Home / Romansa / Pengantin Pesanan / 04 - Kedatangan Pengantin

Share

04 - Kedatangan Pengantin

Author: Serafina
last update publish date: 2021-12-02 20:27:49

PENGANTIN PESANAN

04 – Kedatangan Pengantin

-3 BULAN KEMUDIAN-

“Bos, pesawatnya sebentar lagi landing.”

Ponsel Danesh yang disetel dalam mode senyap menampilkan notifikasi di layar. Nama Ucok, asisten pribadinya, muncul dengan pesan yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

Ah, setelah penantian dan proses yang panjang, akhirnya mereka akan bertemu juga ….

Danesh menyentuh layar ponselnya dan kembali memusatkan perhatian pada Jaksa yang sedang membaca dakwaan.

“Dan… lu yakin ya kalau gue bakal bebas sebentar lagi?” bisik Rafi yang duduk disebelahnya di kursi pesakitan.

Banyak yang terjadi dalam tiga bulan ini; selain Danesh yang sibuk memilih calon pengantinnya melalui website ‘Deep Web’, Rafi juga tertangkap tangan menyuap aparatur negara agar mendapatkan tender proyek pembangunan jalan.

Karir Rafi yang tadinya semulus jalan tol kini terpaksa harus masuk pit stop.

Danesh hanya tersenyum simpul dan balas berbisik, “Asal lo ikutin semua yang gue instruksikan, enggak usah kebawa emosi. Stay cool, man. We got this.”

Rafi, pengusaha muda yang kebetulan satu SMA dengannya itu mengangguk patuh. Dia menarik-narik kerah baju tahanan yang dipakainya, berkali-kali dia bergerak gelisah di kursinya. Tawanya yang khas kini berganti dengan ekspresi kosong.

Apalagi ketika Jaksa berbicara, pikiran Rafi langsung kemana-mana. Dia tidak ingin berada di sini, Pengadilan tidak pernah ada dalam daftar tempat yang ingin dikunjunginya.

Sementara itu Danesh, seorang Pengacara ternama yang punya track-record tak terkalahkan dalam tiga tahun terakhir itu terlihat tenang dan santai. Dia duduk dengan kedua tangan saling mengait di atas meja, mendengarkan dakwaan yang sudah dia hapal luar kepala.

Matanya melirik Hakim yang berada di atas mimbar. Tanpa sengaja pandangan mereka bersirobok. Dalam beberapa detik saling tatap itu, Danesh tau bahwa Hakim Ketua sudah berada di pihaknya.

Dia mengembuskan napas bersamaan dengan Jaksa yang selesai membacakan dakwaan.

Hakim Ketua berdeham dan beralih pihak Terdakwa, “Saudara Terdakwa, sudah jelas dengan isi dan maksud Surat Dakwaan yang tadi dibacakan oleh Panitera?”

Danesh menyenggol Rafi, menariknya kembali dari lamunannya.

Rafi tergeragap dan buru-buru menjawab seperti yang sudah dilatih oleh Danesh, “Sudah, Yang Mulia.”

Hakim kini menatap Danesh, “Penasihat Hukum, apakah keberatan dengan Surat Dakwaan tersebut?”

“Ya, Yang Mulia. Kami sedang menyiapkan Nota Keberatan.”

Rafi menoleh pada Danesh dan mengembuskan napasnya. Apapun yang dilakukan Danesh sebagai pengacaranya, Rafi akan menurut saja. Dia memercayai Danesh sepenuh hatinya.

“Baik, sidang ditunda sampai minggu depan untuk pembacaan Eksepsi dari pihak Penasihat Hukum Terdakwa.”

Tok! Hakim Ketua mengetuk palu kemudian beranjak dari mimbar Majelis Hakim untuk pergi meninggalkan ruang sidang.

Semua orang berdiri untuk menghormati para hakim yang berjalan ke belakang mimbar dan menghilang dari balik pintu.

Danesh berdiri dan menoleh pada Rafi yang sekarang jadi kliennya, “Tenang, man. You’re in the good hands. Tim gue lagi nyiapin semuanya. Lo enggak usah banyak gaya di dalam sana, ikuti saja alurnya, OK?”

