalas serangan itu dengan jurus Badai Menggusur Gunung.Ketika Angon Luwak memutar dan mendorong kedua tangan ke arah Ukuwudra. Tiba-tiba terdengar suara menggemuruh seperti topan.Ukuwudra terkesima begitu melihat segulung angin menghantam tubuhnya. Secepat kilat dia jatuhkan diri. Serangan luput, Angon Luwak memutar tubuh dan menghantam kaki Ukuwudra dengan menggunakan kaki kiri. Tapi yang diserang telah bergulingan menjauh.Hentakan kaki Angon Luwak menimbulkan guncangan pada permukaan tanah. M

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   208. Part 22

    Ketika dua manusia berwajah kera melewati jalan setapak di Lor Ploso, Mereka merasa lega karena dalam perjalanan ternyata tidak ada hambatan atau rintangan berarti yang mereka temui.Kedua orang ini terus berlari. Ukuwudra yang membawa Mangir Ayu dalam panggulan berada di sebelah depan. Sedangkan Kara terus mengikuti tak jauh di belakangnya.Setelah melewati jalan berliku dan memasuki sebuah tikungan panjang. Di ujung tikungan tak jauh dari samping tebing terlihat sebuah gua besar menghadap ke sebuah lembah subur. Itulah guo Cerekan yang menjadi tempat tinggal mereka selama ini.Melihat tempat yang mereka tuju telah berada diambang mata. Kedua manusia kera ini pun mempercepat larinya. Tapi sejarak lima puluh tombak lagi mereka sampai di depan mulut gua.Tanpa pernah terduga Mangir Ayu yang berada di atas bahu Ukuwudra tiba-tiba tersadar dari pingsannya. Gadis cantik ini mula-mula mengeluh, tapi ketika kesadarannya mulai pulih dan dia merasa seperti sedang

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   207. Part 21

    Begitu tangan dikibaskan ke depan. Si Mata Bara melihat seolah-olah tangan lawan bertambah panjang dan tambah membesar. Lima jemari tangan yang berubah sebesar pisang ambon terus meluncur siap menjebol dadanya."ilmu setan!" Dengus Mata Bara.Dia menggeser kaki sambil miringkan tubuh. Serangan tangan besar luput dan lewat sejengkal di depan dada Si Mata Bara. Begitu tangan lawan lewat secepat kilat dia mencengkeram tangan itu.Tumenggung Dadung Kusuma yang tak menyangka bakal mendapat serangan seperti itu segera berusaha menarik tangan yang dicekal sekaligus tikamkan tombak di tangan kanannya.Usaha menarik tangan sekaligus membunuh lawan terlambat. Dengan tak terduga Mata Bara tiba-tiba kedipkan matanya ke arah tangan dalam cengkeramannya.Dua cahaya merah membara setajam mata pedang membersit dan siap menebas putus tangan sang tumenggung. Ketika tusukan tombak datang siap menembus perut, si Mata Bara segera melompat mundur ke belakang selamatkan

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   206. Part 20

    Namun dia segera batalkan serangan dan berusaha selamatkan diri."Pedang milik si rambut merah itu. Sungguh sebuah senjata aneh dan benar-benar gila!" Teriak Purudana pula.Segala teriakan dan seruan kaget kemudian berubah menjadi jerit dan pekik kesakitan. Satu persatu manusia singa hanya mampu delikkan mata sambil dekap dada masing-masing yang berlubang menganga di tembus pedang. Mereka tidak pernah melihat kapan Pedang Laut Selatan melukai mereka. Yang mereka sadari adalah darah mengucur deras dari luka di tubuh mereka."Mengapa bisa begini.. ?" Desis Kuruseta seolah tak percaya nasibnya berubah seburuk itu.. Laki-laki itu lalu ambruk. Dua temannya juga menyusul bertumbangan. Pedang Laut Selatan berputar diketinggian lalu kembali masuk ke dalam rangkanya.Slep! Angon Luwak tersenyum."Terima kasih kau telah membantu. Terima kasih pula kau telah menunjukan baktimu.” Ujar Angon Luwak ditujukan pada pedang."Hamba juga berterima kasih

