LOGINPengantin Pesanan19 – Daftar GelapVan itu melaju membelah siang Jakarta yang terik, dan Danesh duduk di kursi tengah menatap telapak tangannya yang kosong, seakan kertas lecek tadi masih menempel di sana dan hanya perlu dilihat dengan cara yang tepat.“Jadi gitu,” katanya akhirnya. “Rafi kasih gue kertas. Isinya nama jalan di Kelapa Gading sama satu kata: Angel. Terus sipir ngambil kertasnya.”“Sipir yang senyumnya kayak sales asuransi, Bos?” tanya Ucok dari kursi depan sambil membuka laptop di pangkuannya.“Iya.”“Berarti kita punya masalah, Bos.”“Dua,” kata Bromo dari balik kemudi, tanpa menoleh.“Dua?”“Senyumnya. Sama kertasnya.”Ucok mengangguk-angguk, takjub pada kebijaksanaan rekan sekerjanya. Danesh memejamkan mata dan memijit pangkal hidungnya. Dia sempat membaca nama jalan itu sebelum kertasnya direnggut, sebuah jalan panjang di Kelapa Gading yang dipenuhi ratusan ruko dan rumah, dan menyebutkannya dengan suara yang terdengar lelah bahkan di telinganya sendiri.“Panjang b
Pengantin Pesanan18 – Kunjungan LapasBau pembersih lantai bercampur asap kretek dan keringat, itulah aroma yang menyambut Danesh setiap kali pintu besi lapas itu terbuka, dan entah kenapa hari ini baunya terasa lebih menusuk daripada biasanya.Di meja registrasi, Ucok berdiri dengan sekotak martabak telur di tangan dan senyum penuh persahabatan yang terlalu lebar untuk ukuran seorang tamu. “Buat Bapak-bapak yang jaga,” katanya pada sipir bertubuh gempal di balik kaca. “Uang rokok, Pak. Eh, maksud saya, silaturahmi.”“Cok.” Danesh menarik kerah belakang jaket asistennya. “Klien gue ditangkap KPK gara-gara yang namanya silaturahmi.”“Tapi ini martabak, Bos. Bukan amplop.”“Dingin,” kata Bromo dari belakang mereka, dan tidak jelas apakah dia menilai martabaknya atau suasana hati Danesh. Mereka berdua ditinggal di ruang tunggu sementara Danesh digiring melewati koridor panjang bercat hijau kusam, melewati tiga pintu besi yang masing-masing menutup di belakangnya dengan bunyi dentang yan
Pengantin Pesanan17 – PasporDanesh terbangun dengan leher yang terasa seperti dipatahkan, lalu dikembalikan ke tempatnya oleh tukang yang sedang buru-buru.Beberapa detik dia tidak tahu kenapa dia tidur di lantai, kemudian kejadian semalam memenuhi kepalanya satu per satu: jeritan, tangan yang terulur, tawa yang tidak dia sangka masih bisa dia dengar dari perempuan itu. Cahaya pagi menyusup lewat celah tirai. Di atas ranjang, Katya masih tidur dengan lutut ditarik ke dada, seperti anak kecil yang akhirnya diizinkan beristirahat, dan sebelah tangannya menggantung di tepi kasur, tepat di tempat jari-jari mereka tadi bertaut.Danesh menunduk, mencari map cokelat di pangkuannya, dan terdiam.Map itu tidak ada di pangkuannya. Map itu tergeletak di karpet di sampingnya, tertutup rapat, dengan semua lembar di dalamnya tersusun begitu rapi hingga ujung-ujungnya sejajar. Dia yakin dia tidak melakukannya. Dia membuka bagian atas map itu dan salinan paspor yang semalam dia lingkari dengan spid