Rafi hanya mengangguk, “Gue kangen bini gue, Dan…”

Danesh tersenyum penuh simpati melihat ekspresi kusut dari temannya itu. Dia merangkul Rafi sejenak dan berbisik, “Dalam beberapa bulan lo bisa pulang ke rumah dan ketemu sama bini lo lagi.”

“Gimana sama ‘bini’ lo? Udah nyampe?” tanya Rafi sambil berbisik. Berbicara mengenai hal-hal ringan sedikit membuatnya tertarik lagi pada kehidupan.

Semenjak masuk penjara, sepertinya depresi mulai melanda.

Danesh tidak menjawab, dia hanya menepuk bahu Rafi dan bergumam, “Sampai ketemu lusa, jadwal kunjungan ke lapas udah disetujui.”

“Thanks, man. Salamin buat keluarga gue, ya.”

“Lo mau nitip apa? Gue bisa bawain nanti.”

Rafi tercenung sebentar, namun kemudian menggeleng, “Ehm …. Kalau bisa …. Gue kepingin makan cake buatan nyokap gue, Dan. Cake cokelat yang biasa dia bikinin buat gue setiap ulang tahun.”

Danesh tertegun mendengar permintaan Rafi yang tidak biasa.

Namun, sikap orang yang masuk penjara tidak pernah ada yang biasa.

“OK. Nanti gue sampaikan ke nyokap lo, Raf. Jaga diri di dalam sana.”

Rafi mengangguk kecil kemudian mengulurkan tangannya untuk diborgol oleh petugas sebelum digiring kembali ke mobil tahanan.

*

Danesh keluar dari ruang sidang langsung disambut oleh gerombolan kuli tinta yang mengejar berita. Bromo, bodyguard-nya yang tinggi besar berhasil menghalau jurnalis yang mengerubungi mobil pengacara terkenal itu.

“Pak Danesh, boleh satu-dua kata?!”

“Pengacara, tanggapannya mengenai sidang hari ini?”

“Danesh, yakin menang persidangan kali ini?”

Danesh sudah terbiasa dengan serbuan pertanyaan yang dilontarkan oleh para wartawan yang mengejar berita. Dia hanya melemparkan senyum tipis misterius, melambai dan masuk ke dalam mobilnya yang berkaca gelap.

Danesh mengembuskan napasnya sembari melonggarkan dasinya. Embusan dinginnya AC sejenak menyejukkan kepalanya yang mulai panas.

Bromo duduk di kursi depan dan bertanya dengan suara berat, “Pulang, Bos?”

“Ucok udah ngabarin?”

“Sudah, Bos. Mereka dalam perjalanan ke rumah.”

“OK, mampir dulu ke toko bunga.”

“Baik, Bos.”

Bagaikan Nabi Musa yang membelah Laut Merah, sedan hitam mewah itu menerobos kerumunan jurnalis yang masih mengerubungi mobil pengacara kondang, berharap mendapatkan secuil informasi untuk dijadikan berita.

Namun, Danesh bukan pengacara yang sering mengobral kata. Dia terkenal pelit memberikan info pada wartawan. Dia lebih senang menggebrak sidang dengan fakta-fakta dan bersilat lidah melawan Jaksa. Dia akan berbicara pada jurnalis jika sudah yakin akan menang.

Dalam kasus ini, Danesh memilih bungkam, lagipula dia sedang tidak berselera untuk wawancara. Ada yang lebih penting daripada membuat berita ….

*

Awalnya Danesh memang berminat dengan perempuan Rusia, namun ketika membuka website dan melihat katalog para wanita yang mendaftarkan diri untuk dijadikan kekasih atau istri, Danesh kecantol dengan seorang perempuan Ukraina.

Namanya Katya Boshena.

Hijau matanya memesona Danesh, dia terpana melihat foto sang gadis Ukraina. Tanpa pikir panjang, Danesh menjatuhkan pilihannya pada Katya.

