MasukTiga hari bekerja, tidak ada masalah. Oma hanya sulit untuk makan, tapi beberapa kali Meysa kerepotan karena Oma terus-terusan membahas tentang Adrian yang harus menikah secepat mungkin.
Sesekali, Oma mogok makan dan memarahi Meysa, tapi Meysa masih bisa menghandle.
Masuk dua minggu, Meysa sudah mulai bisa mengondisikan Oma. Meysa sudah tahu bagaimana harus bersikap ketika Oma marah, lalu bagaimana cara menghiburnya. Bahkan, Adrian yang selama ini cuek kepada Meysa, mulai berlaku hangat dan sikapnya mulai berubah.
Adrian tak mau Meysa terlalu capek, bahkan terkadang Adrian membungkuskan makanan untuk Meysa tiap kali dia pulang kerja.
"Makan saja, dari pada sakit," ucap Adrian, lalu pergi ke kamar.
Meysa terkadang aneh saja. Adrian diam-diam perhatian, tapi ketika berbincang dengannya, Adrian seperti pria yang super dingin dan tidak mau banyak omong. Beberapa kali Meysa coba menanyakan kepada Oma, tapi tiap kali nama Adrian disebut, Oma pun marah besar.
Seperti barusan, ketika Adrian libur kerja dan Meysa ingin tahu alasan kenapa Adrian tak segera menikah, Oma langsung marah besar. "Oma nggak mau tahu, Oma mau Adrian harus segera nikah!?"
PYAR!!!!
Meysa mencoba berbicara dengan lembut pada wanita tua yang sudah memperkerjakannya selama kuran lebih hampir satu bulan. "Anda harus makan, Oma. Jika tidak, Oma bisa sakit lagi. Oma ingat kan, kata dokter? Oma harus banyak makan supaya cepat pulih."
Sunyi.
Kamar berukuran besar itu sunyi senyap setelah pengasuh cantik itu menyelesaikan ucapannya, wanita tua itu sama sekali tak menjawab atau merespon sesuai apa yang dia inginkan. Pengasuh itu menghela nafas pelan, dia memahami keinginan orang tua di depannya.
Meysa Olinda, seorang gadis cantik berusia 28 tahun yang saat ini bekerja sebagai pengasuh Rosa Lysander di mansion Lysander. Dia bekerja menjadi tulang punggung keluarga demi membiayai perawatan ibunya di rumah sakit serta membayar tungakan uang semester adiknya.
Meysa menundukkan kepalanya, sudah sejak semalam Oma Rosa, sapaan akrab wanita itu, menolak menerima makanan darinya. Bukan hanya sekali atau dua kali Oma Rosa bertingkah seperti ini, namun sudah tak terhitung lagi selama dia bekerja di untuknya.
"Dimana Adrian?" tanya Oma Rosa datar.
Perlahan kepala Meysa kembali terangkat ketika Oma Rosa menanyakan keberadaan cucu kedua dari anak pertamaya.
"Tuan Adrian sejak tadi belum keluar dari ruang kerjanya, Oma."
"Selalu seperti itu," gumam Oma Rosa yang masih bisa terdengar jelas di telinga Meysa.
Tap..Tap...
Surara sepasang sepatu dan sepasang high heels terdengar dari dalam kamar itu, suara itu terdengar mendekat sampai akhirnya pintu kamar Oma Rosa terbuka.
Ceklek.
Meysa menoleh ke belakang, dia langsung berdiri dari duduknya saat melihat kedua cucu Oma Rosa datag dengan wajah tegang.
"Apa yang kamu lakukan, Meysa? Kenapa banyak pecahan kaca di sini?" bentak Nora.
Noura Lysander atau yang biasa dipanggil Nora, merupakan cucu pertama dan juga kakak dari Adrian Lysander, mereka berdua dibesarkan oleh Oma Rosa setelah kedua orang tuanya mengurus bisnis mereka yang ada di luar negeri.
Nora menatap tajam Meysa yang saat ini menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya nona, saya tidak sengaja menjatuhkan mangkuk tadi," jawab Meysa.
Adrian menatap Omanya yang saat ini tengah menatap lurus ke arah lain dan tak menatapnya maupun sang kakak, dia menghela nafas panjnag karena tahu betul semua ini pasti ulah dari sang Oma. Adrian tidak akan kaget saat melihat kekacauan yang di lakukan oleh Oma Rosa.
