LOGIN“Aku tidak akan masuk ke Sayap Kiri.”
Suara Aruna terdengar tenang, tetapi napasnya tertahan di tenggorokan. Ia berdiri tegak di hadapan Reyna, di ruang tengah yang udara paginya terasa dingin seperti lantai marmer di bawah telapak kakinya.
“Tapi aku juga tidak akan membiarkan siapa pun masuk ke sana.”
Reyna menatapnya lama. Tatapan itu seperti pisau yang tidak langsung menusuk, tetapi menekan perlahan, menguji apakah lawannya akan mundur sendiri.
“Kaeswara tidak butuh pahlawan, Nyonya,” ucap Reyna kaku.
“Bagus,” jawab Aruna santai. “Aku juga tidak bercita-cita mati heroik di rumah orang.”
Reyna berbalik tanpa memberi ruang untuk perdebatan lanjutan. Langkahnya menjauh, sepatu haknya berdetak teratur, seperti hitungan mundur bagi sesuatu yang belum terlihat.
Aruna mengembuskan napas pelan.
Di dekat vas bunga, Elise berdiri canggung. Wajahnya pucat, matanya penuh tanya. Tangannya terangkat, membuat isyarat kecil yang hati-hati.
“Aman,” bisik Aruna. “Untuk saat ini.”
Elise mengangguk, tetapi jemarinya tetap gemetar. Ia kembali menyusun bunga seolah tidak ada badai yang baru saja lewat, padahal udara jelas bergetar oleh hal-hal yang belum terucap.
Sore menjelang dengan cahaya jingga yang menimpa jendela-jendela tinggi Kaeswara Estate. Aruna duduk sendiri di ruang baca. Rak buku menjulang seperti dinding pengadilan. Setiap judul terasa seperti saksi bisu sejarah keluarga yang tidak pernah benar-benar bersih.
Ia membuka satu buku, membalik halaman tanpa benar-benar membaca. Kepalanya dipenuhi suara-suara yang tidak tertulis.
Langkah sepatu terdengar.
Arden masuk.
“Reyna bilang kau lagi-lagi di area yang tidak perlu,” katanya tanpa basa-basi.
“Aku sedang membaca,” jawab Aruna santai. “Atau pura-pura membaca. Dua-duanya sah di rumah ini.”
“Kau bicara dengan Elise.”
“Ya.”
“Tentang apa?”
“Bunga.”
Arden menatapnya tajam.
“Elise tidak bicara.”
“Justru itu yang membuatnya aman untuk diajak bicara,” sahut Aruna pelan.
Arden melangkah lebih dekat. Bayangnya jatuh menutupi sebagian cahaya sore di lantai.
“Kau tahu batasan.”
“Aku tahu,” ujar Aruna akhirnya menoleh. “Dan aku juga tahu Layla hidup.”
Sunyi.
Suara jam dinding terdengar terlalu keras.
“Kau tidak melihat apa pun,” kata Arden dingin.
“Aku melihat cukup,” balas Aruna. “Dan aku tahu kau menjadikanku tameng.”
“Kau setuju.”
“Aku setuju setelah tahu taruhannya.”
Tatapan mereka bertumbukan. Tidak ada kemarahan yang meledak. Yang ada hanya dua orang yang sama-sama lelah mempertahankan rahasia.
“Kau tidak harus terlibat sejauh ini,” kata Arden.
“Kau melibatkanku sejak menyeretku ke ranjang sebagai transaksi,” jawab Aruna tanpa meninggikan suara.
Hening menebal.
“Aku bukan tameng tanpa suara,” lanjut Aruna. “Aku bukan dekorasi hukum untuk menipu dunia.”
“Kau ingin apa?”
“Informasi.”
“Kau tidak membutuhkannya.”
“Aku membutuhkannya,” potong Aruna. “Aku tidak bisa melindungi sesuatu yang bahkan tidak sepenuhnya kupahami.”
