Share

Bab 54

Author: Addarayuli
last update publish date: 2026-05-30 19:08:38

"Meysa, bagaimana keadaan ibu kamu?"

Meysa meletakkan sendoknya lalu menatap Oma Rosa.

"Ibu sudah baik-baik saja Oma."

"Syukurlah, Oma senang mendengarnya."

"Oma, bagaimana keadaan Oma? Maaf karena akhir-akhir ini Meysa jarang ada waktu untuk menemani Oma," ucap Meysa penuh penyesalan.

"Tidak papa, kesehatan ibu kamu juga lebih penting. Oma sudah baik-baik saja."

Meysa mengangguk, meski Oma Rosa mengatakan demikian namun dalam hatinya tetap terbesit perasaan bersalah karena dia tidak menjalanka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 90

    William menutup laptopnya dengan kasar, dia menyandarkan tubuhnya ke kursi lalu merenggangkan dasinya yang terasa mencekiknya. Dia memijit pangkal hidungnya pelan, kepalanya terasa pusing memikirkan banyaknya pekerjaan yang menunggunya. Belum lagi masalah sang kekasih, sejak tadi baik pesan atau panggilannya diabaikan oleh Nozela. Gadis itu sama sekali tak meresponnya."Huh, kenapa jadi seperti ini?" gumam William.Beberapa kali William menghembuskan napas kasar, dia mengambil ponselnya kemudian menyalakannya. Masih sama seperti tadi, tak ada satu pun pesan balasan dari Nozela."Arghh, apa Nozela marah?"William meletakkan ponselnya dengan kasar ke atas meja, raut wajahnya terlihat bahwa dia sedang menahan kesal saat ini. William meraup wajahnya kasar, dai benar-benar sedang dikusai emosi saat ini. Suara ketukan pintu ruangannya terdengar, membuat sepasang mata yang berkilat penuh amarah itu mendongak menatap ke arah pintu."Masuk," ucap William.Pintu ruangan William terbuka, seoran

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 89

    "Apa? Ra, kamu sudah gila ya? Apa kamu sudah benar-benar kehilangan akal sehat kamu?" desis Celine, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. Tangannya mencengkeram lengan Nora, meminta penjelasan.Nora mencoba melepaskan cengkeraman Celine, wajahnya pucat tapi matanya masih menyiratkan pembelaan diri."Cel, lepasin! Kamu apa-apaan sih datang langsung marah-marah gini?""Aku yang apa-apaan? Harusnya aku yang nanya sama kamu!" Celine menunjuk dada Nora dengan telunjuknya, napasnya memburu."Apa yang kamu lakukan sampai membuat Adrian masuk rumah sakit itu sudah keterlaluan Ra, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Adrian, hah? Apa kamu mau bertanggung jawab? Ra, astaga...apa yang ada di pikiran kamu?!"Nora tertegun sejenak, matanya bergerak gelisah, namun ia mencoba tertawa sinis. "Aku hanya memasukan obat pencahar dengan dosis tinggi Cel, dan itu tidak akan membaut Adrian kehilangan nyawa. Mungkin hanya dehidrasi dan lemas saja."Plak!Satu tamparan keras mendarat di pipi

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 88

    "Palan-pelan ya?""Mah, Ojel sudah tidak papa."Tiara membantu Nozela turun dari ranjang rumah sakit, pagi ini Nozela sudah diperbolehkan pulang oleh dokter."William, kamu ke kantor saja. Biar Nozela sama Om dan Tante.""Tidak masalah Om, aku bisa mengantarkan Ojel pulang lebih dulu sebelum ke kantor.""Liam, yang di katakan papa ada benarnya. Kamu sudah menemani aku selama di rumah sakit, aku tidak enak pada Om Jimmy," ucap Nozela.William terkekeh pelan. "Bahkan papa lah yang menyuruh aku untuk di sini menemani kamu Jel. Kalau begitu sekarang ayo kita pulang."Nozela mentap kedua orang tuanya, terlihat Andito mengangguk membuat Nozela menghela napas panjang."Baiklah kalau begitu," putus Nozela.William segera mendekati Nozela dan mengambil alih kekasihnya dari sang mama."Pelan-pelan," ucap William."Om dan tante bisa pulang dulu, Ojel biar sama aku.""Kalian mau mampir ke suatu tempat dulu sebelum pulang?" tanya Tiara.William mengglengkan kepalanya. "Tidak tante.""Baiklah, kala

