LOGINSementara Avelinne berhadapan dengan tatapan dingin Lady Vareen, Elowen sudah menyelinap ke dapur kastil Devereux.
Dapur itu hiruk pikuk: panci mendidih, roti panggang baru keluar dari tungku, pelayan berlarian dengan nampan penuh. Elowen menaruh keranjangnya di pojok, lalu sigap menyambar celemek lusuh yang tergantung di paku. “Hei, bocah!” seru seorang juru masak tambun—Marta, wanita paruh baya yang sudah puluhan tahun mengatur dapur, tangannya cekatan tapi lidahnya lebih cepat. Elowen hampir loncat, lalu cepat menirukan logat pelayan kota, “Ya, Nyonya! Baru direkrut pagi ini!” Marta mendengus, menaruh tangan di pinggang. “Cuci sayuran itu—cepat. Pesta sebentar lagi.” Elowen bergegas, namun telinganya tak berhenti menangkap bisik-bisik. Finn, pelayan muda yang lebih suka bergosip, berbisik sambil menata piring, “Kau lihat Lady Lucienne pagi tadi? Marah besar—gaunnya dari Paris belum datang.” “Padahal pesta ini untuk Tuan Sebastian, bukan dirinya,” sahut teman di sampingnya. Finn mendengus kecil. “Justru itu. Ia memang istri Tuan Marcus… tapi tingkahnya, seakan nyonya rumah sesungguhnya.” Elowen menunduk, pura-pura sibuk; sudut bibirnya nyaris menegang. Suara Garrick, kepala pelayan tua dan keras, memotong seperti palu, “Cukup. Kastil ini penuh telinga. Tahan lidah kalian kalau tak mau celaka.” Hening. Denting sendok kembali memenuhi ruang. Bagi Elowen, potongan obrolan itu sudah cukup: ada istri bangsawan yang ingin berkuasa, dan rumah ini menyimpan retakan yang bisa dimanfaatkan. Tiba-tiba seekor kucing abu-abu melompat ke meja dapur. Gerakannya secepat kilat—sup hampir tumpah, roti bergeser, dan karung tepung terjungkal, meledak jadi kabut putih yang membuat semua orang batuk-batuk. “Kucing! Bagaimana bisa masuk ke dapur ini!” jerit Marta sampai centong di tangannya ikut melayang. Finn langsung meloncat bangkit. “Biar aku tangkap! Jangan biarkan dia kabur!” teriaknya gagah—lalu terpeleset di tumpahan tepung, hampir menabrak panci sup mendidih. Marta menjerit lagi, kali ini lebih nyaring dari sebelumnya. Kucing itu justru melesat ke tengah meja, ekornya menyapu piring-piring seperti cambuk. Ia berhenti tepat di bawah cahaya tungku, menoleh dengan mata abu-abu berkilat seperti bara yang mengejek. Dari sisi lain meja, Garrick sudah berdiri tegak, pisau daging terangkat setinggi bahu. Suaranya berat dan dingin: “Mau lari ke mana kau, makhluk kecil…” “Jangan diiris di meja pesta, Garrick!” seru Marta panik, mencoba menahan tangannya. Finn masih terbatuk-batuk karena tepung. “Kalau sup ini tumpah, bukan cuma kucing itu—kepalaku juga ikut dipanggang!” Dalam kekacauan itu, Elowen maju satu langkah cepat. Tangannya menyambar kucing sebelum Garrick sempat mengayunkan pisaunya. Ia mendekap erat, lalu berkata dengan senyum setengah licik: “Dia tidak merusak apa-apa. Justru tikus tak berani muncul kalau ada dia.” Garrick mendengus, menurunkan pisaunya dengan berat hati. “Kalau satu piring jatuh lagi, bocah, kucing itu yang pertama jadi korban.” Marta masih mengibas-ngibas tepung dari wajahnya. “Astaga… dapur ini seperti panggung sandiwara murahan!” Finn menatap Elowen seolah baru menyaksikan sulap. “Aku hampir jadi rebusan ayam gara-gara kucing itu…” gumamnya, lalu menutup wajah dengan saputangan yang kini penuh noda putih. Elowen hanya pura-pura mengangguk patuh, melangkah pergi