Share

Bab 2

Author: Addarayuli
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-03 21:55:48

“Dicari, lowonga pekerjaan mengasuh lansia degan bayaran tinggi, jika berminat segera hubungi nomor ini.”

Meysa menegakkan kepalanya setelah tak sengaja menemukan sebuah poster lowongan pekerjaan yang dia temukan di dekat rumah sakit. Di tangannya terapat sebuah kantong plastic berisi makanan.

“Bayaran tinggi? Apa aku coba melmar kerja di sini aja?”

Meysa mengeluarkan ponselnya lalu mencatat nomor ponsel yang tertera pada poster itu, setelah seesai mencatat nomornya dia Kembali menuju rumah sakit dan Kembali ke ruang rawat ibunya.

“Ibu, ibu sudah sadar?”

Meysa meletakkan kantong plastic itu ke meja kemudian menghampiri ibunya yang sudah sadar.

“Mey, kenapa ibu di sini?”

Meysa duduk di kursi kemudian meraih tangan ibunya dan mengenggamnya erat, dia lega karena ibunya sudah siuman setelah pingsan selama beberapa jam.

“Ibu, gimana keadaan ibu sekarang? Udah enakan, bu?”

“Ibu mau pulang saja Mey, pasti biaya rumah sakitnya mahal ya? Ibu nggak mau ngerepotin kamu terus.”

Meysa menggelengkan kepalanya. “Tidak bu, ibu harus tetap di rawat sampai sembuh. Ibu nggak ngerepotin Meysa sama sekali kok.”

Meysa mencoba tersnyum agar ibuya tidak berpikir yang macam-macam yang bisa mempenaruhi kesehatannya.

“Bu, ibu harus sembuh dulu baru pulang ya? Meysa hanya punya ibu dan Maya, Meysa ingin ibu segera sehat dan kita bisa berkumpul Kembali.”

“Tapi May, ibu kasihan melihat kamu bekerja terus, kamu bahkan- ssshhhh…”

“Ibu, ibu nggak papa kan?” tanya Meysa khawatir.

Ibu Meysa memegangi dadanya yang tiba-tiba Kembali terasa nyeri, dia memejamkan matanya saat rasa nyeri itu semakin bertambah dan membuatnya kesulitan bernafas. Meysa bangkit dari duduknya kemudian memanggil dokter.

Tak lama kemduain dokter datang Bersama seorang perawat kemudian memeriksa keadaan ibu Meysa.

“Keadaan ibu anda semakin memburuk, operasi tidak bisa ditunda lebih lama lagi,” ucap sang dokter.

“Apa, operasi?” ucap ibu Meysa terkejut.

“Benar, kami harus segera melakukan Tindakan pemasangan ring jantung.”

Ibu Meysa terkejut bukan main, dia yakin biaya yang dikeluarkan pasti akan sangat mahal.

“Ibu nggak usah mikirin biayanya, biar Mey yang pikir, Bu. Sekarang yang terpenting ibu sehat dulu ya.”

Setelah mencoba menghubungi orang yang mencari pengasuh, Meysa memutuskan untuk mendatangi rumah itu. Dia terkejut saat melihat rumah besar yang ada di depan matanya. Namun rumah itu terlalu kecil untuk disebut sebagai rumah, dia bisa menyebutnya sebagai istana.

“Wow, besar sekali rumah ini,” gumam Meysa.

Tak lama kemudian terbuka dan munculah seorang satpam. Dia mempersilakan Meysa masuk dan mengajak Meysa untuk masuk ke rumah. Di teras rumah, sudah ada seorang Wanita seumuran ibu Meysa tengah berdiri sambil tersenyum.

“Kamu yang Namanya Meysa?” tanyanya.

Meysa menganggukan kepalanya. “Benar, saya Meysa.”

“Mari ikut saya, nyonya besar sudah menunggu.”

Meysa membelakan matanya takjub melihat mansion megah dan mewah yang baru pertama kali dia lihat. Dia dibawa menuju sebuah ruangan yang tak tahu entah ada apa di dalamnya.

“Ayo masuk.”

Meysa Kembali mengangguk dan ternyata dia dibawa ke kamar seorang Wanita tua yang tengah menatap ke arahnya.

“Apa beliau Wanita yang mencari pengasuh itu?” batin Meysa.

“Beliau adalah nyonya besar Lysander dan akrab dipanggil Oma Rosa. Beliau sudah sedikit pikun dan kadang sering marah-marah membuat pengasuh yang sebelumnya tidak betah. Dan sejak pagi beliau menolak unutk makan.”

“Boleh saya mendekat?”

Kepala pelayan mengangguk. “Tentu saja, saya harap Oma Rosa mau Bersama kamu. Dan tentu saja gaji yang ditawarkan oleh tuan Adrian tidak main-main.”

Meysa tersenyum, dia mendekati Oma Rosa sambil membawa makanan di atas meja.

“Halo Oma, saya Meysa. Saya adalah calon pengasuh baru anda,” ucap Meysa memperkenalkan diri.

