Mag-log inRuangan itu balik sunyi begitu Raka sama dua orang tadi ngilang lewat pintu satunya. Tapi sunyi ini beda. Bukan sunyi yang bikin lega. Ini sunyi yang berat, kayak abis nonton orang jalan ke medan perang terus kita cuma bisa diem doang di pinggir.
Aku, Mirna, Rusdi, Dika, sama Ayu masih berdiri di tempat masing-masing, gak ada yang gerak.
"Terus kita ngapain sekarang?" Mirna akhirnya buka suara, nadanya kesel. Dia natap aku kayak aku punya jawabannya.
Aku gak punya. Tapi aku juga gak mau diem doang kayak tadi malem di minimarket.
"Kita atur posisi dulu," kataku, coba kedengeran lebih yakin dari yang aku rasain. "Rusdi, kau yang paling ngerti medan—pegang depan. Mirna, kau di belakang, jaga Dika sama Ayu. Aku di tengah."
Rusdi ngangguk pelan, kayak dia ngerti maksudku bukan cuma soal posisi jalan—tapi soal punya sesuatu buat dipegang di kepala pas semuanya kerasa mau ambruk. Bukan soal kenalan nama, kita semua udah tau nama masing-masing sejak semalam. Ini lebih kayak... ngecek, satu-satu, siapa masih di sini, siapa masih bisa dipegang omongannya.
"Kalian denger itu?" Dika tiba-tiba motong, suaranya kecil.
Kami semua diem. Dan bener, ada suara—langkah berat, banyak, dari arah lorong yang tadi kami lewatin. Lebih cepet dari yang tadi.
"Voidborn," gumam Rusdi, udah nyalain senjata rakitannya. Cahaya birunya lebih redup sekarang, kayak baterai yang tinggal dikit.
"Kita harus pergi," kata Mirna, udah narik lengan Dika.
Rusdi malah gak gerak. Dia nunduk ke tas kecil yang dari tadi nempel di pinggangnya, ngeluarin buku catetan lecek, sampulnya udah kucel kena air.
"Ini apaan, Pak?" tanyaku, gak ngerti kenapa dia malah sibuk sama buku di saat kayak gini.
"Catetan radio," jawabnya cepet, masih nunduk ngeraba isi tas. "Frekuensi, lokasi aman, siapa aja yang pernah kontak sebelum semua sinyal ilang. Ini satu-satunya peta yang beneran nyata di dunia yang udah gak punya peta lagi."
"Tinggalin aja, Pak!" Mirna hampir jerit. "Suara itu makin deket!"
"Kalau ini ilang," kata Rusdi, akhirnya nemu apa yang dia cari—sebuah map plastik tipis isi kertas-kertas—"gak ada yang bakal tau lagi tempat mana yang aman. Bukan cuma buat kita. Buat siapa pun yang masih idup di luar sana."
Aku inget malem sebelumnya, gimana dia cerita soal siaran radio yang nyelametin banyak orang kayak dia. Ini bukan soal dia mau jadi pahlawan sendirian. Ini soal dia gak mau kerjaan satu-satunya yang dia punya di dunia yang udah ancur ini ilang gitu aja.
"Kalau gitu kita bantuin ambil, bukan tinggalin kau," kataku, ngelangkah maju.
"Ardi, jangan bodoh—"
"Aku udah belajar dari semalam," potongku, suaraku sendiri kedengeran lebih tegas dari yang aku duga. "Diem nunggu itu yang bikin orang mati. Kali ini kita gak nunggu. Kita jalan bareng."
Mirna natap aku sebentar, terus—entah kenapa—dia malah maju juga, megang salah satu ujung map plastik itu buat bantu Rusdi ngemasin lebih cepet. "Kalau kau ngomong kayak gitu lagi," katanya, setengah ngedumel setengah lega, "aku bakal mulai percaya kau emang punya peran."
"Kelar!" seru Rusdi, map udah kejepit di ketek.
Suara langkah itu udah deket banget sekarang, kerasa getarannya di lantai. Kami lari ke pintu satunya—pintu yang tadi ditunjukin sama Raka sebelum dia ngilang. Dika udah gendong Ayu lagi, boneka lusuh itu keceket di antara mereka kayak biasa.
Lorong di baliknya panjang dan gelap, dinding batunya dingin banget kalau kesentuh. Kami lari secepet yang bisa, suara langkah kami sendiri ikut nambah gema di antara tembok-tembok itu.
