共有

Bab 6

作者: Bekzy
Selama lebih dari setahun menjadi suami istri, dalam kehidupan kami sesekali muncul momen-momen yang terasa hangat.

Saat tanpa sengaja memesan menu yang sama, kami saling tersenyum.

Saat menghadiri jamuan makan, dia menyampirkan jasnya di pundakku.

Saat kami bangun pagi, ada ciuman ringan yang sesekali jatuh di dahiku.

Semua itu hanyalah hal-hal kecil. Namun, itu sudah cukup membuatku diam-diam meyakinkan diri bahwa Darren mulai memiliki perasaan kepadaku.

Sampai akhirnya kami tiba di restoran masakan Sunda itu.

Darren bahkan tidak perlu menanyakan Zoey ingin makan apa. Dia langsung menyebutkan tujuh sampai delapan nama hidangan kepada pelayan dengan sangat spontan.

Di akhir pesanan, dia masih sempat berpesan, "Mau yang pedas banget."

Selama proses itu, Zoey hanya duduk diam di hadapannya dengan dagu bertumpu di telapak tangan dan mata tak pernah lepas menatapnya.

Setelah pelayan pergi, barulah senyum tipis merekah di bibirnya.

"Ternyata kamu masih ingat seleraku."

Darren sedang membersihkan tangannya perlahan dengan handuk hangat.

Mendengar itu, gerakannya berhenti sejenak.

Namun, wajahnya tetap tenang saat menjawab, "Aku pernah mengajak Shellen makan di sini juga. Semua hidangan ini adalah menu andalan. Menurutku rasanya enak, jadi aku mengingatnya."

Dia berbohong.

Memang benar bahwa dia pernah mengajakku makan ke sini.

Menu yang dipesan pun persis sama.

Namun, aku masih sangat ingat apa yang terjadi malam itu. Setelah pulang, penyakit radang lambungnya kambuh.

Dia sama sekali tidak bisa makan makanan pedas.

"Ternyata begitu …." Zoey sengaja memanjangkan nada bicaranya. Sorot matanya dipenuhi godaan. "Setahuku dulu kamu nggak bisa makan pedas. Setiap kali kita makan, kamu cuma duduk melihatku makan. Nggak kusangka, dalam waktu satu tahun lebih saja, selera makanmu sudah berubah."

Tidak.

Saat itulah aku menyadari ....

Darren tidak berubah sedikit pun.

Entah orang yang ada di dalam hatinya maupun selera makannya.

Sepanjang makan malam itu, makanan di mulutku terasa hambar.

Zoey terus mengajak Darren mengobrol dengan penuh semangat. Mereka mengenang masa-masa kuliah mereka di luar negeri.

Sedangkan aku hanya duduk di samping, seperti orang asing yang tak memiliki nilai keberadaan, menemani mereka mengenang masa muda yang penuh gairah dan kebebasan.

Padahal akulah yang kini menjadi istri Darren.

Setelah selesai makan, sopir datang menjemputku dan Darren.

Darren mengusulkan agar Zoey diantar pulang lebih dulu.

Namun, Zoey menolak.

Katanya, dia bisa naik taksi sendiri.

Darren pun tidak memaksa.

Hanya saja, setelah masuk ke dalam mobil, dia tidak langsung menyuruh sopir menjalankan kendaraan.

Dia hanya duduk diam sambil memandangi Zoey yang berdiri di pinggir jalan.

Baru setelah sebuah taksi berhenti di depannya, Darren memberi isyarat kepada sopir untuk berangkat. Kemudian, dia menyandarkan tubuh di kursi dan memejamkan mata untuk beristirahat.

Pada detik berikutnya, sebuah jeritan memecah keheningan.

Zoey yang baru saja membuka pintu taksi tiba-tiba diseret beberapa pria mabuk menuju sebuah gang kecil.

Wajah Darren langsung berubah. Dia sontak turun dari mobil.

Itulah pertama kalinya aku melihat Darren semarah itu.

Bahkan setelah para pengawal datang dan berhasil menaklukkan semua pria mabuk itu, dia tetap tidak berhenti.

Dia menekan pria yang menjadi pemimpinnya ke tanah, lalu menghajarnya bertubi-tubi.

