Share

Bab 4

Author: Gembala Domba
Mendengar ini, aku tercengang, lalu tanpa sadar lihat tanganku sendiri.

Kulit tanganku memang kasar karena sudah lama kerja kerjaan rumah. Pantesan Dina nggak tertarik.

Karena nggak tahan dengar lagi, aku buru-buru lari ke kamar mandi dengan agak canggung.

10 menit kemudian, Dina ketuk pintu dan berkata, “Supendi, kantor ada urusan nih. Aku harus ke sana. Nanti kau cepat tidur.”

Aku mengiyakan pelan.

Saat dia mau keluar, aku tiba-tiba berkata, “Dina, kalau nanti kau nggak pulang, aku boleh pakai 1 kupon baikan nggak?”

Aku menatapnya, masih ada bekas air mata di sudut mata.

Dina berhenti, lalu langsung berbalik sambil berkata, “Boleh.”

Dina tersenyum padaku, ekspresinya tampak santai sambil berkata, “Tenang saja. Jam 12 aku pasti pulang kok. Kupon baikannya nggak bakal kepakai.”

Melihat wajahnya masih sama seperti 5 tahun lalu, aku tahan sedih dan berkata sambil tersenyum, “Oke, aku tunggu kau.”

Jam 12 masih 3 jam lagi.

Aku bayar jasa kurir mahal minta dia belikan kue.

Asisten Dina, Jodi, lagi unggah status di media sosial.

Dia mengeluh dirinya masih lembur di kantor, sedangkan yang lain sudah pulang semua.

Pada saat ini, Dina kirim pesan padaku: [Aku baru sampai kantor, bentar lagi pulang.]

Jam 12 masih 2 jam lagi.

Saat bersihkan foto album, aku ketemu foto Dina lamar aku.

Aku pun langsung unggah status.

[Nggak terasa kita sudah 5 tahun.]

Dina pun langsung balas: [Bukan cuman 5 tahun.]

Pada saat yang sama, Dina juga kirimi aku foto pemandangan malam.

[Pemandangan malam ini sangat indah, aku teringat padamu.]

Aku nggak balas.

Karena aku tahu gedung-gedung di latar belakang foto itu bukan dekat kantor, tapi di pusat kota.

Di situ ada restoran paling romantis di kota ini.

Irwan nggak tahan, lalu unggah status yang bisa aku lihat.

[Katamu, kau nikah sama cowok idamanmu, tapi akulah kesenanganmu yang sesungguhnya.]

Di kiri bawah foto, tangan kiri Dina yang tanpa cincin nikah itu terlihat jelas.

Jam 12 masih 1 jam lagi.

Aku baring di sofa dan nonton video kami saat nikah sambil makan kue yang kupesan dari kurir.

Entah kenapa, kuenya makin kumakan makin asin rasanya.

Ke depannya, aku mungkin nggak bakal suka lagi.

Jam 12 masih setengah jam lagi.

Dina sudah nggak balas pesanku.

Aku pun sadar diri nggak ganggu mereka. Aku langsung beres-beres koper.

Jam 12 masih 1 menit lagi.

Aku keluarkan kupon baikan terakhir yang tersisa dalam celengan. Saat mau robek, tiba-tiba ada yang ketuk pintu.

“Halo, ini hadiah dari Nona Dina. Mohon diterima.”

Petugasnya bawa kotak jam tangan dengan ramah dan perhatian.

Pada saat yang bersamaan, Dina kirim pesan: [Maaf, malam ini aku bakal nginap di kantor. Kau mau pakai kupon baikan ya pakai saja. Nanti pulang aku bawakan kue yang kau suka.]

Saat hendak balas pesannya, aku nggak sengaja tabrak rak buku.

Foto nikah yang sudah pajang 5 tahun di atasnya langsung jatuh dan menimbulkan suara benturan yang keras.

Kacanya pun pecah berantakan.

Petugasnya terkejut dan segera bertanya, “Pak, perlu bantuan nggak?”

Aku menggelengkan kepalaku, lalu balas pesan di HP.

[Nggak usah bawa kue lagi. Dina, kupon baikannya sudah habis tak tersisa.]

