LOGIN"Kau pikir kami buta dengan asal-usulmu, Elara?!"Suara menggelegar dari Lord Kenneth memecah keheningan Aula Dewan Kuno yang dingin. Pria paruh baya berjanggut tebal itu melangkah maju, menunjuk tepat ke arah wajah Elara dengan cincin emas klan yang berkilau angkuh.Di sekelilingnya, barisan aliansi politik yang licik dan haus kekuasaan tampak berdiri merapat, membentuk barikade intimidasi visual yang sengaja dirancang untuk meruntuhkan mental sang Duchess baru."Selama dua bulan ini kami diam karena menghormati masa berkabung," sambung Count Robert dengan senyum culas yang menyebalkan."Namun, bukti-bukti taktis tidak bisa dibohongi. Kau sengaja membiarkan suamimu membawa resimen terkecil ke Puncak Hitam tanpa bala bantuan, bukan? Kau sengaja mengirim Duke Valerius ke dalam perangkap sihir hitam Isolde agar kau, seorang wanita dari Selatan yang miskin, akhirnya bisa duduk manis dan berkuasa mutlak di atas takhta besi Drakenhoff ini!""Jaga bicaramu, Robert!" bentak Lyra dari balik p
"Minum ini selagi uapnya belum hilang, Lord Duke. Ini ramuan akar salju, bagus untuk mengeringkan luka dalam di dada Anda," ucap nenek tua itu sambil menyodorkan mangkuk tanah liat hitam yang panas.Sang nenek menghampiri Valerius yang sedang duduk bersandar pada tumpukan jerami kering, dengan perban kain rami melilit ketat di sekujur tubuhnya.Wajah kaku sang Duke penuh dengan luka kering yang mulai mengelupas, begitu pula dengan kedua belah tangannya yang biasa menggenggam pedang besi besar, kini dipenuhi guratan parut kemerahan akibat serpihan batu Puncak Hitam.Valerius menerima mangkuk itu dengan jemari yang masih sedikit kaku. "Terima kasih, Nek. Kebaikan desa ini tidak akan pernah kulupakan dalam draf hukum klan kami," ujarnya, lalu meneguk cairan pahit itu dalam sekali helaan napas tanpa mengernyitkan dahi.Valerius menyeka sisa ramuan di bibirnya, matanya yang sehitam arang beralih menatap jendela gubuk yang menampilkan siluet pegunungan batu wilayah tetangga.Kesadaran takti
"Tuan? Anda sudah bangun?"Suara serak seorang wanita tua memecah keheningan sebuah gubuk jerami yang hangat.Pria itu membuka matanya perlahan, menyesuaikan penglihatannya dengan pendar cahaya dari tungku api di sudut ruangan. Kelopak mata peraknya yang tajam berkedip kaku, membuat para orang tua di desa terpencil tersebut mengelar napas lega secara serentak ketika melihat mata Valerius akhirnya terbuka sepenuhnya.Mereka begitu lega karena setelah hampir dua bulan dalam keadaan kritis antara hidup dan mati, sang ksatria misterius akhirnya kembali dari ambang kegelapan.Valerius menoleh pelan dengan tangan gemetar, merasakan seluruh persendiannya laksana terkunci oleh es abadi. "Elara..." bisik suaranya, parau dan nyaris tak terdengar di antara deru angin malam dari luar dinding kayu. "Di mana... Elara...?"Para tetua di sana saling berpandangan, gundah dan bingung mendengar nama asing tersebut.Salah satu tetua pria yang berambut putih kelabu melangkah mendekat, membetulkan selimut
Di malam harinya setelah seluruh urusan birokrasi yang melelahkan itu mereda, keheningan kembali menguasai ruang kerja utama.Lyra membawakan ramuan minuman herbal khusus untuk Elara agar janinnya semakin sehat dan kuat menghadapi kejamnya perubahan suhu di tanah Utara."Minum ini selagi hangat, Elara. Aku menambahkan ekstrak daun madu agar rasa getirnya berkurang," ucap Lyra sembari meletakkan cangkir tanah liat yang mengepulkan uap wangi ke atas meja kayu ek.Elara memejamkan mata sejenak, menghirup aroma rempah yang menenangkan saraf-saraf kepalanya, lalu mendongak menatap wanita yang kini berdiri di hadapannya tanpa sekat formalitas pelayan dan majikan."Terima kasih, Lyra," tutur Elara, suaranya melembut, kehilangan seluruh aksen bariton tiruan yang sengaja ia gunakan di depan dewan adat tadi pagi."Aku benar-benar berterima kasih karena kau dengan setia menemaniku di sini, di saat Valerius tiada. Jujur saja, hanya kau yang bisa aku andalkan untuk membuatku tetap waras dalam kead