Satu pukulan demi satu pukulan menghantam wajah pria itu hingga wajahnya lebam dan berlumuran darah. Namun, Darren tetap tidak melepaskannya.

Saat melihat beberapa orang mulai mengangkat ponsel untuk merekam, aku khawatir jika Darren terus memukul, hal itu akan berdampak buruk bagi reputasinya.

Aku pun bergegas maju dan berniat menghentikannya.

Baru saja tanganku menyentuh lengannya, tanpa menoleh sedikit pun, dia langsung mengibaskan tangannya dengan keras.

Aku terhempas jatuh ke tanah.

Saat aku menggertakkan gigi dan berusaha bangkit, perut bagian bawahku tiba-tiba terasa sangat sakit.

Aku menunduk.

Di atas aspal perlahan mengembang noda merah gelap.

Hari itu, bahkan sebelum aku sempat mengetahui keberadaan anakku ....

Aku sudah kehilangan anakku.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 18

    Satu bulan kemudian, perceraian mereka resmi disahkan.Shellen tetap tidak kembali ke Kota Jingara.Dia hanya meminta seseorang mengirimkan buku akta cerai ke Kota Sucipta.Sementara Darren mengunci akta cerai itu di dalam brankas.Sejak hari itu, dia mencurahkan seluruh tenaganya untuk perusahaan.Dia tidak lagi mencari tahu kabar Shellen.Bukan karena tidak ingin, melainkan karena tidak berani.Dia takut dirinya mendapati kabar bahwa Shellen telah menikah lagi.…Hingga tiga tahun kemudian.Setelah menyelesaikan perjalanan dinas di Navara.Gio bertanya apakah mereka akan langsung kembali ke Kota Jingara.Entah mengapa Darren tiba-tiba berkata, "Kita ke Kota Sucipta."Begitu mendengar perkataannya, Gio sempat tertegun.Darren memijat pelipisnya. Namun dia tidak menarik kembali ucapannya.Ada beberapa pintu yang begitu terbuka, maka tidak akan bisa ditutup lagi.Saat mereka tiba di Kota Sucipta, hari sudah menjelang malam.Meski sudah tiga tahun tidak datang, dia masih mengingat dengan

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 17

    Mendengar ucapannya sendiri, Zoey tiba-tiba membungkam mulutnya.Meski membuat Shellen keguguran bukanlah niat awalnya, dia masih mengingat dengan jelas bagaimana mata Darren memerah saat menggendong Shellen hari itu.Bahkan ketika mereka masih berpacaran, dia belum pernah melihat Darren kehilangan kendali sedemikian rupa.Saat itu dia sempat menduga, mungkinkah Darren sudah jatuh cinta pada Shellen?Karena dugaan itu, dia gelisah cukup lama.Bagaimanapun, Shellen keguguran ketika Darren sedang menyelamatkannya.Kalau Darren benar-benar mencintai Shellen, sangat mungkin dia akan melampiaskan kemarahannya kepadanya.Namun kemudian, Darren tidak pernah menyalahkannya.Sebaliknya, Darren justru menghiburnya dan berkata bahwa semua itu adalah kesalahannya sendiri.Darren memang terpuruk cukup lama, tetapi sikapnya kepada Zoey tetap sama seperti sebelumnya.Zoey pun berpikir, mungkin karena anak dalam kandungan Shellen adalah anak pertamanya.Keluarga besar seperti Keluarga Zoey sangat meme

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 16

    Saat itu, terdengar suara ketukan di pintu dari lantai bawah.Zoey entah dari mana mengetahui bahwa Darren pulang sendirian dari Kota Sucipta, lalu datang ke rumah Darren.Begitu pintu dibuka, dia memasang wajah penuh perhatian dan bertanya, "Darren, apakah Shellen masih bersikeras ingin bercerai denganmu?"Darren mengatupkan bibirnya rapat tanpa menjawab.Melihat reaksinya, Zoey sudah mendapatkan jawaban yang diinginkannya.Diam-diam sudut bibirnya terangkat.Selama Shellen tetap bersikeras bercerai, lalu apa artinya jika Darren mulai memiliki perasaan untuk Shellen?Begitu Shellen pergi, secara alami dialah satu-satunya wanita di sisi Darren.Berdasarkan hubungan mereka dahulu, dia yakin tidak akan butuh waktu lama sampai Darren kembali mencintainya sepenuh hati."Karena Shellen nggak mau mengubah keputusannya, Darren, sebaiknya kamu setujui saja.""Jangan khawatir, aku akan selalu berada di sisimu."Mungkin karena membayangkan Darren akan segera bercerai, kegembiraan di hati Zoey ti