Arden menghela napas panjang, seperti seseorang yang baru saja mengaku kalah dalam pertempuran kecil.
“Rendra mencurigai,” katanya akhirnya.
“Mencurigai apa?”
“Bahwa aku tidak pernah benar-benar kehilangan Layla.”
Jantung Aruna berdetak lebih kencang.
“Dan aku?”
“Kau adalah perubahan yang terlalu mencolok.”
“Wajar,” ujar Aruna getir. “Barang mahal memang bikin orang curiga.”
“Kau sadar mereka akan mengujimu.”
“Sebagai istrimu?”
“Sebagai celah.”
Aruna tersenyum tipis. “Sayang sekali. Aku tumbuh sebagai orang yang terbiasa hidup di celah.”
Malam turun perlahan, membungkus Kaeswara Estate dengan kesunyian yang penuh makna. Di kamarnya, Aruna berdiri di dekat jendela ketika pintu terbuka perlahan.
Elise masuk. Di tangannya ada papan kecil dan spidol.
Ia menulis cepat:
HATI-HATI BESOK.
“Kau tahu?” tanya Aruna.
Elise mengangguk, lalu menulis lagi:
ORANG RENDRA.
“Dia tidak pernah kehabisan cara,” gumam Aruna.
Elise ragu sejenak, lalu menulis lebih pelan:
LAYLA TAKUT.
Jantung Aruna mencelos.
“Dia dengar sesuatu?”
Elise menggeleng cepat, lalu menggambar simbol telinga dan tanda silang.
“Bukan suara… tapi firasat?”
Elise mengangguk.
Aruna duduk di tepi ranjang. Bahunya terasa berat.
“Katakana pada Layla, tanpa kata, kalau aku di sini bukan untuk menjualnya lagi.”
Elise menatap Aruna lama. Matanya berkaca-kaca. Ia mengangguk kuat.
Pagi berikutnya, ruang makan Kaeswara terasa seperti ruang sidang sebelum vonis. Semua diam. Semua tegang.
Arden duduk di kepala meja. Reyna berdiri di belakangnya. Elise bergerak senyap menyajikan teh.
Aruna duduk di samping Arden.
“Utusan Rendra datang jam delapan malam ini,” kata Arden.
“Oh,” Aruna mengaduk tehnya. “Jam yang bagus untuk pengkhianatan.”
“Formal.”
“Berarti aku harus terlihat seperti istri mahal dan tidak berbahaya.”
“Itu yang membuatmu berbahaya.”
“Terima kasih atas validasinya.”
Reyna menoleh ke Elise.
“Pastikan Sayap Kiri steril.”
Elise mengangguk cepat.
“Kalian bicara tentang Sayap Kiri seperti itu ruang karantina wabah,” gumam Aruna.
“Karena memang begitu,” jawab Reyna.
“Dan aku ini vaksin eksperimental,” Aruna bergumam.
Arden menoleh. “Jangan meremehkan peranmu.”
“Aku tidak meremehkan,” sahut Aruna. “Aku hanya jujur tentang absurditas hidupku.”
Siang hari, Aruna berdiri di balkon ketika ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal.
Ia mengangkat.
“Sudah betah di kandang singa?” suara Rendra terdengar santai.
“Kandangnya dingin. Singanya dingin. Cocok dengan suasana hatiku.”
“Kau bahagia?”
“Aku hidup.”
“Itu dua hal berbeda.”
“Di keluargamu, iya.”
“Hati-hati. Kaeswara menyimpan banyak kematian yang tidak tercatat.”
“Dan kau menyimpan lebih banyak yang sengaja kau buat,” balas Aruna.
Telepon terputus.
Malam tiba.
Aruna berdiri di depan cermin. Gaun hitam membungkus tubuhnya seperti zirah perang. Elise membenarkan lipatan gaun itu. Jemarinya gemetar.
“Tenang,” bisik Aruna. “Aku belum mati malam ini.”
