Share

Bab 5

Penulis: Bekzy
Pada suatu hari yang sangat biasa, aku mendapati Zoey sudah pulang negeri.

Hari itu, aku dan Darren sudah berjanji akan makan malam bersama.

Karena sore harinya tidak ada kesibukan, aku datang lebih awal ke kantornya untuk menunggu dia pulang kerja.

Hingga pukul delapan malam, waktu itu sudah jauh melewati jam yang kami sepakati.

Namun, pintu ruang kerjanya masih tertutup rapat.

Setelah bertanya kepada sekretarisnya, barulah aku tahu. Sejak sore dia sedang menerima seorang tamu penting.

Sebagai pemimpin Grup Setiadi, wajar sekali ada orang datang ke kantor untuk membicarakan kerja sama dengannya.

Jadi, aku tidak terlalu memikirkannya dan hanya kembali duduk di ruang tunggu dan terus menunggunya.

Aku sama sekali tidak menyadari tatapan sekretaris yang seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi menahannya.

Sampai pada pukul sembilan malam, pintu ruang kerjanya akhirnya terbuka.

Saat melihat sosok tamu yang keluar dari dalam, hatiku perlahan tenggelam.

Itu adalah Zoey.

Dia telah kembali.

Darren mengangkat tangan dan melihat arlojinya. Wajahnya memperlihatkan ekspresi penuh rasa bersalah yang begitu kukenal.

"Maaf, aku sudah membuatmu menunggu selama ini."

Lalu dia sedikit berpaling dan memperkenalkan wanita di sampingnya.

"Ini Zoey Hamis. Dia adalah ... seorang ...." Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Teman."

Zoey menyibakkan rambut ikalnya, lalu mengulurkan tangan ke arahku sambil tersenyum cerah.

"Salam kenal. Nona Shellen, ’kan? Aku pernah mendengar Darren menyebutmu."

"Maaf sekali. Aku dan Darren sudah nggak bertemu selama dua tahun, jadi kami tanpa sadar mengobrol sampai selarut ini. Jadinya kamu harus menunggu lama di luar."

Aku memandangi wanita yang berdiri di samping Darren. Senyumnya begitu cerah. Sikapnya anggun dan terbuka saat menyapaku.

Untuk pertama kalinya, aku merasa kata menunggu ternyata bisa begitu menyakitkan.

Selama lebih dari setahun pernikahan kami, aku sering datang ke kantor menunggunya pulang kerja.

Namun setiap kali datang, aku hanya menunggu di ruang tunggu.

Aku tidak pernah sekali pun masuk ke ruang kerjanya.

Apalagi duduk di sana dan mengobrol dengannya seperti yang dilakukan Zoey.

Dulu Darren pernah bilang. Baginya, pekerjaan dan kehidupan pribadi harus dipisahkan dengan jelas.

Ruang kerja hanya boleh digunakan untuk urusan pekerjaan.

Saat itu, aku baru menyadari ….

Seberapa pun kerasnya sebuah aturan, itu selalu ada pengecualian.

Hanya saja, pengecualian itu bukan untukku.

Zoey melirik ke luar jendela, lalu tersenyum.

"Darren, hari sudah malam begini. Bagaimana kalau aku mentraktir kamu dan Nona Shellen makan masakan Sunda? Restoran yang kita suka datangi dulu."

Darren mengangguk.

"Baik."

Baru setelah itu, dia seperti teringat sesuatu, lalu menoleh kepadaku untuk memberi penjelasan.

"Dia baru pulang ke negara ini setelah dua tahun. Malam ini kita makan di tempat yang dia inginkan dulu, ya. Restoran yang sudah kita pesan, kita pergi di lain hari saja.”

Pekerjaan Darren memang selalu sibuk.

Begitu sibuk hingga membatalkan janji denganku atau datang terlambat sudah menjadi hal yang biasa.

Begitu sibuk sampai kata lain kali dan tunggu dulu darinya sudah menjadi sesuatu yang terbiasa kudengar.

Namun entah mengapa, malam itu dua kata yang begitu akrab di telingaku justru berulang kali membuat dadaku terasa sesak.

