LOGINDi sebuah saung yang terletak di tepi sungai, Elena dan tim mengumpulkan seluruh warga desa Bergdorf untuk memulai sebuah penelitian.
Suara deburan air terjun yang turun dari gunung, menjadi latar pemandangan yang indah hari itu. Seindah suasana hati Elena, saat mendapat kesempatan bertemu lagi dengan para warga desa Bergdorf yang dicintainya.
"Selamat siang... Nyonya dan Tuan..." teriak Elena menyapa semua warga.
"Selamat siang, Nona Elena..." jawab seluruh warga s
Meix menggandeng lembut lengan Elena, menuntunnya menjauh dari kerumunan staf. "Ayo, Sayang. Di sini terlalu berisik," bisiknya.Elena mendengus pelan. Sebelum benar-benar memutar tubuh, ia sempat melemparkan lirikkan sinis yang dingin ke arah Viviane yang masih bersimpuh meratapi nasibnya di atas lantai koridor. Tanpa sepatah kata pun lagi, Elena melangkah mantap bersama Meix menuju ruang kerja direktur yang kini telah resmi menjadi miliknya."Kau hebat, Elena. Kau sungguh berbeda dengan Elena yang kukenal dulu," puji Meix tulus, begitu pintu kayu ek ruang direktur tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menenangkan.Elena menatap manik mata suaminya. Mengikuti dorongan emosi yang membuncah, ia melangkah mendekat dan melingkarkan kedua tangannya di leher Meix dengan gerakan yang intim."Itu semua karena dirimu, Meix."Mata mereka saling mengunci, melempar senyuman hangat yang sarat akan kelegaan. Perlahan, Elena merasakan wajah Meix mendekat hingga jarak di antara mereka terkikis
"Apa yang kau lakukan?!"Hardikan Meix menggema di seluruh penjuru ruangan seiring dengan gerakannya yang mendorong kasar bahu Camille agar menjauh dari Elena. Pria itu dengan sigap menangkup wajah Elena, menyentuh bekas hantaman yang mulai berdenyut di pipinya. "Kau tidak apa-apa, Sayang?"Elena hanya menggeleng samar, mengabaikan rasa perih di kulit wajahnya karena sepasang matanya kini terkunci rapat pada Camille yang berdiri beberapa langkah di depannya.Di hadapan Elena, Camille justru menyunggingkan senyuman miring penuh penghinaan. "Dia memang pantas menerima semua itu!" teriak wanita tua itu tanpa rasa bersalah. "Selama bertahun-tahun, aku bekerja keras untuk tetap berada di posisi ini. Tapi kau... seenaknya mengambil alih dengan mudah?"Elena menangkap pergerakan Meix dari sudut matanya yang hendak melangkah maju menghampiri Camille, namun ia segera mengulurkan tangan untuk menahannya. "Biar aku saja, Meix," ucap Elena, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan kete
Di dalam keheningan kabin mobil yang tengah melaju membelah jalanan menuju gedung Vorontsof Group, Elena meraih ponselnya. Jemarinya bergerak lincah mencari satu nama, lalu menekan tombol panggil. Ia menghubungi Belinda, seorang karyawan tepercaya yang sengaja ia tempatkan di dalam perusahaan sebagai mata-mata untuk mengawasi pergerakan musuh-musuhnya."Halo, Belinda..." Elena bersuara. Ia tidak bisa menyembunyikan getaran tipis yang menyelinap dalam intonasinya begitu panggilan itu tersambung."Halo, Nona..." sahut suara Belinda di seberang sana, terdengar berbisik seolah sedang bersembunyi.Elena memajukan posisi duduknya, menuntut kejelasan. "Kau sudah mendapatkan bukti yang aku perintahkan?""Sudah, Nona. Semua dokumennya sudah berada di tangan saya. Selama ini, Nona Viviane banyak sekali mengalirkan uang perusahaan ke rekening pribadinya. Beliau menggunakan dalih biaya perjalanan bisnis untuk menutupi semuanya."Elena menyunggingkan senyum miring sembari melemparkan tatapan