“Oma mau makan buah ini, biar Meysa kupaskan.”

Meysa mengupas buah apel kemudian menyuapkan pada Oma Rosa. Dan ajaibnya, Oma Rosa mau membuka mulutnya dan menerima suapan dari Meysa. Kepala pelayan tersenyum karena Meysa berhasil membuat Nyonya besar Lysander makan.

Meysa tersenyum sambil menoleh ke belakang. “Saya berhasil.”

Kepala pelayan mendekat ke arah Meysa dan Oma Rosa.

“Oma, apa anda suka dengan Meysa?”

Oma Rosa menangguk. “Iya, dia orang yang baik.”

“Selamat ya Meysa, Oma Rosa suka sama kamu dan kamu bisa kerja mulai hari ini juga.”

“Terima kasih,” jawab Meysa.

Meysa merasa senang bukan main saat diterima bekerja sebagai pengasuh, dia menemukan sebuah jalan untuk membiayai pengobatan ibunya di rumah sakit.

Ceklek.

Pintu kamar terbuka dari luar, masuk dua orang pria berwajah dingin menghampiri ketiganya.

“Bagaimana keadaan Oma? Apa Oma masih tidak mau makan?” tanya seorang pria berwajah dingin.

“Oma sudah mau makan berkat pengasuh barunya tuan,” jawab kepala pelayan.

Meysa menundukkan kepalanya sopan saat pria dominan itu menatapnya. “Urus Oma dengan baik, saya pergi dulu.”

Tanpa menunggu jawaban, pria dingin itu pergi begitu saja meninggalkan kamar.

“Beliau tadi tuan Adrian, pewaris tunggal keluarga Lysander.”

“Adrian,” batin Meysa.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Extra Chapter

    Suara tangis bayi melengking dari dalam ruang operasi, Adrian beserta keluarga yang menunggu kelahiran cucu pertama keluarga Lysander itu mengela napas lega setelah mendengar suara bayi yang sudah mereka nantikan sejak satu jam yang lalu. "Adrian, anak kamu sudah lahir, Nak," ucap Bu Ningsih sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. Tak sanggup menahan rasa bahagia bercampur haru, tanpa diduga, air mata Adrian menetes melewati pipinya namun segera dia usap lembut. Ceklek. Ketiga orang yang duduk di depan ruang operasi seketika berdiri dari duduknya ketika pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter wanita keluar bersama perawat yang menggendong bayi yang kini sudah tenang. "Keluarga Nyonya Meysa?" "Saya, saya suaminya dok," jawab Adrian cepat sambil matanya terus menatap bayi kecil berwarna merah yang sedang memejamkan matanya. "Selamat Tuan, bayi anda laki-laki dan dalam keadaan sehat dan tak kurang apapun." Bak dihantam bongkahan es besar yang menyejukkan dan mendin

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 162

    Sore itu terasa begitu dingin, namun peluh dingin justru bercucuran di pelipis Clarissa. Gaun berwarna hitam legam yang dipakainya tampak berkibar tertiup angin seiring langkah kakinya yang tergesa-gesa. Ia berlari dari area parkiran mobil menuju sebuah villa mewah yang lampu-lampunya telah disulap dengan begitu indah, memancarkan kemegahan yang justru terasa mencekik baginya.Matanya menyiratkan tatapan dalam, sebuah tatapan yang menyimpan badai rasa bersalah, rindu, dan ketakutan yang hanya dia sendiri yang tahu maknanya. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan suara ketukan high heelsnya yang menghantam aspal. Clarissa sedikit kesusahan berlari, gaun panjang dan sepatu hak tingginya seolah bersekongkol untuk memperlambat gerakannya. Matanya terus bergerak liar, panik mencari jalan masuk utama ke dalam villa tersebut."Maaf Nona, tunjukkan undangan anda," ucap salah satu penjaga berbadan tegap di depan pintu masuk villa, menghentikan langkah Clarissa secara mendadak.Clarissa se

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 161

    Meysa berdiri terpaku di depan cermin besar yang mendominasi ruang walk-in closet. Di sekelilingnya, beberapa potong baju bertema pastel tampak tergantung berantakan di luar rak. Ia mengambil satu per satu gaun itu, menempelkannya ke tubuh, lalu mendesah pelan. Tak ada satu pun dari baju-baju itu yang terlihat cocok di matanya hari ini. Dengan sisa-sisa kekesalan, ia mulai mengembalikan baju-baju tersebut ke dalam lemari. "Hah.... kenapa semua baju ini terlihat jelek di tubuhku?" Meysa kembali mengambil satu dress dan menempelkan ke tubuhnya. "Lihat, bukankah tubuhku terlihat sangat besar?" gumam Meysa. Pada saat yang sama, Adrian melangkah masuk ke dalam ruangan sambil sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Langkahnya terhenti dan keningnya seketika mengernyit saat melihat sang istri yang belum juga berganti pakaian. "Sayang, kenapa belum siap? Nanti kita bisa terlambat ke acara pernikahan Nozela dan William," ujar Adrian lembut namun terselip nada heran. Meysa menoleh ke ara

