Masuk“Aku menemukan noda lumpur yang mencurigakan di tangga utama, Tuan Kaeswara. Aku curiga ini pekerjaan hantu, bukan hanya pelayan ceroboh.”
Aruna mengucapkan kalimat itu dengan nada terlalu santai untuk ukuran sebuah tuduhan berbahaya. Seolah ia sedang membicarakan cuaca yang berubah mendung. Tangannya terangkat pelan, membawa cangkir kopi ke bibir. Uap panas mengepul, menampar inderanya dengan aroma pahit yang mahal.
Di balik kelopak matanya yang setengah terpejam, ia tersenyum samar.
Sapu tangan berinisial ‘L’ yang tersembunyi di balik laci kamarnya kini menjelma senjata. Dan senjata, selalu memberi keberanian berlebih.
Arden sudah duduk di ujung meja makan. Setelan paginya rapi, rambutnya tersisir dingin seperti biasa. Laporan-laporan terbuka di hadapannya, namun Aruna tahu—ia sama sekali tidak sedang membaca.
Udara pagi terasa berat. Lebih pekat daripada aroma kopi termahal sekalipun.
“Hantu apa?” tanya Arden akhirnya tanpa mengangkat wajah. Suaranya rendah. Terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru saja diteror.
“Hantu yang basah,” jawab Aruna ringan. “Dan gemar bermain lumpur di dalam rumah. Mungkin dia kedinginan, ingin pindah dari benteng Sayap Kiri. Atau mungkin, dan ini hanya spekulasiku, pagar besi Anda punya lubang.”
Cangkir Aruna diletakkan dengan bunyi klik yang disengaja.
Arden perlahan meletakkan penanya.
Ia mendongak.
Tatapan itu bukan amarah. Ini refleks yang jauh lebih berbahaya, kepanikan yang berusaha disamarkan.
“Aku sudah bilang, jangan bermain-main, Aruna.”
“Aku tidak bermain-main. Aku sedang mengamati,” sahut Aruna. “Dan hari ini aku menemukan fakta baru, seorang CEO besar ternyata harus berurusan dengan lumpur. Pekerjaan sampingan yang tidak tertulis di kontrak, ya?”
Ia menyandarkan tubuh, menatap Arden tanpa berkedip.
“Aku curiga itu jejak kaki cepat. Ada yang berlari. Atau… melarikan diri, Tuan Penjaga Pagar?”
Ruangan membeku.
Detik berlalu seperti tetesan darah dari luka terbuka.
Arden tidak menjawab.
Tatapannya mengunci Aruna lama, terlalu lama. Seolah sedang menimbang apakah akan membungkamnya dengan kata-kata… atau dengan sesuatu yang jauh lebih permanen.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Arden akhirnya. Suaranya hampir tak terdengar.
“Aku melihatnya. Dan aku bukan orang buta, meski aku dibeli dengan harga murah,” jawab Aruna. Dagunya terangkat tipis. “Aku juga menemukan… sesuatu yang terjatuh di sana. Sesuatu yang sangat personal. Dan sangat sentimental.”
Wajah Arden mengeras.
Refleks tangannya bergerak menuju saku jubah pagi, kosong.
Pengakuan tak bersuara.
“Aku akan menangani lumpur itu,” katanya cepat, kembali menunduk ke laporan. Mengakhiri percakapan secara sepihak. Pengakuan bersalah yang dibungkus kewibawaan.
“Menarik,” gumam Aruna sambil melanjutkan sarapannya. “Silakan dibersihkan. Tapi mungkin akan lebih efektif jika Anda juga membersihkan cara Anda menyembunyikan Layla.”
Sendok Aruna berhenti di udara.
“Kau membayar mahal untuk tameng sepertiku,” lanjutnya pelan, nyaris seperti bisikan. “Mungkin kau bisa sedikit lebih jujur tentang apa sebenarnya yang harus kutamengi.”
Arden mendongak tajam. “Kau tahu terlalu banyak. Kau tahu Sayap Kiri terlarang. Kau tahu Layla sakit. Cukup.”
“Cukup untukmu,” balas Aruna. “Tidak untukku.”
Ia menatap lurus, menusuk.
“Jika aku harus berdiri di depan dewan direksi sebagai tamengmu, aku perlu tahu, apakah Layla hanya depresi… atau dia ingin mengakhiri hidupnya sendiri?”
Itu pukulan telak.
Untuk pertama kalinya, Arden menundukkan kepala.
Napasnya berat.
“Dia rapuh,” katanya akhirnya. “Terlalu rapuh untuk dunia luar. Dan terlalu rapuh untuk intrik Rendra. Itu saja.”
Aruna berdiri.
“Baik, Tuan Kaeswara. Kompensasimu ini akan pergi sekarang. Tapi ingat, tameng juga punya mata. Dan aku akan menggunakannya.”
Seperti yang ia duga.
Tak lama kemudian, koridor utama berubah gaduh. Seseorang menyikat karpet terlalu keras.
Elise.
