Share

2 - Evelyn Rose

Penulis: Paus
last update Terakhir Diperbarui: 2025-06-24 06:31:35

Gabriel menyipitkan mata melihat lembar demi lembar yang ada di tangannya. Berisi informasi beberapa orang. Dari lembaran-lembaran tersebut, matanya menyipit ketika melihat salah satu lembar yang paling menarik perhatiannya.

Gabriel meletakkan sisa lembar lainnya di atas meja dan hanya memegang satu lembar yang menarik perhatiannya itu. Matanya menyipit dan dirinya menarik sebuah foto yang dijepit di salah satu sudut bagian atas lembaran tersebut.

Foto itu memperlihatkan seorang perempuan. Sedang bersama beberapa anak kecil. Meski foto itu diambil dengan posisi perempuan tersebut sedang menyamping, tapi Gabriel langsung menyimpulkan betapa cantik dan menariknya wajah itu di matanya.

Bibirnya melengkungkan senyum dan Gabriel meletakkan foto itu di atas meja. Mulai membaca informasi pada selembar kertas yang dipegang olehnya. Tidak banyak yang tertera di sana. Hanya ada nama, alamat rumah, tempat kerja, dan beberapa hal lainnya.

"Bagaimana dengan wanita ini?" Gabriel bertanya pada William yang berdiri tegap di seberang mejanya. Pria itu menunggunya bereaksi sejak tadi.

Sontak saja William langsung bergerak mendekat ke arah meja atasannya. Agar dirinya bisa melihat dengan lebih baik siapa yang dimaksud oleh atasannya itu. Dan setelah melihat fotonya, William langsung menganggukan kepala.

"Wanita itu bernama Evelyn Rose," kata William seperti memperkenalkan seseorang dan Gabriel pun langsung memutar matanya malas.

"Dasar bodoh! Aku tahu itu. Informasi bodoh itu jelas tertera di lembaran ini. Yang aku butuhkan adalah informasi penting lainnya, William!" Dia berujar geram.

"Oh, maaf, Pak." William langsung menundukkan kepalanya.

"Sebenarnya saya mengetahui wanita itu secara kebetulan. Beberapa wanita yang ada di lembaran lainnya, saya mendapatkan informasi mereka dari beberapa orang. Tapi wanita itu, dia kebetulan seorang guru di sekolah anak saya."

Gabriel langsung manggut-manggut mengerti. Dirinya meraih kembali foto dari perempuan bernama Evelyn Rose tersebut. Bisa mengetahuinya bahwa dia adalah seorang guru dari foto yang ada di gambar itu. Sepertinya anak-anak yang ikut terjepret adalah mereka yang diajar olehnya.

"Satu minggu lalu saat saya mengantarkan anak saya pergi ke sekolahnya, saya tidak sengaja berpapasan dengan wanita itu. Sebelumnya saya tidak terlalu memperhatikannya, tapi saat itu saya berpikir mungkin dia cocok dengan kriteria Anda, jadi saya mulai mencari tahu."

William kemudian mengangkat tablet yang sedang dipegangnya di tangan kiri. Membawanya ke depan tubuh. William menyalakan tablet tersebut dan beberapa informasi pun mulai terlihat di sana.

"Wanita itu hanya tinggal berdua dengan ibunya di sebuah apartemen yang tidak terlalu besar. Itu pun dia jarang pulang ke sana karena jaraknya terlalu jauh dari tempatnya bekerja."

"Lalu sekarang dia tinggal di mana?" Gabriel bertanya dengan dahi berkerut. Penasaran.

"Dia tinggal bersama temannya yang juga merupakan guru di sana. Mereka menyewa apartemen dengan pembagian pembayaran. Ayahnya sudah meninggal, tapi bahkan setelah kematiannya, dia menyisakan banyak sekali kesulitan untuk wanita itu."

