Partager

Pengantin Pengganti Milioner Mandul
Pengantin Pengganti Milioner Mandul
Auteur: Libra Syafarika

BAB 1 MALAM PERTAMA

last update Date de publication: 2025-07-07 09:26:09

"Mau ke mana?"

Kaki panjang Meix menghalau langkah Elena. Ia duduk di tepi ranjang dengan tatapan tajam penuh perhitungan.

"A-aku mau ganti baju." Suara Elena bergetar menahan gugup. Wajahnya terus tertunduk menghindari tatapan pria di sampingnya yang penuh bara.

Gaun pengantin melekat di tubuhnya yang ramping—terbalut kaku seakan mengisyaratkan pesta yang belum usai. 

Rambut panjangnya yang  berwarna cokelat masih tergulung tanpa sehelaipun tergerai. Bahkan, tiara berwarna perak masih menjuntai indah mengikuti lekuk tubuhnya yang semampai.

'Kenapa harus aku yang menjadi pengantinnya? Apa alasan mereka memaksaku masuk ke dalam pernikahan—yang hanya melumatku dengan kebencian?' batin Elena.

Suasana kamar pengantin di Dalton Estate malam itu sungguh mencekam. Meski cahaya lampu kristal telah diatur dengan warna hangat, namun tidak dengan hati pasangan pengantin itu.

Merasa terperangkap dalam pernikahan yang tak diinginkan, Meix bangkit perlahan untuk memberikan sebuah penghakiman. Ia berdiri tegap di depan Elena yang semakin gelisah. Jemarinya yang berurat bergerak tenang melepas tuxedo yang terasa menghimpit. Ia melemparnya kasar ke atas ranjang, membuat bunga mawar yang tertata berserakan ke lantai.

Elena tersentak. Satu kakinya mundur dengan samar. Ia masih belum berani mengangkat wajahnya. Telapak tangannya berkeringat—mencengkaram kuat sisi gaun yang melilit.

Meix melepas kancing kemejanya satu-persatu. Dadanya yang bidang terbuka lebar. Cahaya lampu temaram menyinari ototnya yang atletis. Mata cokelat Meix tak berpaling dari Elena yang semakin menjauh. Meix mengangkat paksa dagu Elena—membuat tatapan mereka akhirnya bertemu.

"Buka di sini," perintahnya dingin.

Pupil mata Elena melebar. "A-apa?"

Sudut bibir Meix terangkat. "Kenapa kaget? Kau istriku. Buka bajumu di hadapanku."

Tubuh Elena menegang. Kelopak matanya bergerak cepat. Kakinya melangkah semakin mundur, namun dengan cepat Meix menarik pergelangan tangannya membuat Elena terjerembab ke dalam pelukan Meix yang tinggi dan kokoh.

Lengannya yang kuat melingkar di pinggang Elena—merapatkan ke perutnya tanpa kelembutan. Ia menarik tengkuk istrinya itu, lalu menekan bibirnya dalam ciuman kasar, tanpa rasa.

Elena tersentak. Ia mendorong dada Meix sekuat mungkin. Berusaha melepaskan diri dari cengkeraman suami yang tak diinginkannya itu. Nafasnya memburu, tangannya bergetar hebat.

"Maaf, Tuan. Aku rasa... tidak seharusnya kita melakukan itu," ujar Elena. Nada suaranya cepat dan tidak teratur. Wajahnya terus tertunduk seolah enggan menatap kebringasan suaminya.

Meix terkekeh. Dingin. Rendah. Ia melepas kemejanya. Sengaja mempertontonkan dada telanjang pada Elena yang terlihat gusar.

Baru beberapa jam yang lalu pesta pernikahan mereka usai. Alih-alih melakukan malam pertama penuh kebahagiaan. Mereka justru bergulat dengan kegelisahan yang menghimpit dada.

Elena melangkah mundur. Melihat dada Meix yang bersinar di bawah lampu seolah memaksanya untuk terus berlari. Namun tak ada ruang bersembunyi. Punggungnya menabrak nakas panjang yang justru membuatnya terperangkap—tak bisa bergerak.

Sementara Meix semakin melangkah maju—menghimpitnya. Hingga tak ada jarak di antara mereka. Ia menatap Elena lama sebelum akhirnya bicara.