Aruna menemukannya berlutut di tangga, ember di sisi kakinya, tangan kecilnya bergerak cepat menyikat noda lumpur yang belum sepenuhnya hilang. Nafasnya memburu. Cemas. Panik.
“Elise,” panggil Aruna pelan.
Perempuan bisu itu tersentak. Hampir menjatuhkan embernya.
Aruna mendekat.
“Aku sudah memberikannya pada Arden,” bohong Aruna. “Sapu tangan itu.”
Wajah Elise langsung memucat. Kepalanya menggeleng kuat, kedua tangannya bergerak liar. Tidak! Jangan! Rahasia!
“Aku bohong,” potong Aruna lembut. “Aku menyimpannya. Tapi aku perlu tahu… apa yang terjadi semalam?”
Elise terdiam lama.
Lalu ia menunjuk ke arah Sayap Kiri. Gerakan larinya ditirukan dengan tangan. Lalu jatuh. Lalu ia menekan pahanya sendiri, menahan nyeri.
“Dia lari,” bisik Aruna. “Dan dia terluka…”
Elise mengangguk pelan. Air mata berkilat.
Isyarat diam diulang keras. Kemudian ia menunjuk ke kamar Arden di lantai atas.
“Aku tidak boleh memberi tahu dia,” simpul Aruna. “Jika Arden tahu, ia akan panik. Dan itu akan menghancurkan perlindunganmu.”
Elise mengangguk keras.
Ia menunjuk Aruna… membuat isyarat menikah… lalu menunjuk Sayap Kiri… lalu menyilangkan kedua tangannya di dada, melindungi.
Perisai.
“Aku mengerti,” bisik Aruna. “Aku di pihak Layla.”
Lalu ia bertanya pelan, “Kenapa dia harus lari?”
Elise menunjuk Layla… lalu menunjuk keluar jendela… lalu menggerakkan tangan seperti mencuri… dan memotong leher.
Ancaman.
“Dia lari dari dirinya sendiri,” gumam Aruna. “Dan dari dunia di luar benteng ini.”
Teriakan Reyna memecah udara.
“Elise! Lantainya harus kering sebelum jam sepuluh!”
Elise buru-buru kembali bekerja.
Aruna melangkah mundur.
Ia kini tahu satu hal pasti,
Di kamarnya, Aruna membuka brankas kecil.
Sapu tangan ‘L’ itu terbaring rapi.
Ia mendekatkannya ke hidung.
Bukan parfum.
Antiseptik.
Luka.
Layla bukan hanya disembunyikan.
“Aku tidak akan bertanya lagi, Tuan Kaeswara,” bisik Aruna. “Aku akan mencari sendiri lubang di bentengmu. Dan aku akan menutupnya.”
Ia menyimpan kembali sapu tangan itu.
“Tapi jangan harap aku melakukannya tanpa imbalan.”
“Apakah Anda siap?”Pertanyaan itu datang dari produser acara dengan suara rendah tapi tegang. Lampu studio belum sepenuhnya menyala. Kamera masih dalam posisi siaga. Namun atmosfer di ruangan itu sudah terasa seperti medan tempur.Arden berdiri tegak, jas gelapnya rapi, wajahnya tenang... terlalu tenang untuk seseorang yang beberapa hari terakhir namanya digeret ke mana-mana.Di sampingnya, Aruna berdiri dengan sikap santai, punggung lurus, dagu sedikit terangkat. Gaun yang ia kenakan tidak mencolok, tapi tegas. Tidak ada perhiasan berlebihan. Tidak ada kesan “istri yang dipamerkan”. Ia terlihat seperti seseorang yang tahu persis mengapa ia ada di sana.Arden meliriknya.“Kalau mereka menyerang,” ucapnya pelan, hampir tak terdengar, “aku bisa bicara sendiri.”Aruna menoleh, menatapnya sekilas... cukup untuk menyampaikan segalanya.“Dan kalau mereka menyudutkan?” balasnya ringan. “Aku tidak datang untuk diam.”Produser mengangguk kecil. “Tiga… dua… satu.”Lampu menyala.—“Selamat mal
“Ini sudah menyebar.”Suara Aruna terdengar tenang, tapi ketenangan itu bukan milik orang yang tidak peduli. Itu ketenangan seseorang yang sudah lebih dulu bersiap menghadapi badai.Arden mengangkat kepala dari meja kerjanya. Lampu ruangan masih redup. Pagi belum benar-benar menang atas malam. Kemeja yang ia kenakan kusut ringan, kancing atas terbuka... jejak keputusan semalam yang belum sepenuhnya kembali menjadi rutinitas formal.“Apa?” tanyanya singkat.Aruna melangkah mendekat, meletakkan tabletnya di atas meja kerja Arden, lalu memutarnya perlahan agar layar menghadap tepat ke arahnya.Judul besar itu langsung menghantam.PAMAN BIMA BUKA SUARA: DEMI KAESWARA, ARDEN HARUS MENYINGKIRTidak ada tanda seru. Tidak ada kata-kata kasar. Justru itulah yang membuatnya berbahaya.Arden tidak langsung bereaksi. Ia menatap layar itu lama. Terlalu lama untuk sekadar membaca.“Putar,” katanya akhirnya.—Wajah Paman Bima muncul memenuhi layar. Rambutnya rapi, jasnya sempurna, ekspresinya tenan