sambil menggendong kucing yang masih bergetar di pelukannya—seolah menahan tawa. Ya… kita sama, kau dan aku. Kecil, dianggap remeh, tapi cukup cerdik untuk membuat raksasa-raksasa ini kehilangan keseimbangan. ****** Aula utama kastil diterangi ratusan lilin. Cahaya keemasan menari di atas kristal anggur, berkilau di permukaan gaun sutra para bangsawan yang berputar mengikuti waltz. Udara sarat aroma mawar dan parfum mahal, namun juga penuh penghakiman—setiap senyum adalah pisau berselubung manis. Aveline berdiri di dekat meja minuman, jemarinya mengelus pelan gelas anggur yang tak tersentuh. Gaunnya memang sederhana, tapi cara ia menegakkan punggung membuatnya tidak tampak kalah dibandingkan kilau para wanita di sekitarnya. Dari kejauhan, Marcus Devereux—putra kedua keluarga itu—masuk bersama istrinya. Marcus membawa wibawa tenang, tapi pandangan matanya kerap melirik Lucienne D’Artoile, istrinya yang bergaun merah darah. Lucienne berjalan dengan kepala terangkat, seolah setiap tatapan bangsawan hanyalah debu di ujung sepatunya. Aveline menatap mereka, dingin. Siapa pun mereka, tak penting. Selama menyandang nama Devereux, mereka sudah termasuk dalam daftar yang harus kuhancurkan. Tarikan napasnya panjang, matanya berkilat—bukan kagum, melainkan tekad yang beku. Tiba-tiba seorang putri bangsawan mendekat. Wajahnya cantik tersusun rapi, senyumnya manis, tapi matanya menyelidik. “Nona… dari keluarga mana, ya? Saya rasa belum pernah melihat Anda di pesta mana pun.” Nada ramah, tapi maksudnya jelas: undangan untuk mempermalukan. Beberapa tamu yang mendengar pura-pura sibuk dengan minuman mereka, namun jelas menunggu apakah gadis asing ini akan tergagap. Aveline menoleh perlahan. Bibirnya melengkung tipis, sinis nyaris tak kentara. “Benar, Nona. Anda memang belum pernah melihat saya. Itu justru membuat kehadiran saya… lebih mudah diingat, bukan?” Sejenak hening. Beberapa wanita bangsawan menahan senyum—antara geli dan kagum pada keberaniannya. Namun Aveline sadar, bukan hanya peserta lain yang menguji. Dari ujung ruangan, Lady Vareen memperhatikannya dengan tatapan tajam, seperti hendak menelisik: apakah gadis asing ini sekadar berani bicara… atau benar-benar tahu apa yang ia lakukan. Bisik-bisik tentang Aveline belum reda ketika langkah anggun terdengar mendekat. Gaun merah darah berkilau di bawah cahaya lilin, setiap bordirnya tampak seperti nyala api. Lucienne D’Artoile. Istri Marcus Devereux. Senyumnya tidak pernah sampai ke mata. Tatapannya menyapu gaun Aveline, lama, seakan menilai kain pasar yang nekat masuk butik mewah. “Oh,” ucapnya lembut, beracun, “saya kira semua undangan malam ini berasal dari keluarga ternama. Rupanya… ada pengecualian.” Beberapa tamu menahan tawa. Aveline menegakkan bahu, menahan dingin di dadanya. “Mungkin karena saya tidak butuh nama besar untuk berdiri di sini, Nyonya.” Senyum Lucienne menajam, indah sekaligus rapuh seperti kaca retak. “Keberanian itu penting, tapi tanpa darah yang tepat… ia hanya hiburan. Dan hiburan selalu berakhir cepat di rumah sebesar ini." Udara menegang. Semua menunggu apakah Avelinne akan tersandung. Dari kejauhan, Sebastian Devereux berdiri diam. Mata abu-abunya mengukur, seolah ia tengah menimbang harga, bukan keberanian. Lucienne menyesap anggurnya perlahan, yakin lawannya akan tersedak sebelum sempat membalas. Namun Aveline