[Kita cerai saja.]

Pada detik berikutnya, ratusan pesan masuk ke Hp aku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengampunan Ke-99 Kali   Bab 10

    Kalau lagi capek, kadang aku liburan seminggu di desa nelayan Regia.Setahun kemudian, aku resmi jadi mitra di kantor hukum. Karirku naik terus.Semuanya berjalan indah, kecuali kadang-kadang saat lihat wajah Dina yang sedih di bawah kantor bikin aku merasa agak kesal.Setahun pisah, Dina sudah terima 99 surat cerai, tapi tetap nggak mau ditandatangani.Kayaknya dia mau pakai trik dulu saat kejar aku, biar aku kasihan dan terima dia lagi.Awalnya, aku sempat goyah.Tapi saat lihat pesan mantan rekan kerja, rasa iba itu langsung hilang.Ternyata Dina ketemu orang tuaku dan ceritakan semuanya pada mereka sambil nangis menyesali perbuatannya.Dina lupa, sifat anak itu biasanya mirip orang tuanya.Aku orangnya nggak bisa toleransi sama perselingkuhan, apalagi dia malah ceritakan semua ini ke orang tuaku.Setelah dengar semua ini, ibuku langsung usir Dina. Ibu langsung telepon aku dan bilang bahwa dia dukung keputusanku buat cerai.Hatiku yang tadinya ragu, sekarang jadi yakin sepenuhnya.S

  • Pengampunan Ke-99 Kali   Bab 9

    “2 tahun ini, aku terlalu perhatian sama Irwan karena aku merasa dia mirip sama dirimu 9 tahun lalu. Aku kira aku suka dia.”“Tapi setelah kau beneran pergi, aku baru tahu bahwa aku bukan beneran suka dia. Selama ini, kau yang aku sukai.”Mendengar ini, aku tahan rasa mual dan melihatnya dengan sinis.Dina yang merasa cintanya sok tulus masih melanjutkan, “Semua yang kau lakukan semua ini sebenarnya aku tahu. Mungkin kemampuanmu di pekerjaan membuatku merasa tertekan, jadi aku merasa kau berubah.”“Logis dan keras, kayak robot yang nggak punya perasaan.”“Jadi pas Irwan muncul, aku otomatis mau dekati dia. Seakan lihat lagi kau yang dulu di diri dia.”“Supendi, aku nggak mau cerai, nggak mau kehilanganmu. Aku sampai berani naik pesawat buat cari kau. Bisakah kau maafkan aku sekali ini saja?”Dina sambil ngomong sambil nangis, tapi hatiku sudah dingin.Ini cewek yang kucintai. Sudah naksir orang lain, masih saja cari alasan buat bela diri.Dia malah salahkan aku atas perselingkuhannya.

  • Pengampunan Ke-99 Kali   Bab 8

    Bahkan urusan bisnis luar negeri pun dia percayakan padaku. Aku tinggal bawa kontrak yang sudah dia tandatangani saja.“Sebenarnya kenapa sih? Kau kok tiba-tiba mau ke luar negeri?”Si penelepon terus minta alasannya.Setelah diam sejenak, Dina menghela napas dan berkata, “Supendi sudah pergi .…”“Apa?” Si penelepon agak kaget. Tapi anehnya, dia malah nggak tanya lebih lanjut.“Selama 3 tahun ini, kalian merasa aku sudah kelewatan sama Irwan nggak? Ada yang merasa aku khianati Supendi?”Pertanyaannya bikin teman baiknya jadi diam.Terkadang diam adalah respon terbaik.“Aku paham.”Dina berkata dengan sedih, “Aku yang salah. Sejak Irwan muncul, aku tanpa sadar tertarik padanya.”“Aku merasa dia kadang-kadang mirip sama Supendi saat muda, cerah dan ceria.”“Harusnya aku nggak salah anggap Irwan sebagai pengganti Suspendi.”“2 tahun ini, aku habiskan 99 kesempatan yang Supendi berikan padaku.”“Aku nggak pernah pikir mau putus dengannya. Tapi sekarang dia malah nggak mau aku lagi.”Ngomon