"Ke mana kita sekarang?" tanya Ayu, suaranya kecil tapi masih bisa kedengeran di tengah lorong yang berisik sama gema langkah.
Aku gak punya jawaban. Aku liat ke Mirna, berharap dia punya sesuatu.
"Kita cari jalan keluar," katanya, napasnya udah mulai putus-putus. "Diem di sini sama aja mati."
"Kalian harus terus bergerak," suara lain muncul dari ujung lorong, bikin kami semua berhenti mendadak.
Dari kegelapan, seorang cowok muncul—tinggi, rambutnya acak-acakan kayak abis gak tidur berhari-hari, jubah panjangnya sobek di beberapa bagian. Di punggungnya ada busur besar, cahayanya lemah, kayak lampu senter yang batrenya mau abis.
"Siapa kau?" Mirna langsung maju, berdiri di depanku kayak perisai.
Cowok itu angkat kedua tangannya, kayak nunjukin dia gak berbahaya. "Gatra. Aku temennya Raka." Dia natap kami satu-satu, terus—anehnya—dia malah senyum kecil, capek tapi tulus. "Kalian rombongan yang bikin Raka nyaris telat, ya? Dia sempet nyebut, sambil ngedumel, katanya kalian 'nemplok kayak lintah tapi susah dibiarin mati.' Aku rasa itu pujian, dari dia."
Aku hampir ketawa, walau situasi kami jauh dari lucu. "Itu emang cara dia muji orang?"
"Satu-satunya cara," jawab Gatra, masih jalan maju sambil ngecek arah belakang kami. "Dia gak pinter ngomong yang manis-manis. Aku yang biasanya kebagian tugas itu." Dia nyodorin tangan buat bantu Ayu naik anak tangga kecil di lorong, gerakannya hati-hati banget, kayak udah biasa jagain anak kecil. "Aku punya adik seumuran dia. Dulu. Sebelum semua ini."
Dia gak nerusin kalimatnya, dan aku gak nanya lebih jauh. Ada yang beda dari cara dia ngomong dibanding Raka—lebih banyak celah buat manusia di sana, walau capeknya sama.
"Voidborn masih ngejar," kata Gatra, nadanya berubah serius lagi. "Ada jalan keluar di ujung lorong ini. Tapi kalian harus lari."
Kami gak buang waktu. Dengan Gatra di depan, kami lari lagi, suara dentuman sama jeritan mulai kedengeran dari belakang.
"Cepet!" teriak Gatra.
Di ujung lorong, ada pintu besar dan berat. Gatra narik tuas di sampingnya, pintu itu kebuka dengan derit yang kenceng banget.
Satu-satu kami masuk. Aku yang paling belakang, sempet noleh—ngeliat bayangan gede mendekat dari kegelapan, mata merahnya nyala kayak bara. Gatra nutup pintu secepet mungkin begitu aku masuk, terus ngunci tuasnya rapet-rapet.
"Kalian beruntung," katanya, napasnya masih terengah. "Tapi perjalanan kalian belum kelar."
Di belakangnya, aku baru sadar ada pemandangan lain—sebuah jembatan panjang, ngelintasin jurang gelap yang gak keliatan dasarnya. Di ujung jembatan itu, ada cahaya yang mancar, kayak suar di tengah kegelapan.
"Itu apaan?" tanyaku, suaraku nyaris ilang saking capeknya.
"Itu jalan keluar," jawab Gatra. "Tapi kalian harus lewatin jembatan itu. Dan jangan berhenti, apa pun yang kejadian."
Kami berdiri di depan jembatan yang rapuh itu, angin dingin nerpa muka, bawa bau logam yang gak bisa aku jelasin dari mana asalnya. Gatra mimpin di depan, tapi belum sempet dia melangkah, udara di sekitar kami berubah.
Cahaya redup di jembatan itu berganti jadi kilauan aneh. Suara berat kayak gabungan seribu bisikan mulai keisi di udara, sampe bikin kami semua berhenti, badan kaku kayak senar yang hampir putus.
"Gak mungkin..." Gatra bisik, mukanya langsung pucet. "Ordo Zeros."
Aku gak ngerti maksudnya. Tapi aku gak butuh ngerti buat tau ini bukan hal baik. Di tengah jembatan, cahaya mulai ngebentuk sesuatu—besar, berkilau kayak bintang, wujudnya terus berubah antara bentuk manusia dan bentuk lain yang gak bisa aku deskripsiin. Sesuatu yang jelas-jelas bukan dari dunia ini.
