LOGINWalau tidak baru namun keadaannya masih bagus. Penujum Aneh jatuhkan diri, duduk diatas tikar pandan lalu letakan pendupaan membara yang dia bawa dari pondok. Setelah merapikan diri dengan duduk bersila. Perlahan namun pasti Penujum Aneh pejamkan matanya. Tanpa membuka mata dua tangan yang tadinya diletakkan diatas lutut tiba-tiba diangkat tinggi. Setelah itu kedua tangan di putar diatas kepala sebanyak tiga kali.
Tangan di turunkan lalu diletakkan diatas pendupaan menyala. Tanpa menye
Tiba-tiba dia merasakan ada angin menderu dari arah depannya. Penujum Aneh terkesiap. Belum sempat dia melakukan sesuatu. Tubuhnya tersapu oleh hantaman angin dingin yang begitu keras.Bluk!Dalam kenyataannya Penujum Aneh memang jatuh tak jauh dari makam Loh Seta Karawuri. Pendupaan menyala yang ditusuk dengan tangan kanan hancur lebur menjadi kepingan.Sementara batu nisan yang di tusuknya dengan tangan kiri bertaburan diseluruh penjuru makam Loh Seta dalam keadaan menjadi bubuk. Terkejut melihat semua itu. Penujum Aneh cepat merayap bangkit.Sambil berdiri tegak mata si kakek memperhatikan sekelilingnya. Tak ada orang lain, tidak terlihat sesuatu ataupun tanda-tanda yang mencurigakan. Sang Penujum menghela nafas lega. Namun kelegaan yang dirasakannya tidak berlangsung lama.Tiba-tiba saja dia mendengar suara orang bersendawa selayaknya orang yang kekenyangan makan. Terkejut Penujum Aneth memutar tubuh balikkan badan menghadap ke arah darimana su
Walau tidak baru namun keadaannya masih bagus. Penujum Aneh jatuhkan diri, duduk diatas tikar pandan lalu letakan pendupaan membara yang dia bawa dari pondok. Setelah merapikan diri dengan duduk bersila. Perlahan namun pasti Penujum Aneh pejamkan matanya. Tanpa membuka mata dua tangan yang tadinya diletakkan diatas lutut tiba-tiba diangkat tinggi. Setelah itu kedua tangan di putar diatas kepala sebanyak tiga kali.Tangan di turunkan lalu diletakkan diatas pendupaan menyala. Tanpa menyentuh mulut pendupaan yang panas luar biasa sekali lagi mulutnya bergetar membaca mantra. Tak lama setelah untaian mantra-mantra sakti di baca.Sekujur tubuh Penujum Aneh bergetar hebat. Asap mengepul dari dalam pendupaan, lalu menebar ke seluruh penjuru makam mengikuti arah hembusan angin. Bersamaan dengan itu di kejauhan terdengar suara lolong dan raungan menggidikkan. Seakan sudah terbiasa mendengar suara-suara aneh menyeramkan seperti itu.Penujum Aneh bersikap acuh.Kini seluruh
Apa yang terjadi kemudian sungguh sulit dipercaya. Pangeran itu ternyata mampu terbang. Dia terbang melintasi lautan luas dengan diikuti ribuan kawanan lebah yang terus mengawalnya disepanjang perjalanan.Sementara itu setelah darahnya tersedot nyaris habis oleh lawan Ki Lara Saru Saru ternyata masih dapat bertahan hidup. Tapi dia tak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri.Dia juga tak kuasa menutup luka di bagian dada karena tubuhnya dalam keadaan tertotok. Dengan suara lirih dan mata menatap kosong memandang kegelapan di langit kakek ini berucap."Celaka dunia. Aku tidak bisa mencegahnya. Ilmu kesaktian yang dia miliki sekarang jauh lebih hebat dibandingkan yang dulu. Siapa yang bisa menghentikan kejahatannya yang gila luar biasa?!"Sepi!Tak ada yang menjawab ucapan serta kekhawatiran yang dirasakan orang tua itu. Yang terdengar hanyalah suara deru angin disertai deburan ombak di kejauhan di bawah tebing karang yang runtuh. 
