Se connecterCahaya itu berhenti berubah bentuk, akhirnya diem di sesuatu yang agak mirip manusia—tinggi, bercahaya, tapi wajahnya gak pernah bener-bener jelas, kayak kamera yang gak bisa fokus.
"Yang Terpilih," suaranya bergema, berat, kerasa nempel di dada, "dengarkan kami."
Gatra maju setengah langkah, badannya masih di antara kami sama sosok itu. "Ini terlalu cepat," gumamnya, lebih ke diri sendiri.
"Skenario berikutnya dimulai sekarang," lanjut sosok itu, gak peduli sama gumaman Gatra. "Waktu kalian terbatas. Hasilnya akan menentukan nasib dunia ini."
"Siapa itu?" bisik Mirna, tubuhnya sedikit gemetar di sampingku.
"Salah satu pencipta Skenario," jawab Gatra pelan, matanya gak lepas dari cahaya di depan kami. "Penjaganya. Atau mungkin dalangnya. Mereka cuma muncul buat ngasih perintah."
Sosok itu natap kami semua, tapi kayaknya cuma "ngeliat" Gatra sama aku yang paling deket sama jembatan. "Para Pemeran," katanya, kali ini nadanya lebih pelan, hampir kayak lagi milih siapa yang layak diajak ngomong. "Relik telah ditemukan. Tapi itu baru awal."
"Kenapa cuma kami yang dikasih peran?" Gatra motong, suaranya penuh emosi yang gak biasa aku denger dari orang-orang bertopeng dingin kayak dia sama Raka. "Ada lebih banyak orang di sini. Kenapa mereka enggak?"
Entitas itu gak langsung jawab. Tangannya yang bercahaya keangkat, dan tiba-tiba muncul gambar-gambar di udara di sekitar kami—kayak proyeksi yang gak butuh layar. Hutan yang lagi kebakar. Makhluk-makhluk gede lagi bertarung. Langit yang retak, kayak kaca yang tinggal nunggu waktu buat pecah semua.
"Konstelasi terganggu," kata suara itu. "Nyi Roro Kidul menuntut Relik dari Samudera Selatan. Barong mengirim pasukannya ke Gunung Merapi."
Dadaku kerasa keiket. Nama-nama itu—Nyi Roro Kidul, Barong—itu kan cuma cerita yang biasa didengerin waktu kecil, bukan sesuatu yang beneran nyata.
Sosok itu berhenti sebentar, kayak lagi ngasih waktu buat kami nyerna itu semua sebelum lanjut. "Aji Saka diam. Tapi kemarahannya tersimpan di setiap detik waktunya."
"Terus kami harus ngapain?" tanyaku, karena kayaknya harus ada yang nanya, dan yang lain kelihatan kebanyakan syok buat buka mulut.
"Temukan Relik berikutnya," jawab entitas itu, natap ke arahku sebentar—cukup lama buat bikin aku gak nyaman—sebelum balik ke Gatra. "Di kawasan pegunungan Jawa. Relik itu kunci buat nahan Barong. Gagal, dan kehancuran dimulai dari sana."
Langkah kaki muncul dari kegelapan di belakang kami. Raka, pedangnya masih nyala biru, jalan cepet ke arah jembatan. Wajahnya penuh amarah, tapi suaranya tetep dingin waktu dia ngomong ke entitas itu.
"Kami gak punya waktu buat permainan kalian," katanya. "Kalian minta kami lawan dewa sama entitas yang jauh lebih kuat dari kami."
"Kami tidak meminta," jawab sosok itu, wajahnya terus berubah bentuk kayak air yang gak bisa diem. "Kami memberi perintah."
"Dan kami?" Mirna akhirnya nemu suaranya lagi, kedengeran capek tapi masih ada sisa keras kepala di sana. "Kami bukan siapa-siapa. Tapi kalau mereka gagal, kami yang paling dulu kena. Ini gak adil."
Entitas itu muter kepalanya bercahaya ke arah Mirna, terus ke kami semua. "Tidak semua diciptakan untuk memiliki peran. Tapi dampaknya dirasakan oleh semua. Ini keseimbangan. Kalau kalian ingin bertahan, bergeraklah."