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 160

    Hembusan napas panjang Nozela terdengar di tengah keriuhan persiapan pernikahan di halaman vila mewah itu. Ia menyeka keringat yang membasahi dahinya dengan punggung tangan. "Huft," desahnya, lalu duduk di salah satu kursi kayu yang sudah dihias dengan pita kain berwarna dusty pink. Matanya mengamati sekeliling, menatap para pekerja yang sedang sibuk memasang tenda dekorasi dan menata centerpiece di atas meja-meja. Di sebelahnya, seorang staf Wedding Organizer yang tampaknya merupakan koordinator lapangan, sedang sibuk mencatat detail persiapan di papan penjepitnya. Nozela menengok ke arah staf tersebut, "Kak, itu bunganya... saya mau yang putih lebih banyak lagi. Bisa ditambahin di lengkungan di atas panggung itu?" Si staf menatap papan penjepitnya, lalu mengangguk, "Bisa, Mbak. Nanti saya koordinasikan lagi sama tim florist." Nozela mengangguk puas. "Oke, makasih ya. Terus... foto kami," Nozela menunjuk ke arah panggung di mana sebuah bingkai foto besar dengan foto Nozela d

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 159

    Detik berganti menit, jam berganti hari, dan hari berganti bulan. Tak terasa waktu cepat berlalu hingga kini kandungan Meysa sudah memasuki usia lima bulan. Perutnya yang mulai membuncit menjadi simbol kebahagiaan kecil yang selalu ia dan suaminya nantikan setiap harinya.Hari ini, suasana hati Meysa dipenuhi letup-letup kegembiraan. Ditemani sang suami yang tak pernah lepas menggenggam tangannya, mereka melangkah masuk ke rumah sakit untuk melakukan check-up rutin.Meysa kini berbaring di atas ranjang periksa yang dilapisi kain putih bersih. Jantungnya berdegup agak kencang campuran antara rindu dan sedikit cemas yang biasa dirasakan seorang ibu. Di sampingnya, Adrian berdiri siaga, memberikan senyum penenang yang paling hangat.Dokter kandungan, seorang wanita paruh baya dengan senyum keibuan, mulai mengoleskan gel dingin di permukaan perut Meysa. Detik berikutnya, alat transducer mulai digerakkan perlahan. Di layar monitor hitam-putih, samar-samar mulai

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 158

    Krieeek… Derit pintu sel besi yang terbuka tiba-tiba memecah keheningan ruangan yang pengap itu. Clarissa tersentak kaget. Ia segera mendongak, menatap sesosok pria berseragam yang berdiri di ambang pintu, lalu bergegas bangkit dari duduknya. "Mari, ada keluarga yang ingin bertemu dengan Anda," ucap seorang polisi dengan nada datar namun tegas.Dengan kedua tangan yang terikat borgol besi, Clarissa melangkah keluar. Polisi itu menggiringnya menyusuri lorong dingin penjara menuju ruang kunjungan. Setiap langkahnya dipenuhi rasa penasaran sekaligus harap-harap cemas.Begitu pintu ruang kunjungan dibuka, pandangan Clarissa langsung tertuju pada sesosok pria paruh baya yang sangat ia kenali."Papa..." ucap Clarissa lirih. Sepasang matanya yang semula redup, seketika berbinar cerah. Fahmi, yang datang bersama kuasa hukumnya, tidak bisa menyembunyikan rasa rindunya. Ia segera melangkah maju dan memeluk tubuh putri sambungnya itu de

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 5

    Meysa perlahan mengangkat pandanganya, dia menatap sebuah map di atas meja dengan ragu. Haruskan dia melakukan semua ini? Begitu pikirnya.“Saya tidak punya banyak waktu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.”Dengan tangan yang gemetar, Meysa mengambil berkas itu kemudian membukanya. Di

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 4

    “Apa yang kamu katakan, Adrian?” seru Nora tak terima.Adrian tersenyum smirk, genggaman tangan besar itu tak pernah lepas dari pergelangan tangan Meysa dan justru semakin mengerat membuat Meysa bisa merasakan emosi putra kedua keluarga Lysander itu.“Bukankah ini yang kalian inginkan, aku harus se

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 3

    Tiga hari bekerja, tidak ada masalah. Oma hanya sulit untuk makan, tapi beberapa kali Meysa kerepotan karena Oma terus-terusan membahas tentang Adrian yang harus menikah secepat mungkin.Sesekali, Oma mogok makan dan memarahi Meysa, tapi Meysa masih bisa menghandle.Masuk dua minggu, Meysa sudah mu

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 1

    “Mulai hari ini kamu saya pecat!”Meysa membelakan matanya Ketika kalimat itu keluar dari mulut manager restoran tempatnya bekerja, perlahan dia mengangkat kepalanya menatap seorang pria dewasa yang tengah menatapnya dengan datar.“P-Pak, tapi saya tidak melakukan apapun,” ucap Meysa lirih.Manager

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status