ログイン"Pendekar Sinting? Baru kali ini aku mendengar nama aneh dan julukan seperti itu."
"Tapi sepertinya dia berada di pihak kita, kalau pun nantinya dia menyeberang membantu pihak musuh. Aku tidak akan segan-segan menyingkirkannya."
"Lalu bagaimana dengan Penyair Sinting Gusti. Saya yakin dia tau segala hal tentang masa lalu gusti."
Adipati Seta Kurana tidak menanggapi. Sepasang matanya menatap senopati dengan pandangan menyelidik.
"Bagaimana kau bisa berkata begitu."<
Pendekar Sinting balikkan badan, dia menatap ke arah adipati Seta Kurana yang baru saja bangkit berdiri. Sang adipati menyeka mulutnya yang berlumur darah. Dia juga diam-diam mengerahkan hawa murni untuk menyembuhkan luka dalam di dada. Tapi akibat dua rusuk yang patah menusuk paru-paru upaya penyembuhan itu tidak banyak berguna."Adipati, kau masih punya kesempatan untuk bertobat. Serahkan cambuk itu." Kata Angon Luwak.Adipati menyeringai. "Aku lebih suka kau yang menyerahkan nyawa kepadaku! Hiaa....." Teriak adipati dengan suara lantang.Teriakan itu disusul dengan serangan ganas yang mengandalkan pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Tapi berkat jurus Dewa Sinting Kegirangan. Semua serangan yang dilakukan adipati hanya mengenai tempat kosong.Sadar semua serangan ganas yang dilakukannya tak mengenai sasaran. Bahkan lawan dengan mudah dapat meloloskan diri. Geram bercampur penasaran Adipati segera merangsak maju.Cambuk yang terg
Mendengar syair yang diucapkan oleh Penyair Sinting itu karuan saja sang adipati tak dapat menahan kegusarannya. Tanpa banyak kata diawali dengan teriakan melengking.Laki-laki ini melesat ke atas pohon tepat dimana Penyair Sinting berada. Begitu tubuhnya melambung tinggi dan gadis ini berada dalam jangkauannya adipati hantamkan cambuk sakti di tangannya.Begitu cambuk membelah udara. Sama seperti yang terjadi pada Si Mata Bara. Tiba-tiba dari ujung hingga ke bagian hulu cambuk membersit cahaya putih terang laksana kilat. Seiring dengan menderunya cambuk ke arah Penyair Sinting. Di udara bertaburan ribuan butiran cahaya berkilau mirip intan. Dikejauhan terdengar lolongan dan lenguh suara mahluk aneh mirip suara Naga.Penyair Sinting yang sudah mengetahui kehebatan cambuk tidak menunggu hingga tubuhnya terbetot oleh suatu kekuatan yang bersumber dari cambuk. Dia yang memiliki ilmu meringankan tubuh serta gerakan cepat luar biasa segera sentakkan tubuhnya kebelaka
Trat! Buum!Lagi-lagi terdengar suara letupan keras menggeledek, Adipati kembali tergetar. Dua kakinya amblas melesak ke dalam tanah akibat guncangan. Pakaian dibagian depan robek besar, nampak hangus mengepulkan asap. Sementara bagian dalam dada seperti remuk.Adipati langsung melesat ke udara begitu melihat si Mata Bara bangkit dan dengan menggunakan pukulan tangan kosong dia menyerang lawannya. Begitu keduanya mengapung diketinggian.Mata Bara segera hantamkan dua tangannya ke perut sang adipati. Gerakan tangan yang sedemikian cepat menimbulkan suara berkesiuran. Inilah yang ditunggu adipati. Begitu serangan datang dia mengenjot tubuhnya hingga melambung lebih tinggi.Dua serangan luput.Adipati ulurkan cambuk lalu Cambuk Sakti Naga intan itu kemudian diayun dan dicambukkan ke tubuh lawannya. Suara gemuruh mengerikan menderu menyertai berkelebatnya cambuk. Pijaran seribu cahaya mirip tebaran intan memenuhi udara.Kemudian terdengar suara