"Oma, kali ini apa lagi? Apa Oma tidak kasihan pada Meysa?"
Adrian duduk di tepi ranjang, tangannya terangkat kemudian meraih tangan yang mulai keriput itu dan menenggamnya dengan erat.
"Oma, Oma bilang saja pada Nora jika pengasuh ini tidak becus dalam merawat dan melayani Oma. Nora bisa carikan pengasuh baru untuk Oma yang jauh lebih berkompeten dari dia," ucap Nora sambil melirik Meysa.
"Oma ingin Adrian segera menikah," ucap Oma dengan tegas.
lagi-lagi kalimat itu yang Adrian dengar dari mulut Omanya, sudah puluhan bahkan ratusan kali Adrian mendengar Oma Rosa menyuruhnya untuk segera menikah. Diusianya yang sudah menginjak angka 32 tahun memang sudah sangat cocok untuk menikah, namun Adrian belum ingin melakukannya karena masih ingin fokus pada pekerjaan.
"Sebaiknya kamu turuti saja keinginan Oma, Adrian. Apa kamu tidak kasihan pada Oma yang terus-terusan menyuruhmu menikah?" tanya Nora.
"Oma sudah semakin tua, dan keinginan Oma hanya melihat cucu-cucu Oma bahagia dan memiliki keluara yang sempurna."
Adrian menghembuskan nafas panjangnya, Oma Rosa selalu seperti ini padanya. Menekannya untuk segera menikah dan memiliki anak untuk melanjutkan garis keturunan keluarga Lysander.
"Celine sudah sangat siap untuk menikah, beberapa kali Nora menyarankan Adrian agar kembali bersama Celine namun Adrian selalu menolak," adu Nora pada sang Oma.
Oma Rosa menoleh pada cucunya. "Benar begitu, Adrian?"
"Oma, hubungan kami sudah selesai. Adrian sudah tidak mencintai Celine lagi."
Pluk.
Nora melemparkan beberapa lembar foto wanita cantik ke dekat Adrian.
"Pilih salah satu dari mereka, kakak sudah memastikan bibit bebet dan bobotnya. Mereka sangat cocok dengan keluarga kita."
Adirian mendongak menatap kakaknya. "Adrian tidak mau," ucap Adrian.
"Mau sampai kapan kamu terus menolak keinginan Oma, Adrian? Kamu tahu kan kondisi Oma semakin hari semakin menurun, apa sulitnya untuk mengabulkan keinginan Oma ini?"
"Adrian bisa mencari sendiri wanita yang ingin Adrian nikahi." seru Adrian.
Meysa kembali mendengar dan melihat keributan yang sering terjadi di keluarga Lysander, dia hanya bisa diam saja karena tak sepatutnya dia ikut campur masalah majikannya.
"Kalau begitu segera bawa wanita itu ke sini Adrian, bisa? Setidaknya gadis itu harus jauh lebih baik dari Celine," ucap Nora.
Adrian mengepalkan kedua tangannya, dia juga merasa lelah karena terus-menerus ditekan soal pernikahan dan keturunan oleh Oma dan kakaknya. Namun tatapan Adrian justru menoleh ke arah pengasuh sang Oma yang berdiri tak jauh dari sana.
Adrian berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Meysa dan mengenggam pergelanan tangan Meysa dengan kuat. Hal itu membuat Meysa terkejut lalu mengangkat pandngannya dan menatap Adrian dengan tatapan bingung.
"Oke, kalau kalian ingin Adrian segera menikah maka Adrian akan menikahi Meysa," ucap Adrian lantang.
"Tidak ada jalan lain, ini satu-satunya jalan yang bisa membuat mereka berhenti menekanku," sambung Adrian dalam hati.
"APA?" seru Nora.
"Adrian, apa kamu sudah gila ingin menikahi wanita pengasuh yang miskin itu? Dimana akal sehat kamu Adrian, pernikahan itu bukan untuk bercanda."
Nora sangat tidak terima dengan keputusan Adrian, dia tak ingin nama keluarga Lysander tercoreng karena pewaris utamanya menikahi seorang wanita dari kalangan bawah terlebih wanita itu adalah pelayan di mansion mereka.
"Aku tidak setuju, aku lebih setuju jika kamu menikah dengan Celine," tegas Nora.
"Ini sudah menjadi keputusan Adrian, Adrian akan menikah dengan Meysa."
