Share

Bab 3

Author: Gembala Domba
Aku menutup telepon dan laptop dengan tenang, lalu jawab, “Nggak ada apa-apa. Aku cuman ngobrol soal cerai sama dosen.”

Mendengar ini, wajah Dina langsung berubah. Dia langsung samperin aku dan bertanya, “Cerai apaan? Kau mau cerai sama aku?”

Aku mundur 2 langkah dan asal jawab, “Bukan, cuman sebuah kasus saja. Dosen tanya pendapatku.”

Mendengar jawabanku, Dina baru merasa lega dan menyerahkan kantong kertas itu padaku sambil berkata, “Ini untukmu.”

Gambar di kantong kertas adalah logo toko kue kesukaanku.

Sebelum nikah, asal Dina bikin aku marah, dia bakal pergi ke toko itu beli kue untukku.

Toko ini juga populer. Setiap kali pergi beli harus antri 2 jam.

Dulu demi senangkan aku, mau situasi apa pun Dina tetap rela antri asal aku bilang pengen makan.

Kadang nggak tega dia susah-susah antri, aku suruh dia pakai kurir saja.

Tapi Dina malah bilang, “Supendi, nggak apa-apa. Demi kau, aku rela kok.”

Mengingat ini, hatiku terasa hangat dan tersenyum tipis. Aku ambil kantongnya dan buka sambil berkata, “Ternyata kau masih ingat. Ini apa?”

Aku melihat dia dengan kaget dan ada firasat buruk di hatiku.

Ternyata dalam kantong itu bukan kue, tapi 2 baju bau alkohol.

Satu jas gaun Dina dan satunya lagi kemeja yang dipakai Irwan malam ini.

Saat aku tanya, Dina malah tampak nggak enak dan berkata, “Baju Irwan ‘kan kotor. Lagian kau sudah biasa kerja kerjaan rumah. Cuci 1 atau 2 ‘kan sama saja capeknya. Ya sudah, aku sekalian bawa pulang.”

Setelah itu Dina kayak teringat sesuatu dan jadi makin percaya diri, lalu berkata, “Paling aku pakai 1 kupon baikan lagi. Masih banyak, ‘kan? Biar kau nggak cemburuan.”

Mendengar ini, semua omonganku langsung tertahan di mulut.

Aku mau kasih tahu dia. 'Dina, sudah habis.'

'99 kupon baikan sekarang sisa 1 saja.'

Tapi saat mau ngomong, aku cuman lihat Dina dalam-dalam, lalu baju-baju itu aku buang ke dalam mesin cuci.

Dulu biar bajunya bersih dan rapi, aku selalu kucek pakai tangan dan nggak pernah pakai mesin cuci.

Sekarang dipikir-pikir, aku goblok juga sih.

Yang kukira perhatian, di matanya cuman pembantu gratis.

Aku ketawa sinis sambil tutup pintu dan balik ke kamar.

Lihat aku cepat balik, Dina agak kaget dan bertanya, “Kok cepat banget? Sudah bersih? Ini kemeja kesukaan Irwan. Aku janji aku bakal suruh kau cuci bersih.”

Aku mengiyakan pelan lalu mulai mandi.

Tapi dalam hatiku berpikir, mana ada laundry yang jemput barang cuciannya sendiri?

Saat lagi pikir, terdengar bunyi nada dering HP yang familiar.

Dina melirik aku dengan hati-hati, lalu bawa HP kabur ke balkon.

Aku diam-diam ikut dan kebetulan banget dengar Irwan lagi manja-manja.

“Bu Dina, kue yang kau belikan enak banget. Aku nggak pernah makan kue seenak ini.”

“Cuman antriannya panjang. Aku nggak tega deh.”

Dina melirik ke arah kamar, lalu menjawab dengan penuh kasih sayang, “Tenang saja. Asal kau mau makan, kapan pun aku akan belikan untukmu.”

“Demi kau, aku rela kok.”

Irwan ketawa kecil, lalu sok baik bilang, “Lalu kemejaku gimana? Suruh Pak Supendi cuci kayaknya nggak enak deh?”

“Aku nggak mau bikin kau susah.”