“Wah, selera kamu bagus juga, Dan.” Komentar Mami ketika mereka bertemu untuk melanjutkan transaksi. Jarinya yang lentik dengan kuku panjang yang dipulas warna merah menyentuh layar tablet, senyum tersungging di bibirnya yang tebal “kamu yakin mau sama yang ini?”

Danesh mengangguk “Ya.”

Mami tidak bertanya kenapa walaupun wanita itu penasaran. Beliau mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu di sana, kemudian menyodorkannya pada Danesh, “Segini, Dan. Deal?”

Danesh melongok pada layar ponsel Mami yang menunjukkan angka sejumlah uang yang harus dibayarnya. Alisnya naik sebelah, lelaki itu memandang Mami dan tersenyum, “Damn, mahal juga…”

Mami tertawa, “Ini udah termasuk biaya transport, akomodasi, visa, pajak …. Kamu enggak perlu pusing mikirin yang lainnya. All in!”

Danesh mengangguk-angguk, otaknya sibuk berpikir dan mengkalkulasi, “Sistem bayarnya gimana, Mi?”

“DP dulu sini ….” Mami menggoyangkan tangannya dengan sikap meminta pada Danesh, “setelah DP, boleh bayar tahap pertama, tiga bulan kemudian baru lunasi.”

“Oh, jadi kalau saya enggak puas dengan ‘service’ atau ‘barang’nya bisa ditukar atau diretur?” tanya Danesh dengan nada menggoda.

Mami tertawa dengan guyonan Danesh, “Ya, bisa dibilang begitu. Karena dalam tiga bulan itu pasti ada banyak hal yang terjadi. Mungkin aja kamu enggak suka dia tidurnya ngorok atau suka nendang-nendang, atau kamu enggak suka dia ternyata enggak bisa masak, padahal di CV-nya dia bilang jago masak. Yah, hal-hal kaya gitu sering terjadi.”

“Hmmm…” Danesh mengusap-usap dagunya.

“Baru aja kemarin kita kembaliin satu cewek ke Rusia karena dia enggak lolos ujian menyetir mobil, sedangkan suaminya ingin mereka road trip keliling Amerika. Jadi dia perlu perempuan yang bisa nyetir mobil.”

Danesh membelalak, “Ada yang kaya gitu, Mam?”

“Hm-hm. Oh, kalau kamu tau apa aja keinginan para lelaki ini …. Demi Tuhan, kalian para pria bilang kalau kami, para wanita ini rewel, kalian enggak lihat teman sesama lelaki… apalagi lelaki yang punya duit dan punya preferensi tersendiri. Belum lagi yang punya fetish ….”

Danesh mengulum senyumnya mendengar keluhan wanita yang sampai sekarang tidak diketahui nama aslinya. Mami dan bisnisnya begitu terselubung.

“Saya enggak banyak maunya, Mam. Saya hanya mau Katya.”

Mata Mami berkilat mendengar kalimat Danesh, “Jadi deal harganya segini, ya?”

“DEAL!”

*

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Herni Widjaya
DEAL...Katya Boshena...Jan bilang kamu masi sodaraan sm yg punya taksi Bosowa...... masi ada ga itu taksi...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pengantin Pesanan   29 - Hari

    Pengantin Pesanan29 – HariSemua Alexa di rumah itu dicabut pagi harinya.Ucok membongkar satu per satu di meja ruang kerja, tujuh unit dari tujuh ruangan, dan menemukan bahwa firmware di salah satunya, yang di dapur, telah diubah dari luar tanpa meninggalkan jejak yang bisa dilacak. Dia menyimpannya di dalam kotak sepatu bertuliskan BUKTI dengan huruf besar spidol, dan Bromo membawanya pergi seperti membawa jenazah. Sejak itu satu-satunya penerjemah di rumah adalah ponsel, Rosie, dan Svetlana yang datang tiga kali seminggu dengan pirozhki.Danesh menyembunyikan ketakutannya dengan kerja. Itu satu-satunya cara yang dia tahu.Hari datang pukul dua siang dengan sepeda motor tua yang knalpotnya bisa terdengar dari ujung komplek, dan Danesh sudah tahu orang macam apa dia sebelum lelaki itu membuka helm.Dia kurus, tinggi, nyaris kurang gizi, dengan kaus hitam yang sudah luntur menjadi abu-abu dan jaket berkantong banyak yang menggembung oleh benda-benda yang tidak jelas. Sebuah kamera te

