Home / Romansa / Pengantin di Gerbang Hitam / Bab 1 Malam Panas di Ranjang Kompensasi

Share

Pengantin di Gerbang Hitam
Pengantin di Gerbang Hitam
Author: Aira Jiva

Bab 1 Malam Panas di Ranjang Kompensasi

Author: Aira Jiva
last update Last Updated: 2025-10-27 12:42:42

“Aagh…”

Suara itu lolos begitu saja dari tenggorokan Aruna. Lebih mirip napas yang tersendat daripada desahan kenikmatan. Dadanya naik turun, napasnya tidak teratur. Tangannya mencengkeram seprai putih yang terasa terlalu halus, terlalu mahal, terlalu asing.

Ranjang ini bukan miliknya.

Kamar ini bukan miliknya.

Dan pria yang kini begitu dekat di atasnya… apalagi.

Arden Kaeswara.

Nama itu menggema di kepalanya seperti lonceng vonis.

Tubuh pria itu menekan dirinya. Napas mereka bersinggungan. Ada panas di sana, panas yang tidak lahir dari cinta, hanya dari jarak yang terlalu dekat antara dua orang asing yang dipaksa berbagi ruang.

Aruna memejamkan mata.

Bukan karena ingin.

Tapi karena tidak sanggup menatap kenyataan.

Gerakan Arden tegas. Tidak ragu. Tidak canggung. Seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan sesuatu tanpa melibatkan perasaan. Tidak ada bisikan. Tidak ada sapaan. Tidak ada kelembutan yang biasanya mengiringi pertemuan dua tubuh.

Yang ada hanya ritme yang dingin. Terukur. Sunyi.

Setiap sentuhan terasa seperti tanda tangan di atas kontrak yang tak pernah ia baca, tapi kini harus ia jalani.

Air mata hampir jatuh, tapi Aruna menahannya. Ia menolak menangis sekarang. Tidak di hadapan pria yang bahkan tidak menganggapnya manusia sepenuhnya.

Wajah Arden datar. Rahangnya mengeras. Pandangannya kosong, tidak pernah benar-benar bertemu dengan matanya. Seolah yang ada di bawahnya bukan Aruna, melainkan bayangan dari seseorang yang lain.

Dan itu… jauh lebih menyakitkan daripada perlakuan kasar mana pun.

Saat semuanya berakhir, Arden menjauh lebih dulu.

Cepat. Tegas. Tanpa sisa.

Jarak tercipta di antara mereka. Di ranjang. Di udara. Di dunia.

Aruna membuka mata perlahan. Langit-langit kamar tampak buram. Napasnya masih berat. Ada perih yang menjalar pelan dari dadanya, menyebar ke seluruh tubuhnya.

Ia baru saja menyerahkan sesuatu yang bahkan belum sempat ia jaga sepenuhnya.

Dan pria itu?

“Sudah.”

Suara Arden rendah dan serak. Tidak hangat. Tidak juga dingin, lebih seperti suara orang yang baru saja menutup satu urusan.

“Nirmala.”

Nama itu terdengar seperti panggilan formal, bukan panggilan untuk seorang istri.

Aruna tertawa kecil. Pahit.

“Tenang saja, Tuan Kaeswara,” ucapnya pelan. “Saya juga sadar ini bukan adegan romantis.”

Arden tidak menanggapi.

Ia bergeser menjauh, duduk di tepi ranjang, lalu berdiri tanpa menoleh. Seolah tubuh Aruna yang masih terbaring itu hanyalah furnitur yang baru ia gunakan.

Di situlah Aruna benar-benar paham.

Ia bukan istri.

Ia kompensasi.

Properti yang diuangkan oleh kebangkrutan dosa orang lain.

Arden melangkah ke sisi ruangan, meraih jubah mandi, lalu melilitkannya di pinggang. Posturnya tinggi, bahunya bidang, tubuhnya tegak di bawah cahaya rembulan yang masuk dari jendela besar.