  • Pengampunan Ke-99 Kali   Bab 7

    Meskipun berkali-kali menghibur diri sendiri dalam hati, Dina tetap kesal saat lihat meja kerjaku yang kosong.Bahkan kerja pun jadi nggak fokus.Melihat meja kerjaku kosong, Dina makin nggak tenang.Akhirnya Dina nggak tahan dan panggilkan HRD.“Bu, ada kerjaan yang mau diperintahkan?”“Supendi hari ini cuti ya?” tanya Dina dengan acuh tak acuh sambil lihat dokumen di depannya.Si HRD kaget, lalu melihat Dina dengan bingung dan berkata, “Pak Supendi sudah nggak kerja lagi.”“Apa?”Tangan Dina yang lagi tanda tangan tiba-tiba berhenti. Kertasnya pun robek kena ujung pulpen.“Kapan? Siapa yang setuju? Aku kok nggak tahu?”HRD jawab dengan bingung, “Semalam. Katanya, pagi ini Bu Dina sudah setuju.”Mendengar ini, Dina kayak tersambar petir dan langsung beku.Kemudian, Dina buka laptop dan cek sekilas semua emailnya. Dengan tangan gemetaran, dia buka satu-satunya surat pengunduran diri.Saat lihat nama Supendi, Dina langsung panik.“Cabut pengajuannya! Sekarang juga!”HRD usap keringat di

  • Pengampunan Ke-99 Kali   Bab 6

    Dina sekali lagi tercengang di tempat.Rak-rak di dinding penuh sama kado dari dia.Tapi kalau diamati, ada 3 set jam tangan yang sama persis di tengah rak.Salah satu struknya adalah tanggal kemarin.Dina jadi ingat kemarin dia kasih jam tangan merek Fankiv ke Irwan.Begitu lihat Supendi yang tampak kesepian, dia langsung suruh orang ke Fraso buat pesan jam yang sama.Malam hari itu juga jam tangannya langsung sampai di rumah.Dari harga maupun ketulusannya, semuanya lebih dari isi dalam rak-rak itu.Saat itu, Dina tenggelam dalam pikirannya sendiri.Sejak kapan cintanya yang dulu khusus buat aku, berubah jadi basa-basi murahan?Malam itu, Dina duduk di ruang tamu dan habiskan semua minuman di rak alkohol. Tapi dia tetap nggak dapat jawaban.Dina baru saja tiba di kantor, Irwan langsung menghampirinya dan berkata, “Bu Dina, ini kontrak semalam.”Irwan letak dokumen di atas meja, lalu Irwan langsung berjalan ke arah Dina dan sebelah tangannya langsung gantung di bahu Dina.Dulu, itu ko

  • Pengampunan Ke-99 Kali   Bab 5

    Aku nggak peduli sama getaran Hp dan langsung matikan Hp.Mulai sekarang, pernikahan kami sudah berakhir.Di hotel, Dina langsung balas pesanku kayak orang gila.[Cerai? Jangan main-main deh. Segitu banyak kupon baikan masa habis sih?][Kau nggak suka hadiah yang kukasih? Aku beli yang lain untukmu.][Supendi, angkat telepon. Kita ngomong baik-baik.][Kok matikan Hp? Kau beneran marah?]Dina nggak percaya aku nggak gubris dia. Dia terus telepon aku.Setelah dengar nada sambung dingin yang ke-39, Dina akhirnya mulai panik dan berkata, “Nggak mungkin …. Nggak mungkin …. Tadi mau keluar masih oke-oke saja.”Dina mulai ingat ekspresiku saat bilang soal kupon. Sangat tenang. Seakan sudah pasrah.Tanpa pikir panjang, Dina buru-buru pakai baju.Irwan merangkul leher Dina dan manja-manja dalam pelukannya sambil berkata, “Bu Dina janji mau temani aku semalaman .…”Dina buru-buru dorong dia tanpa jelaskan apa-apa, lalu bergegas ke luar.Sepanjang jalan Dina terus telepon aku, tapi aku nggak pern

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status