Share

219. Part 10

last update publish date: 2026-07-10 01:01:23

Sementara itu setelah tidak berhasil mencegah kepergian Mangir Ayu. Pemuda itu cuma bisa berdiri tertegun. Dia lupa di belakangnya tepat di depan pondok yang dia tinggalkan Penyair Sinting masih berada di tempatnya.

Tidak lama setelah sempat diam memperhatikan akhirnya gadis ini membuka mulut. Serangkaian kata-kata syair meluncur dari bibirnya.

"Laut biru langit biru. Jambangan hati terlepas ditelaga. Bulan menangis binatang merintih. Nyawa bertabur bercecer darah. Aku mencari d

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   219. Part 10

    Sementara itu setelah tidak berhasil mencegah kepergian Mangir Ayu. Pemuda itu cuma bisa berdiri tertegun. Dia lupa di belakangnya tepat di depan pondok yang dia tinggalkan Penyair Sinting masih berada di tempatnya.Tidak lama setelah sempat diam memperhatikan akhirnya gadis ini membuka mulut. Serangkaian kata-kata syair meluncur dari bibirnya."Laut biru langit biru. Jambangan hati terlepas ditelaga. Bulan menangis binatang merintih. Nyawa bertabur bercecer darah. Aku mencari dalam bingung di tengah dinding-dinding buntu .Engkau muncul membawa pedang seperti pangeran langit. Malam berlalu bertabur sunyi dalam tanya. Amarah dan dendam menutup tirai terang. Harapan muncul bersama sang penegak yang tak tersangkut dendam dan tertaut piutang. Dengan dua tangan kuletakkan di depan perutmu. Aku meminta kau segera datang ke Blora .Berbuatlah sebagai sang bijaksana. Bertutur dengan kearifan. Pintalah Cambuk Sakti Naga intan dari sang penguasa. Agar darah tak lagi tertumpah dan

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   218. Part 9

    "Apakah benar seperti itu kejadiannya?" Potong Mangir Ayu kaget."Aku tidak berdusta." Jawab Penyair Sinting."Mengapa adipati menghabisi penghuni Lembah Bangkai? Memangnya penghuni Lembah itu siapa?" Tanya Pendekar Sinting tertarik juga penuh rasa ingin tahu."Para penghuni Lembah Bangkai." Berkata Penyair Sinting dengan mata menerawang kosong."Mereka adalah sebuah kaum yang keadaan tubuh dan wajahnya menyerupai manusia dan binatang. Mereka kaum yang dikucilkan oleh orang-orang yang mengaku dirinya sempurna. Penyerbuan itu dilakukan karena mereka menganggap kaum aneh yang sering mereka sebut sebagai Manusia Kutukan itu sebagai sumber penyakit dan kemalangan bagi orang yang tinggal di luar lembah." Terang Penyair Sinting."Apakah kejadiannya memang seperti itu?""Tidak. Kekurangan dan kelebihan yang dimiliki manusia kuanggap sebagai sebuah kuasa sang pencipta. Tapi adipati menganggap mereka adalah manusia kutukan para dewa. Padahal sebenarn

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   217. Part 8

    "Apakah tukang jual bunga di pasar-pasar?" Tanya Mangir Ayu.Mendengar ucapan si gadis gerakan Penyair Sinting tiba-tiba terhenti. Kemudian secara perlahan tubuhnya meluncur turun, lalu menjejak tumpukan bara yang masih menyala."Hei, jangan dinjak. Kau bisa terbakar!' teriak Pendekar Sinting sambil tergopoh-gopoh datang menghampiri. Niatnya yang semula hendak menolong terpaksa diurungkan ketika dia melihat kaki si gadis yang dilapisi kasut kuning berbulu itu ternyata tidak terbakar. Malah gadis itu pejamkan mata sambil tersenyum seakan kaki berpijak pada bara itu seperti menginjak tumpukan es tebal."Wah ini hebat. Luar biasa. Gadis aneh suka bermain api.""Aku lebih suka bermain api asmara." Sahut Penyair Sinting.Kemudian dengan tenang dia melangkah meninggalkan tumpukan bara api. Ketika dia berdiri di depan Pendekar Sinting dan Mangir Ayu lalu beberapa saat lamanya dia menatap gadis di depannya."Kau.. orang tuamu baru saja menjadi korba