Dan saat itulah suara itu terdengar.

Melodi piano.

Lembut. Pelan. Sendu. Mengalun dari kejauhan seperti ratapan yang tersesat di lorong-lorong rumah besar itu.

Arden membeku.

Punggungnya menegang. Bahunya naik sedikit. Untuk pertama kalinya sejak Aruna melihatnya, pria itu kehilangan kendali sempurna atas ekspresinya.

Ada sesuatu di sana.

Rindu.

Kehilangan.

Dan rasa sakit yang sudah terlalu lama dipendam.

“Suara apa itu…?” bisik Aruna.

Arden tidak menjawab.

Ia berdiri menghadap jendela, menatap ke arah bangunan sayap kiri yang tenggelam dalam gelap. Seolah di sanalah pusat semesta hatinya berada.

Layla.

Nama itu tidak diucapkan, tapi keberadaannya terasa nyata.

Aruna menyadari satu hal dengan getir.

Dalam pernikahan ini, ia tidak hanya bersaing dengan masa lalu..

ia bersaing dengan orang mati.

“Di rumah ini,” ucap Arden akhirnya, dingin kembali, “kau diam.”

Aruna menelan ludah. “Karena saya dibayar untuk itu?”

“Kompensasi dibayar untuk patuh,” jawab Arden tanpa menoleh.

Astaga. Lengkap sudah.

Aruna menggeser kakinya turun dari ranjang. Lantai terasa dingin di telapak kakinya. Ia hendak melangkah, tetapi matanya menangkap sesuatu di karpet tebal dekat meja rias.

Sekertas kertas tebal.

Ia memungutnya.

ATURAN EMAS KAESWARA

Tangannya sedikit gemetar saat membaca.

Pertama, Kepatuhan Publik.

Di hadapan siapa pun, Anda adalah Nyonya Kaeswara.

Kedua, Batasan Pribadi.

Hubungan ini adalah transaksi.

Ketiga, Rahasia Keheningan.

Jangan pernah membicarakan Layla Nirmala.

Keempat, Zona Terlarang.

JANGAN PERNAH MASUK KE SAYAP KIRI.

Kelima, Harga Kebebasan.

Patuhi aturan ini selama satu tahun, dan Anda bebas.

Satu tahun.

Satu tahun menjadi istri pria yang memandangnya sebagai harga.

Tiba-tiba, sesuatu terjatuh dari balik lipatan kertas itu.

Sapu tangan sutra putih.

Dingin. Halus.

Di sudutnya, terbordir satu huruf kecil:

L.

Aruna terdiam.

Jejak Layla bukan hanya berupa suara piano. Ia nyata. Ditinggalkan di kamar ini. Di antara mereka.

Arden berbalik.

Dan untuk pertama kalinya, Aruna melihat kepanikan di wajah pria itu.

“Berikan itu.”

Nada suaranya tajam. Terlalu tajam untuk sekadar sebuah perintah biasa.

Aruna menggenggam sapu tangan itu erat. Jantungnya berdegup kencang, tapi ada api kecil yang menyala di dadanya.

“Jadi…” ucapnya pelan, “istrimu tidak benar-benar pergi, ya?”

Langkah Arden terhenti tepat di depannya. Jarak mereka sangat dekat. Terlalu dekat.

“Kau bermain api,” bisiknya.

“Dan kau menyimpannya di rumah sendiri,” balas Aruna lirih.

Tatapan mereka bertubrukan.

Untuk pertama kalinya, Aruna tidak melihat Pembunuh.

Ia melihat Penjaga, seseorang yang mempertahankan sebuah rahasia dengan nyawanya.

“Kau akan membunuhku jika aku melanggar aturanmu?” tanya Aruna pelan.

Arden menatapnya lama.

“Tergantung,” jawabnya rendah.

“Seberapa besar kerusakan yang kau buat pada bentengku.”