Cahaya itu pudar, sosoknya ilang kayak gak pernah ada, ninggalin cuma jembatan kosong sama udara yang masih berat sama sesuatu yang gak bisa aku sebutin namanya.
Raka natap jembatan yang sekarang kosong itu lama banget. Rahangnya masih ngerapet.
"Jadi itu doang?" tanya Dika, suaranya bergetar. "Kami cuma... penonton?"
"Kalian gak punya peran," kata Raka, tapi kali ini suaranya lebih pelan dari yang tadi ke entitas itu. "Tapi kalian tetep hidup di dunia ini. Kalau kami gagal, kalian semua mati."
"Kalau berhasil?" tanyaku, gak niat sinis tapi kedengerannya emang kayak gitu.
"Kalian punya waktu buat bertahan lebih lama," jawabnya. "Itu lebih baik daripada gak punya waktu sama sekali."
Gatra nepuk bahu Raka pelan. "Mereka baru aja diseret masuk urusan dewa-dewa dalam semalam, Raka. Kasih mereka waktu."
"Kami gak punya waktu buat kasih waktu," jawab Raka, tapi ada sesuatu di nadanya yang beda dari biasanya—bukan ketus buat nunjukin dia gak peduli, lebih kayak orang yang capek banget nanggung sesuatu sendirian dan gak tau lagi gimana caranya minta tolong.
Mirna maju, ngangkat dagu walau kakinya masih keliatan gemeteran. "Kalau gitu bawa kami. Biar kami ikut."
"Enggak," Gatra langsung motong, lebih cepet dari Raka. "Ini terlalu bahaya. Kalian bahkan belum bisa ngalahin satu Voidborn tanpa bantuan."
"Kami bakal mati kalau diem aja," jawab Mirna, gak mundur.
Raka natap dia lama. Aku liat sesuatu ngambang di matanya—bukan keraguan soal Mirna, tapi kayak dia lagi ngitung berapa banyak lagi orang yang bakal dia harus lindungin sementara dia sendiri belum tentu bisa jaga dirinya sendiri. Terus dia mutusin buat gak jawab. Dia jalan ninggalin kami ke arah jembatan.
"Lakuin apa pun yang kalian mau," katanya, tanpa noleh.
"Woi! Jangan cuekin kami, Tuan Yang Diberkati Peran!" Mirna teriak ke punggungnya.
Raka gak berenti. Sosoknya lama-lama ketelen kabut di ujung jembatan.
Gatra ngehela napas, natap kami dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari Raka. "Dia bukan gak peduli," katanya pelan, kayak lagi jelasin ke diri sendiri juga. "Dia cuma gak tau lagi gimana caranya nunjukin peduli tanpa kehilangan orang."
Aku gak jawab apa-apa soal itu. Ada terlalu banyak hal buat dicerna malem ini—Relik, Barong, Nyi Roro Kidul, jembatan yang belum kami lewatin.
Kami mulai jalan ngelintasin jembatan, satu-satu, Gatra di depan buat mastiin jalannya aman. Aku bisa ngerasain kegelapan di bawah kami, kayak jurang itu nunggu kesempatan buat narik siapa aja yang salah langkah. Tapi di atas segalanya, aku ngerasa lagi jalan ke arah sesuatu yang jauh lebih gede dari apa pun yang pernah aku bayangin sebelumnya.
Skenario baru dimulai. Dan walau aku masih gak punya peran, aku tau aku udah kelibet lebih dalem dari yang seharusnya.
