Mag-log in"Maksudmu?"
Evan melangkah mendekat, mencengkeram bahu Naya dengan kuat hingga Naya memekik kecil. "Selena tidak kabur sendirian. Dia pergi dengan seseorang yang paling aku benci di dunia ini, dan mereka membawa rahasia besar perusahaan."
Naya menelan salivanya. "Lalu apa hubungannya denganku? Kontraknya sudah kutanda tangani."
Evan mendekatkan wajahnya ke telinga Naya, suaranya terdengar seperti bisikan iblis. "Hubungannya adalah... selama Selena belum ditemukan, kau tidak akan pernah diizinkan menginjakkan kaki di kampus itu."
Naya terbelalak. "Tapi kau janji...."
"Lupakan janjiku," potong Evan telak. "Karena mulai hari ini, kau bukan lagi pengantin pengganti, melainkan tawanan yang harus membayar semua pengkhianatan Selena padaku."
Evan melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh sedikit. "Dan satu lagi, jangan coba-kali menelepon siapa pun. Karena semua akses komunikasimu sudah aku putus total."
Brak!
Pintu dibanting keras dari luar, menyisakan Naya yang mematung dengan air mata yang mulai jatuh membasahi kontrak pernikahan di tangannya.
"Apa? Selena yang bersalah, tapi mengapa harus aku yang menanggung semuanya," gumamnya lirih.
*****
Gedung pencakar langit Nathaniel Group berdiri kokoh di pusat kota Manhattan, namun di dalam ruangan CEO, suasananya terasa seperti medan perang. Evan melangkah lebar menuju meja kerjanya, diikuti oleh Rico, asisten pribadinya yang tampak pucat sambil membawa tablet digital.
"Tunjukkan laporannya sekarang, Rico!" perintah Evan dengan suara menggelegar.
Rico segera menyalakan layar besar di dinding ruangan. "Tim audit baru saja mengonfirmasi, Tuan. Prototipe proyek Smart Green City yang akan kita luncurkan bulan depan telah didaftarkan hak patennya oleh perusahaan pesaing, PT Victory Dirgantara, atas nama Victor Kane."
Evan memukul meja kerjanya hingga barang-barang di atasnya bergetar. "Victor? Musuh bebuyutan Papa? Bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan proyek rahasia itu?"
"Rekaman CCTV menunjukkan Selena masuk ke ruang arsip digital anda tiga hari sebelum hari pernikahan, Tuan. Dia menggunakan kartu akses cadangan milik anda," jawab Rico pelan.
Pintu ruangan tiba-tiba terbanting terbuka. Zavian Nathaniel masuk dengan wajah merah padam. Ia langsung melempar tumpukan koran bisnis ke arah Evan.
"Lihat ini, Evan! Saham kita anjlok lima persen pagi ini karena rumor plagiasi proyek!" teriak Zavian. "Kau benar-benar bodoh! Bisa-bisanya kau memberikan akses sepenting itu pada wanita ular seperti Selena! Kau dibutakan oleh cinta, Evan!"
"Pa, aku pikir Selena benar-benar mencintaiku. Kami sudah tiga tahun bersama..."
"Cinta?!" Zavian tertawa sinis, suaranya memenuhi ruangan. "Dia hanya memanfaatmu, Evan! Dia tidur dengan Victor di belakangmu sambil mencuri aset berharga keluarga kita. Sekarang dia kabur bersama bajingan itu dan membawa rahasia perusahaan kita. Kau tahu apa artinya ini? Kerugian kita bisa mencapai triliunan!"
Evan terduduk lemas di kursi kebesarannya. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. "Aku akan mencarinya, Pa. Aku akan menyeretnya kembali."
"Cari dia sampai ke lubang semut sekalipun!" Zavian menudingkan telunjuknya ke wajah Evan. "Dan pastikan istri penggantimu itu tidak melakukan hal yang sama. Jika kau gagal lagi, aku sendiri yang akan mendepakmu dari kursi CEO ini!"
*****
Malam harinya, Evan tidak langsung pulang. Ia berada di sebuah bar eksklusif yang gelap dan berisik dengan dentuman musik keras. Botol-botol minuman keras kelas atas berjejer di depannya. Evan menuangkan wiski ke dalam gelasnya untuk yang kesepuluh kalinya.