Elise menggeleng cepat, lalu menulis:
JANGAN TERLUKA.
“Aku akan berusaha,” jawab Aruna pelan.
Di ruang tamu, lampu-lampu kristal menyala terang. Mobil tamu berhenti di depan.
Arden berdiri di samping Aruna.
“Apapun yang terjadi,” katanya pelan, “kau tetap di sisiku.”
“Untuk pertama kalinya,” jawab Aruna, “aku memang tidak punya tempat lain.”
Pintu utama terbuka.
“Aku harap aku salah.”Suara Reyna terdengar pelan, tapi getar di dalamnya cukup untuk membuat ruangan kerja Arden yang biasanya tenang terasa menegang. Pagi itu, cahaya matahari masih lembut menyentuh kaca besar di belakang meja kerja, tetapi ekspresi Reyna tidak membawa kabar yang lembut.Aruna, yang duduk di sofa panjang di sudut ruangan, mengangkat wajahnya perlahan. Bayangan malam tanpa takut yang mereka lewati bersama masih terasa hangat di dadanya. Namun ia tahu, kehangatan itu memang tidak dimaksudkan untuk menggantikan perang... hanya untuk menguatkan sebelum perang benar-benar datang.Arden berdiri di belakang mejanya, jasnya sudah rapi, wajahnya kembali menjadi sosok pemimpin Kaeswara yang tak mudah dibaca.“Sampaikan saja, Reyna,” ucapnya tenang.Reyna menarik napas dalam, lalu meletakkan sebuah map cokelat tebal di atas meja. “Saya menemukan pergerakan aset kecil yang tidak tercatat di laporan utama. Nilainya tidak besar jika dibandingkan dengan total aset Kaeswara… tapi
“Aku tidak takut mereka menyerang perusahaan, Aruna. Kau tahu itu.”Suara Arden terdengar tenang, tetapi ada sesuatu yang berat menggantung di ujung kalimatnya. Ia berdiri di depan jendela kamar, memandangi halaman yang gelap dengan tangan terlipat di dada, seolah dunia di luar sana adalah papan catur dan ia sedang menghitung langkah-langkah musuhnya.Aruna memperhatikannya dari belakang. Ia sudah mengenal bahasa tubuh pria itu cukup lama untuk tahu bahwa keheningan seperti ini bukan sekadar lelah. Ini adalah ketegangan yang dipendam terlalu lama.“Kalau begitu,” katanya lembut sambil melangkah mendekat, “yang kau takutkan bukan perusahaan.”Arden menghela napas pelan sebelum menoleh. Tatapannya turun ke wajah Aruna, dan untuk sesaat, topeng pemimpin keluarga Kaeswara itu retak.“Aku takut mereka menyerangmu,” akunya akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. “Paman Bima tidak akan berhenti pada gugatan warisan. Ia sudah menyebarkan rumor tentang kondisi mentalku, tentang kesta
“Aku tidak punya banyak waktu untuk mengulang ini, Aruna… jadi dengarkan aku baik-baik.”Suara Layla tidak lagi setajam biasanya.Ia terbaring di ranjang rumah sakit dengan cahaya senja menembus tirai tipis, membentuk garis-garis pucat di wajahnya yang kini terlihat lebih rapuh daripada yang pernah Aruna bayangkan. Aroma antiseptik bercampur dengan kesunyian yang terlalu bersih, seolah ruangan itu sengaja diciptakan untuk percakapan yang tidak ingin didengar siapa pun.Aruna duduk di kursi samping tempat tidur. Tangannya menggenggam tas kecilnya erat-erat, bukan karena gugup, tetapi karena ada sesuatu di udara yang terasa seperti akhir.“Apa yang ingin Kak Layla katakan?” tanyanya pelan.Layla tersenyum samar. Senyum yang dulu penuh percaya diri, kini lebih menyerupai bayangan.“Kau tidak pernah memanggilku Kak sebelumnya.”Aruna terdiam sejenak. “Sekarang berbeda.”Layla menatap langit-langit sebentar, seolah mengumpulkan tenaga.“Ya… sekarang memang berbeda.”Sunyi menggantung.Di l
