LOGIN“Dingin?” tanyaku.
Reva mengangguk kecil. “Sedikit.”
Tanpa banyak bicara, aku membuka jaketku dan menyampirkannya ke pundaknya.
Reva menoleh. “Lo?”
“Gue nggak kenapa-kenapa.”
Reva memperhatikan wajahku beberapa detik, lalu menarik jaket itu lebih rapat ke tubuhnya.
“Thanks.”
Kami berhenti
PoV BagasPagi datang lebih cepat dari yang kuharapkan.Aku sudah berada di kantor ketika matahari bahkan belum benar-benar tinggi. Udara masih terasa dingin, dan lorong gedung belum seramai biasanya.Beberapa staf lalu-lalang dengan langkah cepat, membawa berkas atau sekadar menyapa singkat. Namun, pikiranku masih tertinggal di malam sebelumnya.Tentang saksi itu.Tentang pengakuannya.Dan tentang satu nama yang kembali muncul, Rendra.Aku mendorong pintu ruang briefing dan langsung melihat Reva sudah ada di dalam. Dia berdiri di depan papan tulis, rambutnya diikat seadanya.Satu tangan memegang spidol, sementara tangannya yang lain memegang tablet. Beberapa titik dan garis sudah tergambar, menghubungkan satu kejadian ke kejadian lain.Reva menoleh begitu menyadari kehadir
Pria itu masih terengah di bawah tekananku. Napasnya tidak beraturan sementara matanya bergerak liar ke kanan dan kiri seperti mencari celah untuk kabur, meskipun jelas dia sudah tidak punya ruang.Keringat mulai muncul di pelipisnya, menetes perlahan ke rahang lalu jatuh ke lantai yang dingin.Tangannya sempat berusaha bergerak, tetapi cengkeramanku terlalu kuat untuk dilepaskan begitu saja. Membuatnya akhirnya hanya bisa diam dalam posisi tertekan.“Gue… gue cuma disuruh,” ulangnya dengan suara bergetar.Aku menatapnya tajam tanpa sedikit pun mengendurkan fokus.“Disuruh siapa?” tanyaku datar.Dia langsung diam.Reva yang berdiri di sampingku menekan bahunya sedikit lebih kuat, membuat pria itu meringis pelan.“Jawab!” kata Reva tegas.
Hari itu seharusnya berjalan seperti biasa.Setelah pertemuan dengan Arman, semuanya terasa lebih terarah, lebih rapi, seolah kami akhirnya berada di jalur yang benar.Namun justru karena itulah, aku semakin sadar bahwa kami sedang berjalan di garis tipis. Sedikit saja salah langkah, semuanya bisa runtuh.Aku dan Reva menghabiskan hampir setengah hari di ruang analisis, menelusuri ulang setiap detail yang kami punya.Rekaman CCTV yang kudapatkan, laporan penggerebekan, hingga data transaksi yang mulai mengarah ke perusahaan-perusahaan cangkang milik Rendra.Semua kami bongkar ulang, kali ini dengan sudut pandang yang berbeda.Bukan lagi sekadar mencari kesalahan, tapi mencari pola.Reva berdiri di depan papan tulis, menuliskan beberapa nama dan garis yang saling terhubung. Rambutnya terikat seadanya, beberapa helai jatuh menutupi sisi
Pov BagasPagi itu belum sepenuhnya ramai ketika pintu ruanganku diketuk. Aku baru saja menyalakan laptop dan membuka beberapa laporan lama yang belum sempat kusentuh semalam.Kepalaku masih terasa berat, tapi pikiranku sudah bekerja sejak tadi subuh. Aku mencoba menyusun potongan-potongan yang terasa semakin tidak masuk akal.“Masuk,” kataku tanpa menoleh.Pintu terbuka, dan langkah kaki yang terdengar mantap itu langsung membuatku tahu siapa yang datang, bahkan sebelum aku mengangkat kepala.“Lo datang lagi,” gumamku sambil tetap menatap layar.Raka tidak menjawab. Dia menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang tenang. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari caranya bergerak pagi itu.Aku baru mengangkat kepala ketika dia berhenti di depan meja. Dari sorot matanya aku langsu
“Dingin?” tanyaku.Reva mengangguk kecil. “Sedikit.”Tanpa banyak bicara, aku membuka jaketku dan menyampirkannya ke pundaknya.Reva menoleh. “Lo?”“Gue nggak kenapa-kenapa.”Reva memperhatikan wajahku beberapa detik, lalu menarik jaket itu lebih rapat ke tubuhnya.“Thanks.”Kami berhenti tidak jauh dari air. Ombak datang, menyentuh pasir, lalu kembali lagi.Reva menatap laut.“Aneh,” katanya pelan.“Apanya?”“Kita di sini.”Aku tersenyum tipis. “Lo yang bilang gue aneh.”“Iya. Dan gue tetap di sini.”Aku menoleh ke arahnya. “Berarti lo lebih aneh.”
PoV BagasAku tidak pernah menyangka sebuah kasus bisa mengubah begitu banyak hal. Bukan hanya arah penyelidikan, tapi juga cara aku memandang seseorang.Kasus Selira sudah berjalan beberapa minggu. Berkas demi berkas kami bongkar, alur demi alur kami tarik. Sampai akhirnya semuanya mulai terlihat lebih jelas dan lebih gelap dari yang kami bayangkan.Dan di tengah semua itu ada Reva. Kami masih sering berdebat, masih sering berbeda pendapat. Namun, sekarang rasanya berbeda. Kami lebih selaras dan lebih dekat.***Malam itu kantor BNN hampir kosong.Lampu di beberapa ruangan sudah dimatikan. Hanya menyisakan cahaya putih dingin di ruang kerja kami.Aku duduk di meja dengan beberapa dokumen terbuka. Layar laptop menampilkan alur transaksi yang belum sepenuhnya selesai kupahami.Mataku terasa lelah, tapi pikiranku masih terlalu penuh untuk berhenti.Suara langkah kaki terdengar dari arah pintu.Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.“Aku bawa makan.” Suara Reva.Aku akhirnya menga
PoV SeliraMalam turun perlahan di apartemen kami. Lampu-lampu kota mulai menyala di luar jendela, memantulkan cahaya lembut di kaca ruang tamu. Dari lantai setinggi ini, Jakarta terlihat seperti lautan cahaya kecil yang bergerak pelan.Apartemen sudah jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam lal
PoV RakaEnam bulan setelah semuanya berakhir, hidup akhirnya benar-benar terasa tenang. Bukan tenang seperti jeda sebelum badai. Bukan juga tenang yang dipenuhi rasa waspada, tapi tenang yang sederhana.Tenang yang terasa seperti rumah.Kasus jaringan narkotika yang dulu mengguncang kota ini akhir
PoV Raka"Lo siap?"Suara Bagas terdengar rendah di dalam mobil yang diparkir di sisi jalan gelap itu.Aku menoleh ke arahnya. Lampu dari dashboard memantulkan bayangan wajahnya yang serius."Siap atau nggak, kayaknya ini tetap harus selesai malam ini," jawabku.Bagas mengangguk pelan. Di kursi de
PoV RakaSudah hampir tengah malam ketika mobil kami berhenti tidak jauh dari kawasan pelabuhan. Udara di luar terasa lembap dan dingin. Bau asin laut bercampur dengan aroma solar dari kapal-kapal yang bersandar di dermaga.Aku duduk di kursi belakang mobil bersama Bagas. Di depan ada Arman, salah







