LOGINAlice dan Lily masih terduduk di bangku panjang koridor rumah sakit yang dingin. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidung, menambah suasana mencekam di lantai VVIP itu.
Sementara itu, Lavina yang sempat menangkap bisikan Rico kepada Zavian segera berdiri. Wajahnya yang semula penuh kesedihan berubah menjadi tegang. Ia menarik lengan jas Zavian, membawanya sedikit menjauh dari jangkauan pendengaran Alice.
"Zavian, kau dengar sendiri apa yang Rico katakan. Kau yakin akan per
Evan berdiri mematung mendengar laporan Rico. Kepalanya yang sudah pening karena kurang tidur terasa seperti dihantam palu. Ia menatap ke arah pintu kamar VIP tempat Alice baru saja dipindahkan, lalu beralih menatap ayahnya yang tampak geram."Di mana dia sekarang?" tanya Evan, suaranya terdengar tajam."Dia menghilang dari ruang observasi kebidanan lantai tiga, Tuan Muda. Dia baru saja dipindahkan dari kantor polisi ke sini karena mengeluh sakit perut," jawab Rico cepat. "Pesan di dinding kamar mandi itu ditulis menggunakan darah dari tangannya yang sengaja disayat. Isinya singkat: 'Menikahlah denganku atau aku mati bersama anakmu'."Evan tidak menunggu instruksi lagi. Ia berlari keluar dari kamar rawat Alice, mengabaikan teriakan Lavina. Ia tahu Selena memeriksakan diri di rumah sakit yang sama karena ini adalah rumah sakit rujukan terbaik untuk kasus kehamilan berisiko tinggi.Ia menuju toilet di lantai tiga, tempat pesan itu berada. Garis polisi sudah
Lobi kediaman Nathaniel berubah menjadi zona perang. Suara sepatu bot para pengawal beradu dengan lantai marmer saat mereka menyiapkan mobil dalam hitungan detik. Evan membopong Alice yang sudah lemas ke dalam kursi belakang SUV hitam. Noda darah di gaun tidur Alice terus melebar, meresap ke kemeja putih yang dikenakan Evan."Cepat jalan! Jangan berhenti untuk apa pun!" teriak Evan kepada sopir.Zavian duduk di depan, sementara Lavina dan Lily menyusul dengan mobil di belakang. Di dalam kabin mobil yang sempit, suasana terasa sangat mencekam. Alice menyandarkan kepalanya di dada Evan, napasnya pendek-pendek dan tidak beraturan."Tahan, Alice. Sebentar lagi kita sampai. Tolong, jangan tutup matamu," bisik Evan. Tangannya yang gemetar terus mengusap rambut Alice yang basah oleh keringat.Alice hanya mampu mengerang kecil. Setiap guncangan mobil membuatnya meringis kesakitan. "Sakit, Evan... sangat sakit."Zavian menoleh ke belakang, matanya yang taja
Suara deru mesin mobil Evan yang memasuki halaman terdengar hingga ke kamar lantai atas. Lavina segera bangkit dari sisi tempat tidur Alice. Ia melihat wajah Alice yang masih terpejam dengan sisa air mata di sudut matanya. Efek dari stres dan mual yang berlebihan membuat wanita itu jatuh pingsan ke dalam tidur yang tidak nyenyak."Lily, jaga dia. Jangan biarkan dia bangun dan turun ke bawah sebelum aku memintanya," bisik Lavina dengan nada otoriter."Baik, Nyonya Besar," jawab Lily patuh.Lavina melangkah keluar kamar dengan langkah yang mantap, tongkatnya mengetuk lantai marmer dengan irama yang menuntut jawaban. Di lantai bawah, Evan baru saja masuk dengan wajah yang sangat tegang, sementara Zavian sudah berdiri di tengah aula, tampaknya baru saja menerima laporan serupa dari tim keamanannya."Evan! Zavian! Ke ruang kerja sekarang!" seru Lavina dari balkon lantai dua.Evan mendongak, melihat kemarahan di wajah neneknya. Ia tahu kabar tentang Sele