"Setelah saya mengikutinya beberapa hari belakangan, ternyata dia terlibat beberapa masalah dengan penagih hutang. Dia juga berusaha mencari pekerjaan sampingan untuk menambah pemasukannya, tapi sepertinya belum menemukannya. Ditambah lagi, ternyata ibunya itu hanya memanfaatkannya. Dia sering meminta uang kepada Evelyn. Tidak peduli meski putrinya hanya bekerja sebagai guru, dia terus-terusan meminta uang."

"Bagaimana dengan kepribadiannya?" Gabriel bertanya lebih jauh.

"Sejauh saya menyekolahkan anak saya di sana, saya cenderung tidak terlalu terlibat, tapi dia jelas merupakan perempuan yang hangat dan lembut. Anak saya sering membicarakannya. Mereka memanggilnya Bu Eve. Dan Selama saya mengawasinya, saya tidak menemukan sesuatu yang aneh. Dia cenderung sopan dan ramah kepada tetangganya. Tipikal perempuan yang mau membantu seseorang di penyeberangan jalan."

"Pas sekali." Gabriel menjentikkan jarinya. Wanita itu menjadi kandidat yang sangat cocok sebagai pengantin pengganti untuknya. Lemah, membutuhkan sesuatu, dan tidak terlibat masalah–kecuali dengan penagih hutang itu. Hanya perlu memastikannya secara langsung dan dirinya mungkin akan menjadikannya pengantin pengganti.

"Ah, ya. Satu lagi." William kembali berbicara dan Gabriel pun menatapnya. "Kebetulan dia belum menikah dan tidak sedang menjalin hubungan dengan siapa pun."

"Bagus." Gabriel tertawa puas. Kalau begitu kita bisa mendatanginya hari ini juga. Jam berapa anakmu pulang?"

"Hari ini, Pak? Apa Anda yakin? Anda memiliki rapat dengan pemegang saham."

"Kalau begitu batalkan saja. Apa susahnya? Atau kau mungkin bisa menggantikanku mengisi rapat itu. Beri tahu saja jam berapa anakmu pulang, aku yang akan menjemputnya. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan mengantarkannya ke rumah dengan aman."

"Tapi dia sudah punya sopir sendiri, Pak."

"Tinggal telepon sopirmu itu dan katakan untuk tidak menjemputnya hari ini."

Gabriel berdiri dari posisi duduknya dan langsung meraih jasnya yang ada di belakang kursi. Dia memakainya tanpa memasang kancingnya.

"Jadi?" Gabriel bertanya.

William pun hanya mengembuskan napas. Atasannya yang selalu seenaknya itu kadang memang kerap membuatnya pusing. Tapi dirinya langsung melirik jam tangan di pergelangan kirinya.

"Tidak sampai 1 jam lagi adalah jam bubarannya," kata William akhirnya.

"Oke. Kalau begitu aku akan berangkat sekarang. Aku serahkan sisanya kepadamu." Gabriel berjalan sambil menyambar kunci mobil dan ponselnya di atas meja, lalu melenggang pergi dengan santainya.

***

Saat melihat puluhan anak-anak keluar dari satu gedung yang sama, dengan wajah ceria mereka, Gabriel hanya sampai pada satu kesimpulan yang sama. Ternyata dirinya memang tidak menyukai anak kecil.

Mereka merepotkan, berisik, keras kepala, dan sok polos. Kadang saat melihat beberapa dari mereka jauh lebih nakal dari kebanyakan, Gabriel merasa ingin mencekik mereka.

Tapi di sanalah dirinya berdiri. Bersama beberapa orang yang sudah menunggu anak-anak mereka. Saat pintu gerbang dibuka, beberapa anak langsung berlari lebih cepat untuk menyambut pelukan ibu atau ayah mereka. Tapi Gabriel hanya diam. Memperhatikan setiap anak yang ada di sana.

