Home / Romansa / Pengantin di Gerbang Hitam / Bab 2  Aturan Emas dan Si Tukang Kritik

Share

Bab 2  Aturan Emas dan Si Tukang Kritik

Author: Aira Jiva
last update Last Updated: 2025-10-27 16:17:42

“Benteng?”

Aruna menatap Arden tanpa sedikit pun gentar. Jari-jarinya mencengkeram sapu tangan sutra berinisial L itu erat-erat, seolah benda kecil itu adalah satu-satunya kendali yang masih ia miliki di ruangan ini.

“Kau menyebut Kaeswara Estate ini benteng?” lanjutnya pelan, suaranya tenang tapi berlapis tantangan. “Dari luar kelihatannya seperti rumah besar dengan terlalu banyak jendela dan terlalu sedikit cahaya. Tapi benteng selalu menyimpan sesuatu yang sangat berharga di dalamnya. Apa yang sebenarnya kau lindungi sampai harus dibayar dengan utang darah keluargaku, Tuan?”

Tatapan Arden mengeras.

Udara di antara mereka seolah membeku.

“Berikan itu padaku,” perintahnya rendah.

Aruna mengangkat alis. “Tidak.”

Satu kata. Pendek. Tegas. Seperti palu yang jatuh di permukaan marmer.

“Kau sedang menguji kesabaranku, Aruna.”

“Aku tahu,” jawabnya ringan. “Dan aku sedang menilai harga kesabaran itu.”

Ia mengangkat sapu tangan itu sedikit lebih tinggi. Kain sutra itu berkilau samar diterpa lampu temaram.

“Ini milik siapa?” tanyanya. “Bukan milik orang sembarangan. Sampai kau segugup ini.”

Hening.

Arden tidak menjawab.

“Ah,” Aruna menarik napas kecil. “Berarti aku benar.”

“Kau sudah membaca Aturan Emas,” desis Arden. “Butir tiga.”

“Jangan menyebut nama Layla,” ucap Aruna pelan. “Aku ingat.”

Sorot mata Arden menajam. Ada sesuatu yang pecah kecil di sana, kemarahan, kepedihan, atau mungkin keduanya.

“Tapi aku juga membaca Butir Lima,” lanjut Aruna. “Harga kebebasan.”

Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Jarak mereka kini hanya sejengkal.

“Sapu tangan ini adalah negosiasi. Apa yang sebenarnya kau sembunyikan di Sayap Kiri?”

Hening kembali memanjang.

Ada detik-detik panjang sebelum Arden akhirnya berbicara.

“Ada seseorang yang harus kulindungi.”

“Dari siapa?”

“Dari dunia luar.”

Aruna terkekeh pendek. “Kedengarannya sangat romantis untuk ukuran pria yang membeli istri.”

“Termasuk dari Rendra,” sambungnya cepat.

Nama itu jatuh seperti batu ke dalam air tenang.

Rahang Arden mengeras.

“Rendra belum tahu apa-apa,” katanya dingin. “Dia hanya mencurigai.”

“Kecurigaan tentang apa?”

“Bahwa kematian Layla tidak menutup semua cerita.”

Dada Aruna terasa dihantam sesuatu yang tak terlihat.

“Dan… itu benar?”

Arden tidak menjawab.

Dalam satu gerakan cepat, ia meraih pergelangan tangan Aruna. Cengkeramannya kuat, dingin, terkendali, bukan untuk menyakiti, tapi untuk menguasai.

“Serahkan.”

Aruna menatap matanya lama. Dalam. Menyisir semua retakan yang ia lihat di balik ketegaran itu.

Akhirnya ia mengulurkan sapu tangan tersebut.

“Baik,” katanya pelan. “Tapi ingat, Tuan Kaeswara, kecurigaan tidak pernah mati sendirian.”

Arden menyimpannya di saku dalam jubahnya dengan gerakan yang nyaris lembut.

“Justru karena itu kau ada di sini.”

“Oh,” Aruna menghela napas kecil. “Jadi aku tameng.”