Dina ketawa-ketawa kecil dan menjawab, “Susah apaan? Dia sudah biasa cuci baju. Malahan kau, tanganmu segitu cantik, aku nggak tega kau cuci baju.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengampunan Ke-99 Kali   Bab 10

    Kalau lagi capek, kadang aku liburan seminggu di desa nelayan Regia.Setahun kemudian, aku resmi jadi mitra di kantor hukum. Karirku naik terus.Semuanya berjalan indah, kecuali kadang-kadang saat lihat wajah Dina yang sedih di bawah kantor bikin aku merasa agak kesal.Setahun pisah, Dina sudah terima 99 surat cerai, tapi tetap nggak mau ditandatangani.Kayaknya dia mau pakai trik dulu saat kejar aku, biar aku kasihan dan terima dia lagi.Awalnya, aku sempat goyah.Tapi saat lihat pesan mantan rekan kerja, rasa iba itu langsung hilang.Ternyata Dina ketemu orang tuaku dan ceritakan semuanya pada mereka sambil nangis menyesali perbuatannya.Dina lupa, sifat anak itu biasanya mirip orang tuanya.Aku orangnya nggak bisa toleransi sama perselingkuhan, apalagi dia malah ceritakan semua ini ke orang tuaku.Setelah dengar semua ini, ibuku langsung usir Dina. Ibu langsung telepon aku dan bilang bahwa dia dukung keputusanku buat cerai.Hatiku yang tadinya ragu, sekarang jadi yakin sepenuhnya.S

  • Pengampunan Ke-99 Kali   Bab 9

    “2 tahun ini, aku terlalu perhatian sama Irwan karena aku merasa dia mirip sama dirimu 9 tahun lalu. Aku kira aku suka dia.”“Tapi setelah kau beneran pergi, aku baru tahu bahwa aku bukan beneran suka dia. Selama ini, kau yang aku sukai.”Mendengar ini, aku tahan rasa mual dan melihatnya dengan sinis.Dina yang merasa cintanya sok tulus masih melanjutkan, “Semua yang kau lakukan semua ini sebenarnya aku tahu. Mungkin kemampuanmu di pekerjaan membuatku merasa tertekan, jadi aku merasa kau berubah.”“Logis dan keras, kayak robot yang nggak punya perasaan.”“Jadi pas Irwan muncul, aku otomatis mau dekati dia. Seakan lihat lagi kau yang dulu di diri dia.”“Supendi, aku nggak mau cerai, nggak mau kehilanganmu. Aku sampai berani naik pesawat buat cari kau. Bisakah kau maafkan aku sekali ini saja?”Dina sambil ngomong sambil nangis, tapi hatiku sudah dingin.Ini cewek yang kucintai. Sudah naksir orang lain, masih saja cari alasan buat bela diri.Dia malah salahkan aku atas perselingkuhannya.

  • Pengampunan Ke-99 Kali   Bab 8

    Bahkan urusan bisnis luar negeri pun dia percayakan padaku. Aku tinggal bawa kontrak yang sudah dia tandatangani saja.“Sebenarnya kenapa sih? Kau kok tiba-tiba mau ke luar negeri?”Si penelepon terus minta alasannya.Setelah diam sejenak, Dina menghela napas dan berkata, “Supendi sudah pergi .…”“Apa?” Si penelepon agak kaget. Tapi anehnya, dia malah nggak tanya lebih lanjut.“Selama 3 tahun ini, kalian merasa aku sudah kelewatan sama Irwan nggak? Ada yang merasa aku khianati Supendi?”Pertanyaannya bikin teman baiknya jadi diam.Terkadang diam adalah respon terbaik.“Aku paham.”Dina berkata dengan sedih, “Aku yang salah. Sejak Irwan muncul, aku tanpa sadar tertarik padanya.”“Aku merasa dia kadang-kadang mirip sama Supendi saat muda, cerah dan ceria.”“Harusnya aku nggak salah anggap Irwan sebagai pengganti Suspendi.”“2 tahun ini, aku habiskan 99 kesempatan yang Supendi berikan padaku.”“Aku nggak pernah pikir mau putus dengannya. Tapi sekarang dia malah nggak mau aku lagi.”Ngomon

