LOGINUdara di dalam ruang kerja Zavian terasa semakin tipis setelah Grace memutus panggilan telepon secara sepihak. Alice masih mematung, tubuhnya gemetar dalam dekapan Evan. Pengakuan Grace tentang pengorbanan Elino demi Grizelle telah menghancurkan benteng pertahanan terakhir di hati Alice.
Evan tidak bisa membiarkan kekacauan ini berlanjut lebih lama. Ia melepaskan pelukannya perlahan, lalu menoleh ke arah Rico yang masih berdiri siaga di dekat pintu.
"Panggil Leo dan Markus sekar
Suasana di dalam kamar Evan dan Alice membeku setelah pesan suara Grace berhenti berputar. Alice menatap ponsel di tangan Evan seolah benda itu adalah bom yang baru saja meledak. Namun, sebelum kecurigaan itu tumbuh menjadi perdebatan baru, suara deru mobil SUV yang memasuki halaman depan memecah keheningan.Cahaya lampu rotator polisi yang berwarna biru kemerahan memantul di jendela kamar, menyelinap di sela-sela gorden."Itu polisi," ujar Evan. Ia segera mematikan ponselnya dan menggenggam tangan Alice. "Ayo turun. Leo dan Markus sudah kembali."Di lantai bawah, Zavian sudah berdiri di pintu utama. Leo dan Markus melangkah masuk dengan napas yang masih sedikit memburu. Pakaian mereka tampak sedikit berantakan, tanda bahwa mereka baru saja menyelesaikan tugas berat."Lapor, Tuan Muda. Danu sudah kami serahkan ke sel isolasi pusat. Berita acara sudah ditandatangani," ujar Leo dengan sikap tegap."Bagus. Lalu bagaimana dengan pihak kepolisian?" tany
Keheningan di kediaman Nathaniel terasa mencekam. Seluruh lampu taman dimatikan, digantikan oleh lampu sorot sensor gerak yang siap menangkap pergerakan sekecil apa pun. Di ruang tengah, Zavian, Evan, dan Alice menunggu dalam siaga tinggi.Tiba-tiba, suara alarm di gerbang samping berbunyi singkat. Layar monitor menunjukkan sesosok wanita berjalan dengan tenang di jalur utama menuju pintu depan. Dia sendirian. Dia tidak membawa senjata, tidak membawa pasukan."Dia gila. Dia benar-benar datang sendirian," desis Evan sambil menggenggam pistolnya erat."Jangan terkecoh, Evan. Itu taktiknya," sahut Zavian.Pintu besar jati itu diketuk pelan. Tiga kali ketukan yang sangat teratur. Zavian memberi isyarat kepada tim keamanan untuk tetap di posisi, sementara ia dan Evan mendekat ke pintu.Saat pintu dibuka, lampu teras menyala otomatis. Di sana berdiri seorang wanita yang membuat napas Zavian tercekat. Rambutnya digerai, mengenakan gaun putih yang tampak u
Evan tidak ingin membiarkan drama ini berlarut-larut sementara pengkhianat masih berada di area rumahnya. Ia menoleh ke arah Rico yang berdiri di dekat pintu."Rico, panggil Leo dan Markus sekarang!" perintah Evan dengan nada dingin yang tidak bisa dibantah.Tak butuh waktu lama, dua pria bertubuh tegap dengan seragam pengawal hitam masuk ke dalam ruangan. Leo dan Markus adalah tim taktis kepercayaan Evan yang jarang ia keluarkan kecuali dalam keadaan darurat."Bawa Danu keluar dari gudang itu," perintah Evan sambil menunjuk ke arah luar. "Seret dia. Aku tidak peduli jika dia harus merangkak."Leo dan Markus mengangguk sigap. Mereka melangkah menuju gudang perkakas tempat Danu masih diikat. Tak lama kemudian, terdengar suara geraman dan benturan fisik. Danu mencoba melawan, namun tenaga Leo dan Markus jauh di atasnya. Mereka menyeret Danu melewati koridor rumah yang mewah, meninggalkan jejak tanah dan keringat di atas karpet mahal."Lepaskan aku! K
Udara di dalam ruang kerja Zavian terasa semakin tipis setelah Grace memutus panggilan telepon secara sepihak. Alice masih mematung, tubuhnya gemetar dalam dekapan Evan. Pengakuan Grace tentang pengorbanan Elino demi Grizelle telah menghancurkan benteng pertahanan terakhir di hati Alice.Evan tidak bisa membiarkan kekacauan ini berlanjut lebih lama. Ia melepaskan pelukannya perlahan, lalu menoleh ke arah Rico yang masih berdiri siaga di dekat pintu."Panggil Leo dan Markus sekarang!" perintah Evan. Suaranya dingin dan tajam, tanpa ada ruang untuk perdebatan."Baik, Tuan Muda," jawab Rico. Ia menekan tombol pada interkom di pergelangan tangannya.Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, dua pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam taktis masuk ke dalam ruangan. Leo dan Markus adalah pengawal elit yang hanya dikerahkan untuk urusan paling mendesak."Bawa Danu ke ruang interogasi bawah tanah sekarang. Pastikan tidak ada satu pun alat komunikasi ya
Napas Danu tersengal, namun seringai di wajahnya justru semakin lebar. Di bawah sorot lampu senter yang tajam, matanya memancarkan kegilaan yang dingin. Zavian semakin mempererat cengkeramannya pada leher pengawal yang telah mengkhianatinya itu."Grace?" Zavian mendesis, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan. "Grace masih di penjara. Bagaimana mungkin dia bisa menyuruhmu?"Danu tertawa serak, suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar seperti gesekan logam. "Kau pikir jeruji besi bisa menghentikan seorang Nathaniel? Dia mungkin punya wajah yang sama dengan istrimu yang sudah mati, Grizelle. Tapi otaknya... otaknya jauh lebih licik dari siapa pun di rumah ini."Zavian menghempaskan tubuh Danu ke lantai gudang dengan kasar. Pelayan wanita yang tadi bersamanya sudah meringkuk di sudut, menangis ketakutan. Zavian tidak mempedulikannya; fokusnya hanya pada pengkhianat di depannya."Katakan padaku," perintah Zavian. "Apa yang dia janjikan padamu? D
Zavian menatap nota bank di tangan Alice. Kertas kecil itu tampak sepele, namun di bawah lampu ruang tengah yang temaram, benda itu berubah menjadi senjata yang mematikan. Zavian bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang. Ia teringat pengakuan ibunya, Lavina, beberapa jam lalu. Uang itu memang ada, tapi tujuannya bukan seperti yang dituduhkan."Alice, letakkan kertas itu. Mari kita bicara dengan kepala dingin," ujar Zavian. Suaranya diusahakan tetap stabil, meski otaknya bekerja keras menyusun kata-kata yang tidak akan menyudutkan ibunya."Bagaimana aku bisa tenang, Pa?" Alice berdiri, tangannya yang memegang nota itu gemetar hebat. "Angka ini... ini bukan uang kecil. Kenapa Papa mengirimkan uang sebanyak ini kepada wanita yang sudah mengunci pintu kamar orang tuaku? Apa ini uang tutup mulut?!"Zavian menarik napas panjang. Ia berdiri perlahan, mencoba memperkecil jarak dengan Alice tanpa membuatnya merasa terintimidasi."Kau harus tah