Kaki ini pengen mundur. Tapi jembatan di belakang kami udah gak ada tempat buat lari lagi.
Dunia kembali bergerak.Seakan tersedot dari pusaran kehampaan, aku terhempas ke realitas. Nafasku terputus-putus, dadaku naik turun tak terkendali. Keringat dingin mengalir di pelipisku, dan jari-jariku mati rasa saat aku mencoba menggenggam trisulaku lebih erat. Tubuhku seakan dipaksa menerima beban yang bukan milikku—resonansi antara aku dan Chronarkis masih terasa, mengalir seperti arus tak kasat mata yang menghubungkan kami.Brak!Lututku menghantam tanah. Tanah yang dingin dan kasar merambat di sela jari, seakan menegaskan bahwa aku masih ada di sini, masih hidup. Suara napasku bercampur dengan desir angin yang membawa serpihan debu dan abu di udara. Cahaya redup dari langit yang koyak oleh kekuatan yang tak kasat mata perlahan memudar, seolah takut mengungkap rahasia yang baru saja terkuak."Apa kau baik-baik saja?"Suara Revan membelah keheningan. Aku mendongak, melihatnya bergegas ke arahku, ekspresinya dipenuhi kekhawatiran. Ia tak perlu bertanya dua kali. Dengan susah payah
Kegelapan berdenyut di sekeliling Ariel, nyala api hitam berputar liar seperti ular ganas yang hendak memangsa segalanya. Napasnya berat, langkahnya menyeret, tetapi matanya—mata merah menyala yang menjadi simbol kekuasaan Barong—tetap terkunci padaku. Aku bersiap menghindar, otakku bekerja cepat mencari celah dalam serangannya.Tapi tiba-tiba—WUSHH!Sebuah cahaya emas meledak dari tubuh Ariel. Sejenak, seolah-olah waktu tersendat, lalu berhenti total. Angin yang tadinya menggila kini membeku di udara, debu yang beterbangan pun mengapung tanpa arah. Bahkan api yang menari di sekeliling Ariel berhenti, nyaris seperti lukisan yang dipaksa diam dalam satu momen abadi.Aku menegang. Eternal Flow Manipulation-ku? Tidak. Ini bukan aku yang mengaktifkannya.Sebuah tekanan luar biasa membanjiri ruang di sekelilingku, membuat bulu kudukku berdiri. Dari bayanganku sendiri, sesuatu merayap keluar. Aku bisa merasakan keberadaannya bahkan sebelum melihat sosoknya.Kemudian, ia muncul.Sosok itu m
Udara di sekitar kami bergetar, panas yang menyengat merayap di kulit, membuat napas terasa berat. Debu-debu hangus melayang, terbawa oleh angin panas yang entah berasal dari serangan Ariel sebelumnya atau dari dirinya sendiri.Mata Revan menyipit, keringat mengalir di pelipisnya. "Sepertinya dia kehilangan kontrol atas tubuhnya," gumamnya, suaranya nyaris tenggelam dalam deru api yang mengamuk. Dengan cepat, dia mengangkat tangannya. "Zephyr Suppression."Raungan angin terdengar nyaring saat pusaran udara terbentuk di sekitar Ariel, membelit tubuhnya seperti rantai tak kasat mata. Namun sebelum cengkeraman angin bisa menahan gerakannya, Ariel mengangkat pedang reliknya tinggi-tinggi. Mata keemasannya berkilat sesaat sebelum berubah menjadi merah."Divine Reflection."Kilatan cahaya meledak dari tubuhnya, memantulkan energi angin yang seharusnya membelenggunya. Seakan tak tersentuh, ia melangkah maju tanpa kesulitan sedikit pun.Revan terhuyung ke belakang, tangannya masih terangkat de
Kilatan cahaya menyambar cakrawala. Petir menggelegar, suaranya menggema seperti raungan raksasa yang marah. Langit yang tadinya cerah kini berubah kelam, seakan ditelan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar awan mendung. Udara menjadi berat, seperti ribuan ton besi menekan dada.Aku berdiri di tengah padang yang luas, trisula sudah dalam genggamanku. Angin bertiup liar, merontokkan dedaunan dan menerbangkan debu hingga membentuk pusaran kecil di sekeliling kami. Di sampingku, Revan berdiri dengan tenang, tatapannya tajam seperti pisau yang baru diasah. Di sisi lain, Ariel tampak gelisah, matanya menari-nari di antara kami dan langit yang mulai retak."Sebentar lagi dia akan muncul," ucapku, suaraku tenggelam dalam riuhnya gemuruh yang terus beresonansi.Revan mengangguk pelan. Dia tahu. Sepertinya dia sudah melihat ini sebelumnya. Namun Ariel… Ariel tidak. Tangannya mencengkeram relik pedang yang kuberikan, jemarinya gemetar meski ia berusaha menyembunyikannya."Apa yang akan mu
