Masuk“Benteng?”
Aruna menatap Arden tanpa sedikit pun gentar. Jari-jarinya mencengkeram sapu tangan sutra berinisial L itu erat-erat, seolah benda kecil itu adalah satu-satunya kendali yang masih ia miliki di ruangan ini.
“Kau menyebut Kaeswara Estate ini benteng?” lanjutnya pelan, suaranya tenang tapi berlapis tantangan. “Dari luar kelihatannya seperti rumah besar dengan terlalu banyak jendela dan terlalu sedikit cahaya. Tapi benteng selalu menyimpan sesuatu yang sangat berharga di dalamnya. Apa yang sebenarnya kau lindungi sampai harus dibayar dengan utang darah keluargaku, Tuan?”
Tatapan Arden mengeras.
Udara di antara mereka seolah membeku.
“Berikan itu padaku,” perintahnya rendah.
Aruna mengangkat alis. “Tidak.”
Satu kata. Pendek. Tegas. Seperti palu yang jatuh di permukaan marmer.
“Kau sedang menguji kesabaranku, Aruna.”
“Aku tahu,” jawabnya ringan. “Dan aku sedang menilai harga kesabaran itu.”
Ia mengangkat sapu tangan itu sedikit lebih tinggi. Kain sutra itu berkilau samar diterpa lampu temaram.
“Ini milik siapa?” tanyanya. “Bukan milik orang sembarangan. Sampai kau segugup ini.”
Hening.
Arden tidak menjawab.
“Ah,” Aruna menarik napas kecil. “Berarti aku benar.”
“Kau sudah membaca Aturan Emas,” desis Arden. “Butir tiga.”
“Jangan menyebut nama Layla,” ucap Aruna pelan. “Aku ingat.”
Sorot mata Arden menajam. Ada sesuatu yang pecah kecil di sana, kemarahan, kepedihan, atau mungkin keduanya.
“Tapi aku juga membaca Butir Lima,” lanjut Aruna. “Harga kebebasan.”
Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Jarak mereka kini hanya sejengkal.
“Sapu tangan ini adalah negosiasi. Apa yang sebenarnya kau sembunyikan di Sayap Kiri?”
Hening kembali memanjang.
Ada detik-detik panjang sebelum Arden akhirnya berbicara.
“Ada seseorang yang harus kulindungi.”
“Dari siapa?”
“Dari dunia luar.”
Aruna terkekeh pendek. “Kedengarannya sangat romantis untuk ukuran pria yang membeli istri.”
“Termasuk dari Rendra,” sambungnya cepat.
Nama itu jatuh seperti batu ke dalam air tenang.
Rahang Arden mengeras.
“Rendra belum tahu apa-apa,” katanya dingin. “Dia hanya mencurigai.”
“Kecurigaan tentang apa?”
“Bahwa kematian Layla tidak menutup semua cerita.”
Dada Aruna terasa dihantam sesuatu yang tak terlihat.
“Dan… itu benar?”
Arden tidak menjawab.
Dalam satu gerakan cepat, ia meraih pergelangan tangan Aruna. Cengkeramannya kuat, dingin, terkendali, bukan untuk menyakiti, tapi untuk menguasai.
“Serahkan.”
Aruna menatap matanya lama. Dalam. Menyisir semua retakan yang ia lihat di balik ketegaran itu.
Akhirnya ia mengulurkan sapu tangan tersebut.
“Baik,” katanya pelan. “Tapi ingat, Tuan Kaeswara, kecurigaan tidak pernah mati sendirian.”
Arden menyimpannya di saku dalam jubahnya dengan gerakan yang nyaris lembut.
“Justru karena itu kau ada di sini.”
“Oh,” Aruna menghela napas kecil. “Jadi aku tameng.”
“Dan pengalih arah.”
Tok. Tok.
Ketukan pintu terdengar. Tidak tergesa. Tidak ragu.
“Masuk,” perintah Arden.
Pintu terbuka. Reyna berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang, tidak seperti biasanya. Tidak ada sindiran. Tidak ada ejekan. Yang ada hanya kewaspadaan murni.
“Tuan,” katanya singkat, menahan napas. “Orang Rendra terlihat di gerbang luar.”
Ruangan seketika terasa lebih sempit.
“Sejak kapan?” tanya Arden.
“Lima belas menit lalu. Mereka tidak masuk, tapi mereka memastikan kita tahu bahwa mereka ada.”
“Apakah mereka melihat sesuatu?”
“Tidak,” jawab Reyna. “Tapi mereka bertanya tentang Nyonya baru.”
Pandangan Arden langsung mengarah ke Aruna.
“Oh,” Aruna bergumam. “Aku baru tiba satu malam, dan sudah jadi bahan gosip elite.”
“Mereka belum tahu apa-apa,” lanjut Reyna. “Tapi mereka mencium perubahan. Dan itu cukup untuk membuat Rendra bergerak.”
Arden terdiam sejenak. Lalu, “Perketat penjagaan.”
“Sudah saya lakukan.”