Dunia kembali bergerak.Seakan tersedot dari pusaran kehampaan, aku terhempas ke realitas. Nafasku terputus-putus, dadaku naik turun tak terkendali. Keringat dingin mengalir di pelipisku, dan jari-jariku mati rasa saat aku mencoba menggenggam trisulaku lebih erat. Tubuhku seakan dipaksa menerima beban yang bukan milikku—resonansi antara aku dan Chronarkis masih terasa, mengalir seperti arus tak kasat mata yang menghubungkan kami.Brak!Lututku menghantam tanah. Tanah yang dingin dan kasar merambat di sela jari, seakan menegaskan bahwa aku masih ada di sini, masih hidup. Suara napasku bercampur dengan desir angin yang membawa serpihan debu dan abu di udara. Cahaya redup dari langit yang koyak oleh kekuatan yang tak kasat mata perlahan memudar, seolah takut mengungkap rahasia yang baru saja terkuak."Apa kau baik-baik saja?"Suara Revan membelah keheningan. Aku mendongak, melihatnya bergegas ke arahku, ekspresinya dipenuhi kekhawatiran. Ia tak perlu bertanya dua kali. Dengan susah payah
Kegelapan berdenyut di sekeliling Ariel, nyala api hitam berputar liar seperti ular ganas yang hendak memangsa segalanya. Napasnya berat, langkahnya menyeret, tetapi matanya—mata merah menyala yang menjadi simbol kekuasaan Barong—tetap terkunci padaku. Aku bersiap menghindar, otakku bekerja cepat mencari celah dalam serangannya.Tapi tiba-tiba—WUSHH!Sebuah cahaya emas meledak dari tubuh Ariel. Sejenak, seolah-olah waktu tersendat, lalu berhenti total. Angin yang tadinya menggila kini membeku di udara, debu yang beterbangan pun mengapung tanpa arah. Bahkan api yang menari di sekeliling Ariel berhenti, nyaris seperti lukisan yang dipaksa diam dalam satu momen abadi.Aku menegang. Eternal Flow Manipulation-ku? Tidak. Ini bukan aku yang mengaktifkannya.Sebuah tekanan luar biasa membanjiri ruang di sekelilingku, membuat bulu kudukku berdiri. Dari bayanganku sendiri, sesuatu merayap keluar. Aku bisa merasakan keberadaannya bahkan sebelum melihat sosoknya.Kemudian, ia muncul.Sosok itu m
Udara di sekitar kami bergetar, panas yang menyengat merayap di kulit, membuat napas terasa berat. Debu-debu hangus melayang, terbawa oleh angin panas yang entah berasal dari serangan Ariel sebelumnya atau dari dirinya sendiri.Mata Revan menyipit, keringat mengalir di pelipisnya. "Sepertinya dia kehilangan kontrol atas tubuhnya," gumamnya, suaranya nyaris tenggelam dalam deru api yang mengamuk. Dengan cepat, dia mengangkat tangannya. "Zephyr Suppression."Raungan angin terdengar nyaring saat pusaran udara terbentuk di sekitar Ariel, membelit tubuhnya seperti rantai tak kasat mata. Namun sebelum cengkeraman angin bisa menahan gerakannya, Ariel mengangkat pedang reliknya tinggi-tinggi. Mata keemasannya berkilat sesaat sebelum berubah menjadi merah."Divine Reflection."Kilatan cahaya meledak dari tubuhnya, memantulkan energi angin yang seharusnya membelenggunya. Seakan tak tersentuh, ia melangkah maju tanpa kesulitan sedikit pun.Revan terhuyung ke belakang, tangannya masih terangkat de
Kilatan cahaya menyambar cakrawala. Petir menggelegar, suaranya menggema seperti raungan raksasa yang marah. Langit yang tadinya cerah kini berubah kelam, seakan ditelan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar awan mendung. Udara menjadi berat, seperti ribuan ton besi menekan dada.Aku berdiri di tengah padang yang luas, trisula sudah dalam genggamanku. Angin bertiup liar, merontokkan dedaunan dan menerbangkan debu hingga membentuk pusaran kecil di sekeliling kami. Di sampingku, Revan berdiri dengan tenang, tatapannya tajam seperti pisau yang baru diasah. Di sisi lain, Ariel tampak gelisah, matanya menari-nari di antara kami dan langit yang mulai retak."Sebentar lagi dia akan muncul," ucapku, suaraku tenggelam dalam riuhnya gemuruh yang terus beresonansi.Revan mengangguk pelan. Dia tahu. Sepertinya dia sudah melihat ini sebelumnya. Namun Ariel… Ariel tidak. Tangannya mencengkeram relik pedang yang kuberikan, jemarinya gemetar meski ia berusaha menyembunyikannya."Apa yang akan mu