“Dan pengalih arah.”

Tok. Tok.

Ketukan pintu terdengar. Tidak tergesa. Tidak ragu.

“Masuk,” perintah Arden.

Pintu terbuka. Reyna berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang, tidak seperti biasanya. Tidak ada sindiran. Tidak ada ejekan. Yang ada hanya kewaspadaan murni.

“Tuan,” katanya singkat, menahan napas. “Orang Rendra terlihat di gerbang luar.”

Ruangan seketika terasa lebih sempit.

“Sejak kapan?” tanya Arden.

“Lima belas menit lalu. Mereka tidak masuk, tapi mereka memastikan kita tahu bahwa mereka ada.”

“Apakah mereka melihat sesuatu?”

“Tidak,” jawab Reyna. “Tapi mereka bertanya tentang Nyonya baru.”

Pandangan Arden langsung mengarah ke Aruna.

“Oh,” Aruna bergumam. “Aku baru tiba satu malam, dan sudah jadi bahan gosip elite.”

“Mereka belum tahu apa-apa,” lanjut Reyna. “Tapi mereka mencium perubahan. Dan itu cukup untuk membuat Rendra bergerak.”

Arden terdiam sejenak. Lalu, “Perketat penjagaan.”

“Sudah saya lakukan.”

Reyna melirik Aruna. Tatapannya tajam, dingin, penuh kecurigaan.

“Anda datang terlalu bertepatan dengan gerakan Rendra, Nyonya,” katanya pelan. “Sulit untuk tidak mencurigainya.”

“Aku juga datang terlalu bertepatan dengan kehancuran hidupku sendiri,” balas Aruna ringan. “Kalau ini semua konspirasi, sayangnya aku aktor tanpa naskah.”

“Kau keberatan jadi umpan?” tanya Reyna datar.

Arden langsung menoleh. “Cukup.”

“Aku tidak keberatan,” potong Aruna. “Asal aku tahu perang ini seperti apa.”

Tatapan Arden mengeras.

“Kau tahu risikonya?”

“Aku akan didekati. Dicurigai. Mungkin dijebak,” jawab Aruna. “Tapi justru itu yang kubutuhkan.”

“Untuk apa?”

“Supaya Rendra percaya bahwa aku ini celah terbaiknya.”

Sunyi menggantung.

Akhirnya Arden berkata, “Kau akan tetap tampil sebagai Nyonya Kaeswara yang wajar. Tidak gelisah. Tidak berlebihan.”

“Gelisah bukan gaya hidupku,” balas Aruna.

Reyna membungkuk kecil. “Saya akan mengawasi pergerakan luar.”

Setelah Reyna pergi, Arden menatap Aruna lama.

“Kau baru saja masuk ke papan permainan yang bukan ukuranmu.”

Aruna tersenyum tipis. “Dan pion sering kali justru yang paling merepotkan.”

Arden berbalik menuju pintu.

“Beristirahatlah,” katanya. “Besok dunia akan mulai menatapmu.”

Pintu tertutup.

Aruna berdiri sendirian.

Ia menoleh ke lorong gelap menuju Sayap Kiri.

“Rendra mencurigai.”

“Layla disembunyikan.”

“Aku dijadikan tameng.”

Ia menghela napas pelan.

“Baiklah,” bisiknya.

“Kalau ini benteng… aku akan masuk ke jantungnya.”

Aruna masih berdiri di tempatnya beberapa saat setelah langkah Arden benar-benar menghilang. Keheningan itu terasa lebih berat daripada pertengkaran barusan. Dinding-dinding Kaeswara Estate seakan menyerap napasnya, menyimpan setiap rahasia yang baru saja dibuka setengah.

Ia menunduk menatap telapak tangannya sendiri, kosong kini, tanpa sapu tangan itu.

“Tameng,” gumamnya lirih.

Kata itu tidak terdengar heroik. Tidak juga mulia. Tapi justru terasa kejam dalam kesederhanaannya.

Di kejauhan, suara langkah patroli terdengar samar. Penjagaan diperketat.