"Aku sudah berusaha lepas dari pernikahan ini. Tapi kau justru datang dan mengacaukan segalanya," ucapnya. Suaranya mengandung bara.

Tangan Meix kembali mengangkat dagu Elena kasar, syarat menghakimi.

"Katakan! Berapa Vladimir membayarmu?"

Jantung Elena mencelos, tubuhnya bergetar, wajahnya pucat, napasnya terengah. 

Seketika, ingatannya kembali pada beberapa jam yang lalu saat Vladimir menyeretnya berjalan menuju altar.

Dibayar? Elena justru memohon untuk pergi. Namun nama itu... nama itu yang membuatnya terjebak bersama pria arogan ini.

Meski tubuhnya kini tengah bergetar hebat, Elena memberanikan diri untuk bicara.

"Tuan... kau mungkin salah paham. Aku tidak dibayar," bisiknya.

Ia berusaha menguatkan dirinya agar tak ambruk. Mata abu-abunya yang lembut menatap Meix seolah memohon agar dipercaya.

Namun usahanya sia-sia. Meix terlihat menyeringai dan masih menatap Elena lama. Mungkin ia tahu. Saat ini, Elena tengah berusaha membujuknya.

"Tidak dibayar?" bisiknya tajam. "Jadi... kau dengan sukarela ingin menjadi istriku?"

Elena menggelang cepat dan gugup. "T-tidak, Tuan."   

Meix mendekatkan wajah. Hidungnya menyentuh milik Elena. Nafanya memburu. "Kenapa kau membuatku marah, Nona..."

Tangannya bergerak menyusuri punggung Elena. Ia menurunkan resleting gaun itu perlahan. Namun jemarinya terhenti di tengah jalan, tepat saat Elena berkata—

"Jangan lakukan itu sekarang, Tuan..."

Meix membeku. Ia merasakan tetesan air jatuh membasahi pundaknya.

"Aku akan menurut padamu," Tambah Elena dengan suara bergetar. "Tapi tolong. Janga lakukan itu sekarang."

Meix menegakkan tubuhnya. Ia menatap Elena yang sudah berderai. Raut wajah Meix dipenuhi beribu pertanyaan yang tak bisa diajukan saat ini. Tubuhnya melemas, tak lagi tegang seperti sebelumnya. Ia menatap Elena lama sebelum akhirnya bicara.

"Kau akan menurut?"

Elena mengangguk pelan sembari menahan isak.

Meix mencibir. Ia perlahan mundur, menjauhi Elena yang terlihat kacau.

Dan akhirnya, Elena bisa menegakkan tubuhnya. Berusaha menata kembali jiwa yang hampir runtuh.

Meski begitu, Meix masih terus menatapnya. Seakan ingin mempertimbangkan sebuah langkah. Mencoba membaca raut wajah Elena. Berharap, wanita yang kini sah menjadi istrinya itu tidak sedang membual seperti wanita-wanita sebelumnya.

Meix meraih bantal di ranjang. Ia melemparnya tepat mengenaik wajah Elena.

"Kau tidur di sofa," ucapnya ketus.

Elena mengangguk pelan sembari memeluk bantal. Matanya yang sembab kini mulai berani menatap Meix.

"Ingat, Nona. Kau sudah berjanji akan menurut. Jika kau berani membual, akan kubuat hidupmu seperti neraka," ancam Meix.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Pengantin Pengganti Milioner Mandul   BAB 122 LURUHNYA LUKA DI DESA BERGDOF

    Meix menggandeng lembut lengan Elena, menuntunnya menjauh dari kerumunan staf. "Ayo, Sayang. Di sini terlalu berisik," bisiknya.Elena mendengus pelan. Sebelum benar-benar memutar tubuh, ia sempat melemparkan lirikkan sinis yang dingin ke arah Viviane yang masih bersimpuh meratapi nasibnya di atas lantai koridor. Tanpa sepatah kata pun lagi, Elena melangkah mantap bersama Meix menuju ruang kerja direktur yang kini telah resmi menjadi miliknya."Kau hebat, Elena. Kau sungguh berbeda dengan Elena yang kukenal dulu," puji Meix tulus, begitu pintu kayu ek ruang direktur tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menenangkan.Elena menatap manik mata suaminya. Mengikuti dorongan emosi yang membuncah, ia melangkah mendekat dan melingkarkan kedua tangannya di leher Meix dengan gerakan yang intim."Itu semua karena dirimu, Meix."Mata mereka saling mengunci, melempar senyuman hangat yang sarat akan kelegaan. Perlahan, Elena merasakan wajah Meix mendekat hingga jarak di antara mereka terkikis