Reyna melirik Aruna. Tatapannya tajam, dingin, penuh kecurigaan.
“Anda datang terlalu bertepatan dengan gerakan Rendra, Nyonya,” katanya pelan. “Sulit untuk tidak mencurigainya.”
“Aku juga datang terlalu bertepatan dengan kehancuran hidupku sendiri,” balas Aruna ringan. “Kalau ini semua konspirasi, sayangnya aku aktor tanpa naskah.”
“Kau keberatan jadi umpan?” tanya Reyna datar.
Arden langsung menoleh. “Cukup.”
“Aku tidak keberatan,” potong Aruna. “Asal aku tahu perang ini seperti apa.”
Tatapan Arden mengeras.
“Kau tahu risikonya?”
“Aku akan didekati. Dicurigai. Mungkin dijebak,” jawab Aruna. “Tapi justru itu yang kubutuhkan.”
“Untuk apa?”
“Supaya Rendra percaya bahwa aku ini celah terbaiknya.”
Sunyi menggantung.
Akhirnya Arden berkata, “Kau akan tetap tampil sebagai Nyonya Kaeswara yang wajar. Tidak gelisah. Tidak berlebihan.”
“Gelisah bukan gaya hidupku,” balas Aruna.
Reyna membungkuk kecil. “Saya akan mengawasi pergerakan luar.”
Setelah Reyna pergi, Arden menatap Aruna lama.
“Kau baru saja masuk ke papan permainan yang bukan ukuranmu.”
Aruna tersenyum tipis. “Dan pion sering kali justru yang paling merepotkan.”
Arden berbalik menuju pintu.
“Beristirahatlah,” katanya. “Besok dunia akan mulai menatapmu.”
Pintu tertutup.
Aruna berdiri sendirian.
Ia menoleh ke lorong gelap menuju Sayap Kiri.
“Rendra mencurigai.”
Ia menghela napas pelan.
“Baiklah,” bisiknya.
Aruna masih berdiri di tempatnya beberapa saat setelah langkah Arden benar-benar menghilang. Keheningan itu terasa lebih berat daripada pertengkaran barusan. Dinding-dinding Kaeswara Estate seakan menyerap napasnya, menyimpan setiap rahasia yang baru saja dibuka setengah.
Ia menunduk menatap telapak tangannya sendiri, kosong kini, tanpa sapu tangan itu.
“Tameng,” gumamnya lirih.
Kata itu tidak terdengar heroik. Tidak juga mulia. Tapi justru terasa kejam dalam kesederhanaannya.
Di kejauhan, suara langkah patroli terdengar samar. Penjagaan diperketat.
Aruna tersenyum miring.
“Setahun,” bisiknya.
“Aku harap aku salah.”Suara Reyna terdengar pelan, tapi getar di dalamnya cukup untuk membuat ruangan kerja Arden yang biasanya tenang terasa menegang. Pagi itu, cahaya matahari masih lembut menyentuh kaca besar di belakang meja kerja, tetapi ekspresi Reyna tidak membawa kabar yang lembut.Aruna, yang duduk di sofa panjang di sudut ruangan, mengangkat wajahnya perlahan. Bayangan malam tanpa takut yang mereka lewati bersama masih terasa hangat di dadanya. Namun ia tahu, kehangatan itu memang tidak dimaksudkan untuk menggantikan perang... hanya untuk menguatkan sebelum perang benar-benar datang.Arden berdiri di belakang mejanya, jasnya sudah rapi, wajahnya kembali menjadi sosok pemimpin Kaeswara yang tak mudah dibaca.“Sampaikan saja, Reyna,” ucapnya tenang.Reyna menarik napas dalam, lalu meletakkan sebuah map cokelat tebal di atas meja. “Saya menemukan pergerakan aset kecil yang tidak tercatat di laporan utama. Nilainya tidak besar jika dibandingkan dengan total aset Kaeswara… tapi
“Aku tidak takut mereka menyerang perusahaan, Aruna. Kau tahu itu.”Suara Arden terdengar tenang, tetapi ada sesuatu yang berat menggantung di ujung kalimatnya. Ia berdiri di depan jendela kamar, memandangi halaman yang gelap dengan tangan terlipat di dada, seolah dunia di luar sana adalah papan catur dan ia sedang menghitung langkah-langkah musuhnya.Aruna memperhatikannya dari belakang. Ia sudah mengenal bahasa tubuh pria itu cukup lama untuk tahu bahwa keheningan seperti ini bukan sekadar lelah. Ini adalah ketegangan yang dipendam terlalu lama.“Kalau begitu,” katanya lembut sambil melangkah mendekat, “yang kau takutkan bukan perusahaan.”Arden menghela napas pelan sebelum menoleh. Tatapannya turun ke wajah Aruna, dan untuk sesaat, topeng pemimpin keluarga Kaeswara itu retak.“Aku takut mereka menyerangmu,” akunya akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. “Paman Bima tidak akan berhenti pada gugatan warisan. Ia sudah menyebarkan rumor tentang kondisi mentalku, tentang kesta
