FAZER LOGIN"Am-ampun, Lord Duke. Kami hanya memikirkan kestabilan logistik benteng," rintih Kenneth, suaranya melengking tinggi, pecah oleh kepanikan yang luar biasa.Suasana aula dewan berubah menjadi pengadilan taktis yang mencekam. Tanpa membuang waktu, Valerius langsung merebut draf petisi dari tangan Kenneth yang gemetar hebat.Gerakannya begitu cepat dan bertenaga. Dengan satu sentuhan kasar, ia meremas perkamen itu lalu melemparkannya ke dalam perapian yang menyala di sisi takhta. Kertas tebal itu seketika dilalap api, berubah menjadi abu hitam dalam hitungan detik."Kestabilan logistik, katamu?" desis Valerius, matanya menyipit laksana mata serigala lapar. "Atau kau hanya memanfaatkan kesempitan saat aku bertaruh nyawa di Puncak Hitam untuk menindas istriku?!""Tidak, Yang Mulia! Hamba tidak bermaksud—""Tutup mulutmu, Kenneth!" bentak Valerius, suaranya menggelegar hingga membuat debu di pilar-pilar kuno berjatuhan.Di hadapan para mente
"Apakah semua draf dokumen pengalihan aset sudah siap, Robert?" bisik Lord Kenneth, matanya melirik licik ke arah pintu Aula Dewan Kuno yang masih tertutup."Semua sudah lengkap, Kenneth," sahut Count Robert dengan senyum culas yang tersamarkan di balik janggut ubanannya. "Draf petisi logistik barak bawah akan menjadi senjata utama kita. Wanita Selatan itu tidak akan punya draf argumen lagi untuk mempertahankan stempel perwalian hari ini."Pagi harinya, Aula Dewan Kuno dipenuhi kasak-kusuk licik dari faksi sayap kanan yang dipimpin oleh Lord Kenneth dan Count Robert. Gema bisikan mereka laksana draf konspirasi yang memenuhi langit-langit aula yang tinggi dan dingin.Para bangsawan dan menteri berkumpul dengan membawa draf petisi baru untuk memaksa Elara menyerahkan stempel perwalian dengan alasan ketidakstabilan logistik dan ancaman kelaparan di wilayah perbatasan bawah.TOK! TOK! TOK!Suara ketukan tongkat perak penjaga gerbang menghentik
Elara menganggukkan kepalanya dengan keyakinan penuh, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Valerius yang beraroma pinus kering dan minyak penghangat.Seluruh draf ketakutan, trauma birokrasi, dan rasa kesepian fana yang mengurungnya selama enam puluh hari terakhir seketika lenyap tak berbekas, digantikan oleh rasa aman yang absolut."Aku memegang janjimu, Valerius. Jangan pernah berani melanggarnya," bisik Elara, suaranya terendam di balik kerah kemeja rami suaminya."Aku tidak pernah menarik kembali kata-kataku setelah darah klan dipertaruhkan, Elara," balas Valerius, lengan kekarnya semakin erat mendekap pinggang istrinya.Mereka berdua berciuman dan berpelukan erat di bawah temaram lampu minyak kamar kuno. Kecupan Valerius terasa begitu dalam, menyapu sisa-sisa air mata dan kepedihan yang sempat mengering di pipi Elara, sementara Elara membalasnya dengan seluruh kerinduan murni yang selama ini menyiksa batinnya.Rindu yang membakar dada selama
Elara membiarkan pisau cukur perak itu tergeletak di atas meja kecil di samping ranjang. Keheningan kamar utama terasa kian larut dalam keintiman domestik yang sakral. Hanya ada suara desis halus kayu cemara yang terbakar di perapian, mengusir sisa hawa dingin pegunungan es yang mencoba menyusup lewat celah jendela.Valerius tidak melepaskan genggaman tangannya. Perlahan, ia membawa jemari Elara yang hangat untuk menyentuh bekas luka pertempuran Puncak Hitam di dadanya. Di balik kain kemeja rami yang sengaja dibuka, permukaan kulit tegap itu dipenuhi jaringan parut baru yang kasar, berpusat tepat di atas jantungnya."Sihir Isolde hampir saja mengunci detak jantungku di atas tebing itu, Elara," ucap Valerius, suara baritonnya bergetar rendah, bergema langsung di bawah telapak tangan istrinya."Jangan menceritakannya jika itu membuat lukamu kembali perih, Valerius," bisik Elara, matanya berkaca-kaca menatap kerusakan fisik yang ditinggalkan musuh mereka."T