"Tuan, cukup. Anda sudah terlalu mabuk," Rico mencoba meraih botol dari tangan bosnya.
"Diam, Rico! Biarkan aku minum," racau Evan dengan suara cadel. Mata tajamnya kini terlihat sayu dan merah.
Di sekelilingnya, suasana bar semakin panas. Dua wanita dengan pakaian yang sangat minim, hanya berupa atasan mirip bikini yang memamerkan belahan dada dan rok mini yang nyaris tidak menutupi apa-apa, mendekati sofa Evan.
"Hai, Tampan. Kenapa sendirian?" salah satu wanita berambut pirang duduk tepat di samping Evan, jemarinya yang berkuku panjang mulai membelai pundak Evan yang bidang.
"Kelihatannya kau butuh teman untuk menghangatkan malammu," bisik wanita satunya lagi sambil meniup telinga Evan. Ia mencondongkan tubuhnya hingga aroma parfum yang menyengat menusuk hidung Evan.
Evan tetap bergeming. Ia menatap kosong ke arah gelasnya. Di dalam kepalanya, hanya ada bayangan wajah lembut Selena yang selama ini ia puja. Ia teringat bagaimana Selena selalu bersikap manis, menyiapkan kopi, dan tersenyum tulus.
"Ternyata semua itu palsu," gumam Evan pelan.
"Apa yang palsu, Sayang? Sentuhanku ini asli," goda wanita pirang itu sambil mulai menggerakkan tangannya ke arah paha Evan.
"Pergi!" bentak Evan tiba-tiba, membuat kedua wanita itu tersentak kaget. Mereka langsung bangkit dan pergi dari Evan.
"Tuan, mari kita pulang," Rico segera berdiri menghalangi wanita-wanita itu sebelum Evan mengamuk lebih jauh
"Dia wanita ular, Rico... Dia mengkhianatiku," Evan mengigau sambil mencoba berdiri, tubuhnya terhuyung-huyung hampir jatuh sebelum ditangkap oleh Rico.
*****
Sementara itu, di kediaman Nathaniel, Naya baru saja selesai mandi. Ia mengenakan piyama satin sederhana sebatas lutut. Ia berdiri di depan meja rias, mengoleskan rangkaian skincare malam untuk menenangkan pikirannya yang kacau.
Saat hendak mengambil botol serum, lengan bajunya yang longgar tanpa sengaja menyenggol sebuah kotak kayu berukir yang terletak di sudut meja nakas dekat tempat tidur.
BRAK!
Kotak itu terjatuh dan tutupnya terbuka. Isinya berserakan di atas lantai marmer. Naya mematung. Jantungnya berdegup kencang. Ia teringat ancaman Evan tadi malam. 'Jangan pernah sentuh apapun di kamarku. Kalau kau berani menyentuh sedikit, maka nyawamu akan menghilang.'
"Mati aku... mati aku," monolog Naya dengan suara gemetar. "Kalau dia tahu aku menjatuhkan ini, dia mungkin akan membunuhku."
Dengan tangan yang sangat gemetar, Naya berlutut di lantai. Ia memunguti isi kotak itu satu per satu dengan gerakan cepat. Ada beberapa lembar foto lama yang sudah agak menguning, sebuah surat kecil yang dilipat rapi, dan sebuah benda kecil yang menarik perhatiannya.
Naya mengambil sebuah gelang yang terbuat dari jalinan benang merah dan hitam yang sudah tampak kusam. Di sampingnya, ada sebuah foto anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun yang sedang memegang piala.
Naya mengamati foto itu di bawah cahaya lampu tidur. Ia kemudian beralih melihat surat kecil yang tulisannya mulai memudar.
"Terima kasih sudah baik padaku. Gelang ini akan selalu kupakai, agar aku selalu ingat padamu."
Mata Naya terbelalak lebar. Ia merogoh laci meja rias tempat ia menyimpan dompetnya. Dari dalam dompet, ia mengeluarkan sebuah gelang benang yang bentuk dan warnanya identik dengan yang baru saja ia temukan di kotak kayu milik Evan.
Naya membandingkan kedua gelang itu. Ukurannya, simpulnya, bahkan jenis benangnya sama persis. Ia kemudian menatap foto anak laki-laki itu lagi, mencoba mengingat-ingat memori masa kecilnya yang sudah lama terkubur.