  • Pengantin Pesanan   28 - Dapur

    Pengantin Pesanan28 – DapurKartu pos itu bersembunyi di saku celemek Katya, terlipat dua dan sudah mulai melunak di sudut-sudutnya karena terlalu sering disentuh.Dia tidak berniat membawanya ke dapur. Tetapi sejak kemarin sore kartu itu seperti punya denyut sendiri, benda kecil yang hangat dan berat, dan setiap kali dia meninggalkannya di kamar, dadanya terasa kosong. Maka pagi itu dia menyelipkannya di saku celemek bergambar buah lemon yang dipinjamkan Rosie, bersama sebatang pensil warna ungu, dan berusaha tidak memikirkan kata Olya yang berputar di kepalanya seperti lagu yang tidak bisa dia ingat nadanya.“Oke,” kata Rosie, menepuk kedua tangannya di atas meja dapur yang sudah dipenuhi benda-benda. “Pelajaran satu. Nasi goreng dan pancake.”Dia mengatakannya dalam bahasa Indonesia, lalu mengangkat ponselnya, kemudian menggeleng dan menyimpannya lagi. “Enggak, aku enggak mau pakai penerjemah. Kita pakai cara kuno.” Dia menunjuk dirinya sendiri, menunjuk Katya, lalu membuat geraka

  • Pengantin Pesanan   27 - Rosie

    Pengantin Pesanan27 – RosieRosie tiba pukul sembilan malam dengan sebuah koper yang bunyi rodanya terdengar dari ujung jalan, ransel hijau lumut, dan sepasang sepatu kets yang sudah lama kehilangan warna aslinya. Dua penjaga baru di gerbang langsung menghalangi jalannya dengan tangan terentang.“Saya mau ketemu Abang saya.”“Maaf, Mbak, kami belum dapat informasi…”“Neng Rosie!” Suara Ucok menggema dari beranda, disusul bunyi langkah tergesa dan sebuah wajan yang terayun-ayun di tangan kanannya. “Dia bukan teroris! Dia adiknya Bos! Biarin masuk, biarin masuk, dia galak tapi aman!”Rosie mengangkat alis. “Masih bawa wajan itu, Cok?”“Selalu, Neng. Prinsip hidup.”Dia tertawa, memeluk Ucok singkat dan kuat, lalu menepuk lengan Bromo yang berdiri di belakang dengan wajah seperti tiang listrik. “Om Bromo, makin gede aja.”“Hm,” kata Bromo, dan telinganya memerah.Danesh berdiri di ambang pintu ruang tamu, menunggu, dengan kedua tangan terjejal ke saku celana. Rosie menaiki beranda, menu

  • Pengantin Pesanan   26 - Kata Pertama

    Pengantin Pesanan26 – Kata PertamaDanesh tidak menyangka bahwa tidur sepuluh menit di atas selimut bisa terasa seperti habis berlari maraton.Pukul tujuh pagi dia sudah berada di dapur dengan secangkir kopi hitam yang belum tersentuh, menatap uap yang naik dari cangkirnya dan mencoba mengingat setiap kata yang dikatakan Dokter Riza lewat telepon pukul dua dini hari. Jangan membanjirinya. Biarkan dia yang bertanya. Jangan memutuskan sesuatu atas namanya. Dia sudah mengirim pesan singkat pada Rosie, adik tirinya yang sedang kuliah psikologi di Bandung, dengan satu kalimat yang dia hapus-tulis tiga kali sebelum terkirim. Bisa ke Jakarta? Aku butuh bantuan. Balasannya datang kurang dari semenit. Kapan? Dan jangan bohong sama aku.Dia menghela napas. Rosie selalu tahu kapan dia sedang berbohong, bahkan lewat teks.Langkah kaki terdengar di tangga.Katya turun dengan piyama katun yang sama seperti semalam, rambut kusut di satu sisi, wajah lebih pucat daripada biasanya. Dia tidak tersenyum