"Jika kau mencoret angka logistik resimen ketiga sekali lagi, Hans, aku akan memastikan Tabib Kael mengganti seluruh pasokan dagingmu dengan rebusan akar pahit selama sebulan penuh," ancam Lyra pada Hans.Hans mendongak, wajah sangarnya berkerut masam saat ia memandang pelayan menara yang kini resmi menjadi asisten pribadi sang Duchess."Dengar dulu, Pelayan Menara yang Galak! Pasukan garda depan itu butuh kalori ekstra di musim dingin. Bagaimana bisa kau memotong anggaran lemak babi hingga dua puluh koin perak?!""Itu bukan lemak babi untuk pasukanmu, Ksatria Bodoh! Itu adalah draf pajak penyelundupan milik Count Robert yang sengaja disamarkan di dalam manifes logistik militer!" balas Lyra sambil merebut perkamen dari tangan Hans dengan gerakan cepat yang membuat botol tinta di dekatnya sempat bergoyang."Buka matamu yang besar itu dan lihat stempelnya!"Elara yang duduk di kursi kebesaran penguasa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tawa kecil yang murni dan jernih akhirnya p
Elara masuk ke dalam ruang kerja yang sepi, merasakan status barunya sebagai penguasa kastil yang kini memikul takdir ribuan nyawa di atas pundaknya.Lilin-lilin di dinding belum dinyalakan, hanya menyisakan berkas cahaya bulan perak yang menembus kaca patri, menerangi debu-debu halus yang menari di atas meja kerja kuno.Ia kemudian berjalan lambat, mengitari meja dengan keanggunan yang sarat akan beban duka, lalu duduk di atas kursi kayu ek milik Valerius yang berukuran besar.Saat menyandarkan punggungnya yang lelah, secara tidak sengaja ujung jemarinya menyentuh sebuah kompartemen rahasia di bawah laci meja yang sedikit terbuka akibat engselnya yang melonggar.Kerutan di kening Elara dalam seketika tercipta. Di dalamnya, terdapat sepucuk surat usang beraroma pinus dan cuka medis yang tak pernah Elara lihat atau ketahui keberadaannya sebelumnya."Apa yang kau sembunyikan di sini, suamiku?" gumam Elara, dadanya mendadak berdegup kencang dengan ritme yang tak beraturan.Karena didoron
Brak!Suara hantaman telapak tangan Valerius pada permukaan meja kayu ek itu menggema di seluruh penjuru ruangan, memutus kalimat manja Cendana yang baru saja hendak terlontar.Dokumen-dokumen di hadapan Elara bergetar, dan sebuah botol tinta kecil nyaris terguling. Elara tersentak, dengan bahunya
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Valerius terdiam, namun tatapannya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.Tangannya yang berada di atas meja perlahan mengepal, hingga buku jarinya memutih dan meja kayu itu seolah merintih di bawah tekanannya.Valerius tidak menjawab dengan kata-
Sudut ruangan kerja Valerius kini tidak lagi hanya berisi rak buku tua yang berdebu.Sebuah meja kayu kecil telah dipindahkan ke sana, dipenuhi dengan alu, lumpang, dan berbagai botol kaca yang berisi cairan dengan warna-warna aneh.Elara sengaja memindahkan kegiatan meraciknya ke dalam ruangan ini
Master Kael terperangah seraya menatap denyut nadi di leher Valerius yang perlahan mulai stabil, dan urat-urat kebiruan yang mengerikan itu surut dari permukaan kulit sang Duke seolah-olah ditarik paksa oleh kekuatan tak terlihat.Tabib tua itu membolakan matanya, beralih menatap mangkuk kosong di