"Hah? Gelang dan foto ini..." suara Naya tertahan di tenggorokan. "Sama seperti milikku..."
Naya membeku saat mendengar suara pintu kamar terbuka dengan kasar dari luar. Ia menoleh ke arah pintu dan melihat Evan berdiri di sana dengan wajah berantakan dan napas bau alkohol.
Mata Evan yang merah langsung tertuju pada kotak kayu yang terbuka di lantai dan tangan Alice yang sedang memegang benda-benda rahasianya.
"Apa yang kau lakukan dengan barang-barangku?!" geram Evan, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya.
Naya mencoba menyembunyikan gelang di tangannya, namun Evan sudah lebih dulu melangkah maju dan mencengkeram pergelangan tangan Naya dengan kuat.
"Kau berani menyentuh ini? Kau benar-benar ingin mati, ya?!"
"Akh! Evan, sak-kit. Lepaskan..." Naya merintih merasakan sakit di pergelangan tangannya yang dicengkeram Evan.
"Sepertinya kau lupa akan perkataanku, Naya. Untuk tidak menyentuh barang milikk. Mati kau sekarang juga." Evan makin kuat mencengkram tangan Naya.
Naya menatap Evan dengan mata berkaca-kaca, ia merasakan sakit yang hebat akibat cengkraman Evan, namun ada satu pertanyaan yang tidak bisa ia tahan.
"Evan... siapa anak laki-laki di foto ini?"
Zavian duduk di kursi kayu di samping ranjang ibunya. Cahaya lampu kamar yang kuning redup membuat bayangan wajahnya terlihat lebih tajam dan lelah. Lavina masih menatapnya dengan pandangan menuntut, tangan tuanya tidak melepaskan cengkeraman pada lengan jas Zavian."Katakan, Zavian. Katakan yang sebenarnya sebelum jantungku berhenti berdetak karena sesak," desak Lavina dengan suara bergetar.Zavian menghela napas panjang, sebuah suara berat yang seolah membuang beban sepuluh tahun dari dadanya. Ia memajukan tubuhnya, berbisik sangat dekat dengan telinga ibunya."Memang benar, Ma. Banjir bandang itu memang terjadi secara alami. Lumpur itu nyata. Tapi Elino dan Shella... mereka seharusnya bisa keluar dari vila itu sebelum air mencapai atap," ujar Zavian lirih.Mata Lavina membelalak. "Jadi benar... pintu itu?""Pintu kamar utama mereka dikunci dari luar, Ma. Aku menemukannya saat aku menerjang masuk ke reruntuhan yang setengah terendam itu. Elino ti
Ruang tengah kediaman Nathaniel yang biasanya tenang mendadak pecah oleh suara pecahan keramik. Lily membeku melihat Lavina yang terkulai lemas di kursi rodanya. Wajah wanita tua itu memutih, napasnya yang tadi tersengal kini seolah menghilang."Nyonya! Nyonya Lavina! Bangun, Nyonya!" Lily berteriak sambil mengguncang bahu Lavina.Tidak ada respons. Mata Lavina terpejam rapat. Lily segera menekan tombol darurat di dinding yang terhubung ke pos penjagaan dalam."Tolong! Nyonya Besar pingsan! Cepat ke sini!" teriak Lily ke arah interkom.Dalam hitungan detik, dua pelayan pria dan seorang perawat pribadi berlari masuk. Mereka dengan cekatan mengangkat tubuh ringkih Lavina dari kursi roda dan membawanya menuju kamar utama di lantai bawah agar lebih cepat ditangani.Lily berdiri di tengah ruangan dengan tangan gemetar. Ia melirik layar televisi yang masih menyiarkan wajah Selena. Dengan cepat, ia menyambar gagang telepon kabel dan menekan nomor pribadi