Ki Lara menggerung. Walau tubuhnya terasa membeku, napas sesak dan tubuh di sebelah dalam serasa remuk namun dia segera bangkit. Begitu bangkit dengan tubuh terhuyung si kakek diam-diam berucap."Pelita keramat dari alam arwah. Nyalakan dirimu!"Wuss!Mendengar perintah si kakek pelita keramat kembali menyala. Ternyata nyala api pada pelita begitu kecil. Walau tak melihat namun orang tua ini dapat mengetahui pelita di atas kepalanya tak dapat diharapkan terlalu banyak dalam membantunya.Tidaklah heran.Begitu dia melihat sang pangeran terus merangsak maju setelah berhasil dengan serangan pertama, Ki Lara cepat badan lalu menghantam lawan dengan pukulan Neraka Liang Lahat.Dua pukulan yang dilancarkan Ki Lara bukan serangan biasa. Pukulan sakti yang dilepaskannya sanggup menghancurkan gunung dan menghentikan gelombang raksasa di lautan. Bila manusia yang terkena pukulan maut tersebut tubuhnya dapat hancur lebur menjadi kepingan beku.W
Kemudian dari balik cahaya muncul kabut putih tebal menebarkan bau aneh seperti aroma setanggi namun juga bercampur bau busuk. Bersamaan dengan itu dikejauhan terdengar pula suara lolongan anjing. Ki Lara mengusap wajah dan tengkuknya yang semakin dingin.Orang tua ini juga menahan nafas ketika melihat dari balik kepulan kabut dan cahaya putih muncul satu sosok bertubuh tinggi bertelanjang dada berambut panjang riap-riapan berwajah angker dipenuhi cairan putih.Tanpa bicara apa-apa.Sosok berpenampilan selayaknya mayat hidup ini melangkah sejauh tujuh tombak dari cahaya empat persegi tempat dimana dia munculkan diri. Ki Lara tercekat.Dia mengusap keningnya tiga kali. Gerakan mengusap kening yang dilakukan si kakek membuat nyala pelita keramat yang bertengger di atas kepalanya makin bertambah terang.Dengan bantuan cahaya pelita yang membesar kini Ki Lara secara leluasa dapat melihat laki-laki itu. Laki-laki itu sekujur tubuhnya putih pucat dengan
Si kakek renta berwajah macam tengkorak berkulit merah yang terrnyata memang bernana Ki Lara Saru Saru juru kunci makam para raja istana kuno di pulau Rakata diam tercekat. Dia yang semula siap melepaskan pukulan sakti ke arah cahaya yang disekelilingi ribuan lebah berterbangan. Dengan perlahan turunkan kedua tangannya. Dengan sorot mata seakan tidak percaya dia memandang ke arah cahaya menyilaukan dimana suara yang dia dengar berasal."Seperti yang kuduga! Ternyata benar pangeran mesum itu muncul sekaligus bangkit dari kematiannya. Aku mengenali suara itu. Tapi mengapa dia kembali dalam selubung cahaya? Mengapa tidak dalam peti mati Batu Kumala." pikir Ki Lara."Apa yang kau pikirkan Ki Lara? Kau sedang merasani diriku. Kau hendak mencari tahu, kau dunia ini bersama peti mati jahanam yang telah memendamku di dasar laut Krakatau?"Lagi-lagi terdengar suara bentakan keras dari balik cahaya putih berkilau. Ki Lara Saru Saru menyeringai. Dadanya yang kurus kering t
Bagaspati terpaksa tersenyum lagi mendengar cerocos Angon Luwak. Padahal, sebelumnya pemuda itu justru yang tak sabar meminta penjelasan. Sampai akhirnya Angon Luwak menyadari sendiri kebodohannya."He he he, aku terlalu banyak ngomong, ya Kang?" ujarnya lugu, dengan ringisan malu-malu (da
KERATON Demak di penghujung dini hari. Kekacauan baru saja pupus, berkawal kokok ayam jantan pertama di pagi buta, Seluruh prajurit Keraton Demak berkumpul di luar, di Taman Sari dekat dengan ruang peristirahatan raja. Raden Fatah berdiri di antara mereka, mengawasi kejadian di samping satu tiang
Lagi-lagi Angon Luwak cengar-cengir lugu. Dalam hati, Angon Luwak merasa tak pantas mendapat pujian dari orang besar dan mulia seperti Raden Patah yang sudah berusia cukup lanjut. Kalau mengingat bagaimana masa-masa muda gemilang pendiri Kerajaan Demak itu yang sering didengarnya dari cerita-ceri
Setelah peristiwa itu, Truna tak bertemu dengan Jonggrang kembali. Pagi harinya, ketika hujan reda dan matahari menyapa, Truna mencoba kembali ke tempat teirakhir. Jonggrang sudah tak ada lagi di sana. Timbul penyesalan dalam diri Truna. Menyesal harus pergi meninggalkan Jonggrang, kakak sepergur