tetap menatap lurus, suaranya jernih meski lembut: “Darah saya memang tak punya gelar. Tapi bukankah anggur terbaik sering lahir dari tanah miskin—bukan ladang penuh pujian?” Hening. Beberapa tamu terperangah, ada yang menahan senyum, ada pula yang berpaling pura-pura sibuk dengan gelas mereka. Senyum Lucienne melebar, tapi kaku. Jemarinya mengetuk batang gelas, menahan bara di balik wajah tenangnya. “Kata-kata indah. Mari kita lihat… apakah tanah miskin itu bisa bertahan di musim dingin.” Ia berbalik. Gaunnya berkilau seperti nyala api, bisikan-bisikan langsung pecah mengiringi langkahnya. Aveline menarik napas pelan. Tangannya sedikit bergetar, tapi sorot matanya tetap tegak. Ia tidak sadar, tatapan Sebastian masih tertuju padanya—dingin, abu-abu, seperti seorang penilai anggur yang menimbang apakah buah asing ini akan jadi vintage berharga… atau hanya busuk sebelum sempat diperas.Lalu terdengar suara. Tangisan kecil. Rapuh. Nyata. Di balik pintu, Osric dan Elowen saling berpandangan—lega, nyaris runtuh. Dokter tersenyum tipis, kelelahan jelas tergurat di wajahnya. “Putramu hidup.” Sebastian membeku sesaat. Seolah dunia membutuhkan waktu untuk kembali ke tempatnya. Avelinne terisak—lega, gemetar. Dokter meletakkan bayi itu di dadanya. Kecil. Hangat. Bergerak lemah, namun bernapas. Sebastian menatap makhluk kecil itu lama sekali. Tangannya gemetar saat akhirnya menyentuhnya—seolah takut kenyataan ini akan menghilang jika disentuh terlalu cepat. “Avelinne…” suaranya pecah. “Dia—” “Aku tahu,” jawab Avelinne lirih. “Aku tahu.” Elowen masuk perlahan, matanya membesar. “Tuhan… dia lucu sekali.” Ia menyentuh jemari kecil yang mengepal itu. “Kita memanggilnya siapa?” Avelinne menoleh pada Sebastian—memberinya ruang, memberinya hak. “Elio,” kata Sebastian akhirnya. “Elio Devereux. Kurasa itu cocok.” Elowen mendengus pela
Mobil Sebastian meluncur perlahan melewati gerbang gudang anggur. Lampu depannya menyapu tanah berkerikil yang masih lembap, memantulkan sisa cahaya malam yang belum sepenuhnya reda. Beberapa detik kemudian, kereta kuda Osric menyusul dan berhenti dengan bunyi kayu yang tertahan—seolah enggan mengganggu keheningan yang tersisa. Avelinne turun lebih dulu. Pakaiannya kotor, abu melekat di lipatan gaun dan rambutnya. Langkahnya sedikit kaku, namun punggungnya tetap tegak, seakan tubuhnya menolak menunjukkan betapa lelah ia sebenarnya. Elowen sudah menghampiri, wajahnya tegang. “Kalian pulang? Apa yang terjadi?” “Aku baik-baik saja,” jawab Avelinne cepat—nyaris otomatis, seperti kalimat yang diucapkan sebelum rasa sakit sempat menyusul. Sebastian turun menyusul. Memar jelas terlihat di wajahnya, kemejanya kusut dan berjelaga. Ia tidak berhenti untuk menjelaskan. “Kita bicara di dalam,” katanya singkat. Ia melangkah pergi. Osric mengikutinya tanpa suara. Elowen m
Ia melangkah cepat. Tangannya mencengkeram kerah Sebastian, lalu menghantamnya tanpa peringatan. Tubuh Sebastian terhempas ke lantai. Beberapa bangsawan mundur refleks. Sebagian berbalik, memilih keluar—tak ingin menjadi saksi ketika darah keluarga mulai tertumpah. Marcus tetap mencengkeram kerah itu, wajahnya merah, napasnya berat. “Kau pikir aku akan percaya?” Sebastian menatapnya datar, meski darah mulai merembes di sudut bibirnya. “Aku tak butuh kau percaya.” Marcus meninju lagi. Avelinne maju setengah langkah. Napasnya tertahan. “Sebastian!” Lady Vareen akhirnya bergerak. Tatapannya menusuk Marcus. “Cukup, Marcus!” Lucianne mundur perlahan. Wajahnya memucat, matanya berkilat panik. Ia menoleh sekali ke arah Henry—ambisi yang selama ini ia banggakan runtuh seketika—lalu pergi tanpa menoleh lagi. Sebastian berbalik. Ia membalas menghantam Marcus. Benturan itu mendorong tubuh mereka ke arah lemari penyimpanan. Botol-botol anggur jatuh, pecah beruntun