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   216. Part 7

    "Pemuda kurang ajer. Lebih baik kau cium bokong kuda. Ada-ada saja. Mengapa kita tidak istirahat saja. Malam semakin larut, suasana di tempat ini aku rasakan begitu sunyi." Ujar Mangir Ayu dengan mata menerawang memperhatikan kegelapan di sekitarnya.Pendekar Sinting tidak menjawab. Sebaliknya menyandarkan punggungnya pemuda ini berkata. "Aku tidak risau dengan keadaan di tempat ini. Yang aku risaukan mengapa orang tuamu dibunuh. Apa sebenarnya yang terjadi?"Mangir Ayu yang duduk di tangga gubuk menatap ke arah Pendekar Sinting. Tapi belum sempat bicara apapun tiba-tiba saja terdengar suara gelak tawa memecah kesunyian. Seiring dengan terdengarnya suara tawa terdengar pula ada orang berkata."Hi hi. Bukannya aku mau usil tapi terus terang bila aku yang diajak oleh seseorang apalagi pemuda tampan untuk berciuman. Mana mungkin aku bisa menolaknya."Tak menyangka ucapannya didengar orang baik Pendekar Sinting maupun Mangir Ayu tentu saja terkejut. Si gadis

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   215. Part 6

    "Jenazah itu sudah hampir membusuk. Rasanya gila sekali. Aku tidak percaya telah tidak sadarkan diri dalam waktu selama itu. Tapi.... dimana gusti Mangir Ayu putri gusti tumenggung? Apakah mungkin Mata Bara membawanya pergi. Celaka nasib gadis itu bila sampai terjatuh di tangan manusia haus darah. Aku harus mencarinya," Pikir Mbah Krupuk.Ketika si kakek hendak pergi.Orang tua ini tiba-tiba menjadi bimbang karena dia tidak tega meninggalkan mayat-mayat orang yang dikenalnya begitu saja. Sedangkan menguburkan sendiri tidak mungkin.Mbah Krupuk pun akhirnya mengumpulkan para penduduk desa untuk menguburkan mayat mereka. Menjelang gelap barulah pemakaman selesai dilakukan. Sebelum pergi mencari Mangir Ayu, Mbah Krupuk masih sempat membagi-bagikan sisa perbekalan dalam kereta kudanya pada penduduk itu.Malamnya dengan menunggang seekor kuda dan membawa sekantong krupuk kesukaannya si kakek memulai perjalanannya. Mengingat Mbah Krupuk tak tahu secara pasti ke

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   214. Part 5

    Sebelum sosoknya benar-benar lenyap dari pandangan laki-laki Itu. Sempat sayup-sayup terdengar Penyair Sinting melantunkan bait-bait syairnya."Kulihat kepiting berjalan miring. Anak monyet duduk menungging. Berjalan jauh tanpa pengiring. Tersesat jalan jadi pusing. Aku datang membawa sejuta kedamaian. Kebencian melenyapkan kasih sayang. Masa lalu lama telah dilupakan. Kini saatnya menuai malapetaka. Senopati ! Aku cuma bisa memberi jalan. Tinggalkan kemewahan. Mencari selamat. Pergilah bertobat. Sebelum nyawa menjadi busuk....""Bangsat sialan! Dasar penyair gila. Aku tak perlu nasehat, aku tak butuh syair. Kurang ajar! Cuma membuang-buang waktuku saja!" Geram senopati sambil membanting kakinya.Dengan membawa rasa kesal dihati laki-laki ini kemudian bergegas turun lalu menghampiri kudanya yang menunggu di tepi pantai. Tapi sesampainya di tepi pantai dia lebih marah lagi ketika melihat bagian pelana kudanya ternyata dipenuhi kotoran manusia."Keparat! Bagaimana bisa begini? Siapa yan

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   79. Part 10

    Mendengar itu si kakek tertawa tergelak-gelak. Setelah mengumbar gelak tawa melengking hingga membuat langit-langit ruangan seperti mau runtuh, kakek ini hentikan tawa, seraya berujar.”Penyihir Racun Utara? Perempuan jahanam genit itu ternyata masih hidup? Tak kusangka umurnya panja

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   78. Part 9

    Gadis berpakaian serba hijau tahu-tahu telah berada dalam sebuah ruangan luas berpenerangan redup yang sejuk. Adapun ruangan tempat si gadis sekarang berada adalah ruangan rahasia tersembunyi. Tempat itu menjadi kediaman gurunya selama ratusan tahun. Tempat itu tidak cuma tersembunyi namun juga d

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   77. Part 8

    "Aku tahu gadis itu melihatku ketika aku terlibat perkelahian dengan Golok Terbang dan anak buahnya. Sekarang dia pergi kemana? Aku yakin dia bukan gadis biasa. Kemunculannya punya tujuan tertentu"Dia berpikir sejenak Lalu ingat dengan bapak pemilik kedai. Angon Luwak lalu melangkah kebag

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   75. Part 6

    "Apa yang ingin kau katakan? Apa kau sudah berubah pikiran ingin memberitahu keberadaan senjata yang kucari?"Angon Luwak unjukkan wajah serius, tapi mulutnya tetap terpencong. Setelah menggerutu dia lalu menjawab. Jawaban yang tak lebih dari omelan layaknya orang tua yang memarahi anaknya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status