Aruna tersenyum miring.

Rendra mencurigai.

Arden bersembunyi.

Dan dirinya? Baru saja resmi menjadi pusat badai.

“Setahun,” bisiknya.

“Setahun, dan aku tidak akan keluar sebagai pion.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 45 Di Bawah Lampu, Kita Berdiri

    “Apakah Anda siap?”Pertanyaan itu datang dari produser acara dengan suara rendah tapi tegang. Lampu studio belum sepenuhnya menyala. Kamera masih dalam posisi siaga. Namun atmosfer di ruangan itu sudah terasa seperti medan tempur.Arden berdiri tegak, jas gelapnya rapi, wajahnya tenang... terlalu tenang untuk seseorang yang beberapa hari terakhir namanya digeret ke mana-mana.Di sampingnya, Aruna berdiri dengan sikap santai, punggung lurus, dagu sedikit terangkat. Gaun yang ia kenakan tidak mencolok, tapi tegas. Tidak ada perhiasan berlebihan. Tidak ada kesan “istri yang dipamerkan”. Ia terlihat seperti seseorang yang tahu persis mengapa ia ada di sana.Arden meliriknya.“Kalau mereka menyerang,” ucapnya pelan, hampir tak terdengar, “aku bisa bicara sendiri.”Aruna menoleh, menatapnya sekilas... cukup untuk menyampaikan segalanya.“Dan kalau mereka menyudutkan?” balasnya ringan. “Aku tidak datang untuk diam.”Produser mengangguk kecil. “Tiga… dua… satu.”Lampu menyala.—“Selamat mal

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 44 Pernyataan yang Membelah Kaeswara

    “Ini sudah menyebar.”Suara Aruna terdengar tenang, tapi ketenangan itu bukan milik orang yang tidak peduli. Itu ketenangan seseorang yang sudah lebih dulu bersiap menghadapi badai.Arden mengangkat kepala dari meja kerjanya. Lampu ruangan masih redup. Pagi belum benar-benar menang atas malam. Kemeja yang ia kenakan kusut ringan, kancing atas terbuka... jejak keputusan semalam yang belum sepenuhnya kembali menjadi rutinitas formal.“Apa?” tanyanya singkat.Aruna melangkah mendekat, meletakkan tabletnya di atas meja kerja Arden, lalu memutarnya perlahan agar layar menghadap tepat ke arahnya.Judul besar itu langsung menghantam.PAMAN BIMA BUKA SUARA: DEMI KAESWARA, ARDEN HARUS MENYINGKIRTidak ada tanda seru. Tidak ada kata-kata kasar. Justru itulah yang membuatnya berbahaya.Arden tidak langsung bereaksi. Ia menatap layar itu lama. Terlalu lama untuk sekadar membaca.“Putar,” katanya akhirnya.—Wajah Paman Bima muncul memenuhi layar. Rambutnya rapi, jasnya sempurna, ekspresinya tenan

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 43 Kekuatan Kita di Atas Meja Dokumen

    “Kalau aku tanda tangani ini sekarang, apa yang akan kau lakukan?”Suara Aruna tenang. Terlalu tenang untuk situasi yang sedang mereka hadapi.Arden berdiri di seberang meja kerjanya, kedua tangannya bertumpu pada permukaan kayu gelap yang dipenuhi dokumen. Lampu meja menyala redup, memantulkan bayangan wajahnya yang keras... bukan karena marah, melainkan karena sedang menahan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.“Kalau kau tanda tangani,” jawab Arden perlahan, “Rendra akan kehilangan celah terakhirnya.”Aruna menggeser map biru itu sedikit ke tengah meja. Di dalamnya, kontrak penjualan aset yang tidak sah... nama perusahaan cangkang, tanggal yang dimajukan, dan tanda tangan palsu yang terlalu percaya diri.“Kau tahu,” kata Aruna sambil membuka halaman terakhir, “orang seperti Rendra selalu lupa satu hal.”“Apa?” Arden menatapnya tajam.“Bahwa aku membaca semuanya.”Keheningan jatuh.Bukan keheningan canggung... melainkan hening yang tegang, seperti detik sebelum sesuatu dipatahkan deng