Meysa tentu saja terkejut mendengar ucapan Adrian, dia berdiri dengan tubuh kaku di belakang tubuh pria tinggi besar itu. Tak pernah terpikirkan olehnya untuk dipersunting oleh majikannya sendri, tentu saja dia sama tak setujunya dengan keputusan sepihak dari Adrian.
Keputusan tiba-tiba itu membuat Nora melebarkan matanya tanda tak terima, dia tak ingin rencana yang dia susun matang-matang hancur karena keputusan Adrian. Dengan emosi yang memuncak, Nora mendekati Meysa lalu mengangkat tangannya hendak menampar pipi Meysa.
Langkah kaki Adrian dan Evan terdengar beriringan saat mereka berjalan menuju teras mansion yang megah. Sebagai asisten pribadi yang sudah bertahun-tahun mendampinginya, Evan berjalan setengah langkah di belakang Adrian, siap menerima instruksi kapan saja.Adrian menghentikan langkahnya sejenak di dekat pilar teras, menatap lurus ke depan dengan raut wajah serius."Evan, urus semua yang dibutuhkan untuk acara peresmian pernikahan saya. Mulai dari vendor dan juga WO. Pastikan semuanya beres tanpa ada celah."Evan mengangguk patuh, mengeluarkan tablet digitalnya untuk mencatat. "Baik, Tuan. Lalu bagaimana dengan urusan busana?""Untuk masalah baju, aku yang akan mengurusnya sendiri bersama Meysa," jawab Adrian. Ia menghela napas pendek, ada kilat kecemasan yang samar di matanya."Aku ingin acara in
Hembusan angin sore menerbangkan rambut panjang Nozela, helai demi helainya menari lembut mengikuti arah angin. Sambil memegangi lengan William, mereka berjalan santai menyusuri pinggiran tepi pantai yang indah di sore hari. Langkah kaki mereka meninggalkan jejak-jejak samar di atas pasir yang basah oleh sisa ombak.Di atas sana, langit masih tampak cerah dengan semburat cahaya keemasan matahari yang mulai menyingsing ke ufuk barat, menciptakan pantulan berkilau di atas permukaan air laut.Nozela mendongak, menatap samping wajah William yang diterpa cahaya senja."Liam, kenapa kamu ajak aku ke pantai? Bukannya kita mau pulang?" tanya Nozela.William menoleh, lalu tersenyum hangat. "Ya...hanya sekedar jalan-jalan saja Jel, sekalian melepas penat setelah serarian kerja. Kamu tidak suka?"Noze
Tok! Tok! Tok!Sebuah ketukan pintu terdengar nyaring, memecah keheningan di dalam ruangan kerja yang rapi itu.Nozela yang sedang sibuk berkutat dengan laptop di depannya sama sekali tidak mengalihkan pandangan. Jemarinya masih menari lincah di atas keyboard. Tanpa menoleh, ia setengah berteriak memberikan izin."Masuk!" serunya singkat.Tak lama kemudian, terdengar suara gagang pintu diputar dan daun pintu yang terbuka perlahan. Nozela masih bergeming. Ia sama sekali belum menoleh ke arah pintu karena merasa pekerjaannya saat ini jauh lebih penting dan harus segera diselesaikan. Ia menduga yang datang adalah asistennya yang ingin mengantarkan beberapa berkas.Sampai akhirnya, sebuah suara yang amat ia kenali memecah keheningan."Selamat sore, Sayang."Nozela langsung mendongak. Matanya membelalak terkejut. Dugaan bahwa sang asisten yang datang langsung sirna begitu melihat sosok tinggi yang kini berjalan mendekat."William?!" pekik Nozela tertahan.Melihat respons terkejut sang keka
Maya menatap ibunya yang nampak terkejut. Di tangan wanita paruh baya itu, terdapat ponsel miliknya. "Siapa yang telepon, Bu?" tanya Maya."Kenapa ekspresi Ibu seperti itu?" sambung Maya.Maya melangkah mendekat ke arah ibunya. Sambil mengerutkan dahi, ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi sampai sang ibu terlihat begitu panik.Bu Ningsih dengan cepat menggelengkan kepalanya, mencoba menguasai diri."Tidak... tidak ada apa-apa," jawab Bu Ningsih agak gugup. "Itu... Meysa katanya nanti mau ke sini."Bu Ningsih sengaja mengalihkan pembicaraan agar Maya tidak bertanya lebih jauh. Usahanya berhasil, Maya hanya menganggukkan kepalanya, menerima alasan tersebut tanpa curiga."Oh,Kak Meysa mau ke sini? Yah, Maya padahal mau pamit ke kampus, Bu. Ada jadwal siang ini, jadi kayaknya nggak bisa ketemu Kak Meysa dulu," kata Maya sambil meraih tas kuliahnya.Bu Ningsih hanya mengangguk pelan, memaksakan sebuah senyuman. "Iya, tidak apa-apa. Berangkatlah, hati-hati di jalan."Setelah berpamitan,