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   205. Part 19

    Pendekar Sinting tetap saja terdesak.Ketika pemuda ini memutar tubuh sambil hantamkan kedua tangan ke arah lawan-lawannya. Justru pukulan Kabut Kematian yang dilepaskannya malah dapat ditangkis oleh lawan dan berbalik menghantam diri sendiri.Buum! Wuarkh!Pendekar Sinting menjerit keras. Tubuhnya terpelanting bergulingan di atas tanah. Melihat lawan terjatuh Purudana menyeringai. Dia segera melesat ke arah pemuda itu sambil kibaskan tangan kiri ke dada Angon Luwak. Walau berusaha selamatkan diri tapi serangan Purudana yang kemudian disusul dengan serangan dua temannya yang lain tak dapat dihindari oleh Pendekar Sinting.Bret!Sambaran kuku Purudana mencabik robek pakaian disebelah dada pemuda itu. Dada Angon Luwak terluka dan meneteskan darah. Mengalirnya darah dari luka didada Pendekar Sinting membuat Kuruseta dan Jatukara semakin tambah bersemangat dan makin beringas."Bunuh!" Teriak keduanya bersamaan.Dua manusia singa menghanta

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   204. Part 18

    "Jika dia berani mencampuri urusan kita, aku pasti akan menghabisinya," Jawab Purudana berbisik pula."Siapa kau? Dari mana asal usulmu anak muda?" Tanya Kuruseta."Aku.” Sahut Angon Luwak sambil menunjuk dirinya sendiri."Aku bernama Angon Luwak. Tapi orang-orang sering memanggilku Pendekar Sinting. Padahal.... he he he... mereka kali yang sinting.” Lanjut pemuda itu sambil terkekeh."Oh ya asal usulku rasanya tidak penting kusebutkan. Yang jelas aku datang dari suatu tempat yang jauh sekali.”"Pemuda keparat. Jika kau tidak punya hubungan dengan Giri Soradana dan tidak bermaksud mencampuri urusan kami. Sebaiknya lekas angkat kaki dari sini!" Hardik Purudana hilang kesabarannya.Diperintah angkat kaki, dengan tingkah seperti orang tolol Angon Luwak pun mengangkat kakinya tinggi-tinggi."Kurang ajar! Mengapa kau tidak segera pergi?" Geram Jatukara sengit."Edan. Tadi temanmu menyuruh aku angkat kaki. Setelah k

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   32. Latihan yang berat

    Sehari terlewati.Tiba waktunya bagi Angon Luwak untuk menjalankan tugas berat yang dibebankan padanya. Selama Ki Kusumo merawat dan mengobati Nyai Cemarawangi, maka bocah berhati baja itu yang akan berenang pulang-balik dari pantai Tanjung Karangbolong ke Pulau Hantu untuk mengambii segal

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   31. Syarat

    "Kenapa selama ini kau tak mencoba menyembuhkan penyakit ibuku? Bukankah sewaktu di gubuk itu kau sudah tahu ibuku membutuhkan pengobatan?"Ki Kusumo terdiam sebentar. Sulit untuk mengutarakan alasan sebenarnya. Jika diungkap, tentu akan membuat hati gadis tanggung itu akan terluka. Bagaim

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   30. Mencari Ki Kusumo

    Baru sekali itu tercetus keluar panggilan 'Tresna' dari mulutnya. Dan itu sungguh berpengaruh pada si gadis yang sedang kalap.Seolah panggilan itu mengingatkannya pada orang-orang yang dekat dengan dirinya. Seperti cara Nyai Cemarawangi memanggilnya.Tresnasari mengurungkan niat un

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   29. Cukup, Tresna!

    Tapi, dia masih sanggup menahan diri untuk tidak menyerang. Tresnasari tak puas hanya memaki-maki habis Angon Luwak. Didekatinya anak itu. Ditepaknya kening Angon Luwak."Ayo, katanya kau mau menghajarku?!"Tantang Trenasari, makin menjadi. Tamparan di kening Angon Luwak mendarat se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status