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 87

    "Mau apa kamu?"Meysa mengehntikan gerakan tangannya ketika mendapat teguran dari seseorang, kepalanya menoleh ke samping mendapati Nora sedang bersedekap dada sambil menatapnya dengan tajam."Kak Nora,""Aku tidak pernah mengizinkamu memanggilku dengan sebutan Kak. Jadi jangan pernah lagi menyebut Kak dengan mulut busukmu itu." desisi Nora.Meysa menghela napas panjang, dia meletakkan sendok dan piringnya ke meja kemudian memutar tubuhnya menghadap Nora."Ada apa Nona Nora, ada yang bisa saya bantu?" Nora mengetatkan rahangnya, pertanyaan Meysa menurutnya bukan sekedar pertayaan melainkan sebuah ejekan untuknya."Kalau memang tidak ada yang bisa saya bantu, saya permisi mengambilkan sarapan untuk Oma."Meysa hendak mengambil piring kosong itu kembali namun segera di hentikan oleh Nora. Nora mencekal perelangan tangan Meysa dengan kencang."Setelah tidak berhasil menyingkirkan Adrian, sekarang kamu mau berusaha menyingkirkan Oma juga? Begitu?"Meysa mengerutkan keningnya sambil kepala

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 86

    Suara bel mansion terdengar nyaring ketika seluruh penghuni rumah belum bangun, Evan berdiri di depan pintu sambil menatap jam di pergelangan tangannya.Tak lama setelah dia menekan bel, pintu terbuka lebar."Selamat pagi tuan Evan," sapa asisten rumah tangga."Pagi.""Mari tuan, silakan masuk."Evan menganggukkan kepalanya, dia pun memutuskan masuk ke rumah yang masih sepi seperti tak berpenghuni."Apa tuan Adrian belum turun?" tanya Evan."Belum tuan, biar saya panggilkan dulu.""Ah, tidak perlu. Biar saya yang memanggilnya sendiri."Asisten rumah tangga itu mengangguk, dia pun segera kembali ke dapur ketika Evan menaiki anak tangga menuju kamar utama mansion.Evan berjalan menaiki anak tangga sambil sesekali menatap jam di pergelangan tanganya yang masih menunjukkan pukul enam pagi."Jangan sampai tuan Adrian belum bangun," gumam Evan.Sampai di depan pintu kamar Adrian, Evan pun mengetuk pintunya dua kali."Ckk, kenapa lama sekali?"Sedangkan di kamar, Adrian dan Meysa justru sedan

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 85

    Cahaya fajar di pukul lima pagi masih sangat muda, hanya berupa lambaian warna biru keperakan yang menembus gorden sutra tebal di kamar utama mansion. Di dalam ruangan luas yang tenang itu, dinginnya udara pagi sama sekali tidak menyentuh sepasang suami istri yang sedang tenggelam dalam kehangatan satu sama lain.Lampu tidur di sudut ruangan sengaja diredupkan, menciptakan siluet dan bayangan remang-remang yang menari di dinding vas porselen dan pilar-pilar tempat tidur kayu jati yang megah. Keheningan mansion mewah itu justru memperkeras setiap detail intim mereka: gesekan halus sprei katun premium, helaan napas yang berat, dan detak jantung yang berkejaran."Masih malu, hmm?" bisik Adrian lembut, suaranya terdengar berat dan menenangkan di keheningan pagi ini.Meysa mendongak sedikit, matanya yang indah menatap Adrian sekilas sebelum kembali beralih ke bawah."Adrian, jangan seperti ini. A-Aku malu," cicitnya pelan, hampir berupa bisikan.Adrian terkekeh pelan. Baginya, kepolosan dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status