Pengantin Pesanan16 – Nina BoboKatya menggosok noda di gaun biru itu sampai kainnya basah dan jari-jarinya memerah. Air keran mengalir dingin di wastafel kamar mandi, bercak merah itu memudar menjadi merah muda dan akhirnya nyaris tak terlihat, tetapi ia terus menggosok seolah noda itu bisa berubah menjadi bukti yang membuatnya dikembalikan.Danesh tidak berkata apa-apa soal itu. Dia hanya mengantarkan Katya ke kamar, menyalakan lampu kecil di samping ranjang, menunjuk Alexa seakan berkata panggil saja kalau perlu apa pun, lalu berdiri canggung di ambang pintu dengan kedua tangan terjejal ke saku celana.“Good night,” katanya.Katya nyaris menjawab dengan kata yang selalu dia pakai untuk menutup hari, kata yang dulu harus diucapkan sambil menunduk dan tersenyum, tetapi bibirnya berhenti di tengah jalan. Dia hanya mengangguk. Pintu ditutup pelan, hampir tanpa suara, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah ini dia sendirian dalam kamar yang tidak punya kunci dari luar.Ranjangny
Pengantin Pesanan15 – Tiga BulanMalam jatuh perlahan di atas rumah besar itu, dan lampu-lampu taman menyala satu per satu seperti mata yang mengantuk. Ucok dan Bromo sudah pulang membawa kelelahan masing-masing, meninggalkan tumpukan kantong belanja di ruang tamu yang menggunung seperti bukit kecil berlogo mahal.Danesh duduk di sofa dengan jas yang sudah dilepas dan lengan kemeja tergulung sampai siku. Sepanjang perjalanan pulang dia menyusun kalimat demi kalimat di kepalanya, merevisinya seperti menyusun pledoi, dan sekarang semuanya menguap begitu pintu kamar Katya terbuka.Katya keluar dengan gaun biru itu. Kainnya jatuh sampai lutut, dan sepatu kulit barunya mengetuk lantai marmer dengan bunyi pelan yang sopan. Rambut pirang kecokelatannya disisir ke balik telinga, dan dia berdiri di ambang ruangan seperti anak yang menunggu nilai ujian.Danesh lupa kalimat pertamanya.“Cantik,” ujarnya akhirnya, serak. Lalu dia berdeham dan memanggil ke udara, “Alexa, turn on live translation.
Pengantin Pesanan14 – Selop BaruButik itu dingin dan wanginya manis, campuran melati sintetis dan kain baru yang belum pernah menyentuh kulit siapa pun. Katya berjalan pelan di antara deretan gantungan, jari-jarinya menyentuh satin, renda, dan sutra tipis yang bergemeresik seperti napas, sementara dalam kepalanya suara Anna mengulang pelajaran lama dengan nada sabar yang mengerikan.Laki-laki menyukai yang tipis. Laki-laki menyukai yang merah. Laki-laki menyukai perempuan yang tahu apa yang mereka suka.Maka ia memilih, dengan ketelitian seorang murid yang takut dapat nilai buruk. Seperangkat renda merah yang nyaris tak berbahan, lalu satu lagi berwarna hitam dengan pita di pinggangnya. Ia mengangkat keduanya tinggi-tinggi dengan senyum yang sudah ia latih ribuan kali di depan cermin asrama, lalu berbalik menghadap Danesh.“Is this… good?”Danesh, yang sedang membaca label harga sebuah kemeja, tersedak udara kosong. Wajahnya memerah dari leher hingga telinga, kacamatanya melorot, da
Pengantin Pesanan01 – Resmi Jadi Duda“Selamat Dan, sudah resmi jadi duda.”Evan, pengacara perceraian yang mewakilinya, menyerahkan amplop cokelat pada Danesh, dia menyeringai dengan senyum penuh arti pada teman sekampusnya dulu.Danes
PENGANTIN PESANAN05 – Monster SesungguhnyaAkhirnya Katya terpilih juga.Perempuan itu tercengang tak percaya ketika diberitahu bahwa ada seseorang yang tertarik padanya.“Sayangnya bukan dari Amerika atau Inggris seperti yang kita harapkan.
PENGANTIN PESANAN04 – Kedatangan Pengantin-3 BULAN KEMUDIAN-“Bos, pesawatnya sebentar lagi landing.”Ponsel Danesh yang disetel dalam mode senyap menampilkan notifikasi di layar. Nama Ucok, asisten pribadinya, m
Pengantin Pesanan0 – PrologPerempuan bertubuh ramping dengan pinggang kecil itu mengerjapkan mata hijaunya; begitu jernih bagaikan air danau yang tenang namun menyimpan misteri.Hidungnya tinggi berpadu dengan bibir seksi yang mengundang untuk dikecup, l