Keheningan di ruangan itu tidak lahir dari keterkejutan. Ia lahir dari kesalahan hitung. Lampu gantung menggantung rendah, terlalu putih untuk disebut ramah. Meja kayu panjang membelah ruangan, dipenuhi peta distribusi, catatan rak pasar, dan botol-botol anggur yang dibiarkan tertutup. Tidak ada yang berniat mencicipi. Lady Vareen menoleh lebih dulu. Gerakannya halus, namun sorot matanya berubah. “Sebastian… kau—” Marcus bangkit setengah dari kursinya. Suaranya lebih cepat dari pikirannya. “Kau tidak diundang.” Sebastian melangkah masuk sepenuhnya. Ia menutup pintu di belakangnya—perlahan, tanpa suara keras—seolah memastikan tak ada jalan mundur bagi siapa pun di ruangan itu. “Laporan tentang gudangku,” katanya tenang, “tidak pernah menungguku untuk dipersilakan.” Ia meletakkan map kulit cokelat di atas meja. Tepat di tengah. Dorongannya ringan, nyaris sopan—namun cukup untuk membuat botol-botol di sekitarnya bergetar tipis. Henry menyipitkan mata. “Ini
Ia menyeret petugas itu keluar. “Ini pelanggaran—” Sebastian tidak menoleh lagi. Mereka melewati koridor gudang dengan langkah cepat. Osric tersentak, lalu menyusul. Di ujung lorong, Avelinne dan Elowen melihat pemandangan itu. “Ada apa?” tanya Avelinne, suaranya tertahan. Sebastian sudah terlalu jauh untuk menjawab. Avelinne menoleh ke Osric. “Osric—apa yang terjadi?” Osric berhenti sejenak. “Pemalsuan sampel,” katanya rendah. “Laporan palsu. Penyalahgunaan wewenang.” “Ke mana mereka pergi?” Osric menggeleng. “Aku tidak tahu.” Avelinne menarik napas cepat. “Kita harus ikut. Aku takut dia akan—” “Aku siapkan kereta,” potong Osric. Terlambat. Di luar, mesin mobil Sebastian sudah menyala. Pintu dibanting. Roda berputar. Mobil itu meluncur pergi meninggalkan halaman gudang. Avelinne dan Osric saling pandang—cukup lama untuk menyadari satu hal: Sebastian tidak menuju klarifikasi. Ia menuju konfrontasi. Kereta bergerak menyus
Pagi belum sepenuhnya hangat ketika gudang anggur Sebastian mulai bergerak. Bukan hiruk-pikuk. Hanya ritme yang terjaga—peti dibuka, botol dipindahkan, segel diperiksa dua kali. Label Rosse Vineyard kini terpasang rapi, tidak mencolok, namun jelas. Nama itu berdiri tenang di kaca, seolah tidak menyadari kegaduhan yang ia bangkitkan di luar dinding batu ini. Sebastian berdiri di antara rak, memeriksa daftar pengiriman. Ia tidak mempercepat apa pun. Tidak pula menunda. Setiap instruksi pendek, setiap anggukan pekerja dibalas dengan ketenangan yang sama. Osric datang dari pintu samping. Langkahnya cepat, mantel masih belum dilepas. Ia berhenti beberapa langkah dari Sebastian, menurunkan suaranya meski gudang nyaris kosong. “Pasar bergerak,” katanya singkat. “Bukan cuma laku. Mereka membicarakannya.” Sebastian tidak menoleh. “Selalu begitu.” “Tidak seperti ini.” Osric mendekat, suaranya makin rendah. “Para pedagang tidak hanya menjual—mereka mengingat. Dan bangsawan mu