"Aku memang ingin menuntut balas atas kemusnahan kaumku. Aku juga datang ingin mengambil kembali Cambuk Sakti Naga intan milik Harimau Setan." Terang Mata Bara mulai terpancing hingga berkurang kewaspadaannya.Adipati cepat menyeka air matanya. Tidak terduga dia mengambil cambuk rampasan yang tergelung di pinggangnya. Adipati julurkan tangan, angsurkan cambuk ini."Aku mohon maaf atas semua kejadian di masa lalu. Cambuk ini sekarang kukembalikan. Ambillah, kalau kau merasa tidak puas kau juga boleh mengambil nyawaku," Kata adipati Seta Kurana.Laki-laki itu kemudian jatuhkan diri berlutut di atas lantai. Laki-laki itu menangis tersedu sedangkan cambuk dia biarkan tergeletak dilantai yang dingin. Sikap adipati yang berubah menjadi baik sudah barang tentu membuat heran para pengawalnya. Sedangkan Si Mata Bara nampaknya tambah percaya bahwa adipati yang sangat dia benci benar-benar telah insyaf.Maka tanpa keraguan dia melangkah mendekati adipati itu. Meliha
"Kalian cuma kurcaci tidak berguna. Aku ingin bertemu adipati Seta Kurana, bukan cecunguk seperti kalian," Sahut laki-laki itu.Karuan saja ucapan Mata Bara membuat para pengawal dan wakil senopati menjadi sangat marah."Kau memang manusia terkutuk keparat. Kau tak mengenal tata karma. Kau berani menyebut gusti adipati secara sembrono, kau juga telah berlaku lancang menghina kami para pengawal adipati. Aku yakin adipati tak mau menemuimu," Kata Soma Prawira sambil mencabut pedang besar yang tergantung di punggungnya.Dikatakan sebagai Manusia Terkutuk mendidih darah si Mata Bara. Sekali tangannya bergerak. Tahu-tahu Soma Prawira kena dicekalnya. Wakil senopati meringis kesakitan ketika tangan kanannya yang memegang pedang besar dipuntir ke belakang sedang pedangnya dirampas Mata Bara. Sambil memiting tangan Soma Prawira, pedang besar ditimang lalu dibolang baling ke udara. Sebentar dengan sikap mengancam dia berkata."Cukup sudah kalian menghina dan meren
"Ah, kurang ajar," Maki senopati.Secepat kilat dia coba jatuhkan diri. Tapi gerakan yang dilakukannya itu kalah cepat dengan sambaran lima cahaya yang berasal dari serangan si nenek."Akh.."Senopati keluarkan suara seperti tercekik. Mata mendelik, keris dalam genggaman terpental. Lima bagian tubuhnya berlubang besar dan menyemburkan darah kehitaman begitu lima cahaya maut menembusnya. Seakan tidak percaya dengan kenyataan yang dia alami.Senopati itu hanya bisa belalakkan mata."Kk... kau..." Katanya terputus-putus.Senopati tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena mulut yang dibuka lebih banyak menyemburkan darah. Tubuhnya lalu bergetar. Perlahan dia jatuh ambruk tak berkutik. Senopati meregang nyawa dengan mata melotot penasaran.Harimau Setan tersenyum dingin. Tanpa menghiraukan senopati dan keris yang tercampak di sebelah tubuhnya. Nenek itu kemudian melompat ke atas punggung kuda putih milik senopati."Sekarang aku yang
Di pedataran selatan yang hanya dipisahkan oleh gundukan bukit kecil Momok Laknat tiba-tiba menyela. "Paduka.. Sebagai pewaris tahta mungkin kelak paduka perlu kiranya mengangkat diriku menjadi seorang maha patih di Istana Es""Nenek yang berada di seberang. Soal tahta dan Istana saya belu
"Kkk... kau.., apakah kau putra terakhir prabu Sangga Langit? Apakah kau yang bernama Angon Luwak dan dikenal dengan sebutan Pendekar Sinting?" Tanya Maha Sesat dengan bergetar.Walau dendam dan kemarahannya pada Maha Sesat setinggi langit sedalam lautan namun Pendekar Sinting malah manggu
"Bagaimana kau tahu Maha Sesat mempunyai mata ke tiga?"Dewi Harum tidak segera menjawab. Dia menelan ludah baru kemudian berkata. "Guruku pernah mengatakan tentang rahasia kelebihan dan kekurangan Maha Sesat satu Ini. Kabarnya rahasia kekuatan Maha Sesat terletak pada mata ketiga. Mata it
Sosok tinggi hitam berpakaian berupa jubah hitam berambut panjang memakai ikat kepala hitam yang tak lain adalah Maha Sesat itu merasa usahanya untuk memasuki gua di dalam perut bukit semakin jauh dari harapan.Angin Pesut ternyata tidak hanya memiliki tubuh dengan ukuran sangat besar, nam