Udara dingin menerpa kulitku seperti pisau tipis yang menggores perlahan. Di hadapanku, Ariel terkunci dalam pusaran angin yang menderu seperti raungan serigala lapar, seakan mencoba menelan tubuhnya bulat-bulat. Keringat dingin mengalir di pelipisku saat melihat tubuhnya bergetar hebat di dalam lingkaran udara yang melingkupinya."Sial..." gumamku, mengepalkan tangan dengan gelisah. Suara angin yang berputar kencang membuat sekeliling terasa seperti badai yang mengamuk. Aku melirik pria itu, sosok misterius yang baru saja muncul dari reruntuhan. Tangannya terulur, mengendalikan barrier angin yang menekan Ariel.Aku meneguk ludah, lalu melangkah mendekatinya. "Apa dia akan baik-baik saja?" tanyaku, suaraku nyaris tenggelam dalam deru angin.Pria itu tak langsung menjawab. Tatapannya tetap terkunci pada Ariel, dingin dan tajam, seperti burung pemangsa yang mengamati mangsanya. "Entahlah," jawabnya akhirnya, suaranya tenang tapi penuh ketegangan. "Yang bisa aku lakukan hanya menahan kek
Suasana berat mencekam saat kami melangkah meninggalkan reruntuhan yang kini hanya menyisakan puing-puing dan bayangan kematian. Bau anyir darah bercampur dengan aroma karat besi, menguar tajam di udara malam yang dingin. Setiap tarikan napas serasa mencengkram paru-paru, berat, pengap, seakan dunia sendiri mencoba menahan kami untuk tidak pergi.Srek.Butiran pasir bergeser di bawah sepatu kami. Angin menderu, melolong di antara bebatuan, berbisik lirih seperti suara mereka yang telah gugur.Aku melirik ke samping. Ariel berjalan di sebelahku, langkahnya tetap tegas, namun ada sesuatu yang berbeda. Bahunya tegang, napasnya pendek dan tersendat. Biasanya, mata emasnya selalu berkilat penuh keyakinan. Tapi kini, sorot itu meredup—seperti api yang kehilangan bahan bakarnya.Srek.Kami terus berjalan. Tapi lalu—Ariel berhenti.Satu tangannya menekan pelipis, napasnya tertahan. Aku melihatnya menarik napas dalam-dalam, tapi ada getaran halus di jemarinya, begitu samar, nyaris tak terliha
Pintu di belakang kami berderit pelan, tapi anehnya tidak ada yang masuk. Kami semua terdiam, tubuh tegang seperti senar gitar yang siap putus. Aku mencoba mengatur napas, tapi udara terasa berat di paru-paruku. “Kenapa gak langsung masuk?” bisik Mirna, matanya terpaku pada pintu yang setengah ter
Aku terus berlari, keluar dari reruntuhan hotel, napas beratku terdengar seperti gemuruh di telingaku sendiri. Di belakangku, suara ledakan dan jeritan Voidborn masih terdengar, tapi semakin lama semakin jauh. Raka tetap tinggal untuk melawan makhluk itu. Kenapa dia melakukan semua itu? Kenapa dia r
Aku terus berlari tanpa arah, meninggalkan pria itu dan suara pedangnya yang menggema di dalam gedung. Setiap langkah terasa berat, setiap tarikan napas terasa menyakitkan, tapi aku gak berani berhenti. Kata-katanya masih terngiang di kepalaku: "Jika kau ingin hidup, jangan pernah berhenti bergerak.
Aku gak tahu berapa lama aku duduk di gudang itu. Mungkin sejam. Mungkin dua. . Atau bisa aja cuma lima menit, tapi rasanya kayak seumur hidup. Jantungku masih berdebar kencang, telingaku tegang menangkap setiap suara. Tapi gak ada apa-apa. Hening. Hanya satu pertanyaan yang terus muncul di kepala







