INICIAR SESIÓNPengantin Pesanan30 – Les PertamaKata-kata, Katya mulai menyadari, bisa terasa seperti kunci.Di asrama, setiap kata baru diajarkan dengan tongkat. Satu kata untuk setiap sikap yang harus dipakai, satu kata untuk setiap perintah yang harus ditaati, dan setiap kesalahan melafalkannya dibayar dengan sesuatu yang membuat jari-jarinya gemetar selama berhari-hari. Kata adalah tali. Kata adalah kekang. Tetapi di ruang tamu yang diterangi cahaya jam dua siang ini, dengan puluhan kartu bergambar berserakan di karpet dan seorang jurnalis kurus yang menjatuhkan separuh tumpukannya setiap kali Rosie menoleh, kata-kata terasa sangat berbeda. Setiap satu yang berhasil dia pegang membuka sebuah pintu kecil, dan di balik pintu itu ada dunia yang sebelumnya terkunci.“Apel,” kata Hari, mengangkat kartu bergambar buah merah dengan semangat orang yang sedang menunjukkan sulap. “A-pel. Apple.”“Apel,” ulang Katya.“Pintu.”“Pintu.”“Kursi, meja, lampu, jendela, kucing, buku, hujan.” Hari mengocok kart
Pengantin Pesanan29 – HariSemua Alexa di rumah itu dicabut pagi harinya.Ucok membongkar satu per satu di meja ruang kerja, tujuh unit dari tujuh ruangan, dan menemukan bahwa firmware di salah satunya, yang di dapur, telah diubah dari luar tanpa meninggalkan jejak yang bisa dilacak. Dia menyimpannya di dalam kotak sepatu bertuliskan BUKTI dengan huruf besar spidol, dan Bromo membawanya pergi seperti membawa jenazah. Sejak itu satu-satunya penerjemah di rumah adalah ponsel, Rosie, dan Svetlana yang datang tiga kali seminggu dengan pirozhki.Danesh menyembunyikan ketakutannya dengan kerja. Itu satu-satunya cara yang dia tahu.Hari datang pukul dua siang dengan sepeda motor tua yang knalpotnya bisa terdengar dari ujung komplek, dan Danesh sudah tahu orang macam apa dia sebelum lelaki itu membuka helm.Dia kurus, tinggi, nyaris kurang gizi, dengan kaus hitam yang sudah luntur menjadi abu-abu dan jaket berkantong banyak yang menggembung oleh benda-benda yang tidak jelas. Sebuah kamera te
Pengantin Pesanan28 – DapurKartu pos itu bersembunyi di saku celemek Katya, terlipat dua dan sudah mulai melunak di sudut-sudutnya karena terlalu sering disentuh.Dia tidak berniat membawanya ke dapur. Tetapi sejak kemarin sore kartu itu seperti punya denyut sendiri, benda kecil yang hangat dan berat, dan setiap kali dia meninggalkannya di kamar, dadanya terasa kosong. Maka pagi itu dia menyelipkannya di saku celemek bergambar buah lemon yang dipinjamkan Rosie, bersama sebatang pensil warna ungu, dan berusaha tidak memikirkan kata Olya yang berputar di kepalanya seperti lagu yang tidak bisa dia ingat nadanya.“Oke,” kata Rosie, menepuk kedua tangannya di atas meja dapur yang sudah dipenuhi benda-benda. “Pelajaran satu. Nasi goreng dan pancake.”Dia mengatakannya dalam bahasa Indonesia, lalu mengangkat ponselnya, kemudian menggeleng dan menyimpannya lagi. “Enggak, aku enggak mau pakai penerjemah. Kita pakai cara kuno.” Dia menunjuk dirinya sendiri, menunjuk Katya, lalu membuat geraka