Langkah kaki mereka akhirnya membawa Elena menyusuri koridor rumah sakit yang dingin, tempat Vladimir tengah dirawat. Elena berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu. Melalui kaca transparan kecil di sana, pandangannya langsung tertuju pada sesosok pria yang terkulai tak berdaya di atas ranjang putih. Tubuh yang biasanya tegak dan angkuh itu kini membeku, tidak bergerak sedikit pun. Hanya kelopak matanya yang tampak berkedip dengan ritme stabil.'Ayah... andai saja dulu kau mau mendengarku sedikit saja. Mungkin, kau tidak akan berakhir menyedihkan seperti ini,' batin Elena, berbisik perih di dalam kepalanya sendiri.Keheningan batin Elena terusik saat ia merasakan jemari Meix bergerak hangat, menggenggam tangannya erat. "Kalau kau mau, kau bisa masuk ke dalam dan bicara padanya," bisik pria itu tepat di sisi telinganya.Elena tidak langsung menyahut. Sepasang matanya masih terpaku pada sosok di dalam sana, sementara benaknya dipenuhi pertimbangan yang berkecamuk. Namun, rasa sakit y
Keesokan harinya, tepat saat Meix dan Elena bersiap melangkah keluar menuju mobil untuk bertolak ke gedung Vorontsof Group, getaran di saku jas menghentikan gerakan Meix. Ia merogoh ponselnya, menatap layar sekilas, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga."Halo, Jack. Kau sudah dapat petunjuknya?" tanya Meix tanpa basa-basi."Iya, Tuan," sahut suara Jack di seberang sana, terdengar mendesak. "Rupanya, Vladimir sudah mengetahui bahwa Nona Elena adalah benar anak kandungnya."Meix merasakan darahnya berdesir hebat. Kalimat pertama dari Jack sukses membuat ekspresi wajahnya mendadak pias. Secara refleks, Meix menoleh ke arah Elena yang berdiri di dekatnya. Ia menatap lekat-lekat wajah istrinya itu selama beberapa saat, mencoba mencerna kebenaran baru ini sebelum kembali bersuara ke ponselnya."Jadi... itu yang membuat sikap Vladimir tiba-tiba berubah?" gumam Meix, merendahkan intonasi suaranya."Benar, Tuan. Menurut informasi yang saya dapat, Vladimir juga baru saja terlibat perten
Tanpa berpikir panjang lagi, Elena langsung menorehkan tanda tangannya di atas berkas pelimpahan saham tersebut, lalu menggeser map tebal itu kembali ke hadapan Vladimir."Elena... Maafkan, Ayah," bisik Vladimir lirih.Elena tertegun. Sepasang matanya sedikit melebar menatap pria tua di hadapannya. 'Maaf?' batinnya bersuara, sarat akan rasa tidak percaya.Pikiran Elena mendadak ditarik mundur ke masa kecilnya yang dingin. Jangankan kata maaf, Vladimir bahkan tidak pernah memperlakukannya layaknya seorang anak kandung. Pria itu selalu membanding-bandingkannya dengan Viviane, bahkan berkali-kali melontarkan kalimat kejam bahwa Elena bukanlah darah dagingnya sendiri."Selama ini Ayah sudah salah besar tentangmu. Ayah sangat menyesal telah mengabaikanmu selama ini." Vladimir menundukkan kepala dalam-dalam.Bahunya yang biasa tegak lurus penuh keangkuhan kini tampak merosot, seolah-olah ia sedang berusaha menyembunyikan gurat penyesalan di wajahnya.Elena mengepalkan jemari di bawah meja.
"Baiklah... Kalau begitu, kami memutuskan untuk setuju dan bekerja sama dengan proposal Elena," ucap salah satu perwakilan investor, memecah ketegangan di ruang rapat.Elena memperhatikan pria itu bangkit dan menghampiri Vladimir ke kursinya. "Aku akan menunggu kabar resmi masuknya Elena ke jajaran
"Tuan-Tuan investor, ini adalah rencana pembangunan yang saya tawarkan untuk desa Bergdof." Elena kembali menekan tombol kendali jarak jauh di tangannya, menampilkan visual arsitektur yang kontras dengan milik Viviane."Saya setuju jika fasilitas jalan diperbaiki, karena infrastruktur yang mumpuni
Pagi itu, rasa bersalah dan dinding pembatas yang sempat membentang di antara mereka seolah runtuh tanpa sisa. Elena memejamkan mata, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam dekapan hangat Meix. Dua minggu setelah kuretase, semalam adalah kali pertama bercak pendarahannya benar-benar berhenti.Ketika
Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, Meix akhirnya menginjakkan kaki di tanah desa Bergdof. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap siluet yang amat ia kenali di halaman rumah. Elena sedang berdiri di dekat aliran sungai. Di bawah langit malam yang bertabur bintang dan lengkunga