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 15

    Setelah Shellen pergi, Darren duduk sendirian di kafe untuk waktu yang sangat lama.Begitu lama hingga kafe itu tutup.Baru ketika pemilik kafe dengan sopan bertanya apakah dia ingin menambah secangkir kopi lagi, dia seperti tersadar dari mimpi.Setelah keluar dari kafe, tanpa sadar dia berjalan hingga apartemen Keluarga Jiyan.Lampu di rumah Keluarga Jiyan masih menyala.Dari lantai atas masih samar-samar terdengar tawa dan canda.Di antara suara-suara itu, terselip suara yang begitu dikenalnya.Dalam lamunannya, dia teringat selama empat tahun ini Shellen jarang sekali tertawa sebebas itu.Darren memejamkan mata, menekan gejolak emosi yang memenuhi dadanya lalu berbalik dan pergi.Perjalanannya ke Kota Sucipta berakhir hanya dalam waktu kurang dari sehari.Dia gagal membawa pulang sosok yang begitu dirindukannya.Seperti saat datang, dia kembali naik pesawat seorang diri.Begitu pesawat mendarat di Kota Jingara ... hal pertama yang dilakukannya adalah pulang ke rumah.Namun ketika pi

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 14

    Sesaat, aku bahkan sempat meragukan pendengaranku sendiri.Kalau tidak, bagaimana mungkin aku mendengar Darren mengatakan bahwa dia mencintaiku?Namun saat melihat kesungguhan di matanya, aku sadar. Dia benar-benar mengucapkan kata-kata itu. Bahwa dia mencintaiku.Aku justru merasa semua ini begitu menggelikan."Kamu mencintaiku?"Darren mengangguk. Nada suaranya begitu sungguh-sungguh."Len, selama empat tahun pernikahan kita, tanpa aku sadari aku sudah jatuh cinta kepadamu. Hanya saja dulu aku nggak menyadari perasaanku sendiri."Pengakuan cinta yang begitu dalam.Namun, semakin lama aku mendengarnya semakin dingin ekspresiku.Kalau saja kata-kata itu diucapkannya pada salah satu hari dalam empat tahun terakhir, mungkin aku akan menangis karena terlalu bahagia.Tetapi sekarang, yang aku rasakan hanya ironi.Dia baru mengatakan mencintaiku setelah aku mengajukan perceraian.Di matanya aku ini apa? Seekor hewan peliharaan yang bisa dipanggil sesuka hati lalu diusir kapan saja?Baru set

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 13

    Darren berdiri di lorong gedung apartemen tua itu dengan setelan jas yang rapi.Tubuhnya yang tinggi tegap tampak begitu mencolok di lingkungan yang sederhana.Entah mengapa, saat melihat sosokku muncul … tubuhnya yang semula tegang seolah perlahan mengendur."Len, aku datang untuk menjemputmu pulang. Aku ....""Pak Darren." Aku mengernyit menatapnya dan memotong ucapannya. "Surat perjanjian perceraian yang aku kirim, apa belum diterima?"Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Darren muncul di sini.Padahal aku sudah mengirimkan surat perceraian yang telah aku tandatangani beserta cincin pernikahan itu.Setelah melihat dokumen tersebut, bukankah seharusnya dia tinggal menandatanganinya?Mengapa justru datang mencariku di Kota Sucipta?Mendengar pertanyaanku, tatapan Darren justru dipenuhi rasa sakit.Dia terdiam cukup lama.Baru setelah beberapa saat, dengan suara serak dia akhirnya membuka mulut."Len, maaf."Ucapan maaf itu, membuat hatiku sedikit bergetar.Sepertinya Darren akhirny

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status