Matanya menyipit ketika melihat seorang anak laki-laki dengan tubuh gempal. Bulat sekali. "Bukankah dia akan menggelinding kalau berjalan terburu-buru?" Gabriel meringis ngeri dan beralih pada anak laki-laki lain yang sedang menarik kepangan seorang anak perempuan.

"Ah, apakah aku harus memotong tangannya?" Dia mendesis sambil menggaruk dagunya.

Beralih lagi ke arah lain, Gabriel menemukan satu anak yang terus berbicara dengan temannya. "Yang satu itu mulutnya benar-benar harus disumpal." Dia memutuskan semua hal seolah-olah mereka adalah anaknya.

Sampai kemudian tatapannya jatuh pada seseorang yang baru keluar dari dalam gedung. Seorang wanita yang menjadi tujuannya datang ke sana. Wanita itu melambaikan tangan pada anak-anak dan semua anak-anak langsung memutar tubuh untuk balas melambai.

Wanita itu memberi pesan hati-hati dan semua anak mengiyakan dengan sangat patuh. Bahkan ada beberapa orang tua yang menyapa dan berpamitan dengan ramah.

Bibir itu pun tersenyum ketika melihat wanita itu mulai menuruni anak tangga dan berjalan ke arah halaman. Lebih tepatnya ke arah gerbang. Dia berbicara dengan beberapa anak yang masih menunggu orang tuanya. Sampai tangannya mengusap seorang anak perempuan yang sedang menatap Gabriel.

"Emilia!" Gabriel melambaikan tangannya dan anak itu langsung bergerak menghampirinya. Diikuti Evelyn Rose yang melangkah di belakang anak itu.

Anak William yang dipanggil Emilia oleh Gabriel langsung memeluk salah satu kaki Gabriel. Hal itu membuat Evelyn menyipitkan mata.

"Maaf, tapi saya pikir Anda bukan wali dari Emi. Anda juga bukan sopir pribadinya." Bicaranya halus dan lembut sekali. Memperlihatkan dengan baik tentang pekerjaannya sebagai guru anak-anak.

"Ah, kebetulan saya mengenal ayahnya. Dia adalah asisten pribadi saya. Benarkan, Emilia?" Gabriel bertanya kepada Emilia dan anak itu menganggukkan kepalanya cepat dengan senyum lebar.

Tapi Evelyn malah semakin bingung. Gabriel menyebutkan bahwa ayah Emilia adalah asisten pribadinya, tapi bagaimana itu mungkin? Kenapa seorang atasan mau menjemput anak dari asisten pribadinya? Itu konyol sekali.

Evelyn merasa itu adalah hal yang aneh, tapi dirinya tidak ingin terlalu memikirkannya, jadi dirinya hanya tersenyum. "Baiklah, kalau begitu saya permisi." Dia sedikit membungkuk kepada Emilia dan melambaikan tangan pada anak itu. Tapi sebelum Evelyn berbalik, Gabriel menahannya.

"Sebentar. Saya perlu memberimu sesuatu." Dia berkata sambil merogoh sesuatu dari saku belakangnya. Dompet. Gabriel menyerahkan kartu namanya kepada Evelyn.

"Terimalah. Bukankah kau belakangan mencari pekerjaan lain agar bisa menutupi hutang-hutang ayahmu itu? Atau bisa menutupi kemauan ibumu yang terus-terusan meminta uang?" Di akhir kalimatnya Gabriel menyeringai lebar dan Evelyn langsung membulatkan mata.

Karena Evelyn sama sekali tidak bergerak, Gabriel akhirnya memasukkan sendiri kartu namanya itu ke dalam saku celana Evelyn yang berada di samping tubuhnya. Tidak peduli meski itu terlihat tidak sopan.