  • Pengantin Pesanan   25 - Rumah Dijaga

    Pengantin Pesanan25 – Rumah DijagaBromo berdiri di depan pintu sejak pagi, dan Katya mulai curiga bahwa lelaki besar itu memang terbuat dari batu.Dia tidak duduk. Tidak minum. Tidak bergerak kecuali kepalanya yang berputar sedikit setiap kali ada suara dari halaman, dan bahunya yang menegang setiap kali ada kendaraan lewat di jalan. Danesh sudah pergi sebelum matahari terbit bersama Ucok dan polisi, dan rumah ini terasa jauh lebih besar tanpa dia, seperti kapal yang kehilangan jangkar.“Dia cuma menjalankan perintah,” kata Svetlana, yang menyiapkan teh di dapur dan mengamati Katya mondar-mandir dengan mata yang bolak-balik menatapnya dan Bromo. “Pak Danesh bilang jangan tinggalkan ruangan ini. Dia akan berdiri di sana sampai lututnya copot.”Katya menatap punggung Bromo dari ujung lorong. Lalu dia mengambil sepiring nasi dengan ayam goreng dari dapur, berjalan dengan hati-hati, dan berhenti di depan lelaki itu sambil mengulurkan piring dengan kedua tangan.Bromo menunduk. Menatap p

  • Pengantin Pesanan   24 - Rumah Kosong

    Pengantin Pesanan24 – Rumah KosongMobil dinas tanpa tanda itu merayap melewati jalan-jalan Kelapa Gading pada pukul lima pagi, dan Danesh, duduk di kursi belakang dengan map di pangkuan, tidak sanggup berhenti memutar satu kalimat di kepalanya.Aku ini siapa untukmu?Sudah dua hari sejak pertanyaan itu jatuh di ruang tamunya, dua hari dia mencari jawaban di setiap sudut pikirannya, dan yang dia temukan hanya kata-kata yang terdengar salah begitu terlintas. Istri. Itu kata yang dibayar. Teman. Itu kata yang terlalu kecil. Tanggung jawab. Itu kata yang kedengarannya seperti pajak. Dia sudah menulis dan menghapus belasan kalimat di catatan ponselnya, dan setiap kali Katya menatapnya di meja makan dengan mata yang menunggu, dia hanya bisa menyodorkan roti dan berkata eat, please.“Pak Danesh baik-baik saja?” tanya lelaki di kursi depan tanpa menoleh.AKBP Rudy, dari Subdit Tindak Pidana Perdagangan Orang, adalah kenalan Evan yang bertubuh gempal, berkumis tebal, dan berbicara dengan sua

  • Pengantin Pesanan   05 - Monster Sesungguhnya

    PENGANTIN PESANAN05 – Monster SesungguhnyaAkhirnya Katya terpilih juga.Perempuan itu tercengang tak percaya ketika diberitahu bahwa ada seseorang yang tertarik padanya.“Sayangnya bukan dari Amerika atau Inggris seperti yang kita harapkan.

  • Pengantin Pesanan   03 - Pengantin Pesanan

    PENGANTIN PESANAN03 – Pengantin Pesanan“Dunia ini enggak seluas daun kelor, Dan. Lo harus buka diri lo untuk kesempatan yang datang. Eksplor, man.” Rafi memulai presentasinya.Danesh berusaha mendengarkan Rafi, namun perhatiannya teralihkan o

  • Pengantin Pesanan   02 - Tawaran Sekali Seumur Hidup

    Pengantin Pesanan02 – Tawaran Sekali Seumur HidupPesta berlangsung meriah.Lingkaran koneksi Danesh yang kecil, namun terdiri dari para crazy rich dan orang yang punya jabatan mentereng itu berkumpul untuk merayakan status terbaru dari Pengacara

  • Pengantin Pesanan   0 - Prolog

    Pengantin Pesanan0 – PrologPerempuan bertubuh ramping dengan pinggang kecil itu mengerjapkan mata hijaunya; begitu jernih bagaikan air danau yang tenang namun menyimpan misteri.Hidungnya tinggi berpadu dengan bibir seksi yang mengundang untuk dikecup, l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status