  • Pengantin Pengganti Milioner Mandul   BAB 121 PELAJARAN SETIMPAL

    "Apa yang kau lakukan?!"Hardikan Meix menggema di seluruh penjuru ruangan seiring dengan gerakannya yang mendorong kasar bahu Camille agar menjauh dari Elena. Pria itu dengan sigap menangkup wajah Elena, menyentuh bekas hantaman yang mulai berdenyut di pipinya. "Kau tidak apa-apa, Sayang?"Elena hanya menggeleng samar, mengabaikan rasa perih di kulit wajahnya karena sepasang matanya kini terkunci rapat pada Camille yang berdiri beberapa langkah di depannya.Di hadapan Elena, Camille justru menyunggingkan senyuman miring penuh penghinaan. "Dia memang pantas menerima semua itu!" teriak wanita tua itu tanpa rasa bersalah. "Selama bertahun-tahun, aku bekerja keras untuk tetap berada di posisi ini. Tapi kau... seenaknya mengambil alih dengan mudah?"Elena menangkap pergerakan Meix dari sudut matanya yang hendak melangkah maju menghampiri Camille, namun ia segera mengulurkan tangan untuk menahannya. "Biar aku saja, Meix," ucap Elena, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan kete

  • Pengantin Pengganti Milioner Mandul   BAB 120 EKSEKUSI PEMBALASAN

    Di dalam keheningan kabin mobil yang tengah melaju membelah jalanan menuju gedung Vorontsof Group, Elena meraih ponselnya. Jemarinya bergerak lincah mencari satu nama, lalu menekan tombol panggil. Ia menghubungi Belinda, seorang karyawan tepercaya yang sengaja ia tempatkan di dalam perusahaan sebagai mata-mata untuk mengawasi pergerakan musuh-musuhnya.​"Halo, Belinda..." Elena bersuara. Ia tidak bisa menyembunyikan getaran tipis yang menyelinap dalam intonasinya begitu panggilan itu tersambung.​"Halo, Nona..." sahut suara Belinda di seberang sana, terdengar berbisik seolah sedang bersembunyi.​Elena memajukan posisi duduknya, menuntut kejelasan. "Kau sudah mendapatkan bukti yang aku perintahkan?"​"Sudah, Nona. Semua dokumennya sudah berada di tangan saya. Selama ini, Nona Viviane banyak sekali mengalirkan uang perusahaan ke rekening pribadinya. Beliau menggunakan dalih biaya perjalanan bisnis untuk menutupi semuanya."​Elena menyunggingkan senyum miring sembari melemparkan tatapan

  • Pengantin Pengganti Milioner Mandul   BAB 119 MEMBOHONGI DIRI SENDIRI

    Langkah kaki mereka akhirnya membawa Elena menyusuri koridor rumah sakit yang dingin, tempat Vladimir tengah dirawat. Elena berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu. Melalui kaca transparan kecil di sana, pandangannya langsung tertuju pada sesosok pria yang terkulai tak berdaya di atas ranjang putih. Tubuh yang biasanya tegak dan angkuh itu kini membeku, tidak bergerak sedikit pun. Hanya kelopak matanya yang tampak berkedip dengan ritme stabil.'Ayah... andai saja dulu kau mau mendengarku sedikit saja. Mungkin, kau tidak akan berakhir menyedihkan seperti ini,' batin Elena, berbisik perih di dalam kepalanya sendiri.Keheningan batin Elena terusik saat ia merasakan jemari Meix bergerak hangat, menggenggam tangannya erat. "Kalau kau mau, kau bisa masuk ke dalam dan bicara padanya," bisik pria itu tepat di sisi telinganya.Elena tidak langsung menyahut. Sepasang matanya masih terpaku pada sosok di dalam sana, sementara benaknya dipenuhi pertimbangan yang berkecamuk. Namun, rasa sakit y