"Kalau begitu permisi. Temui aku langsung saat kau sudah memutuskannya." Gabriel beralih pada Emilia. "Ayo!" Dia mengulurkan satu tangannya dan anak itu langsung meraihnya. Sudah akrab sekali.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Tuan Gabriel   53 - Pindah Kamar

    Saat memasuki kamar Gabriel, Evelyn menyimpulkan satu hal. Bahwa pria itu adalah orang yang sangat rapi dan detail. Sejak menikah, itu adalah pertama kalinya Evelyn memasuki kamar Gabriel. Sampai sejauh itu."Kau bisa mengambil pakaianmu untuk malam ini saja. Sisanya aku akan meminta pelayan merapikannya untukmu besok. Aku akan mandi lebih dulu," kata Gabriel bergerak ke arah meja yang ada di kamarnya. Dia meletakkan ponsel serta kunci mobilnya di sana. Di sebuah tempat berbentuk kotak untuk kunci mobil."Baiklah," katanya Evelyn menganggukkan kepalanya pelan. Saat Gabriel masuk ke kamar mandi, Evelyn meletakkan jas serta tas kerja Gabriel yang dipegang olehnya di atas ranjang. Setelahnya dirinya kembali keluar untuk pergi ke kamarnya. Hanya mengambil satu setel pakaian untuk malam itu dan dia kembali menuju kamar Gabriel.Ketika menutup pintu kamarnya, Evelyn mendengar suara langkah kaki di belakang tubuhnya. Membuatnya langsung menoleh. Evelyn mendapati salah satu pelayan di sana.

  • Pengantin Pengganti Tuan Gabriel   52 - Semua Untuk Evelyn

    "Kali ini kau tidak tertidur." Gabriel berbicara. Menyindir Evelyn yang masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Sejak siang tadi gadis itu terus terjaga dan anteng sekali duduk di sana.Kadang main ponsel, kadang saat dia Bosan, dia memilih berkeliling di ruangan Gabriel, kadang juga Hanya duduk memainkan kakinya. Seperti anak kecil."Itu karena aku khawatir kau harus menggendongku ke bawah kalau aku tertidur," sahut Evelyn akhirnya."Sebenarnya tidak masalah. Tubuhmu tidak seberat itu.""Tapi aku malu. Aku yakin ada beberapa orang yang belum pulang setiap kali aku pulang dalam keadaan digendong olehmu. Mereka pasti memperhatikanku. Kalau terus-terusan seperti itu, mau ditaruh di mana wajahku?""Bukankah itu jadi terlihat kita sangat harmonis? Semua orang pasti iri dengan hubungan kita.""Berhentilah." Evelyn berdiri dari posisi duduknya. "Daripada membicarakan itu, apa pekerjaanmu sudah selesai?" Dia bertanya bersemangat. Tidak sabar ingin pulang."Katakan saja kalau kau bosa

  • Pengantin Pengganti Tuan Gabriel   51 - Penerimaan

    "Ibuku bilang dia melahirkanku hanya sebagai alat. Katanya itu adalah kewajibanku untuk mengurusnya setelah aku besar dan bisa mencari uang sendiri." Evelyn bertanya berbicara dengan senyum tipis di bibirnya. Menyayat hati Gabriel."Aku sudah berusaha keras selama ini. Aku tidak pernah membeli barang yang kuinginkan, aku tidak pernah pergi berlibur, aku juga tidak pernah pergi bersenang-senang bersama teman-temanku. Karena aku tidak memiliki uang."Evelyn menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak ingat kapan terakhir kali jadinya bercerita. Saat menyadarinya, itu tidak pernah terjadi. Karena dirinya tidak mau membuat orang lain kesulitan, kepikiran dengan masalah yang dihadapi olehnya dan akhirnya merasa kasihan.Tapi Gabriel. Perlakuan pria itu kepadanya selama ini. Itu membuatnya merasa memiliki tempat pulang paling nyaman. Itu membuatnya merasa memiliki seseorang yang paling bisa diandalkan, sesuatu yang tidak pernah dimilikinya selama ini."Aku sudah mengurus diriku sendiri sejak s