Aku membuka mulut dan ingin memberitahunya bahwa pemilik restoran itu berencana menutup usahanya dan pulang ke kampung halaman.

Hari itu adalah hari terakhir restoran tersebut buka.

Tidak akan ada lain kali lagi.

Tapi ketika melihat mereka berdua sudah berjalan berdampingan menuju lift, aku pun hanya bisa menelan kembali semua kata-kata itu.

Aku berpikir, Zoey telah meninggalkan Darren di hari pernikahan demi pergi ke luar negeri.

Apa pun alasannya, Darren seharusnya sudah tidak lagi menyimpan perasaan untuknya.

Mungkin dia hanya menghargai persahabatan mereka yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Pasti begitu.

Namun setelah makan malam itu berakhir, barulah aku benar-benar menyadari ....

Sepertinya nama Zoey tidak pernah benar-benar hilang dari dalam hati Darren.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 18

    Satu bulan kemudian, perceraian mereka resmi disahkan.Shellen tetap tidak kembali ke Kota Jingara.Dia hanya meminta seseorang mengirimkan buku akta cerai ke Kota Sucipta.Sementara Darren mengunci akta cerai itu di dalam brankas.Sejak hari itu, dia mencurahkan seluruh tenaganya untuk perusahaan.Dia tidak lagi mencari tahu kabar Shellen.Bukan karena tidak ingin, melainkan karena tidak berani.Dia takut dirinya mendapati kabar bahwa Shellen telah menikah lagi.…Hingga tiga tahun kemudian.Setelah menyelesaikan perjalanan dinas di Navara.Gio bertanya apakah mereka akan langsung kembali ke Kota Jingara.Entah mengapa Darren tiba-tiba berkata, "Kita ke Kota Sucipta."Begitu mendengar perkataannya, Gio sempat tertegun.Darren memijat pelipisnya. Namun dia tidak menarik kembali ucapannya.Ada beberapa pintu yang begitu terbuka, maka tidak akan bisa ditutup lagi.Saat mereka tiba di Kota Sucipta, hari sudah menjelang malam.Meski sudah tiga tahun tidak datang, dia masih mengingat dengan

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 17

    Mendengar ucapannya sendiri, Zoey tiba-tiba membungkam mulutnya.Meski membuat Shellen keguguran bukanlah niat awalnya, dia masih mengingat dengan jelas bagaimana mata Darren memerah saat menggendong Shellen hari itu.Bahkan ketika mereka masih berpacaran, dia belum pernah melihat Darren kehilangan kendali sedemikian rupa.Saat itu dia sempat menduga, mungkinkah Darren sudah jatuh cinta pada Shellen?Karena dugaan itu, dia gelisah cukup lama.Bagaimanapun, Shellen keguguran ketika Darren sedang menyelamatkannya.Kalau Darren benar-benar mencintai Shellen, sangat mungkin dia akan melampiaskan kemarahannya kepadanya.Namun kemudian, Darren tidak pernah menyalahkannya.Sebaliknya, Darren justru menghiburnya dan berkata bahwa semua itu adalah kesalahannya sendiri.Darren memang terpuruk cukup lama, tetapi sikapnya kepada Zoey tetap sama seperti sebelumnya.Zoey pun berpikir, mungkin karena anak dalam kandungan Shellen adalah anak pertamanya.Keluarga besar seperti Keluarga Zoey sangat meme

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 16

    Saat itu, terdengar suara ketukan di pintu dari lantai bawah.Zoey entah dari mana mengetahui bahwa Darren pulang sendirian dari Kota Sucipta, lalu datang ke rumah Darren.Begitu pintu dibuka, dia memasang wajah penuh perhatian dan bertanya, "Darren, apakah Shellen masih bersikeras ingin bercerai denganmu?"Darren mengatupkan bibirnya rapat tanpa menjawab.Melihat reaksinya, Zoey sudah mendapatkan jawaban yang diinginkannya.Diam-diam sudut bibirnya terangkat.Selama Shellen tetap bersikeras bercerai, lalu apa artinya jika Darren mulai memiliki perasaan untuk Shellen?Begitu Shellen pergi, secara alami dialah satu-satunya wanita di sisi Darren.Berdasarkan hubungan mereka dahulu, dia yakin tidak akan butuh waktu lama sampai Darren kembali mencintainya sepenuh hati."Karena Shellen nggak mau mengubah keputusannya, Darren, sebaiknya kamu setujui saja.""Jangan khawatir, aku akan selalu berada di sisimu."Mungkin karena membayangkan Darren akan segera bercerai, kegembiraan di hati Zoey ti

