Mag-log in“Valerius! Jawab aku, Duke!” raung Hans, suaranya parau membelah keheningan yang mencekam saat ia melompat menuruni batuan licin.Langkah kaki ksatria berumur dua puluh delapan tahun itu bergerak semakin cepat, memacu sisa tenaganya dengan panik demi mengejar bayangan yang telah lenyap.Tanpa memedulikan keselamatannya sendiri, Hans menerobos masuk lebih dalam ke perimeter yang dikenal sebagai Lembah Kabut.Wilayah ini adalah area historis yang paling ditakuti oleh para pemburu Utara; sebuah hamparan tanah terkutuk yang dipenuhi oleh ratusan jurang tak kasat mata yang tertutup oleh lapisan salju tipis dan ilusi optik kabut pegunungan yang menyesatkan pandangan.Atmosfer di tempat ini mendadak berubah sangat sunyi dan menekan, seolah-olah seluruh kehidupan telah diisap keluar dari permukaan bumi.Desis angin yang tadinya menderu di pelataran atas kini berganti menjadi keheningan yang berat, membuat setiap deru napas Hans terdengar begitu nyaring dan menakutkan.“Jangan bertindak bodoh
Suara terompet kemenangan dari benteng atas masih menyisakan gema di sela-sela tebing, namun Hans tahu setiap detik yang terbuang adalah embusan napas yang mendekatkan Elara pada maut.Pemuda berumur dua puluh delapan tahun itu menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung sarung tangan besi. Menyadari bahwa waktu sama sekali tidak memihak mereka, ia mengambil keputusan taktis dalam sekejap mata.Tanpa memedulikan rasa nyeri yang menusuk dari tulang rusuknya yang retak, Hans berbalik. Ia berlari kencang meninggalkan Valerius yang masih terpaku di bawah pohon pinus mati, mendaki kembali jalur setapak menuju ke arah sayap pasukan yang kini berada di bawah kendali penuh Panglima Juan. Langkah kakinya yang kokoh membelah timbunan salju dan abu pembakaran dengan kecepatan seorang ksatria yang berada di usia emasnya.“Panglima Juan! Tahan pergerakanmu!” teriak Hans saat melihat bayangan zirah Juan di antara kerumunan prajurit pelataran atas.Juan yang sedang mengawasi pengumpulan senjata
Salju yang mulai bercampur abu pembakaran turun semakin lebat, mengubur jejak kaki mereka di bawah naungan pohon pinus yang mati.Hawa dingin yang menusuk tidak mampu meredam ketegangan yang mendadak memuncak di antara dua pria itu. Perdebatan hebat pun pecah seketika di tepi jalur setapak yang sunyi.“Pergi dari hadapanku, Hans! Ini adalah perintah terakhir yang kuberi kepadamu!” bentak Valerius dengan kasar, suaranya menggelegar menembus deru angin malam yang membekukan.“Aku tidak akan bergeser satu jengkal pun, Valerius! Tidak dalam kondisi sepertimu saat ini!” raung Hans, mengabaikan rasa sakit yang membakar rongga dadanya akibat tulang rusuk yang patah.“Lihat dirimu sendiri, Pengawal sialan! Tubuhmu sudah ringkih dan zirahmu retak!” Valerius merangsek maju, menuding dada Hans dengan jari besinya.“Aku akan baik-baik saja di bawah sana! Aku bergerak lebih lincah tanpa adanya pengawalan pincang yang hanya akan memperlambat gerakanku untuk memburu asap itu!”“Kau mengkhawatirkan r
Valerius melangkah maju, memutus jarak di antara mereka, lalu mencengkeram zirah bahu Hans dengan kedua tangannya yang bersarung besi.Sepasang matanya yang menatap lurus ke dalam manik mata ksatria itu, memancarkan keseriusan yang teramat pekat. Cengkeraman logam itu berderit, menyalurkan kecemasan luar biasa yang disembunyikan sang Duke di balik topeng ketegarannya.“Dengar aku baik-baik, Hans. Ini adalah perintah militer darurat, bukan sebuah ajakan diskusi,” ujar Valerius, suaranya bergetar rendah namun sarat akan ketegasan yang mutlak.Setiap kata yang keluar dari bibirnya memotong angin malam dengan presisi yang dingin, tidak menyisakan ruang bagi kompromi apa pun.“Duke, jangan lakukan ini...” bisik Hans, mencoba melepaskan cengkeraman tersebut, namun tenaga manusianya tidak mampu menandingi kepalan baja Valerius.Otot-otot ksatria itu melemah, dikhianati oleh rasa sakit fisik yang terus-menerus menggerogoti tubuhnya yang menua akibat benturan granit tadi.“Tugasmu belum selesa