Aruna tidak mundur.

Dalam pernikahan ini, ia bukan lagi sekadar kompensasi.

Ia kini adalah pemegang rahasia.

Dan permainan…

baru saja dimulai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 72 Retakan Yang Disembunyikan

    “Aku harap aku salah.”Suara Reyna terdengar pelan, tapi getar di dalamnya cukup untuk membuat ruangan kerja Arden yang biasanya tenang terasa menegang. Pagi itu, cahaya matahari masih lembut menyentuh kaca besar di belakang meja kerja, tetapi ekspresi Reyna tidak membawa kabar yang lembut.Aruna, yang duduk di sofa panjang di sudut ruangan, mengangkat wajahnya perlahan. Bayangan malam tanpa takut yang mereka lewati bersama masih terasa hangat di dadanya. Namun ia tahu, kehangatan itu memang tidak dimaksudkan untuk menggantikan perang... hanya untuk menguatkan sebelum perang benar-benar datang.Arden berdiri di belakang mejanya, jasnya sudah rapi, wajahnya kembali menjadi sosok pemimpin Kaeswara yang tak mudah dibaca.“Sampaikan saja, Reyna,” ucapnya tenang.Reyna menarik napas dalam, lalu meletakkan sebuah map cokelat tebal di atas meja. “Saya menemukan pergerakan aset kecil yang tidak tercatat di laporan utama. Nilainya tidak besar jika dibandingkan dengan total aset Kaeswara… tapi

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 71 Malam Intens

    “Aku tidak takut mereka menyerang perusahaan, Aruna. Kau tahu itu.”Suara Arden terdengar tenang, tetapi ada sesuatu yang berat menggantung di ujung kalimatnya. Ia berdiri di depan jendela kamar, memandangi halaman yang gelap dengan tangan terlipat di dada, seolah dunia di luar sana adalah papan catur dan ia sedang menghitung langkah-langkah musuhnya.Aruna memperhatikannya dari belakang. Ia sudah mengenal bahasa tubuh pria itu cukup lama untuk tahu bahwa keheningan seperti ini bukan sekadar lelah. Ini adalah ketegangan yang dipendam terlalu lama.“Kalau begitu,” katanya lembut sambil melangkah mendekat, “yang kau takutkan bukan perusahaan.”Arden menghela napas pelan sebelum menoleh. Tatapannya turun ke wajah Aruna, dan untuk sesaat, topeng pemimpin keluarga Kaeswara itu retak.“Aku takut mereka menyerangmu,” akunya akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. “Paman Bima tidak akan berhenti pada gugatan warisan. Ia sudah menyebarkan rumor tentang kondisi mentalku, tentang kesta

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 70 Tolong Jaga Dia

    “Aku tidak punya banyak waktu untuk mengulang ini, Aruna… jadi dengarkan aku baik-baik.”Suara Layla tidak lagi setajam biasanya.Ia terbaring di ranjang rumah sakit dengan cahaya senja menembus tirai tipis, membentuk garis-garis pucat di wajahnya yang kini terlihat lebih rapuh daripada yang pernah Aruna bayangkan. Aroma antiseptik bercampur dengan kesunyian yang terlalu bersih, seolah ruangan itu sengaja diciptakan untuk percakapan yang tidak ingin didengar siapa pun.Aruna duduk di kursi samping tempat tidur. Tangannya menggenggam tas kecilnya erat-erat, bukan karena gugup, tetapi karena ada sesuatu di udara yang terasa seperti akhir.“Apa yang ingin Kak Layla katakan?” tanyanya pelan.Layla tersenyum samar. Senyum yang dulu penuh percaya diri, kini lebih menyerupai bayangan.“Kau tidak pernah memanggilku Kak sebelumnya.”Aruna terdiam sejenak. “Sekarang berbeda.”Layla menatap langit-langit sebentar, seolah mengumpulkan tenaga.“Ya… sekarang memang berbeda.”Sunyi menggantung.Di l