"Sus Defi," panggil Oma Rosa."Kamu tahu Meysa ke mana? Sejak selesai sarapan tadi, dia sama sekali belum menemui Oma di kamar."Sus Defi, yang kebetulan baru saja kembali dari area belakang rumah, langsung tersenyum menenangkan. "Oh, itu, Oma... Nyonya Meysa sedang ada di dapur. Tadi saya lihat beliau lagi bikin kue dibantu sama para ART."Mendengar hal itu, sepasang mata Oma Rosa langsung berbinar cerah. Rasa bosannya seketika menguap. "Oh ya? Wah, kalau begitu ayo antar Oma ke dapur. Oma mau lihat Meysa bikin kue. Suntuk rasanya kalau terus-terusan diam di kamar seperti ini.""Baik, Oma," jawab Sus Defi patuh.Dengan telaten, Sus Defi membantu Oma Rosa berpindah dari tempat tidur ke kursi rodanya. Setelah memastikan posisi Oma Rosa nyaman, Sus Defi mulai mendorong kursi roda itu keluar dari kamar, menyusuri koridor rumah yang megah.Namun, saat mereka berdua sampai di lorong dekat ruang tamu, langkah Sus Defi melambat. Sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang mengobrol dengan
Aroma mentega dan vanila yang harum memenuhi seluruh penjuru dapur. Di sana, Meysa berdiri dengan apron merah muda yang melekat pas di tubuhnya. Tangannya dengan lincah mencetak adonan kue kering di atas loyang besar, dibantu oleh Bi Surti, asisten rumah tangganya. Kue-kue ini sengaja ia buat sendiri dengan penuh cinta untuk dibawa ke rumah ibunya nanti sore.Setelah satu loyang penuh, Meysa memasukkannya ke dalam oven yang sudah dipanaskan. Ia menyeka sedikit keringat di dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan jejak tipis tepung di pipinya."Nyonya Meysa, istirahat saja di depan. Biar Bibi yang selesaikan sisa adonan dan jagain ovennya," ucap ART merasa tak enak melihat majikannya kelelahan.Meysa tersenyum manis sambil menggeleng kuat-kuat. "Tidak usah, Bi. Saya mau selesaikan ini sendiri sampai selesai."Baru saja ART hendak membalas, tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi nyaring.Ting tong!"Nah, Bi, tolong buka pintunya ya. Biar Meysa lanjut nyetak kue yang ini," cetu
"Lebih cepat lagi, Evan," seru Nora. Evan mengangguk. "Baik nona." Pijakan kaki Evan pada pedal gas mobilnya semakin dalam, dia juga sama khawatirnya dengan kondisi Adrian yang tiba-tiba pingsan, entah apa yang terjadi pada Adrian hingga bernasib seperti ini. Beberapa menit kemudian, mereka sampa
"Wah, baunya harum sekali. Kamu buat apa Mey?" Oma Rosa datang bersama kepala pelayan menuju ruang makan menghampiri Meysa yang sedang memotong kue buatannya. Meysa tersenyum melihat Oma. "Oma, tadi Mey bikin kue. Oma mau mencicipinya?" Oma Rosa tesenyum tipis. "Oma sebenarnya ingin, tapi Oma tak
"Ruangan kak Ojel yang mana ya?" Maya menginjakkan kakinya di koridor ruang VIP, matanya mengedar mencari ruangan sahabatnya. Maya terkejut ketika mendapat pesan dari Nozela bahwa gadis itu tengah berada di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempat ibunya di rawat. Maya kembali berjalan, kal
Tok.. Tok.. "Masuk." William meraih ganggang pintu lalu memutarnya, dia pun lekas masuk ke sebuah ruangan serba putih. "Tuan William, silakan duduk," ucap seorang dokter. "Selamat sore dok." "Selamat sore tuan, lama tidak bertemu. Bagaimana kondisi nona Nozela?" tanya dokter. William berdehem