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 15

    Setelah Shellen pergi, Darren duduk sendirian di kafe untuk waktu yang sangat lama.Begitu lama hingga kafe itu tutup.Baru ketika pemilik kafe dengan sopan bertanya apakah dia ingin menambah secangkir kopi lagi, dia seperti tersadar dari mimpi.Setelah keluar dari kafe, tanpa sadar dia berjalan hingga apartemen Keluarga Jiyan.Lampu di rumah Keluarga Jiyan masih menyala.Dari lantai atas masih samar-samar terdengar tawa dan canda.Di antara suara-suara itu, terselip suara yang begitu dikenalnya.Dalam lamunannya, dia teringat selama empat tahun ini Shellen jarang sekali tertawa sebebas itu.Darren memejamkan mata, menekan gejolak emosi yang memenuhi dadanya lalu berbalik dan pergi.Perjalanannya ke Kota Sucipta berakhir hanya dalam waktu kurang dari sehari.Dia gagal membawa pulang sosok yang begitu dirindukannya.Seperti saat datang, dia kembali naik pesawat seorang diri.Begitu pesawat mendarat di Kota Jingara ... hal pertama yang dilakukannya adalah pulang ke rumah.Namun ketika pi

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 14

    Sesaat, aku bahkan sempat meragukan pendengaranku sendiri.Kalau tidak, bagaimana mungkin aku mendengar Darren mengatakan bahwa dia mencintaiku?Namun saat melihat kesungguhan di matanya, aku sadar. Dia benar-benar mengucapkan kata-kata itu. Bahwa dia mencintaiku.Aku justru merasa semua ini begitu menggelikan."Kamu mencintaiku?"Darren mengangguk. Nada suaranya begitu sungguh-sungguh."Len, selama empat tahun pernikahan kita, tanpa aku sadari aku sudah jatuh cinta kepadamu. Hanya saja dulu aku nggak menyadari perasaanku sendiri."Pengakuan cinta yang begitu dalam.Namun, semakin lama aku mendengarnya semakin dingin ekspresiku.Kalau saja kata-kata itu diucapkannya pada salah satu hari dalam empat tahun terakhir, mungkin aku akan menangis karena terlalu bahagia.Tetapi sekarang, yang aku rasakan hanya ironi.Dia baru mengatakan mencintaiku setelah aku mengajukan perceraian.Di matanya aku ini apa? Seekor hewan peliharaan yang bisa dipanggil sesuka hati lalu diusir kapan saja?Baru set

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 13

    Darren berdiri di lorong gedung apartemen tua itu dengan setelan jas yang rapi.Tubuhnya yang tinggi tegap tampak begitu mencolok di lingkungan yang sederhana.Entah mengapa, saat melihat sosokku muncul … tubuhnya yang semula tegang seolah perlahan mengendur."Len, aku datang untuk menjemputmu pulang. Aku ....""Pak Darren." Aku mengernyit menatapnya dan memotong ucapannya. "Surat perjanjian perceraian yang aku kirim, apa belum diterima?"Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Darren muncul di sini.Padahal aku sudah mengirimkan surat perceraian yang telah aku tandatangani beserta cincin pernikahan itu.Setelah melihat dokumen tersebut, bukankah seharusnya dia tinggal menandatanganinya?Mengapa justru datang mencariku di Kota Sucipta?Mendengar pertanyaanku, tatapan Darren justru dipenuhi rasa sakit.Dia terdiam cukup lama.Baru setelah beberapa saat, dengan suara serak dia akhirnya membuka mulut."Len, maaf."Ucapan maaf itu, membuat hatiku sedikit bergetar.Sepertinya Darren akhirny

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status