  • Pengampunan Ke-99 Kali   Bab 7

    Meskipun berkali-kali menghibur diri sendiri dalam hati, Dina tetap kesal saat lihat meja kerjaku yang kosong.Bahkan kerja pun jadi nggak fokus.Melihat meja kerjaku kosong, Dina makin nggak tenang.Akhirnya Dina nggak tahan dan panggilkan HRD.“Bu, ada kerjaan yang mau diperintahkan?”“Supendi hari ini cuti ya?” tanya Dina dengan acuh tak acuh sambil lihat dokumen di depannya.Si HRD kaget, lalu melihat Dina dengan bingung dan berkata, “Pak Supendi sudah nggak kerja lagi.”“Apa?”Tangan Dina yang lagi tanda tangan tiba-tiba berhenti. Kertasnya pun robek kena ujung pulpen.“Kapan? Siapa yang setuju? Aku kok nggak tahu?”HRD jawab dengan bingung, “Semalam. Katanya, pagi ini Bu Dina sudah setuju.”Mendengar ini, Dina kayak tersambar petir dan langsung beku.Kemudian, Dina buka laptop dan cek sekilas semua emailnya. Dengan tangan gemetaran, dia buka satu-satunya surat pengunduran diri.Saat lihat nama Supendi, Dina langsung panik.“Cabut pengajuannya! Sekarang juga!”HRD usap keringat di

  • Pengampunan Ke-99 Kali   Bab 6

    Dina sekali lagi tercengang di tempat.Rak-rak di dinding penuh sama kado dari dia.Tapi kalau diamati, ada 3 set jam tangan yang sama persis di tengah rak.Salah satu struknya adalah tanggal kemarin.Dina jadi ingat kemarin dia kasih jam tangan merek Fankiv ke Irwan.Begitu lihat Supendi yang tampak kesepian, dia langsung suruh orang ke Fraso buat pesan jam yang sama.Malam hari itu juga jam tangannya langsung sampai di rumah.Dari harga maupun ketulusannya, semuanya lebih dari isi dalam rak-rak itu.Saat itu, Dina tenggelam dalam pikirannya sendiri.Sejak kapan cintanya yang dulu khusus buat aku, berubah jadi basa-basi murahan?Malam itu, Dina duduk di ruang tamu dan habiskan semua minuman di rak alkohol. Tapi dia tetap nggak dapat jawaban.Dina baru saja tiba di kantor, Irwan langsung menghampirinya dan berkata, “Bu Dina, ini kontrak semalam.”Irwan letak dokumen di atas meja, lalu Irwan langsung berjalan ke arah Dina dan sebelah tangannya langsung gantung di bahu Dina.Dulu, itu ko

  • Pengampunan Ke-99 Kali   Bab 5

    Aku nggak peduli sama getaran Hp dan langsung matikan Hp.Mulai sekarang, pernikahan kami sudah berakhir.Di hotel, Dina langsung balas pesanku kayak orang gila.[Cerai? Jangan main-main deh. Segitu banyak kupon baikan masa habis sih?][Kau nggak suka hadiah yang kukasih? Aku beli yang lain untukmu.][Supendi, angkat telepon. Kita ngomong baik-baik.][Kok matikan Hp? Kau beneran marah?]Dina nggak percaya aku nggak gubris dia. Dia terus telepon aku.Setelah dengar nada sambung dingin yang ke-39, Dina akhirnya mulai panik dan berkata, “Nggak mungkin …. Nggak mungkin …. Tadi mau keluar masih oke-oke saja.”Dina mulai ingat ekspresiku saat bilang soal kupon. Sangat tenang. Seakan sudah pasrah.Tanpa pikir panjang, Dina buru-buru pakai baju.Irwan merangkul leher Dina dan manja-manja dalam pelukannya sambil berkata, “Bu Dina janji mau temani aku semalaman .…”Dina buru-buru dorong dia tanpa jelaskan apa-apa, lalu bergegas ke luar.Sepanjang jalan Dina terus telepon aku, tapi aku nggak pern

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status