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 42 Layla Mengalami Kemajuan Signifikan

    “Aruna…”Suara itu nyaris tak terdengar. Lebih mirip embusan napas yang tersangkut di tenggorokan seseorang yang sudah lama lupa bagaimana caranya memanggil orang lain tanpa rasa takut.Aruna berhenti di ambang pintu.Bukan karena ia terkejut... ia sudah mendengar banyak hal yang lebih mengejutkan dalam hidupnya... melainkan karena ia tahu, jika ia bergerak terlalu cepat, momen rapuh itu bisa runtuh begitu saja.“Aku di sini,” jawab Aruna pelan. Tidak mendekat. Tidak mundur. Nada suaranya datar, aman. “Aku tidak akan masuk kalau kau tidak mau.”Keheningan kembali turun.Layla duduk di sudut ruangan, punggungnya bersandar pada dinding berwarna gading. Rambutnya disanggul asal, beberapa helai jatuh menutupi wajahnya. Tangannya mencengkeram ujung selimut, seperti orang yang bersiap menghadapi gelombang yang tak terlihat.“Suaramu…” Layla menelan ludah. “Tidak berisik.”Itu bukan pujian. Itu pengakuan.Aruna mengangguk, meski Layla mungkin tidak melihatnya. “Aku memang tidak suka berisik.

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 41 Laporan Koneksi Rendra

    “Ini gila,” kata Aruna sambil menatap dokumen tebal di mejanya. Kertas-kertas itu hampir menumpuk setinggi lengan, setiap halaman membawa potongan puzzle yang lebih menakutkan daripada sebelumnya. “Mereka tidak main-main.”Arden duduk di seberangnya, kedua tangannya saling bertaut, menatap Aruna dengan mata yang menahan ledakan emosi. “Apa maksudmu, ‘tidak main-main’?”Aruna menghela napas panjang, matanya menyapu setiap baris laporan yang disusun rapi oleh Pak Herman. “Pak Herman menemukan sesuatu. Sesuatu yang menghubungkan Rendra langsung ke Paman Bima. Mereka… mereka bermain di level yang sama, Arden. Dan ini bukan sekadar bisnis atau utang lama... ini permainan hidup dan mati.”Arden meneguk. Udara di ruang kerja terasa berat, seolah setiap kata Aruna menekan dada. “Tunjukkan padaku.”Aruna menggeser dokumen itu ke arahnya, membuka halaman pertama. Grafik aliran dana, tanda tangan palsu, transaksi tersembunyi. “Lihat ini. Ada transfer besar dari rekening perusahaan Rendra ke akun

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 40 Detektif Swasta Dilibatkan

    “Nama saya Herman.”Suara itu tenang, nyaris datar, seperti orang yang sudah terlalu sering melihat rahasia sampai berhenti terkejut oleh apa pun.Arden tidak langsung menjawab. Ia menatap pria paruh baya di seberang meja... rambutnya sudah memutih di pelipis, kemeja abu-abu sederhana, jam tangan kulit yang tampak usang tapi dirawat. Tidak ada aura pamer. Tidak ada kesan ingin mengesankan.Justru itu yang membuatnya berbahaya.“Dan Anda tahu,” kata Arden pelan, “bahwa orang-orang yang ingin kami selidiki tidak bermain bersih.”Pak Herman mengangguk kecil. “Kalau mereka bermain bersih, Tuan Arden tidak akan memanggil saya.”Aruna menyilangkan kaki, mencondongkan tubuh ke depan. Matanya tajam, memindai setiap perubahan ekspresi pria itu.“Rendra,” ucap Aruna, jelas. “Dan Paman Bima.”Untuk pertama kalinya, Herman menghela napas lebih panjang dari sekadar formalitas.“Dua nama itu,” katanya, “punya ekor. Panjang. Dan tidak semua orang yang mengikutinya pulang dengan selamat.”Arden melir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status