“Kalau kewarasan bisa diwariskan, mungkin kau tidak akan pernah duduk di kursi itu, Arden.”Kalimat itu meluncur tenang, hampir lembut, namun tajamnya mengiris udara ruang kerja utama Kaeswara. Tidak ada teriakan bahkan meja yang dibanting. Hanya suara Paman Bima yang terukur, dingin, dan sangat sadar bahwa setiap kata memiliki bobot hukum.Arden tidak langsung menjawab. Ia berdiri di dekat jendela tinggi, cahaya sore menipiskan bayangannya di lantai marmer. Di balik punggung tegaknya, ada getar halus yang hanya bisa dikenali oleh seseorang yang mengenalnya cukup lama, dan Aruna mengenalnya cukup lama.Aruna duduk sedikit di belakangnya. Tidak sebagai sekretaris. Tidak sebagai istri yang sekadar mendampingi. Tapi sebagai saksi hidup atas semua luka yang selama ini dipelintir menjadi rumor.Paman Bima tersenyum samar.“Aku tidak datang untuk berdebat secara emosional. Aku datang dengan kuasa hukum. Dan dengan permintaan resmi pembagian warisan keluarga Kaeswara, termasuk hak kepemili
“Kalau hari ini aku jatuh… kau yakin bisa hidup tenang setelahnya, Aruna?”Suara Rendra terdengar pelan, hampir seperti bisikan, saat mereka berpapasan di lorong menuju ruang sidang. Tak ada wartawan di sana. Tak ada hakim. Hanya dua orang yang pernah berdiri dalam lingkar kekuasaan yang sama.. dan kini saling berhadapan sebagai musuh.Aruna tidak langsung menjawab.Ia menatap lelaki itu dengan tatapan yang tidak lagi menyimpan takut. Tidak juga marah. Hanya tenang untuk seseorang yang dulu gemetar hanya karena satu ancaman.“Yang tidak bisa hidup tenang itu orang yang bersalah..” jawabnya akhirnya, suaranya datar namun tajam. “Aku hanya menagih apa yang seharusnya.”Rendra tersenyum tipis, senyum yang dulu mampu membuat banyak orang mundur satu langkah. Tapi hari ini, senyum itu tidak lagi berdaya.Karena di belakang Aruna, berdiri Arden.Dan Arden tidak perlu bicara untuk membuat tekanan berubah arah.Ruang sidang penuh. Kamera wartawan berderet seperti pasukan. Aroma kayu tua dan
Malam turun dengan cara yang berbeda di Kaeswara. Tidak ada hujan, tidak ada petir... hanya langit gelap yang menggantung berat, seolah ikut menunggu sidang esok hari.Aruna berdiri di balkon kamar utama, rambutnya tergerai diterpa angin malam. Di bawah sana, halaman luas tampak sunyi, namun ia tahu badai sedang bergerak perlahan menuju mereka.Besok, bukti kejahatan finansial Paman Bima akan dibuka. Nama keluarga Nirmala akan tercabik. Media akan haus darah. Dan mereka... ia dan Arden...akan berdiri di tengahnya.Langkah kaki berat mendekat dari belakang.“Kau masih memikirkan kemungkinan terburuk?” suara Arden rendah, lebih berat dari biasanya.Aruna tidak langsung menoleh. “Aku memikirkan bagaimana wajah Rendra besok ketika semua itu dibuka.”“Lalu?”“Aku tidak tahu apakah aku siap melihatnya hancur.”Arden berdiri di belakangnya. Tidak menyentuh. Hanya cukup dekat untuk membuat napas mereka berirama.“Kau masih punya sisa belas kasihan rupanya..” gumamnya.“Apa itu salah?”“Tidak







