LOGIN“Aku yang memberikan Cemeti Laut Selatan kepada gurumu, Ki Kusumo atau yang lebih dikenal sebagai Tabib Tangan Dewa Dari Pulau Hantu. Ki Kusumo juga merupakan abdi istana laut kidul sekaligus juga muridku”
Angon Luwak tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Jika Cemeti Laut Selatan berjodoh denganmu, itu artinya Pedang Laut Selatan pun akan berjodoh denganmu”
“Apa maksudnya itu, Kanjeng Ratu?”
“Di dalam tubuhmu ada Tenaga i
"Jadah! Kau tak perlu memberi aku nasehat. Aku lebih tahu mana yang harus kukerjakan dan mana yang harus ditinggalkan! Bila aku kembali ke Tanah Batikai kampung halamanku tanpa melakukan tugas, maka tetua Karma Diraga bisa membunuhku!" Ujarnya cemas.Angon Luwak melihat ada kebimbangan dalam diri Raka Syiwa ini. Namun tak ada waktu lagi baginya untuk membujuk. Dengan masih bertolak pinggang Pendekar Sinting berucap ketus."Terserah apa maumu. Jika kau hendak membunuhku lakukan sekarang.""Pertama akan kuhabisi dulu enam pengawal gaib yang melindungimu. Setelah itu giliran tubuhmu yang bakal kupereteli seperti kayu bakar satu persatu." Dengus Angon Luwak. Mendengar ucapan Angon Luwak di bawah pohon yang daunnya rontok berguguran Bocah Ontang Anting tersenyum sambil bicara sendiri."Raja tolol. Memangnya dia mau memasak atau membakar apa? Masa tubuh orang hendak dipesiangi. Lagi pula mengapa dia bertolak pinggang terus? Apa mungkin keteknya sedang bisulan.
Dari perbawa serangan, Raka Syiwa segera menyadari serangan si kakek bukan serangan biasa. Tak ayal sambil menggeram marah Raka batalkan niatnya menghabisi Pendekar Sinting.Sebaliknya dia memutar tubuh lalu sambut serangan ganas lawan dengan pukulan Tuah Pohon Sakti Menyendiri Di Kesunyian.Wuss! Wuss!Dari dua tangan kedua dan juga mata Raka Syiwa secara aneh melesat empat larik cahaya hijau. Dua larik cahaya berasal dari tangan kiri dan tangan kanan, sedangkan yang dua lagi berasal dari sepasang matanya.Delapan pengawal tak mau diam. Mereka juga menghantam Bocah Ontang Anting dengan pukulan ganas yang mengandung hawa panas luar biasa ke arah si kakek. Walau tak melihat ujud mahluk yang menyerangnya. Namun si kakek agaknya menyadari ada serangan lain yang menyertai serangan Raka Syiwa.Tak ayal lagi dia kembali menghantam ke depan dan secara membabi buta menyambut serangan delapan pengawal gaib Raka Syiwa. Cahaya putih kemerahan kembali menderu
Melihat lawan terjengkang Raka Syiwa segera menyerbu. Sambil hantamkan kaki kirinya ke dada lawan dia berkata."Kau boleh memiliki segudang ilmu segunung kesaktian. Tapi bila berhadapan denganku segala kepandalan yang kau miliki menjadi tidak berguna!"Berbarengan dengan ucapannya itu kaki Raka Syiwa menderu ganas, siap menghantam remuk dada pemuda itu. Tapi Angon Luwak segera bertindak cepat. Sekali dia menggerakkan punggung yang menempel di tanah dia sudah bergeser ke samping.Serangan luput, Angon Luwak lambungkan tubuhnya ke atas. Tak ayal serangan yang dilakukan Raka Syiwa hanya menghantam tanah. Hentakan kakinya yang aneh dan sangat keras menimbulkan sebuah lubang menganga dalam setinggi lutut.Raka Syiwa cepat tarik kakinya yang amblas, dia memutar tubuh. Kini dilihatnya lawan berdiri tegak sambil berkacak pinggang sementara kepala menggeleng berulang."Aku sudah katakan padamu. Dia dilindungi semacam perisai yang tak terlihat. Perisai itu m
Dua tangan yang terkepal dan memancarkan cahaya hitam redup menderu ke bagian kepala sedangkan tangan satunya lagi melabrak bagian bahunya.Raka Syiwa tentu saja tak menyangka bakal mendapat serangan tak terduga secepat itu. Mahluk yang seluruh tubuhnya berlapis kulit tebal tak ubahnya kulit kayu yang telah mati ini tak sempat menghindar.Tanpa ampun dua pukulan Bocah Ontang Anting mendarat telak mendarat kedua bagian sasaran yang dituju.Bleng! Deng! "Akh..!"Terdengar suara seperti pentungan besi membentur lempengan baja. Raka Syiwa tergetar, bahu dan kepala serasa sakit berdenyut namun dia tak kekurangan sesuatu apa. Sebaliknya Bocah Ontang Anting malah terkapar. Dia merasa seperti ada kekuatan yang tak terlihat menarik belakang leher lalu melemparkannya.Dengan perasaan heran si kakek bangkit. Mulut cemburut sedangkan wajah sedikit pucat. Ketika si kakek bangkit, Angon Luwak yang khawatir atas keselamatannya diam-diam memperhatikan. Dia siap me
Pendekar Sinting kedipkan mata pada si kakek memberi isyarat agar tak bersikap gegabah dengan menyebut asal usul pemuda itu. Rupanya kakek itu mengerti tidaklah heran dia akhirnya memilih untuk berdiam diri namun tetap bersikap waspada.Sementara itu Raka Syiwa tetap ajukan pertanyaan pada Angon Luwak. "Aku bertanya hanya satu kali saja.""Mahluk konyol, mau bertanya berkali-kali tetap kuberi kesempatan selagi aku belum berubah pikiran!" Sahut sang pendekar jengkel.Raka Syiwa acuh saja walau sadar pemuda di depannya mulai tidak sabaran terhadapnya. Kemudian untuk kesekian kali Raka Syiwa menmbuka mulut."Apa benar kau berasal dari Istana Pulau Es?" Tanpa ragu Angon Luwak anggukkan kepala."Jika asal usulmu dari Istana Pulau Es, berarti kau masih keturunan gusti prabu Sangga Langit.""Kemungkinan itu benar. Kok bisa tahu?" Kata Angon Luwak disertai senyum mengejek."Kalau begitu kaulah orangnya yang bernama Saka Buana, dikenal dengan
Mahluk pohon menggerung, seolah tidak mau kalah dia makin memperhebat suara tawa. Adu kekuatan tenaga dalam melalui suara tawa berakhir setelah terjadi ledakan keras berdentum di udara. Mahluk berujud seperti pohon terjengkang roboh namun segera bangkit kembali. Sementara Pendekar Sinting yang sempat terhuyung kini mengusap dua daun telinganya yang berdenging dan tampak berwarna kemerahan."Mahluk gelo sialan! Tak mungkin dia memiliki tingkat tenaga dalam yang sangat tinggi. Aku cuma bisa membuatnya ambruk. Padahal seharusnya ujudnya yang aneh itu dapat kubuat porak poranda. Siapa dia? Ada maksud keperluan apa menghadang perjalananku?" Pikir sang pendekar.Di depan sana mahluk pohon mengusap tubuh ditumbuhi reranting. Kepala itu berdenyut sakit seolah ada bisul dalam batok kepala yang mau meledak.Tak berselang lama sepasang mata sang mahluk yang tumbuh diatas dua benjolan menatap lurus pada Pendekar Sinting.Dalam hati dia membantin."Pemuda ini t