  • Pengantin Pengganti Tuan Gabriel   50 - Tempat Pulang yang Diharapkan

    "Apa kau tidak menyesal karena sudah menikah denganku?"Saat pertanyaan itu meluncur, Gabriel tahu bahwa memang ada yang tidak beres. Evelyn tiba-tiba datang tanpa alasan apa pun. Dia tidak membawa makan siangnya dan muncul dengan keadaan berantakan."Kenapa kau membicarakan hal yang aneh?" Gabriel mengangkat kedua tangannya dan mengusap basah pada pipi Evelyn. "Soal kesepakatan itu—"Sontak saja Evelyn langsung menundukkan kepalanya lagi. Dia menyambar tangan Gabriel yang sedang mengusap pipinya. Membuat ucapan Gabriel terhentiYa, soal kesepakatan. Evelyn lupa dengan hal itu. Entah pertanyaan bodoh apa yang sedang dirinya tanyakan kepada Gabriel. Seolah-olah pria itu memiliki hal lain saja. Tentu saja semuanya karena kesepakatan yang disetujui olehnya sejak awal.Pria itu mungkin tidak menyesal karena dia juga mendapatkan keuntungan dari kesepakatan pernikahan itu. Evelyn mengerti. Tapi kedatangannya kali ini seakan meminta hal lebih dari Gabriel. Atas semua hal buruk yang sudah dit

  • Pengantin Pengganti Tuan Gabriel   49 - Meminta Pelukan

    "Apa Gabriel yang ada di ruangannya?" Seperti biasa, setiap kali Evelyn datang ke kantor Gabriel, dia memastikan keberadaan suaminya itu terlebih dahulu kepada petugas resepsionis sebelum memutuskan untuk naik atau tidak."Oh, ada. Kebetulan beliau baru saja kembali dari rapat di luar. Anda bisa langsung menemuinya di ruangannya." Si petugas resepsionis itu menjawabnya dengan ramah.Evelyn langsung menganggukan kepala. "Terima kasih. Kalau begitu aku langsung pergi ke sana. Jangan lupa dengan makan siangmu. Ini sudah hampir waktunya makan siang, 'kan?" Dia memberikan perhatian di akhir dan si petugas resepsionis itu hanya tersenyum sambil menganggukan kepala.Ada yang aneh saat itu dengan istri atasannya. Itulah isi kepala si petugas resepsionis. Tapi dia tidak mengatakannya. Hanya diam-diam memperhatikan.Petugas resepsionis tahu bahwa mungkin ada sesuatu yang buruk baru saja terjadi pada istri dari atasannya itu, karena dirinya bisa melihat kedua mata Evelyn yang agak bengkak. Seper

  • Pengantin Pengganti Tuan Gabriel   48 - Rasa Muak yang Terpendam

    "Bu, bisakah kau berhenti saja?" Evelyn bertanya kepada ibunya. Sambil terus mengusapi air matanya yang malah turun semakin banyak."Berhenti bagaimana maksudmu? Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan ini?" Ibunya itu balik bertanya seolah-olah tidak mengerti.Semuanya. Demi Tuhan Evelyn hanya menginginkan agar semuanya berhenti. Wanita itu memperlakukannya dengan sangat buruk selama ini dan sekarang dia bahkan dengan terang-terangan mengatakan bahwa alasan kelahirannya hanyalah dimaksudkan sebagai mesin ATM, sebagai pengasuh, sebagai seseorang yang bisa memenuhi kebutuhan ibunya itu setelah dirinya bisa mencari uang sendiri.Jadi setelah banyaknya hal yang dilalui oleh ibunya setelah melahirkannya, wanita itu menginginkan balasan sebagai bayarannya. Mungkin sesuatu yang harus dilakukannya agar dia bisa hidup sejahtera sampai tua. Dia tidak perlu bekerja, karena dia memiliki seorang anak yang wajib mengurusnya.Evelyn tahu hal itu tanpa ibunya mengatakannya dengan lantang. Meski tid

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status