LOGINPov BagasPagi itu belum sepenuhnya ramai ketika pintu ruanganku diketuk. Aku baru saja menyalakan laptop dan membuka beberapa laporan lama yang belum sempat kusentuh semalam. Kepalaku masih terasa berat, tapi pikiranku sudah bekerja sejak tadi subuh. Aku mencoba menyusun potongan-potongan yang terasa semakin tidak masuk akal.“Masuk,” kataku tanpa menoleh.Pintu terbuka, dan langkah kaki yang terdengar mantap itu langsung membuatku tahu siapa yang datang, bahkan sebelum aku mengangkat kepala.“Lo datang lagi,” gumamku sambil tetap menatap layar.Raka tidak menjawab. Dia menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang tenang. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari caranya bergerak pagi itu. Aku baru mengangkat kepala ketika dia berhenti di depan meja. Dari sorot matanya aku langsung tahu, dia tidak datang hanya untuk bertanya. Ada sesuatu yang mendesak.“Gue butuh sesuatu,” katanya tanpa basa-basi.Aku bersandar di kursi, menatapnya lekat. “Langsung aja, bias
PoV Bagas“Jangan sampai gue telat lagi…”Kalimat itu masih menggantung di udara ketika kakiku sudah bergerak lebih dulu.Tanpa menunggu perintah, tanpa menunggu tim, aku berlari.Langkahku menggema di antara kontainer-kontainer baja yang menjulang tinggi seperti lorong tanpa akhir.Udara malam terasa dingin, tapi tubuhku panas. Jantungku berdetak terlalu cepat. Radio di tanganku masih mendesis.Tidak ada suara Reva lagi.Sial!“Bagas!” suara Arman terdengar dari belakang. “Tunggu tim!”Aku tidak berhenti. “Dia di dalam!”“Ini bisa jebakan!”“Aku tahu!” teriakku.Justru karena aku tahu, maka aku tidak bisa berhenti. Langkahku semakin cepat.Gudang itu semakin dekat. Pintu besinya terbuka setengah. Gelap di dalamnya seperti mulut yang siap menelan apa pun yang masuk.Aku melambat hanya satu detik.Satu de
PoV 1 Bagas“Aku nggak butuh orang yang kerja pakai insting doang.”Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku, dingin, dan tanpa basa-basi.Perempuan di depanku tidak langsung menjawab. Dia hanya berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada, menatapku dengan sorot mata yang aneh.“Aku juga nggak butuh orang yang merasa paling benar cuma karena pangkat,” balasnya tenang.Aku menghela napas pelan. Ruangan briefing itu mendadak terasa sempit.Beberapa anggota tim lain memilih diam. Mereka pura-pura sibuk dengan berkas di tangan masing-masing, padahal jelas-jelas memperhatikan kami berdua.
PoV Bagas“Kamu mau tetap jadi polisi… atau mulai benar-benar melawan?”Kalimat itu datang tiba-tiba.Aku menatap pria di depanku tanpa berkedip. Ruangan itu kecil. Hanya ada meja kayu, dua kursi, dan lampu neon yang berpendar dingin di atas kepala.Dia duduk santai, tapi sorot matanya, tidak santai sama sekali.Aku tidak menjawab, belum karena aku tahu ini bukan pertanyaan biasa.nIni pilihan dan aku belum tahu konsekuensi dari jawabanku.“Apa maksudnya?” tanyaku akhirnya.Pria itu tersenyum tipis.“Kamu tau maksudku.”Aku bersandar sedikit di kursi.“Kalau ini soal operasi kemarin, saya sudah jalankan sesuai prosedur.”“Justru itu masalahnya,” jawabnya cepat.Aku mengerutkan kening.“Prosedur tidak selalu cukup.”Kalimat itu membuatku diam. Dia melanjutkan dengan tenang.“Kamu lihat sendiri kan, gimana semuanya bekerja.”Aku tidak menjawab, tapi ingatan itu kembali muncul
PoV BagasHari pertama aku mengenakan seragam itu, aku berdiri cukup lama di depan cermin. Bukan karena kagum, lebih karena mencoba percaya bahwa aku benar-benar sampai di titik ini.Kain cokelat muda itu masih terlihat baru. Lipatannya tegas. Sepatu hitam mengilap seperti belum pernah menyentuh debu jalanan. Di dada kiriku terpasang papan nama sederhana.BAGAS.Hanya satu kata. Namun, tapi di baliknya ada terlalu banyak hal. Janji kehilangan dan satu malam yang tidak pernah bisa kulupakan.Aku menarik napas panjang.“Ibu… aku berhasil,” gumamku pelan.
PoV BagasMalam itu seharusnya biasa saja.Langit gelap tanpa bintang, udara terasa lembap seperti kota ini sedang menahan napas.Aku masih ingat suara kipas angin tua yang berdecit pelan di sudut kamar. Bau minyak kayu putih bercampur dengan aroma obat-obatan yang menyengat.Dan suara napas itu, pelan, berat. Setiap tarikan napas adalah perjuangan terakhir.“Ibu…”Suaraku hampir tidak terdengar. Aku duduk di sisi ranjang, menggenggam tangannya yang terasa dingin.Dulu tangan itu hangat.Tangan yang sama yang selalu mengelus kepalaku ketika aku pulang sekolah.Tangan yang memasak nasi goreng tengah malam saat aku bilang lapar.Tangan yang menepuk pundakku setiap kali aku merasa gagal.Sekarang, tangan itu terasa rapuh dan ringan. Seperti bisa hilang kapan saja.Ibu membuka matanya perlahan. Sorot matanya samar. Namun, ketika menatap, aku tahu dia masih mengenaliku.“Bagas…” Suaranya serak.Aku langsung mendekat. “Aku di sini, Bu.”Ibu mencoba tersenyum, tapi tidak pernah sampai ke mat
PoV Raka"Lo siap?"Suara Bagas terdengar rendah di dalam mobil yang diparkir di sisi jalan gelap itu.Aku menoleh ke arahnya. Lampu dari dashboard memantulkan bayangan wajahnya yang serius."Siap atau nggak, kayaknya ini tetap harus selesai malam ini," jawabku.Bagas mengangguk pelan. Di kursi de
PoV RakaSudah hampir tengah malam ketika mobil kami berhenti tidak jauh dari kawasan pelabuhan. Udara di luar terasa lembap dan dingin. Bau asin laut bercampur dengan aroma solar dari kapal-kapal yang bersandar di dermaga.Aku duduk di kursi belakang mobil bersama Bagas. Di depan ada Arman, salah
PoV RakaPerjalanan ke kantor BNN sekarang tidak lagi terasa seperti dulu. Dulu aku bisa datang kapan saja. Menyetir sendiri, parkir di depan gedung, lalu langsung naik ke ruangan Bagas tanpa banyak berpikir.Sekarang semuanya terasa berbeda.Mobil yang kupakai bukan mobilku sendiri.Salah satu ang
“Nggak ada data penghuni bernama Maya yang terdaftar di apartemen ini.”Untuk beberapa detik aku tidak bisa berkata apa-apa. Seolah kata-kata itu menggantung di udara, menunggu otakku benar-benar memahaminya.“Nggak… ada?” ulangku perlahan.Raka menggeleng kecil. “Bagas sudah cek ke manajemen aparte