Dengan enggan, Alice merebahkan tubuhnya. Evan membantu membuka jubah mandi Alice dengan sangat perlahan. Begitu kain itu tersingkap, Evan memejamkan mata sejenak, menahan sesak di dadanya. Ada memar kebiruan di pangkal paha Alice, bekas cengkeraman tangannya yang terlalu kuat. Bagian intim Alice juga tampak kemerahan dan sedikit bengkak."Ya Tuhan. Apa yang sudah kulakukan padamu," bisik Evan."Kau melampiaskan dendammu pada orang yang salah," sahut Alice lirih.Evan mulai mengompres bagian yang memar dengan air hangat menggunakan handuk kecil. Gerakannya sangat lembut, seolah ia sedang menyentuh porselen yang paling rapuh di dunia."Ngh... pelan-pelan," rintih Alice saat handuk itu menyentuh kulitnya."Iya, maaf. Ini akan membantu mengurangi bengkaknya," ujar Evan. Ia mengoleskan salep pereda nyeri dengan ujung jarinya, sangat perlahan.Suasana kamar menjadi sunyi, hanya terdengar suara napas mereka berdua. Evan melakukan tugasnya dengan p
Di tempat kerjanya, Rico bergerak seperti bayangan. Ia tiba di Rumah Sakit Medika, tempat yang disebut-sebut Selena sebagai tempat pemeriksaan kehamilannya. Rico mengenakan setelan jas hitamnya yang rapi, memberikan kesan intimidasi yang halus saat ia melangkah masuk ke ruangan Direktur Rumah Sakit."Saya dari firma hukum Nathaniel," kata Rico sambil meletakkan kartu namanya di atas meja. "Kami ingin melakukan verifikasi atas rekam medis pasien bernama Selena Pramudya yang diperiksa pagi ini oleh Dr. Hermawan."Direktur rumah sakit itu tampak pucat. "Maaf, Tuan Rico, rekam medis adalah rahasia pasien. Kami tidak bisa memberikannya tanpa izin."Rico tersenyum dingin. Ia mengeluarkan sebuah tablet dan menunjukkan foto Dr. Hermawan yang sedang menerima amplop tebal dari seorang pria suruhan Edwin di sebuah kafe sejam yang lalu."Atau kami bisa membawa polisi ke sini untuk menyelidiki kasus penyuapan dan pemalsuan dokumen publik?" ancam Rico. "Pilihannya ada
Evan berdiri di balkon vila dengan napas yang masih menderu pelan. Tangannya mencengkeram ponsel begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Di layar, pesan dari Rico tentang klaim kehamilan Selena masih terpampang jelas."Rico, dengar baik-baik," suara Evan rendah namun penuh penekanan. "Selidiki rumah sakit itu sekarang juga. Cari dokter yang menangani Selena, periksa rekam medisnya, dan cari tahu siapa yang membayarnya untuk mengeluarkan surat itu.""Baik, Tuan Muda. Tapi, apakah Anda akan pulang hari ini? Pesawat bisa siap dalam satu jam," jawab Rico dari seberang telepon."Tidak," potong Evan cepat. Matanya menatap tajam ke arah laut lepas yang mulai diterangi cahaya fajar. "Aku tidak akan membiarkan wanita itu merusak liburanku bersama Alice. Lakukan tugasmu, kirimkan bukti itu padaku secepatnya. Jangan ganggu aku sampai kau punya bukti otentik bahwa itu bohong."Evan mematikan ponsel dan melemparnya ke kursi pantai. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Zavian meremas gagang telepon di ruang kerjanya hingga buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam dokumen digital yang dikirimkan Rico melalui tablet di atas mejanya. Nama yang tertera di kolom wali cadangan itu tertulis dengan jelas: Selena Pramudya."Bagaimana bisa nama Selena ada di sana, Rico?!" bentak Zavian melalui sambungan telepon."Sepertinya Edwin sudah memalsukan tanda tangan Elino bertahun-tahun yang lalu, Tuan," suara Rico terdengar tegang. "Dia memindahkan hak perwalian cadangan kepada anaknya sendiri, Selena, sebagai rencana darurat jika keluarga inti mereka kehilangan akses langsung. Jika terjadi sesuatu pada Alice saat persalinan, Selena yang akan memegang kendali penuh atas dana abadi itu."Zavian mendengus kasar, ia melemparkan tabletnya ke atas meja sofa. "Edwin benar-benar ular. Dia sudah menyiapkan lubang sejak lama. Pantas saja dia tampak pasrah saat aku pulangkan, ternyata dia masih memegang kartu ini.""Apa kita perlu memanggil E