“Kalau aku tanda tangani ini sekarang, apa yang akan kau lakukan?”Suara Aruna tenang. Terlalu tenang untuk situasi yang sedang mereka hadapi.Arden berdiri di seberang meja kerjanya, kedua tangannya bertumpu pada permukaan kayu gelap yang dipenuhi dokumen. Lampu meja menyala redup, memantulkan bayangan wajahnya yang keras... bukan karena marah, melainkan karena sedang menahan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.“Kalau kau tanda tangani,” jawab Arden perlahan, “Rendra akan kehilangan celah terakhirnya.”Aruna menggeser map biru itu sedikit ke tengah meja. Di dalamnya, kontrak penjualan aset yang tidak sah... nama perusahaan cangkang, tanggal yang dimajukan, dan tanda tangan palsu yang terlalu percaya diri.“Kau tahu,” kata Aruna sambil membuka halaman terakhir, “orang seperti Rendra selalu lupa satu hal.”“Apa?” Arden menatapnya tajam.“Bahwa aku membaca semuanya.”Keheningan jatuh.Bukan keheningan canggung... melainkan hening yang tegang, seperti detik sebelum sesuatu dipatahkan deng
“Aruna…”Suara itu nyaris tak terdengar. Lebih mirip embusan napas yang tersangkut di tenggorokan seseorang yang sudah lama lupa bagaimana caranya memanggil orang lain tanpa rasa takut.Aruna berhenti di ambang pintu.Bukan karena ia terkejut... ia sudah mendengar banyak hal yang lebih mengejutkan dalam hidupnya... melainkan karena ia tahu, jika ia bergerak terlalu cepat, momen rapuh itu bisa runtuh begitu saja.“Aku di sini,” jawab Aruna pelan. Tidak mendekat. Tidak mundur. Nada suaranya datar, aman. “Aku tidak akan masuk kalau kau tidak mau.”Keheningan kembali turun.Layla duduk di sudut ruangan, punggungnya bersandar pada dinding berwarna gading. Rambutnya disanggul asal, beberapa helai jatuh menutupi wajahnya. Tangannya mencengkeram ujung selimut, seperti orang yang bersiap menghadapi gelombang yang tak terlihat.“Suaramu…” Layla menelan ludah. “Tidak berisik.”Itu bukan pujian. Itu pengakuan.Aruna mengangguk, meski Layla mungkin tidak melihatnya. “Aku memang tidak suka berisik.
“Ini gila,” kata Aruna sambil menatap dokumen tebal di mejanya. Kertas-kertas itu hampir menumpuk setinggi lengan, setiap halaman membawa potongan puzzle yang lebih menakutkan daripada sebelumnya. “Mereka tidak main-main.”Arden duduk di seberangnya, kedua tangannya saling bertaut, menatap Aruna dengan mata yang menahan ledakan emosi. “Apa maksudmu, ‘tidak main-main’?”Aruna menghela napas panjang, matanya menyapu setiap baris laporan yang disusun rapi oleh Pak Herman. “Pak Herman menemukan sesuatu. Sesuatu yang menghubungkan Rendra langsung ke Paman Bima. Mereka… mereka bermain di level yang sama, Arden. Dan ini bukan sekadar bisnis atau utang lama... ini permainan hidup dan mati.”Arden meneguk. Udara di ruang kerja terasa berat, seolah setiap kata Aruna menekan dada. “Tunjukkan padaku.”Aruna menggeser dokumen itu ke arahnya, membuka halaman pertama. Grafik aliran dana, tanda tangan palsu, transaksi tersembunyi. “Lihat ini. Ada transfer besar dari rekening perusahaan Rendra ke akun
“Nama saya Herman.”Suara itu tenang, nyaris datar, seperti orang yang sudah terlalu sering melihat rahasia sampai berhenti terkejut oleh apa pun.Arden tidak langsung menjawab. Ia menatap pria paruh baya di seberang meja... rambutnya sudah memutih di pelipis, kemeja abu-abu sederhana, jam tangan kulit yang tampak usang tapi dirawat. Tidak ada aura pamer. Tidak ada kesan ingin mengesankan.Justru itu yang membuatnya berbahaya.“Dan Anda tahu,” kata Arden pelan, “bahwa orang-orang yang ingin kami selidiki tidak bermain bersih.”Pak Herman mengangguk kecil. “Kalau mereka bermain bersih, Tuan Arden tidak akan memanggil saya.”Aruna menyilangkan kaki, mencondongkan tubuh ke depan. Matanya tajam, memindai setiap perubahan ekspresi pria itu.“Rendra,” ucap Aruna, jelas. “Dan Paman Bima.”Untuk pertama kalinya, Herman menghela napas lebih panjang dari sekadar formalitas.“Dua nama itu,” katanya, “punya ekor. Panjang. Dan tidak semua orang yang mengikutinya pulang dengan selamat.”Arden melir