"Letakkan baskomnya di meja sebelah kiri, Lyra," ucap Kael sembari dengan sangat hati-hati menarik jarum perak terakhir dari bahu Valerius.Valerius dipindahkan ke kamar tidur utama menara dalam untuk mendapatkan perawatan yang lebih privat dari Tabib Kael dan Lyra. Kamar berlantai batu dengan dinding kayu ek tebal itu kini dipenuhi aroma menyengat dari rebusan akar es dan draf minyak pinus hangat yang digunakan untuk melemaskan otot-otot sang Duke yang sempat kaku."Aliran darah di punggung Anda sudah mulai membaik, Lord Duke," lapor Kael seraya merapikan draf peralatan medisnya ke dalam kotak menara. "Namun, Anda tetap tidak boleh memaksakan diri memegang pedang berat dalam tiga hari ke depan.""Tiga hari terlalu lama, Kael. Besok pagi dewan adat sudah harus mendengarkan keputusanku," sahut Valerius, suara baritonnya masih terdengar parau namun sarat akan draf ketegasan yang mutlak.Elara yang sejak tadi berdiri kaku di dekat perapian melangkah mendekat
Elara menggelengkan kepalanya dengan kuat di dalam dekapan dada bidang Valerius, mengabaikan rasa perih dari luka perban suaminya yang sedikit tertekan akibat hantaman pelukannya. Isak tangisnya masih memenuhi aula yang kini terasa sunyi dan sakral, mengabaikan udara dingin yang menyelinap dari celah jendela granit."Jangan meminta maaf, Valerius. Jangan pernah..." bisik Elara dengan suara yang parau, tangannya mencengkeram erat jubah bulu hitam suaminya seolah takut pria itu akan menguap menjadi abu jika ia melonggarkan pegangannya."Aku meninggalkanmu terlalu lama, Elara. Membiarkanmu berdiri di depan meja dewan itu tanpa tameng besi," ucap Valerius, napas baritonnya bergetar di puncak kepala Elara. "Aku mendengar dari Hans bagaimana Kenneth menekarmu dengan draf hukum perwalian sialan itu.""Aku tidak peduli dengan semua itu!" Elara mendongak sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata perak suaminya dengan tatapan yang basah namun berkilat penuh ketegasan tak
Brak!Suara hantaman telapak tangan Valerius pada permukaan meja kayu ek itu menggema di seluruh penjuru ruangan, memutus kalimat manja Cendana yang baru saja hendak terlontar.Dokumen-dokumen di hadapan Elara bergetar, dan sebuah botol tinta kecil nyaris terguling. Elara tersentak, dengan bahunya
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Valerius terdiam, namun tatapannya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.Tangannya yang berada di atas meja perlahan mengepal, hingga buku jarinya memutih dan meja kayu itu seolah merintih di bawah tekanannya.Valerius tidak menjawab dengan kata-
Sudut ruangan kerja Valerius kini tidak lagi hanya berisi rak buku tua yang berdebu.Sebuah meja kayu kecil telah dipindahkan ke sana, dipenuhi dengan alu, lumpang, dan berbagai botol kaca yang berisi cairan dengan warna-warna aneh.Elara sengaja memindahkan kegiatan meraciknya ke dalam ruangan ini
Jam dinding besar di sudut ruangan berdentang dua belas kali, suaranya menggema berat di tengah kesunyian malam yang membeku.Elara memejamkan matanya sejenak, merasakan denyut nyeri yang menjalar dari leher hingga ke tulang punggungnya.Cahaya lilin yang mulai memendek menari-nari di atas perkamen