Angin malam di lereng Puncak Hitam mendadak terasa seperti bilah-bilah es yang menyayat kulit. Di bawah sana, lembah terlarang menganga lebar layaknya rahang monster kegelapan yang siap menelan siapa saja yang berani menantang keheningannya.Namun, bagi sang Duke, ketakutan telah mati sejak nama istrinya diucapkan sebagai target kutukan.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Valerius langsung melompat dari bibir tebing batu yang curam. Tanpa sepengetahuan Isolde yang mengira sihir kabutnya telah berhasil mengecoh akal sehat sang Duke, pria itu mendarat dengan lentur di atas undakan batu bawah.Ia bergerak secara senyap laksana serigala Utara yang sedang mengintai mangsa, membiarkan mantel gelapnya menyatu dengan keheningan malam saat mengejar arah pergerakan asap hitam yang melesat di antara celah lembah.Jirah peraknya sengaja ia tutupi dengan kibaran kain jubah yang legam, meredam kilatan cahaya bulan yang bisa saja membongkar posisinya.Namun, langkah taktis itu tidak sepenuhnya lup
Dentum tebasan sang Duke meruntuhkan keheningan sesaat yang sempat menyelimuti ruangan. Ayunan pedang raksasa itu membawa seluruh keputusasaan, kemarahan, dan harapan terakhir dari garis keturunan serigala perak Drakenhoff.Namun, takdir malam itu tampaknya masih enggan memberikan kemenangan yang mudah bagi mereka yang bertaruh nyawa di atas altar terkutuk tersebut.CRASH!Bilah baja raksasa milik Valerius menghantam altar batu hitam hingga pecah berantakan, melontarkan serpihan granit ke segala arah. Debu-debu kuno dan pecahan tajam berterbangan, menggores pipi sang Duke hingga mengalirkan setitik darah. Namun, tebasan maut yang diluncurkannya dengan sisa tenaga puncak itu ternyata hanya membelah udara kosong.Tubuh Isolde mendadak melenyap, buyar menjadi kepulan kabut asap hitam pekat yang berbau belerang menyengat.Kehilangan target secara instan membuat keseimbangan Valerius sempat goyah. Ia bertumpu pada hulu pedangnya yang tertancap di sela batu altar yang hancur.“Sialan! Kepar
Master Kael terperangah seraya menatap denyut nadi di leher Valerius yang perlahan mulai stabil, dan urat-urat kebiruan yang mengerikan itu surut dari permukaan kulit sang Duke seolah-olah ditarik paksa oleh kekuatan tak terlihat.Tabib tua itu membolakan matanya, beralih menatap mangkuk kosong di
Suasana di ruang makan utama terasa jauh lebih mencekam daripada malam-malam sebelumnya karena kehadiran mantan Duke, Alistair von Drakenhoff, dan istrinya, Lady Isolde, membuat suhu di ruangan itu seolah turun hingga ke titik beku.Mereka duduk di kursi kebesaran di ujung meja, sementara Valerius
Elara mundur selangkah dengan kaki yang terasa lemas, sementara jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa suaranya bisa terdengar di seluruh ruangan.“A-aku hanya mencoba merapikan perkamen yang berantakan, Duke. Kau pergi terburu-buru dan membiarkan semuanya kacau,” jawab Elara dengan na
Elara masih mematung, menatap sapu tangan sutra di tangan Roderick dengan ragu. Karena Elara tak kunjung mengambilnya, Roderick melangkah satu langkah lebih dekat.Tanpa diduga, pria itu mengulurkan tangannya dan dengan lembut mengusap sisa air mata di pipi Elara menggunakan ibu jarinya.Sentuhan h