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 69 Tuntutan Terakhir

    “Kalau kewarasan bisa diwariskan, mungkin kau tidak akan pernah duduk di kursi itu, Arden.”Kalimat itu meluncur tenang, hampir lembut, namun tajamnya mengiris udara ruang kerja utama Kaeswara. Tidak ada teriakan bahkan meja yang dibanting. Hanya suara Paman Bima yang terukur, dingin, dan sangat sadar bahwa setiap kata memiliki bobot hukum.Arden tidak langsung menjawab. Ia berdiri di dekat jendela tinggi, cahaya sore menipiskan bayangannya di lantai marmer. Di balik punggung tegaknya, ada getar halus yang hanya bisa dikenali oleh seseorang yang mengenalnya cukup lama, dan Aruna mengenalnya cukup lama.Aruna duduk sedikit di belakangnya. Tidak sebagai sekretaris. Tidak sebagai istri yang sekadar mendampingi. Tapi sebagai saksi hidup atas semua luka yang selama ini dipelintir menjadi rumor.Paman Bima tersenyum samar.“Aku tidak datang untuk berdebat secara emosional. Aku datang dengan kuasa hukum. Dan dengan permintaan resmi pembagian warisan keluarga Kaeswara, termasuk hak kepemili

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 68 Kejatuhan dan Kemenangan

    “Kalau hari ini aku jatuh… kau yakin bisa hidup tenang setelahnya, Aruna?”Suara Rendra terdengar pelan, hampir seperti bisikan, saat mereka berpapasan di lorong menuju ruang sidang. Tak ada wartawan di sana. Tak ada hakim. Hanya dua orang yang pernah berdiri dalam lingkar kekuasaan yang sama.. dan kini saling berhadapan sebagai musuh.Aruna tidak langsung menjawab.Ia menatap lelaki itu dengan tatapan yang tidak lagi menyimpan takut. Tidak juga marah. Hanya tenang untuk seseorang yang dulu gemetar hanya karena satu ancaman.“Yang tidak bisa hidup tenang itu orang yang bersalah..” jawabnya akhirnya, suaranya datar namun tajam. “Aku hanya menagih apa yang seharusnya.”Rendra tersenyum tipis, senyum yang dulu mampu membuat banyak orang mundur satu langkah. Tapi hari ini, senyum itu tidak lagi berdaya.Karena di belakang Aruna, berdiri Arden.Dan Arden tidak perlu bicara untuk membuat tekanan berubah arah.Ruang sidang penuh. Kamera wartawan berderet seperti pasukan. Aroma kayu tua dan

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 67 Antara Gairah dan Perang

    Malam turun dengan cara yang berbeda di Kaeswara. Tidak ada hujan, tidak ada petir... hanya langit gelap yang menggantung berat, seolah ikut menunggu sidang esok hari.Aruna berdiri di balkon kamar utama, rambutnya tergerai diterpa angin malam. Di bawah sana, halaman luas tampak sunyi, namun ia tahu badai sedang bergerak perlahan menuju mereka.Besok, bukti kejahatan finansial Paman Bima akan dibuka. Nama keluarga Nirmala akan tercabik. Media akan haus darah. Dan mereka... ia dan Arden...akan berdiri di tengahnya.Langkah kaki berat mendekat dari belakang.“Kau masih memikirkan kemungkinan terburuk?” suara Arden rendah, lebih berat dari biasanya.Aruna tidak langsung menoleh. “Aku memikirkan bagaimana wajah Rendra besok ketika semua itu dibuka.”“Lalu?”“Aku tidak tahu apakah aku siap melihatnya hancur.”Arden berdiri di belakangnya. Tidak menyentuh. Hanya cukup dekat untuk membuat napas mereka berirama.“Kau masih punya sisa belas kasihan rupanya..” gumamnya.“Apa itu salah?”“Tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status