  • Pengantin Pengganti Milioner Mandul   BAB 118 KABAR BURUK NAMUN MELEGAKAN

    Keesokan harinya, tepat saat Meix dan Elena bersiap melangkah keluar menuju mobil untuk bertolak ke gedung Vorontsof Group, getaran di saku jas menghentikan gerakan Meix. Ia merogoh ponselnya, menatap layar sekilas, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga."Halo, Jack. Kau sudah dapat petunjuknya?" tanya Meix tanpa basa-basi."Iya, Tuan," sahut suara Jack di seberang sana, terdengar mendesak. "Rupanya, Vladimir sudah mengetahui bahwa Nona Elena adalah benar anak kandungnya."Meix merasakan darahnya berdesir hebat. Kalimat pertama dari Jack sukses membuat ekspresi wajahnya mendadak pias. Secara refleks, Meix menoleh ke arah Elena yang berdiri di dekatnya. Ia menatap lekat-lekat wajah istrinya itu selama beberapa saat, mencoba mencerna kebenaran baru ini sebelum kembali bersuara ke ponselnya."Jadi... itu yang membuat sikap Vladimir tiba-tiba berubah?" gumam Meix, merendahkan intonasi suaranya."Benar, Tuan. Menurut informasi yang saya dapat, Vladimir juga baru saja terlibat perten

  • Pengantin Pengganti Milioner Mandul   BAB 117 KEKALAHAN TELAK

    Tanpa berpikir panjang lagi, Elena langsung menorehkan tanda tangannya di atas berkas pelimpahan saham tersebut, lalu menggeser map tebal itu kembali ke hadapan Vladimir."Elena... Maafkan, Ayah," bisik Vladimir lirih.Elena tertegun. Sepasang matanya sedikit melebar menatap pria tua di hadapannya. 'Maaf?' batinnya bersuara, sarat akan rasa tidak percaya.Pikiran Elena mendadak ditarik mundur ke masa kecilnya yang dingin. Jangankan kata maaf, Vladimir bahkan tidak pernah memperlakukannya layaknya seorang anak kandung. Pria itu selalu membanding-bandingkannya dengan Viviane, bahkan berkali-kali melontarkan kalimat kejam bahwa Elena bukanlah darah dagingnya sendiri."Selama ini Ayah sudah salah besar tentangmu. Ayah sangat menyesal telah mengabaikanmu selama ini." Vladimir menundukkan kepala dalam-dalam.Bahunya yang biasa tegak lurus penuh keangkuhan kini tampak merosot, seolah-olah ia sedang berusaha menyembunyikan gurat penyesalan di wajahnya.Elena mengepalkan jemari di bawah meja.

  • Pengantin Pengganti Milioner Mandul   BAB 103 MENCARI BARANG BUKTI

    Vladimir melihat video yang diputar di ponsel Elena. Dalam rekaman tersebut terlihat Viviane datang menemui seorang wartawan, lalu membagikan sebuah flashdisk sambil berkata—"Video ini harus viral. Buat judul yang besar. 'Meix mandul. Elena Vorontsov sengaja hamil dengan Kakak tirin

  • Pengantin Pengganti Milioner Mandul   BAB 99 ANAK SIAPA ITU?

    Di rumah sakit, Meix terlihat gusar. Pasalnya, sudah dua hari ia dirawat tapi sekalipun Elena tak pernah datang menjenguknya."Jack, apa Elena sangat sibuk?" tanyanya. Ia duduk di atas ranjang rumah sakit sambil memeluk lututnya, seperti anak kecil yang keh

  • Pengantin Pengganti Milioner Mandul   BAB 95 SINDIRAN TAJAM

    Tangan Emma bersilang dada, matanya memicing menatap Viviane sambil menyeringai dingin. "Kau? Kau masih punya harga diri datang ke pesta ini?"Viviane mengalihkan pandangan, tangannya yang gemetar meremas sisi gaunnya. "E-elena itu saudaraku..." sahutnya gugup."Perhatian semu

  • Pengantin Pengganti Milioner Mandul   BAB 93 ANCAMAN DALAM KELUARGA VORONTSOV

    Sore itu di Ravenhall Estate, Vladimir sedang menikmati secangkir teh hangat yang disajikan oleh Camille di ruang keluarga. Tiba-tiba suara rengekan Vivian terdengar, menggema dalam ruangan yang berlangit-langit tinggi itu."Kau jahat, Kak. Kenapa kau tidak membelaku di kantor?

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status