Pengantin Pesanan27 – RosieRosie tiba pukul sembilan malam dengan sebuah koper yang bunyi rodanya terdengar dari ujung jalan, ransel hijau lumut, dan sepasang sepatu kets yang sudah lama kehilangan warna aslinya. Dua penjaga baru di gerbang langsung menghalangi jalannya dengan tangan terentang.“Saya mau ketemu Abang saya.”“Maaf, Mbak, kami belum dapat informasi…”“Neng Rosie!” Suara Ucok menggema dari beranda, disusul bunyi langkah tergesa dan sebuah wajan yang terayun-ayun di tangan kanannya. “Dia bukan teroris! Dia adiknya Bos! Biarin masuk, biarin masuk, dia galak tapi aman!”Rosie mengangkat alis. “Masih bawa wajan itu, Cok?”“Selalu, Neng. Prinsip hidup.”Dia tertawa, memeluk Ucok singkat dan kuat, lalu menepuk lengan Bromo yang berdiri di belakang dengan wajah seperti tiang listrik. “Om Bromo, makin gede aja.”“Hm,” kata Bromo, dan telinganya memerah.Danesh berdiri di ambang pintu ruang tamu, menunggu, dengan kedua tangan terjejal ke saku celana. Rosie menaiki beranda, menu
Pengantin Pesanan26 – Kata PertamaDanesh tidak menyangka bahwa tidur sepuluh menit di atas selimut bisa terasa seperti habis berlari maraton.Pukul tujuh pagi dia sudah berada di dapur dengan secangkir kopi hitam yang belum tersentuh, menatap uap yang naik dari cangkirnya dan mencoba mengingat setiap kata yang dikatakan Dokter Riza lewat telepon pukul dua dini hari. Jangan membanjirinya. Biarkan dia yang bertanya. Jangan memutuskan sesuatu atas namanya. Dia sudah mengirim pesan singkat pada Rosie, adik tirinya yang sedang kuliah psikologi di Bandung, dengan satu kalimat yang dia hapus-tulis tiga kali sebelum terkirim. Bisa ke Jakarta? Aku butuh bantuan. Balasannya datang kurang dari semenit. Kapan? Dan jangan bohong sama aku.Dia menghela napas. Rosie selalu tahu kapan dia sedang berbohong, bahkan lewat teks.Langkah kaki terdengar di tangga.Katya turun dengan piyama katun yang sama seperti semalam, rambut kusut di satu sisi, wajah lebih pucat daripada biasanya. Dia tidak tersenyum
Pengantin Pesanan25 – Rumah DijagaBromo berdiri di depan pintu sejak pagi, dan Katya mulai curiga bahwa lelaki besar itu memang terbuat dari batu.Dia tidak duduk. Tidak minum. Tidak bergerak kecuali kepalanya yang berputar sedikit setiap kali ada suara dari halaman, dan bahunya yang menegang setiap kali ada kendaraan lewat di jalan. Danesh sudah pergi sebelum matahari terbit bersama Ucok dan polisi, dan rumah ini terasa jauh lebih besar tanpa dia, seperti kapal yang kehilangan jangkar.“Dia cuma menjalankan perintah,” kata Svetlana, yang menyiapkan teh di dapur dan mengamati Katya mondar-mandir dengan mata yang bolak-balik menatapnya dan Bromo. “Pak Danesh bilang jangan tinggalkan ruangan ini. Dia akan berdiri di sana sampai lututnya copot.”Katya menatap punggung Bromo dari ujung lorong. Lalu dia mengambil sepiring nasi dengan ayam goreng dari dapur, berjalan dengan hati-hati, dan berhenti di depan lelaki itu sambil mengulurkan piring dengan kedua tangan.Bromo menunduk. Menatap p
Pengantin Pesanan01 – Resmi Jadi Duda“Selamat Dan, sudah resmi jadi duda.”Evan, pengacara perceraian yang mewakilinya, menyerahkan amplop cokelat pada Danesh, dia menyeringai dengan senyum penuh arti pada teman sekampusnya dulu.Danes
Pengantin Pesanan0 – PrologPerempuan bertubuh ramping dengan pinggang kecil itu mengerjapkan mata hijaunya; begitu jernih bagaikan air danau yang tenang namun menyimpan misteri.Hidungnya tinggi berpadu dengan bibir seksi yang mengundang untuk dikecup, l
PENGANTIN PESANAN05 – Monster SesungguhnyaAkhirnya Katya terpilih juga.Perempuan itu tercengang tak percaya ketika diberitahu bahwa ada seseorang yang tertarik padanya.“Sayangnya bukan dari Amerika atau Inggris seperti yang kita harapkan.
PENGANTIN PESANAN04 – Kedatangan Pengantin-3 BULAN KEMUDIAN-“Bos, pesawatnya sebentar lagi landing.”Ponsel Danesh yang disetel dalam mode senyap menampilkan notifikasi di layar. Nama Ucok, asisten pribadinya, m