Evan mencengkeram kemudi hingga kuku jarinya memutih. Matanya melotot menatap layar ponsel yang masih menyala di dasbor. Pesan dari pengacara Edwin belum selesai. Sebuah notifikasi kedua muncul, kali ini berupa dokumen PDF dan pesan teks yang lebih spesifik."Selena Smith dinyatakan positif hamil. Usia kandungan delapan minggu. Kami memiliki bukti medis valid bahwa janin tersebut adalah darah daging anda, Tuan Evan. Edwin Smith tidak akan membiarkan Alice menguasai seluruh aset Elino jika ada pewaris lain dari garis keturunan anda sendiri.""Brengsek!" Evan memukul kemudi dengan keras. Suara klakson panjang terdengar memekakkan telinga di bahu jalan yang sepi.Ia segera melakukan panggilan suara ke pengacara tersebut, namun nomornya langsung tidak aktif. Evan melempar ponselnya ke kursi penumpang. Wajahnya merah padam."Aku tidak mungkin sebodoh itu," desis Evan. Namun, keraguan mulai menyusup. Ia tahu Selena licik. Wanita itu bisa melakukan apa saj
"Nek, tunggu! Nenek salah paham!" Evan berseru sambil melepaskan tangannya dari mulut Alice. Ia segera mengangkat kedua tangannya ke udara, mencoba menunjukkan bahwa ia tidak berniat jahat.Namun, Lavina tidak peduli dengan penjelasan itu. Wajahnya yang biasanya anggun kini tampak seperti singa yang siap menerkam. Ia meletakkan nampan berisi bubur dan susu di atas meja nakas dengan dentuman keras, lalu tanpa peringatan, ia menyambar nampan plastik kosong yang ada di dekatnya."Apa yang kau lakukan pada istrimu yang sedang hamil, hah?!" teriak Lavina sambil memukulkan nampan itu ke bahu dan lengan Evan."Aduh! Nek, ampun! Aku tidak menyakitinya!" Evan mengaduh, ia mencoba menghindar namun Lavina terus mengejarnya di sekitar ranjang."Beraninya kau masuk ke kamarku dan membekapnya! Kau pikir kau siapa? Preman?!" Lavina kembali mengayunkan nampan, kali ini mengenai punggung Evan."Nek, sakit! Aku hanya ingin minta maaf dan pamit kerja!" seru Evan samb
Evan terdiam kaku. Tangan yang tadinya begitu aktif di bawah sana mendadak ditarik kembali. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya dengan kasar hingga bahunya naik-turun tak beraturan. Ucapan Alice tentang keselamatan janin mereka seolah menjadi tamparan keras yang menyadarkannya dari kabut gairah.Ia bergerak menjauh, lalu duduk di pinggir ranjang dengan membelakangi Alice. Punggungnya yang lebar tampak tegang, memperlihatkan otot-otot yang menonjol akibat hasrat yang tertahan di puncak.Alice perlahan duduk. Ia merapatkan kembali baju tidur satinya yang sempat tersingkap. Melihat punggung Evan yang diam membisu, hatinya merasa tidak enak. Ia tahu suaminya sedang berjuang melawan insting alaminya sendiri."Evan?" panggil Alice lembut. Ia mengulurkan tangan, mencoba menyentuh bahu suaminya. "Kau marah padaku?"Begitu ujung jari Alice menyentuh kulit punggungnya, Evan berjengit. Ia segera menepis tangan Alice dengan gerakan refleks yang cukup kasar.
Alice berusaha mengatur napasnya yang sesak. Ia menatap Evan dengan mata yang memerah, berharap setitik memori di kepala pria itu akan terbuka."Evan, aku tidak berbohong! Aku adalah gadis kecil itu. Kau sendiri yang melilitkan gelang ini di tanganku karena aku kedinginan!" teriak Alice, s
Evan menarik napas panjang, berusaha meredam gemuruh di dadanya. Ia membuka map cokelat yang baru saja direbutnya dari Selena. Matanya memindai barisan kalimat dan stempel basah di atas kertas tersebut."Ini surat aslinya," gumam Evan dengan suara tertahan. Namun, rahangnya justru semakin
Alice awalnya terdiam, tapi perlahan dia mengangguk kecil. "I-iya, Nek. Ini hanya sariawan biasa.""Sariawan tidak membuat bibir pecah dan berdarah seperti itu, Nak. Kemarin keningmu yang luka, sekarang bibirmu," Lavina menghela napas, jemarinya mengusap dagu Alice. "Nenek sudah hidup jauh
Alice terdiam mendengar tuduhan Evan yang baru saja keluar dari bibir yang terluka itu. Tangannya yang memegang kapas berlumuran antiseptik sedikit gemetar. Di dalam benaknya, Alice menjerit pelan. 'Karena kau adalah remaja laki-laki yang pernah menyelamatkan hidupku, Evan. Tapi kau terlalu buta