“Aku tidak punya banyak waktu untuk mengulang ini, Aruna… jadi dengarkan aku baik-baik.”Suara Layla tidak lagi setajam biasanya.Ia terbaring di ranjang rumah sakit dengan cahaya senja menembus tirai tipis, membentuk garis-garis pucat di wajahnya yang kini terlihat lebih rapuh daripada yang pernah Aruna bayangkan. Aroma antiseptik bercampur dengan kesunyian yang terlalu bersih, seolah ruangan itu sengaja diciptakan untuk percakapan yang tidak ingin didengar siapa pun.Aruna duduk di kursi samping tempat tidur. Tangannya menggenggam tas kecilnya erat-erat, bukan karena gugup, tetapi karena ada sesuatu di udara yang terasa seperti akhir.“Apa yang ingin Kak Layla katakan?” tanyanya pelan.Layla tersenyum samar. Senyum yang dulu penuh percaya diri, kini lebih menyerupai bayangan.“Kau tidak pernah memanggilku Kak sebelumnya.”Aruna terdiam sejenak. “Sekarang berbeda.”Layla menatap langit-langit sebentar, seolah mengumpulkan tenaga.“Ya… sekarang memang berbeda.”Sunyi menggantung.Di l
“Kalau kewarasan bisa diwariskan, mungkin kau tidak akan pernah duduk di kursi itu, Arden.”Kalimat itu meluncur tenang, hampir lembut, namun tajamnya mengiris udara ruang kerja utama Kaeswara. Tidak ada teriakan bahkan meja yang dibanting. Hanya suara Paman Bima yang terukur, dingin, dan sangat sadar bahwa setiap kata memiliki bobot hukum.Arden tidak langsung menjawab. Ia berdiri di dekat jendela tinggi, cahaya sore menipiskan bayangannya di lantai marmer. Di balik punggung tegaknya, ada getar halus yang hanya bisa dikenali oleh seseorang yang mengenalnya cukup lama, dan Aruna mengenalnya cukup lama.Aruna duduk sedikit di belakangnya. Tidak sebagai sekretaris. Tidak sebagai istri yang sekadar mendampingi. Tapi sebagai saksi hidup atas semua luka yang selama ini dipelintir menjadi rumor.Paman Bima tersenyum samar.“Aku tidak datang untuk berdebat secara emosional. Aku datang dengan kuasa hukum. Dan dengan permintaan resmi pembagian warisan keluarga Kaeswara, termasuk hak kepemili
“Kalau hari ini aku jatuh… kau yakin bisa hidup tenang setelahnya, Aruna?”Suara Rendra terdengar pelan, hampir seperti bisikan, saat mereka berpapasan di lorong menuju ruang sidang. Tak ada wartawan di sana. Tak ada hakim. Hanya dua orang yang pernah berdiri dalam lingkar kekuasaan yang sama.. dan kini saling berhadapan sebagai musuh.Aruna tidak langsung menjawab.Ia menatap lelaki itu dengan tatapan yang tidak lagi menyimpan takut. Tidak juga marah. Hanya tenang untuk seseorang yang dulu gemetar hanya karena satu ancaman.“Yang tidak bisa hidup tenang itu orang yang bersalah..” jawabnya akhirnya, suaranya datar namun tajam. “Aku hanya menagih apa yang seharusnya.”Rendra tersenyum tipis, senyum yang dulu mampu membuat banyak orang mundur satu langkah. Tapi hari ini, senyum itu tidak lagi berdaya.Karena di belakang Aruna, berdiri Arden.Dan Arden tidak perlu bicara untuk membuat tekanan berubah arah.Ruang sidang penuh. Kamera wartawan berderet seperti pasukan. Aroma kayu tua dan
Malam turun dengan cara yang berbeda di Kaeswara. Tidak ada hujan, tidak ada petir... hanya langit gelap yang menggantung berat, seolah ikut menunggu sidang esok hari.Aruna berdiri di balkon kamar utama, rambutnya tergerai diterpa angin malam. Di bawah sana, halaman luas tampak sunyi, namun ia tahu badai sedang bergerak perlahan menuju mereka.Besok, bukti kejahatan finansial Paman Bima akan dibuka. Nama keluarga Nirmala akan tercabik. Media akan haus darah. Dan mereka... ia dan Arden...akan berdiri di tengahnya.Langkah kaki berat mendekat dari belakang.“Kau masih memikirkan kemungkinan terburuk?” suara Arden rendah, lebih berat dari biasanya.Aruna tidak langsung menoleh. “Aku memikirkan bagaimana wajah Rendra besok ketika semua itu dibuka.”“Lalu?”“Aku tidak tahu apakah aku siap melihatnya hancur.”Arden berdiri di belakangnya. Tidak menyentuh. Hanya cukup dekat untuk membuat napas mereka berirama.“Kau masih punya sisa belas kasihan rupanya..” gumamnya.“Apa itu salah?”“Tidak