Udara dingin menerpa kulitku seperti pisau tipis yang menggores perlahan. Di hadapanku, Ariel terkunci dalam pusaran angin yang menderu seperti raungan serigala lapar, seakan mencoba menelan tubuhnya bulat-bulat. Keringat dingin mengalir di pelipisku saat melihat tubuhnya bergetar hebat di dalam lingkaran udara yang melingkupinya."Sial..." gumamku, mengepalkan tangan dengan gelisah. Suara angin yang berputar kencang membuat sekeliling terasa seperti badai yang mengamuk. Aku melirik pria itu, sosok misterius yang baru saja muncul dari reruntuhan. Tangannya terulur, mengendalikan barrier angin yang menekan Ariel.Aku meneguk ludah, lalu melangkah mendekatinya. "Apa dia akan baik-baik saja?" tanyaku, suaraku nyaris tenggelam dalam deru angin.Pria itu tak langsung menjawab. Tatapannya tetap terkunci pada Ariel, dingin dan tajam, seperti burung pemangsa yang mengamati mangsanya. "Entahlah," jawabnya akhirnya, suaranya tenang tapi penuh ketegangan. "Yang bisa aku lakukan hanya menahan kek
Suasana berat mencekam saat kami melangkah meninggalkan reruntuhan yang kini hanya menyisakan puing-puing dan bayangan kematian. Bau anyir darah bercampur dengan aroma karat besi, menguar tajam di udara malam yang dingin. Setiap tarikan napas serasa mencengkram paru-paru, berat, pengap, seakan dunia sendiri mencoba menahan kami untuk tidak pergi.Srek.Butiran pasir bergeser di bawah sepatu kami. Angin menderu, melolong di antara bebatuan, berbisik lirih seperti suara mereka yang telah gugur.Aku melirik ke samping. Ariel berjalan di sebelahku, langkahnya tetap tegas, namun ada sesuatu yang berbeda. Bahunya tegang, napasnya pendek dan tersendat. Biasanya, mata emasnya selalu berkilat penuh keyakinan. Tapi kini, sorot itu meredup—seperti api yang kehilangan bahan bakarnya.Srek.Kami terus berjalan. Tapi lalu—Ariel berhenti.Satu tangannya menekan pelipis, napasnya tertahan. Aku melihatnya menarik napas dalam-dalam, tapi ada getaran halus di jemarinya, begitu samar, nyaris tak terliha
Setelah kejadian di jembatan, kami menemukan sebuah gua di tebing berbatu sebagai tempat perlindungan sementara. Gua itu gelap dan lembap, tapi cukup luas untuk menampung kami berlima. Dengan sisa tenaga, kami menyusun barikade seadanya di mulut gua, menggunakan batu-batu besar dan ranting pohon un
Kami melangkah hati-hati di atas jembatan yang rapuh, angin dingin terus menerpa wajah, membuat kakiku gemetar. Di bawah jembatan, jurang gelap itu terasa seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang terjatuh. Gatra memimpin di depan, langkahnya mantap meskipun jembatan berde
Pintu di belakang kami berderit pelan, tapi anehnya tidak ada yang masuk. Kami semua terdiam, tubuh tegang seperti senar gitar yang siap putus. Aku mencoba mengatur napas, tapi udara terasa berat di paru-paruku. “Kenapa gak langsung masuk?” bisik Mirna, matanya terpaku pada pintu yang setengah ter
Mobil tua kami akhirnya berhenti di ujung jalan berbatu, asap tipis mengepul dari kap mesin. Mirna mengumpat pelan, memukul setir dengan frustrasi. “Sial, mobil ini sudah tidak bisa jalan lagi,” gumamnya, matanya menatap nanar ke depan. Kami turun dari mobil, kaki-kaki kami terasa lemah setelah p







